
Sudah satu jam tasya berkeliling mencari orang penjual bubur ayam, namun ia tak menemukannya. Lagian jam segini mana ada si orang yang jual bubur ayam.
Tak lama kemudian tasya akhirnya menemukan penjual bubur ayam, itu pun mereka sedang beberes untuk pulang karena bubur ayam mereka hampir habis.
Perasaan tasya pun lega setelan melihat orang yang masih menjual bubur ayam, tasya pun turun dari mobilnya dengan sigap.
"Pak bubur ayam nya masih ada" tanya tasya terswnyum ramah pada penjual itu.
"Oh masih neng tapi tinggal sedikit, emang neng mau nya berapa box?" tanya penjual itu ramah.
"Kalo tiga box cukup gak pak?" Tanya tasya kembali smebari melihat lihat daganagn bapak itu.
"Sepertinya cukup neng, tunggu sebentar ya saya bikinin dulu" tutur penjual itu pada tasya dan langsung membungkus pesanan dari tarsya itu.
Beberapa menit, tasya membayar bubur ayam itu, dan kembali ke kampus dan tak lupa ia singgah di minimarket untuk membeli air mineral agar nantinya ia tak di suruh membeli air lagi oleh dosen itu.
//Pov.dik kampus//
Tok tok tok. "Masuk" jawab rio
"Maaf pak saya terlambat karena tadi susah untuk mencari penjual bubur ayam" jelas tasya pada ketiga dosen itu.
"Iya gapapa, makasih ya udah ngerepotin" tutur rendi pada tasya.
"Ya iyalah ngerepotin, ngerepotin banget malahan"
Tutur tasya yang hanya di dengarkan oleh diri nya sendiri.
"Iya pak gapapa" jawab tasya jutek dan cuek.
"Ini kembalian uangnya bapak, tadi saya juga beli air mineral makanya kembalian nya jadi segini" jelas tasya pada rendi dan memberi kembalian uang itu.
Rendi merasa tak enak mengambil kembalian uang yang berjumlah sedikit itu. "Udah gapapa itu buat kamu aja" jawab rendi lalu tasya menolak nya.
"Engga pak, bapak kasih aja ke orang yang membutuhkan itu" menunjuk ke arah rangga yang sedang sibuk dengan layar laptopnya.
"Saya liat ya kamu menunjuk ke arah saya" kesal rangga pada tasya. Tasya tak menggubris perkataan rangga.
"Soalnya saya lagi gak butuh uang" tutur tasya sombong.
"Ya iya lah, cewe matre kayak kamu mana mau uang segitu" rangga menjawab pernyataan tasya tadi.
"Pak udah saya bilang ya saya itu bukan cewe matre" kesal tasya dan ingin beranjak keluar ruanagn itu.
__ADS_1
"Eh tunggu" cegah rio pada tasya. Tasya menghentikan lagi langkah nya dan berbalik ke arah tiga dosen itu.
"Kamu nggak beli buat kamu sendiri?" Tanya rio pada tasya.
"Engga pak saya gak lapar" jawab tasya singkat. Dan ingin keluar dari ruanagn itu. Dan lagi lagi langkah nya terhenti ketika seseorang memanggilnya.
"Hei, siapa yang nyuruh kamu pergi haa?" Tanya rangga pada tasya. "Gak ada pak, saya yang berinisiatif untuk pergi dari ruangan panas ini" jawab tasya tak sopan.
"Kamu duduk disini dan ngeliat kita makan" perintah rangga lagi. Dan membuat tasya membukakan mulutnya tanda kaget.
"Haa? Heloww pak, gak ada kerjaan banget saya ngeliatin buaya makan"
Tutur tasya sedikit berteriak.
"Uhuk uhukk" rendi tersedak mendengar perkataan tasya.
"Ya sudah, saya tinggal mengadukan tentang sikap ka...." tasya pun dengan cepat memotong perkataan rangga. Dan iya pun duduk di kursi tamu dan berjarak 1 meter dari ketiga dosen itu yang sedang memakan bubur ayam.
"Iya iya iyaa" kesal tasya lada rangga.
Rendi dan rio menghentikan aktifitas makaan nya, karena kasihan kepada tasya yang hanya duduk terdiam di tepi ujung kursi.
Dan sebenarnya rangga juga tidak tega kepada tasya yang hanya duduk terdiam di sana dan dia juga kasian kepada tasya karena dia sendiri cewek di dalam ruangan ini, sebenarnya itu sungguh tak pantas.
