Perjalanan Cinta Dokter Dan CEO

Perjalanan Cinta Dokter Dan CEO
71. Cemas


__ADS_3

Keesokan hari nya jam menununjukkan jam 8 pagi.


Rangga kini tengah membereskan pakaiannya yang di bantu oleh dani.


"Bos pihak maskapai meminta kepastian kapan kita akan berangkat?" Tanya dani, memang rangga dari semalam merubah ubah jam penerbangannya, karena pesawat itu miliknya pribadi, jadi dia bisa saja mengubah jadwal penerbangannya.


"Sore saja, jam 5" jawab rangga yang tampak gelisah.


"Apa ada masalah bos? Jika ada kita akan selesaikan dulu dan membayalkan kepulangan kita hari ini"


"Tidak saya hanya cemas tentang keberadaan kevin yang ada di sini" jawab rangga yang sangat cemas jika kejadian itu akan terukang kembali.


"Apa bos cemas dengan nona tasya?" Tanya dani yang sedikit menahan tawa.


Rangga yang mendengar penuturan dani, ia pun menatap dani dengan tajam.


"Apa kamu tidak dengar? Saya mengatakan kalau saya cemas tentang kevin yang ada di sini, saya samasekali tidak mencemaskan dia" marah rangga pada dani.


"Boss jangan bodohh... itu sama saja kalau anda mencemaskan nona tasya..." batin dani yang sebenarnya ingin tertawa keras di hadapan rangga, namun ia tidak berani.


"Maaf, Baik bos.." ucap dani.


*


*


Kini mereka sudah selesai mengemas barang milik rangga dan juga berkas berkas penting yang mereka kerjakan.


"Dani apa kamu tau kenapa wanita tiba tiba terdiam?" Tanya rangga yang membuat dani bingung, kenapa bosnya tiba tiba bertanya tentang hal tidak penting seperti ini.


"Maaf bos, saya blum pernah menghadapi wanita, jadi saya kurang tau tetang hal itu"


"kamu mulai menajadi tidak berguna" gumam rangga.


"Tapi saya tau solusi untuk mengembalikan mood seorang wanita, waktu itu nyonya besar yang memberitahu saya"


"Cepat katakan"


"Nyonya besar pernah mengatakan, jika ingin membuat wanita bahagia, turuti saja keinginannya selagi itu tidak berbahaya untuk dirinya sendiri, anda juga bisa membelikan barang barang yang sedang ia butuhkan saat ini, atau memberi bunga" jelas dani yang mengingat perkataan mami rani saat itu.


"Apa? Bunga? Dia bukan orang yang spesial" ujar rangga.


"Dia? Apa itu nona tasya?" Tanya dani.


"Semenjak kapan kamu menjadi cerewet seperti wanita?" Bentak rangga.


"Maaf bos, mari saya antar untuk sarapan pagi" dani pun langsung keluar dari kamar itu, karena ia sudah tau suasana hati bosnya tampak bimbang memikirkan tasya, namun ia tetap saja gengsi.


*


Pov. Di restoran hotel.


Rangga sedang sarapan di ruang VVIP sendiri, dan dani menunggunya dari luar pintu.


*


Rangga masih saja memikirkan apa yang dikatakan dani.


"Ikuti keinginannya? Apa karena kemarin aku tidak mengikuti kemauannya jadi dia terdiam dan cemberut seperti itu? Ahh tidak tidak... mungkin karena dia lelah?" Gumam rangga berbicara pada dirinya sendiri.


Ia benar benar bingung, dan akhirnya ranggapun memutuskan untuk mengabari tasya melalui chat.


rangga mengeluarkan ponselnya dari dalam celananya.


"Apa yang harus aku katakan?"


"Apa kabar?" "Ah tidakk tidak.." ranggapun menghapus chat itu.


"Emm.. mari bertemu" " ahh tidak.." ranggapun mengapus kembali, ia sangat bingung apa yang harus di katakan saat ingin memulai chatingan.


"Apa aku harus to the point saja?" "Yasudah tidak peduli apa tanggapannya" gumam rangga.


//chat//


Rangga: "saya akan datang ke tempat mu setelah saya sarapan pagi"


Tasya yang memang sedang memainkn ponselnya, ia pun langsung membuka pesan itu.


Tasya:"hah? Kenapa? "

__ADS_1


Rangga:"tunggu saja, 10 menit lagi saya kesana"


tasya:" gak bisa gitu dong, saya gak terima tamu"


Rangga:" bisa saja, saya ini atasan kamu"


Tasya hanya membaca pesan itu dan tidak membalasnya lagi.


"Dasar anak kecil" gumam rangga.


*


*


kini rangga sudah selesai dengan sarapannya. Kini ia memutuskan untuk pergi ke tempat tasya.


*


*


Pov. Di hootel tempat tasya menginap.


"Keyy.. gawat gawat,. Pak rangga mau ke sini"


tasyapun berlari keluar dari kamarnya.


"Hah? Ngapain dia kesini?" Tanya ekey ikut panik karena mendengar tasya berteriak dari kamar.


"Gatau.. katanya dia mau kesini, gua juga gak tau apa alasannya"


"Gua harus dandan atau gimana? Atau kaya gini aja?" Tanya tasya.


"Ciee kok lo tiba tiba salting gini sih ca.." goda ekey.


"Ihh apaan sih, orang lagi panik juga!! Bukan lagi salting" omel tasya.


"Yaelah ngaku aja kali"


"Enggak..."


