Perjalanan Cinta Dokter Dan CEO

Perjalanan Cinta Dokter Dan CEO
66. Perasaan aneh


__ADS_3

Kini danipun pergi dari lantai khusus itu untuk membereskan masalah yang terjadi saat di tengah acara tadi.


*


*


Tak lama kemudian para pelayan di sana membawa makanan untuk makan malam.


"Apakah tuan menginginkan sesuatu lagi?" Tanya pelayan itu sopan.


"Tidak.." jawab rangga singkat. Lalu para pelayan itupun menunduk hormat dan pergi.


Kini rangga menaruh kain untuk mengompres tasya tadi di atas meja.


"Ayo makan" ajak rangga pada tasya.


"Hmm.." jawab tasya singkat.


"Hmm? Jawaban macam apa itu?" Tanya rangga kesal menatap tasya.


" emang nya kenapa? Bapak aja sering kayak gitu sama saya" ucap tasya kembali menatap rangga.


"Ini mulut saya, jadi kamu gak punya hak untuk mengatur saya.."


" ya udah..., bapak juga gak ada hak dong buat atur mulut saya" jawab tasya jutek.


"Beda.. saya itu bos kamu, atasan kamu jadi saya berhak ngatur kamu" jawab rangga yang membuat tasya sedikit tertawa.


"Hah? Atasan? Hahah... sorry ya pak saya gak pernah kerja sebagai bawahan bapak" tertawa tasya dengan penuh ejekan.


"Kamu lupa? Kalau kamu itu masih ada kontrak di rumah sakit milik perusahaan saya..." jawab rangga yang tiba tiba membuat tasya membuka lebar mulut nya.


Tasya baru ingat jika dia masih memiliki kontrak di rumah sakit tempat ia bekerja, dan dia akan pindak di kota JK untuk menlanjutkan kontrak itu.


"Hah!! Mati guaa.. kenapa lo bodoh banget si caa... ya ampunn.. itu pekerjaan lo saat ini, jangan sampai kontrak itu di batalin" batin tasya sembari membelakangi rangga meretapi kebodohannya.


Rangga yang melihat tingkah tasya yang tiba tiba seperti ini, ia pun tersenyum dengan bibir yang miring. Dia berfikir lebih baik dia mengerjai tasya dengan mengancam tasya.


"Kenapa? Ohh jangan jangan kamu mau saya batalkan kontrak nya? Dan saya pastikan tidak akan ada rumah sakit yang akan menerima kamu, selain dari rumah sakit milik perusahaan orang tua kamu. Jadi kamu hanya punya kesempatan untuk bekerja di rumah sakit itu yang gajinya tidak sebanding dengan rumah sakit milik saya" acam rangga pada tasya.


"Emm jangan jangan pak... plisss.. saya masih pengen ngumpulin duit.. cuma di sana saya dapat gaji yang cukup besar.." mohon tasya pada rangga.


"Tidak.. saya akan menelfon bawahan saya untuk membatalkan kontrak itu" rangga kini mengeluarkan ponsel nya dan berpura pura ingin menelfon bawahannya itu.


Lalu tiba tiba tasya merebut ponsel itu dengan sangat cepat.


"Jangan ya pak, saya minta maaf pak saya gak akan menjawab pertanyaan bapak dengan hanya menjawab hmm hmmm saja.. saya janji pak.." mohon tasya pada rangga dengan raut wajah yang tampak gelisah.


"Kembalikan ponsel saya.." perintah rangga.


"Tapi bapak jangan batalin kontraknya.." rangga yang sedikit kasian melihat tasya iapun berhenti untuk mengerjai tasya dan memberi maaf pada tasya.


"Baik lah saya tidak akan membatalkan kontrak nya.." jawab rangga yang menbuat tasya sedikit lega. Lalu tasya mengembalikan ponsel milik rangga.


"Yaaudah ayok makan.." ujar rangga.


