
Jam sudah menunjukkan jam 15.30 sore, tasya sudah di pindahkan langsung ke ruang VVIP kini tasya sudah bangun dan bisa berbicara walau masih lemah dan masih menahan rasa sakit habis operasi.
Sekretaris dani kini pun juga sudah ada di dalam ruangan itu dan duduk bersama avnil di kursi tamu ruangan VVIP itu.
Sedangkan ekey,putri dan nayfa sedang berbicara pada tasya dan sembari menyuapi tasya.
*tasya yang sudah mulai ceria dan bisa tersenyum walau ia masih menahan rasa sakit di bagian punggung nya*
*ruang VVIP*
"Aca makan ya, biar besok kita bisa balik ke negara kita, pasti semua kanget sama aca, betul ga si gengszz" tutur ekey dengan khas cara bicaranya yang letoy dan manjah heheh.
"Hmm kangen deh sama ekey, udah lama gak ketemu, eh sekali nya kita ketemu malah aku yang bikin rusuh" tutur tasya yang menatap ekey dan cemberut lalu tersenyum.
"Ekheemm.. trus kita sahabat lo yang jauh jauh dari negara ID ke sini buat jenguk lo, lo gak kangen gitu sama kita berdua?" Tutur putri sembari memutar bola matanya yang seperti orang julid.
"Aa.. jangan gituu, aku juga kangen sama kalian taauu.. kaaangeeeennn pake bangeet bangett.." tutur tasya memegang tangan kedua sahabat nya itu dan tersenyum.
"Hmm kita juga kangen.. seneng deh liat lo bisa ketawa lagi" mereka kini saling berpelukan dan dengan cepat ekey juga ikut memeluk dari belakang.
"Uhukk uhukkk... abangg, aku mau di bunuh sama mereka bertigaa niihh" teriak tasya dengan suara khas orang tertindih dan di buat buat nya agar bisa mengerjai ketiga orang itu.
Avnil yang mendengar tasya lalu berdiri dan menghampiri keempat orang itu.
"Ehh kenap kalian, astagaa jelas jelas tasya baru sadar dari koma, kalian peluk dia kenceng kenceng kaya gitu" tutur avnil yang menegur orang bertiga itu. Dan menarik tangan mereka satu persatu menjauhi tasya.
"Ya sorry, habis nya kita kangen biengit bienget sama aca" tutur ekey heboh. Tasya yang mendengar kebiasaan ekey yang berbicara seperti itu pun tertawa walaupun kedengarannya masih lemas.
Lalu muncul lah sekretaris dani dari belakang avnil, karena ia mendengar kehebohan itu iya pun ikut mendekati orang berempat tadi.
"Sekertaris dani" tasya pun terkejut dengan kehadiran dani. Dani yang mendengar tasya memanggil namanya lalu ia menunduk memberi hormat dan tersenyum
"Semoga cepat sembuh nona" tutur dani.
"Bang.. bang avnil masih berhubungan sama sekertaris dani dan pak rangga?" Tutur tasya yang kini menatap heran pada abangnya.
"Bang, kan adek udah ingatin abang semalam, jangan deket deket sama mereka, mereka jahat, mereka yang nyulik adek, dan pasti sekarang sekertaris dani meminta abang saya untuk menyetujui pernikan ini kan? Iya kan?" Tanya tasya yang sedikit marah.
__ADS_1
"Dek adekk, adek jangan marah dulu, adek udah salah paham" tutur avnil yang memegang bahu tasya dan menenangkan tasya.
"Salah paham gimana? Jelas jelas anak buah mereka bilang kalo perintah dari pak rangga untuk menculik adek" tutur tasya yang kini menjatuhkan buliran bening dari matanya.
"Dekk..." tutur avnil kembali dan dengan cepat tasya memotong omongan avnil.
"Adek ga mau dengar alasan bang avnil, kalo bang avnil nerima tawaran nya pak rangga, adek gak mau lagi ketemu sama bang avnil, adek bakalan pulang sendirian ke negara ID" tutur tasya yang menyingkirkan tangan avnil dari tangan nya dan menghapus air mata nya.
"Okey okey, abang akan ngusir sekertaris dani dari sini" kini avnil menoleh ke belakang mengedipkan matanya pada dani dan dani pun langsung mengerti maksud avnil, lalu ia pamit permisi untuk keluar dari ruangan itu.
" udah dia udah pergi, adek gak boleh marah marah gitu lagi, nanti kesehatan adek terganggu nanti kita ga bisa balik ke ID" tutur avnil yang kini tersenyum menatap adik nya itu.
"Yaudah nih ca lanjut makan lagi ya, biar kuat untuk naik pesawat besok" tutur nayfa tersenyum. Namun tasya masih sesih dan tampah merasa takut karena ia mengingat kejadian semalam.
"Dek abang telfon mama dulu ya?" Tutur avnil lalu di anggungkan oleh tasya.
*
*
*
Kini mama riana sudah tak memakai infus tetapi papa bryan masih. Dan mereka berkumpul di rumah atas tempat mama dan papa tasya.
Dering telfon mama riana berbunyi.
"Alhamdulillah akhirnya ni anak telfon" tutur mama riana yang secara bersamaan orang disana menoleh ke arahnya lalu ia mengangkan tlfon itu.