"Bubur ini terlalu banyak untuk di makan oleh 1 orang" tutur rangga berpura pura tak kuat menghabiskan bubur itu. rangga menggeser duduk nya mendekati tasya, tasya pun tersentak kaget, lalu ia sedikit menggeser pantat nya dan alhasil tak ada lagi tempat untuk ia duduki.
"Ini kamu bantu saya menghabiskan bubur ini, kalu tidak nanti hanya mubazir saja" tutur rangga sok cuek padahal itu adalah perhatian yang orang tak tau.
"Maaf saya tidak lapar" jawab tasya cuek dan mebuang muka.
"Ya sudah" jawab rangga dan memakan bubur ayam itu.
Tiba tiba ponsel tasya berbunyi dan ia membuka tas nya ternyata yang telfon itu mama nya.
Tasya melirik ke arah rangga, tanda meminta persetujuan boleh atau tidak ia mengakat telfon. Rangga tau arti tatapan tasya, lalu ia melihat layar hp tasya tenyata tercantum kata mama di sana.
Lalu rangga hanya mengangguk pelan dan menaik kan kedua alis nya ke atas tanda setuju. Tasya pun langsung mengangkat nya.
//telfon//
"Ii-ya hallo ma, waalaikum salam" jawab tasya lembut.
"Kamu lagi dimana sayang" tanya mama riana pada anak nya.
__ADS_1
"Ini lagi di kampus ma, kenapa ma?" Tanya tasya penasaran.
"Oh lagi di kampus, kamu udah makan blum?" Tanya mamanya dari seberang sana.
"Aaa makan?" Tanya tasya sedikit bingung akan menjawab apa, dan ketiga dosen itu serentak menatap taysa tasya pun menggaruk tengkuk jya yang tak gatal.
"Ohh ee hmm sudah ma, mama udah makan?" Jawab tasya sedikit panik karena berbohong.
"Sudah sayang, beneran kamu udah makan?" Tanya mama riana merasa anak nya sedang berbohong.
"Iya beneran ma, ini barusan habis makan" tutur tasya berbohong pada mama nya.
"Hmm yaudah kalo gitu, btw tadi kata bodyguard papa ngeliat kamu lagi beli bubur ayam bener itu dek?" Tanya mama rania memastikan.
"Ohh iya ma, tapi itu bukan buat adek kok, itu buat temen adek" jawab tasya (karena tasya tidak di perbolehkan makan makan seperti itu, takut orang memasuk kan micin di dalam sana, karena tasya mempunyai penyakit gejala usus buntu tapi sakit perutnya jarang kambuh karena penyakitnya tak terlalu parah).
"Yaudah, nanti kalau sudah selesai ngampusnya langsung pulang ya"
"Iya ma" jawab tasya lembut
Lalu sambungan telpon terputus
"Cehh, kecil kecil udah pandai bohong sama orang tau" sindir rangga pada tasya.
Tasya hanya memutarkan bola matanya mendengar sindiran itu.
Perut tasya tiba tiba berbunyi " kreckkk kreeckk" tasya spontan memegang perutnya.
rangga dan dua sahabat nya itu menahan tawa tasya aangat malu karena perutnnya berbunyi di tempat yang tidak tepat.
"Makanyaa jangan bandel kalo di suruh makan" tutur rangga pada tasya dan memindahkan sendok bekas nya makan ke arah tasya.
"Sok sokan lagi bilang gak laper, tuh makan bubur yang udah saya bagi dua" tutur rangga sembari menunjukkan bubur ayam itu dan kemudian membuka botol air mineral itu.
"Ekhem ekhemm" batuk rio menghida rangga dan tasya.
"Uhuk uhukkk batuk ni, minum gua mana" rendi berpura pura batuk.
"Apaan si" gerutu rangga kesal pada 2 sahabatnya itu.
Lalu tasya terpaksa memakan bubur ayam itu karena iya sudah sangat lapar, dan semoga aja perutnya tak sakit nanti nya karena penyakit tasya tak begitu parah jika hanya memakan sedikit makanan yang bermicin.
Kini semua suda selesai makan tasya sudah membereskan sampah bekas mereka memakan bubur ayam tadi. Kini tasya permisi untuk keluar dari ruangan itu.
__ADS_1