Perjalanan Cinta Dokter Dan CEO

Perjalanan Cinta Dokter Dan CEO
19. Bapak ini meresahkan


__ADS_3

"Saya ingin kopi" tutur rangga tanpa basa basi karena di ruangan ini hanya tinggal ia berdua saja.


Tasya tak menjawabnya ia hanya pergi ke meja tempat telfon hotel itu berada.


"Eh mau ap" tanya rangga dan tasya berbalik badan.


"Kan bapak katanya mau kopi, sekarang saya mau telfon kariawan untuk membuatnya" jelas tasya pada rangga raut wajah nya masih kesal.


"Saya mau kamu yang membuatkan nya untuk saya, kan sudah saya katakan sedari tadi selama saya di sini kamu lah yang akan melayani saya apapun yang saya perintahkan pada kamu berarti kamu harus menjalaninya sendiri tanpa melibatkan kariawan di sini" jelas rangga yang kini menyilangkan kaki nya dan melipat tangan di depan dada.


"Apa gunanya kariawan sebanyak ini di sini dan sudah di gaji kalau saya juga yang akan melayani bapak" jelas tasya pada rangga yang juga melipat tangan nya di dada.


"Itu bukan urusan saya, jangan banyak omong sekarang buatkan kopi itu untuk saya" tasya pun terpaksa melakukannya.


Kini kopi itu sudah jadi tasya menyuguhkan 2 gelas kopi.


"Saya bukan minta 2 gelas tapi 1 gelas" tutur rangga pada tasya.


"Iya saya tau pak, yang 1 ini untuk sekretaris dani" rangga yang mendengarkan bahwa kopi itu untuk dani kini ia sangat kesal pada dani karena tasya juga membuat kopi untuk nya. Dani yang sudah merapikan baju rangga kini ia kembali ketempat dimana bosnya itu duduk. Ia melihat tatapan tajam bos nya itu dan ia hanya bisa menaik kan bahu nya tanda ia juga tak tau kenapa tasya membuat nya kopi itu.


"Tidak usah 2 gelas kopi ini untuk saya saja" rangga mengambil gelas kopi itu dan meletakkan di depan nya.


"Pak gak boleh rakus gitu dong" tutur tasya kesaL


"Kamu jangan mengatur saya" tasya tak mengubris perkataan rangga.


"Sekertaris dani saya akan membuatkannya lagi untuk anda tunggu sebentar." Tutur tasya namun langkah nya terhenti saat dani menolak.


"Tidak usah nona, saya bisa membuat nya sendiri, saya permisi dulu ke kamar saya yang ada di sebelah ruangan VVIP ini" tutur dani lalu menundukkan kepalanya di depan rangga tanda hormat.


"Biar saya yang mengantar anda ke kamar sebelah, btw semenjak kapan saya menjadi nona anda sekertaris dani" tasya sedikit tertawa mendengar dani menyebutnya nona. Rangga yang melihat tasya yang mudah tertawa ketika berbicara dengan dani kini ia tambah kesal pada dani.

__ADS_1


"Sudah lah terserah anda mau memanggil saya apa, mari saya antar" dan tasya ingin melangkah keluar


" tidak usah nona,anda tidak perlu mengantar saya, disini anda hanya perlu melayani bos saya saja, permisi bos dan nona" lalu dani berlalu pergi begitu saja dan tasya melongo mendengat penuturan dani.


Rangga pun tersenyum miring.


"Why? Why just you?" Tutur tasya mengerutkan keningnya dan menunjuk ke arah rangga.


" kenapa? Apakah anda keberatan? Kalau iya saya hanya tinggal menyuruh anak buah saya untuk menelfon pemilik hotel ini dan memberi kesan yang sangat buruk pada hotel ini karena layanan nya yang sangat buruk." Tutur rangga mengancam lagi sembari berdiri mendekati tasya.Tasya pun ikut melangkah mundur takut rangga mendekatinya.


"Oh ya bukan kah kata mu dulu kalau di luar kampus kamu akan memanggil saya dengan kata sayang" tutur rangga yang kini mengingatkan kembali apa yang di katakan waktu itu di cafe.


"Ini sudah di luar kampus bahkan saya sudah tidak lagi menjadi dosen, so kamu boleh memanggil saya dengan kata sayang" tutur rangga menggoda tasya sembari mengelilingi tubuh tasya. Tasya pun mengingat perkataan konyol nya dulu.


"Akhh kenapa gua dulu bodoh banget sii" tasya mengupat karena menyesal dengan apa yang ia katakan dulu.