Lalu kini mereka berduapun makan malam di kamar hotel milik rangga dan mereka makan dengan keheningan tidakada yang berani untuk berbicara.


*


Beberapa menit kemudian makan malam merekapun selesai.


Ranggapun memerintahkan para pelayan nya untuk membersihkan meja tempat mereka makan tadi.

__ADS_1


Lalu rangga kembali menatap wajah tasya.


"Apa masih terasa sakit?" Tanya rangga sedikit lembut.


"Emm tidak.. tapi masih terasa panas.." jawab tasya sembari meraba pipi bagian kirinya.


"Emm pak, saya juga mintak maaf sudah membuat acara bapak tidak berjalan lancar, seharusnya tadi saya tidak datang di acara ini" jelas tasya pada rangga.


"Ini bukan salah kamu, ini sepenuhnya salah perempuan itu, saya benar benar tidak mengundangnya, saya hanya berharap kamu hadir di acara ini" dengan mendengar penuturan rangga tasyapun langsung menoleh ke arah rangga.


dan begitu juga dengan rangga. Kini mereka saling bertatap tatapan.


"Kenapa aku merasa lepas dari keraguan yang aku rasakan tadi, aku merasa sedikit lega, tapi apa alasan nya? Apa aku benar benar berharap jika aku wanita satu satunya yang ia tunggu kehadirannya?" Batin tasya sembari menatap rangga.


"Emmm.. maskudnya saya lebih baik mengundang kamu dibandingkan wanita itu, karena kamu juga anak dan adik dari rekan bisnis saya" rangga langsung menjelaskan kembali agar tasya tidak salah faham, dan agar ia tidak ketahuan jika benar benar menunggu kehadiran tasya sedari tadi.


"Apa? aku hanya...Kenapa rasanya sesak sekali? Rasanya aku ingin pergi sekarang juga" batin tasya yang sepertinya merasa kecewa dengan penuturan rangga barusan.


"Ohh seperti ituu.." hanya itu yang di jawab oleh tasya, kini ia membuang muka dan langsung berdiri.


"Pak saya ingin pulang dan beristirahat" ujar tasya lalu ranggapun berdiri.


"Baiklah akan saya antar kamu pulang" jawab rangga tanpa basa basi.


Kini rangga menelfon bodyguard nya agar para bodyguardnya menyiapkan mobil yang akan ia kendarai untuk mengantar tasya pulang.


*


*Skip..


Kini mereka berdua sudah sampai di lobby, dengan cepat para bodygurad merekapun langsung mendekat ke arah rangga.


"Kawal saja dari belakang, saya yang akan mengendarai mobilnya" ujar rangga pada bodyguardnya dan mengambil kunci dari tanagan salah satu pekerjanya itu.


*


Kini rangga mulai menginjakkan gas dan mengendarai mobilnya untuk menuju ke hotel tempat tasya tinggal beberapa bulan yang lalu.


Di sana tasya hanya menatap ke luar jendela dengan raut wajah yang masih merasa kecewa, namun masih banyak lagi pertanyaan yang muncul di benak nya, kenapa ia tiba tiba merasa kecewa saat mendengar rangga mengatakan itu.


"Kenapa aku menjadi bodoh, sudah jelas kita sama sama ingin saling menghindar, kenapa tiba tiba aku ingin berharap besar dari nya.. akhh sudah lah lupakan.." batin tasya, begitu lah yang dirasakan tasya, ia benar benar bingung dengan suasana hatinya.


Dan begitu juga dengan rangga, ia juga merasa bingung dengan perubahan suasana hatinya.


"Kenapa tiba tiba aku merasa tidak tenang setelah mengatakan itu, apa aku terlalu kasar hanya menganggapnya sebagai anak dari rekan bisnis?" Benak rangga.


Ranggapun menoleh ke arah tasya, rangga melihat tampaknya tasya sedikit banyak diam saat menaiki mobil ini.