"Hallo nil, gimana adek kamu, pliss bilang sama mama, kamu jangan nutupin ini dari mama, dan sejak kemarin pas adik kamu tertembak kamu gak langsung nelfon mama kenapa?" Langsung mama riana to the point pada avnil dan meneteskan air matanya dengan cepat di usap oleh mami rani.
"Tenang jeng.." tutur mami rani menenangkan riana.
"Maa, satu satu dong nanya nya.. avnil bingung ni jawab yang mana dulu." Tutur avnil yang bercanda pada mamanya yang sedang menangis.
"Udah kamu jangan bercanda nil, cepat katakn gimana adek kamu?" Tanya mama riana lagi.
Mama riana mengencangkan suara ponselnya agar semua orang bisa mendengar percakapan antar dia dan anak nya.
"Ma, mama tenang ya, adek udah melewati masa kritisnya, dia aja sekarang udah bisa ketawa dan dia sekarang lagi makan di suapin sama nayfa tuh" tutur avnil sembari menoleh ke belakang.
"Alhamdulillah, kamu kenapa si nil, gak mau ngabarin ke mama cepat cepat, mama sama papa dan bahkan orang orang disini nungguin kabar dari kalian, tapi kamuu.." mama riana kini semakin menangis karena rasa cemas seorang ibu kepada anak nya. Papa bryan yang melihat itu kini memegang bahu istrinya dan menenangkan riana.
__ADS_1
"Udah ma jangan nangis, nanti mereka tambah panik lagi di sana" tutur papa bryan.
Rangga dan teman teman nya yang mendengar percakapan itu pun ikut menyimak dengan teliti, apa kabar dari avnil dan tentu nya tasya wanita yang sedang ia khawatirkan.
"Maafin avnil ya ma, avnil ga bisa jaga adek dengan seutuh nya, sampai sampai adek kayak gini dan hampir kehilangan nyawanya.." tutur rangga yang menyesal atas kecerobohannya.
"Udah kamu jangan nyalahin diri kamu ya nak, mama sama papa udah maafin kamu kok, cuma mama sama papa marah sama kamu karena kamu gak ngasih kbar ke kita" tutur amma riana.
"Udah sekarang mana adek kamu, kasih hp ke dia" tutur mama riana tak sabar mendengar suara putrinya.
Lalu avnil memberi hp itu pada tasya.
"Hallo assalamualaikum maa..." tutur tasya yang menahan tangis supaya terdengan tegar di telinga mamanya.
"Hallo, waalaikumsalam sayang anak mama, kamu gimana sayang?" Tutur mama riana yang merasa bahagia mendengar suara lembut anak nya itu.
"Baik ma, mama gausah khawatir ya sama adek, adek gapapa kok,udah sehat, ni udah gak sakit lagi" tutur tasya yang masih menahan tangis.
"Sayang kamu udah sembuh gimana, bahkan bekas operasi kamu aja masih belum kering, kamu jangan bohong deh sama mama, kamu selalu gitu klo mama tanya hikss hikss, kamu slalau jawab baik baik aja, gapapa, dan dengan kondisi kaya gini kamu masih bilang gak apaapa?" Tutur mama riana sedikit marah namun lega karena kondisi anak nya yang sudah mulai membaik.
"Besok pulang ya sayang, jangan lama lama di sana, mama sama papa kangen dan orang orang disini juga khawatir sama kamu" tutur papa bryan dari samping mama riana.
"Papa... iya pa adek besok pulang. Udah ya ma pa, adek mau makan dulu, dah ma paa.." dengan cepat tasya menutup tlpon itu karena tak kuasa menahan tangis, seperti itu lah tasya jika sudah dengan papanya ia pasti akan menangis.
"Ya ampun ni anak, nutup telponnya cepet banget" mama riana geleng geleng melhat tingkah anak nya itu.
"Ngga, papi mau kamu sebarin berita ini ke sosmed maupun di tv, suruh anak buah kamu untuk menyelesaikan tugas ini, papa ga mau tau hari ini juga berita itu harus tersebar, tapi tutup identitas tasya, dan masalah identitas kevin sebar luaskan, buat artikel yang membuat semua orang terkejut dengan keluarga alexander dengan itu pasti saham nya itu turun, lalu disitulah kita nanti akan mempermainkan keluarga itu." Tutur papi riko pada rangga lalu di anggukkan oleh papa bryan.
"Iya ngga, sebarkan berita ini, tapi kamu ingat jangan membuka identitas anak om" tutur bryan kembali.
"Baik om, sekarang biar mereka berdua yang akan menyelesaikan ini" tutur rangga yang menunjuk ke arah kedua sahabat nya itu lalu di anggukkan oleh kedua sahabatnya itu.
"Oya ngga, kamu nginap di sini aja dulu ya, toh papi sama mami kamu masih menginap di rumah om" tutur bryan lalu di anggukkan oleh rangga.
"Baik om, saya akan pantau kerjaan anak buah saya dari sini saja"
Jangan lupa di vote kakak semua😉✨✨🥰 semoga kalian suka dengan karya pertama aku🥰 jangan lupa like dan komen.
Tunggu eps selanjutnya.
Saya akan selalu up cerita ini sesuai jadwal dan tidak menunggu banyak like, semoga dengan seperti ini kalain mau dan suka dengan karya yang saya buat ini.🥰🥰🥰🙏
__ADS_1