"Kenapa? Sudah ingat sekarang hmm?" Tanya rangga lagi.


"Katanya bapak tidak mengenal saya tadi, trus kenapa tiba tiba bapak mengingat semuanya? Bahkan bapak mengingat perkataan konyol saya itu" tutur tasya mengalihkan pembicaraan dan ia masih sangat kesal pada ranggaa.


"Sepertinya kamu sangat berharap kalau saya masih mengingat kamu, atau jangan jangan selama ini kamu selalu memikirkan saya?" Goda rangga pada tasya kembali kini rangga sudah berdiri di depan tasya.


"Heloow pak, untuk apa saya memikirkan bapak, untuk memanggil nama bapak saja saya tidak ada niat sama sekali" seketika rasa hati rangga seperti di tusuk pisau setelah tasya mengatakan hal itu di hadapan nya.


"Bisa tidak kamu sekali saja berbicara dengan baik di depan saya?" Bentak rangga pada tasya dan kembali ke kursinya untuk duduk dan di ikuti oleh tasya yang kini akan menjawab pertanyaan rangga dengan sangat emosi.


"Pak, bapak nyadar gak sii kalau bapak itu sudah semena mena terhadap saya, bapak udah ngerjain saya bapak selalu bikin saya kesal dan bapak selalu merepotkan saya seperti sekarang ini" tutur tasya emosi di hadapan rangga yang tengah duduk dan ikut menatap tasya dengan emosi.


"Lalu bagaimana bisa saya bersikap baik dan lembut terhadap bapak, sedangkan bapakpun kasar terhadap saya sungguh bapak meresahkan sekali" tutur tasya sesikit berteriak.


"Diam!!" Bentak rangga kembali

__ADS_1


"Saya tidak ingin mendengar alasan kamu, sekarang kamu keluar dari ruangan saya, saya ingin beristirahat"


"Kenapa bapak gak dari tadi mengusir saya" tasya berbalik badan dan mengambil tas nya di atas meja, saat ia hendak melangkah iya pun tersandung, lalu dengan cepat tangan rangga menarik nya kebelakang dan kini tasya sudah berada di pangkuan rangga dengan cepat rangga mengambil kesempatan dan memeluk erat tubuh tasya.


Tasya pun membulatkan matanya saat sadat rangga tengah memeluk erat tubuh nya.


"Lepaskan saya pak" tasya memberontak, semakain ia ingin melepaskan pelukan itu semakin erat rangga memeluk nya.


"Pak lepas, saya susah bernapas" mendengarkan itu rangga sontak melepas pelukan nya itu.


"Berterimakasih lah karena saya sudah menolong kamu" rangga pun berlalu begitu saja karena wajah nya yang sudah memerah.


"Nolongin apaan kayak gitu, dasar modus" kini tasya masih terbakar emosi dengan cepat tasya keluar dari ruang itu.


Tasya berhenti sejenak setelah menutup pintu ruang VVIP itu, lalu ia meneteskan air matanya ia merasa lelah menghadapi tamu abang nya ini, iya merasa di tindas. Ia pun pergi ke lobby dengan masih mengeluarkan air matanya.


Di lobby, robi melihat tasya yang keluar dari lift dan langsung menghampiri nya.


"Loh ca kamu kenapa nangis? Kamu di apain tadi di atas? Ayo cerita sama mas" robi menuntun tasya untuk duduk di kursi tunggu tamu hotel itu.


Lalu tasya mengeluh pada robi namun ia tak menceritakan apa yang terjadi di atas dan apa yang terjadi pada dirinya dan rangga itu.


"Ca nggak mau lagi melayani tamu itu mas hiks hiks hkss. dia dingin banget, ca takut dan dia suka banget marah marah gak jelas huuu huu" tutur tasya mengeluh pada robi dan semakin jadi tangisan nya itu.


Lalu robi memegang tangan tasya dan menenangkan nya.


"Ca, sifat pak rangga memang seperti itu dia memang dingin ke semua orang" jelas robi yang masih menenagkan tasya.


"Ya tapi kan ca cewek, harus beda lah cara bersikap sama cewek hiks hiks hisk kan mas tau kalo ca gak suka di bentak"


"Dia tidak memandang itu cewek atau cowok ca, dia emang dingin ke semua orang" jelas robi lagi.

__ADS_1


Jangan lupa di vote ya kakak kakak semua🥰🥰 semoga kalian suka dengan karya pertama aku😉 like komen


Kritik dan saran nya juga boleh😉🥰😂


__ADS_2