"Biasanya kamu sangat cerewet.. sekarang kenapa diam?" Tanya rangga masih dengan berusaha mencairkan suasana.


Mendengar itu tasyapun menoleh ke arah rangga.


"Emm tidak apa apa" jawab tasya singkat dan sedikit tersenyum, lalu ia kembali menatap ke arah luar jendela.


*.


Tak lama kemudian tasya pun tertidur dengan menyenderkan kepalanya di bagian kaca mobil.


Rangga yang melihat tasya sudah tertidur ia langsung menepikan mobilnya terlebih dahulu.


lalu rangga membenahi posisi tidur tasya agar ia merasanyaman.


setelah itu rangga membuka jasnya dan di selimutkan di bagian tubuh tasya, kemudian menatap tasya dengan mata sayunya.

__ADS_1


"Sepertinya perjodohan ini tidak akan saya biarkan gagal" batin rangga.


Lalu rangga lanjut mengemudi kembali.


Skip.


Kini rangga dan tasya sudah sampai di hotel tempat tasya menginap. Rangga memberhentikan mobilnya tepat di depan pintu masuk hotel.


Namun tasya juga tak kunjung bangun karena tidurnya mungkin terasa nyenyak.


Rangga kembali melihat ke arah tasya, ingin rasanya ia membangunkan tasya namun ia tak tega, tetapi mau bagaimana lagi tidak mungkin rangga menggendong tasya untuk masuk ke hotel itu.


lama rangga berfikir akhirnya Dengan rasa tak tega ranggapun membangunkan tasya.


"Ekheemm bangun... sudah sampai" saut rangga dari sebelah tasya dengan suara sedikit keras yang akhirnya benar benar membuat tasya langsung terbangun.


Dengan perlahan tasya membuka matanya, dan melihat ke sekelilingnya.


"Sudah sampai?" Tanta tasya dengan suara serak khas bangun tidur.


"Hmm.. " jawab rangga.


Tasya melihat di tubuhnya ada jas. Lalu ia melirik ke arah rangga.


"Apa ini jas bapak?"


"Hmm.."


Tasyapun kembali merasakan hal aneh yang ia rasakan.


"Apalagi ini, kenapa akhir akhir ini suasana hatiku sangat mudah berubah" batin tasya yang masih menatap rangga.


"Emm ini, makasih" tasyapun memberikan jas itu kepada rangga dan langsung membuka pintu mobil untuk keluar .


"Tunggu.." rangga menahan tasya.


"Kemarikan ponselmu" tutur rangga.


"Ha? Untuk apaa?" Tanya tasya bingung.


"Turuti saja" rangga mengulurkan tangan nya.


Dengan bingung tasyapun memberikan ponselnya.


lalu rangga mengetik sesuatu di ponsel milik tasya, dan tak lama ponsel ranggapun berdering.


Ranggapun mengeluarkan ponsel miliknya.


"Sudah masuk.. ini ponsel mu" ranggapun kembali memberikan ponsel milik tasya.


"Besok sore ikut saya ke mall, dan akan saya kabarkan" tutur rangga.


"Ta-tapi.."


"Be...sok... paham, tutup pintunya dan masuk lah ke dalam hotel" tutur rangga kembali, tasya pun mengikuti perintah dari rangga. Ia langsung menutup pintu dan masuk ke dalam hotel dengan masih perasaan bingung.


*


Setelah melihat tasya sudah masuk ke dalam hotel yang di sana sudah di tunggui oleh para bodyguard tasya, kini ranggapun melajukan mobilnya untuk kembali kehotel miliknya.


Jangan lupa di vote kakak semua😉✨✨🥰 semoga kalian suka dengan karya pertama aku🥰 jangan lupa like dan komen.


Tunggu eps selanjutnya.

__ADS_1


Saya akan selalu up cerita ini sesuai jadwal dan tidak menunggu banyak like, semoga dengan seperti ini kalain mau dan suka dengan karya yang saya buat ini.🥰🥰🥰🙏


__ADS_2