"Yaudah gua biasa biasa aja , gua gak mau dandan, dan gua gini aja pas ketemu sama dia" tasyapun berusaha menenangkan dirinya di depan ekey.


"Aaa ekey cantik kuu... jangan gitu, kamukan segalanya... bantu aku ya?" Tutur tasya yang memohon kepada ekey, ia membuat wajah imutnya saat memohon.


"Tuh kan... udah sekarang lo tenang... tarik nafas, duduk di sofa kayak gak tau apa apa" ekeypun memberi intruksi pada tasya.


"Ya tapi nanti kalau dia dateng.."


"Udah lo tenang aja, gua tau kok, lo mau keliatan tenangkan di depan pak rangga?"


"Emm iya.."


"Yaudah, turutin perintah gua"


*


Kini tasya mengikuti semua perintah ekey, supaya tasya tidak tampak panik jika nanti bertemu rangga.


Penampilan tasya saat di rumah.



*


*


Beberap menit kemudian, ranggapun sudah sampai di hotel tempt tasya tinggali.


"Pak rangga? Ada apa anda kesini? Ada yang bisa saya banti?" Tanya salah satu bodyguard tasya yang sedang berjaga di bawah.


"Oh iya, saya ingin bertemu nona kamu" ujar rangga.


"Oh baik pak, mari akan saya antar"


*


*


skip.

__ADS_1


kini rangga sudah berada di depan pintuu ruang khusus hotel itu.


Bodyguard tasyapun langsung membunyikan bell.


"Keyy.. bukak bukak... gua di kamar aja yaa?" Tasya yang terkejut mendengar suara bell, kini ia nerlari ke kamar, dan menyuruh ekey untuk membuka pintu.


"Iya siapa?" Ekey pura pura tidak tau apa apa.


"Pak rangga? Ayo masuk pak" rangga dan dani pun masuk, dan para bodyguard kembali ke lobby untuk menjaga keamanan.


"Silahkan duduk pak, saya akan memanggil tasya dulu" kini ranggapun duduk dan dani masih setia berdiri di belakang rangga.


*


Kini tasyapun keluar dari kamar dengan was was, dan dengan penampilan yang tidak rapi.


"Kenapa bapak datang ke sini?" Ketus tasya yang langsung duduk di sofa tepat di samping rangga.


"Bapak?" Gumam rangga pelan pada tasya.


tasya memang sengaja menyebut rangga bapak, karena ia malu jika memanggil abang jika di depan ekey dan dani.


Tasyapun memberi isyarat, dan memplototkan matanya dan sedikit melirik ke arah dani dan ekey.


"Apa??" Tanya rangga dengan nada berbisik.


Dani dan ekey yang melihat tingkah aneh bos mereka itu, mereka berduapun ikut mengerutkan kening, karena tidak tau apa yang sedang mereka bicarakan.


Tasya kembali memplototi rangga dan melirik ke arah dani dan ekey, yang artinya ia tidak berani memanggil kata itu jika di depan dani dan ekey.


Akhirnya ranggapun mengerti, dan ia langsung mengalihkan pembicaraan agar tidak tampak mencurigakan.


"Dani dan kamu, bisa pergi? Tinggalkan kami berdua saja" perintah rangga pada ekey dan dani.


"Enggak usah.. ekey tetap di sini" perintah tasya kembali.


"Pergi.." ranggapun menatap ekey dengan tatapan dingin.


Ekey dan dani kini memutuskan untuk keluar dari ruangan itu, ekey memutuskan untuk berkeliling di taman, sedangkan dani ia hanya menunggu di depan pintu ruang itu.


*


"Bapak kok nekat si datang kesini? Gak takut dipergokin kariawan bapak?"


"Apa pentingnya buat kamu?"


"Iya deh terserah, bapak mau ngapin ke sinii?" Tanya tasya dengan kesal sekali lagi.


"Mereka sudah keluar, jadi tidak ada alasan untuk kamu memanggil saya bapak"


"Emm iya iyaa.." .


Setelah berdebat kecil, ranggapun kini teralihkan pandangannya karena pakaian yang di kenakan oleh tasya.


Dengan cepat ranggapun langsung menyadarkan dirinya karena terlena oleh pakian yang dikenakan tasya.


"Oh iya. Kemarin kamu ingin jajanan pinggiran kan?" Tanya rangga.


"Emm iya.. tapi kan gak dijinin"


"Oh jadi itu yang membuat kamu langsung tidak ingin berbicara dengan saya?"


"Enggak, kalau itu sih gak terlalu di permasalahkan"


"Ngomong dengan jelas, jangan bertele tele, to the point saja" tegas rangga pada tasya.


"Tuh kan..." tasyapun langsung cemberut dan menatap rangga dengan sinis.


"Apa? " tanya rangga bingung.


"Abang gak nyadar apa? Bang rangga itu mudah banget ngebentak orang.." teriak tasya ke arah rangga.


Rangga yang mendengar penuturan tasya langsung terdiam dan menatap tasya dengan lekat.



Jangan lupa di vote kakak semua😉✨✨🥰 semoga kalian suka dengan karya pertama aku🥰 jangan lupa like dan komen.


Tunggu eps selanjutnya.

__ADS_1


Saya akan selalu up cerita ini sesuai jadwal dan tidak menunggu banyak like, semoga dengan seperti ini kalain mau dan suka dengan karya yang saya buat ini.🥰🥰🥰🙏


__ADS_2