Perjalanan Cinta Dokter Dan CEO

Perjalanan Cinta Dokter Dan CEO
70.jangan panggil bapak


__ADS_3

Hanya beberapa detik mereka bertatapan, dengan cepat rangga menyingkirkan tangannya dari bbir tasya.


"Ehh sorry blepotan ya hehe.." ucap tasya merasa sangat canggung setelah mendapatkan perlakuan seperti itu dari rangga.


"Pakai tisu.." ranggapun mengambil tisu dan memberikan nya pada tasya.


"Makasih pak.." tutur tasya lembut.


"Kamu bisa tidak jangan memanggil saya dengan kata pak pak pak.. emang saya bapak bapak apa?" Omel rangga.


"Ya truss? Kan bapak atasan saya kan? Bapak sendiri yang bilang loh, lagian kan bapak pernah jadi dosen saya kan?"


"Iya saya tau, ini di luar kantor, dan saya juga sudah tidak menjadi dosen, di tambah lagi kamu itu bukan bawahan tetap saya, kamu hanya pekerja kontrak" jelas rangga.


"Ya tetep aja kalau bapak itu.."


"Sekali lagi kamu manggil saya bapak, saya akan cium kamu" rangga pun langsung memotong ucapan tasya.


Tasyapun sontak membulatkan bola matanya dan tersedak saat memakan eskrimnya..


Uhukk uhukk...


"Apaan sih pak, mana ada peraturan kayak gitu, yang adanya bapak yang untung saya yang rugi" omel tasya. Dan dengan cepat rangga mendekatkan wajahnya ke arah tasya.


Tasyapun reflek memundurkan tubuhnya ke senderan kursi, dan memejamkan matanya sembari menutup mulutnya karena takut jika rangga benar benar akan menciumnya sepeerti dulu.


"Hmm.. iya iya... saya manggil kakak aja.." ujar tasya yang masih menutup mulutnya sehingga suaranya terdengar tidak jelas.


Ranggapun memundurkan tubuhnya sembari memasangkan sabuk pengaman untuk tasya.


Tasya yang menyadari rangga yang memasang sabuk pengaman dan sudah jauh dari nya, iapun menghela nafas sangat lega..


"Huuftt... ihh bapak..." tasyapun refleks memukul rangga, karena ia benar benar takut jika di cium.


Namun tasya menatap kembali rangga, karena ia tau jika ia sudah menyebutkan kata bapak kembali.


"Sorry..."


"Sorry apa? Bapak?"


"Enggak.. trus saya manggil apa? Kakak? Ohh rangga aja gi mana?"


"Kamu benar benar tidak sopan ya, saya lebih tua dari kamu"


"Ohh yaa.. om aja.. om rangga.. hahaha.." tasyapun tertawa terbahak bahak.


Rangga yang hanya melihat tasya tertawa ia hanya terdima dan menatap tasya tajam.


"Sudah menertawai saya?" Tanya rangga kesal.


"Oke maaf maaf .. huftt..." tasyapun kembali menghela nafas untuk menormalkan kembali.


"Oke kak rangga.." ucap tasya dengan raut wajah sedikit geli dengan kata kkaka.


"Tidak itu mengarah ke wanita" ujar rangga.


"Trus apa? Abang?" Tanya tasya kembali.

__ADS_1


"Bukan nya kamu dulu sudah punya panggilan untuk saya ya?" Ucap rangga yang berusaha mengingatkan tasya kejadian di cafe waktu ia masih menjadi asisten dosen.


"Ha? Apa?" Tanya tasya bingung.


"Kalau kamu tidak ingat saya akan mengingatkan kamu" ranggapun mendekat ke arah tasya, ia hendak berbisik di telinga tasya, tasya yang melihat rangga semakin dekat dengan nya iapun memundurkan tubuhnya kembali.


"Saaa...yang.." ujar rangga berbisik di telinga tasya.


Tasyapun sontak mendorong tubuh rangga.


"Ihh apaan sihh...." bentak tasya, tasyapun membuang muka ke arah jendela untuk menyembunyikan wajah merah nya.


"Oke saya panggil abang aja, dari pada sayang" tasyapun bergidik ngeri membayangkan jika ia memanggil rangga dengan kata sayang.


"Okee terserah kamu.. intinya jangan bapak, om,kakak.. apalah itu.. kalau kamu masih memanggil saya dengan kata itu, saya akaan.." dengan cepat tasya memotong ucapan rangga.


"Iya iya saya tau, gak usah di jelasin lagi" ucap tasya sembari menutup telinganya.


"Hmm bagus.." kini rangga kembali memakan es krim nya. Lain lagi dengan tasya, ia sudah tidak nafsu lagi untuk memakan eskrim.


"Habiskan eskrimnya, atau saya cium.." tutur rangga saat melihat tasya hanya memainkan eskrim nya.


"Akhh.. kenapa sih cium cium cium, gak ada ancaman lain apa? Dasar mesum" omel tasya dan menatap rangga dengan tatapan kesal dan sedikit emosi.


Tasyapun dengan cepat menghabiskan eskrimnya, rangga yang melihat tasya mengomelinya dari tadi ia hanya tersenyum kecil, ia merasa sangat senang jika berhasil mengerjai tasya.


*


*


"Mau kemana lagi?" Tanya rangga, sembari mengelap bibirnya dan kemudian memakai sabuk pengaman.


"Mana saya tau, katanya hari ini mau pulang ke kota JK, yaudah balik ke hotel aja, nanti telat, trus yang disalahin saya" ketus tasya.


"Saya pulang besok, jadi kamu jangan sedih" ucapa rangga yang kini benar benar membuat tasya kesal.


"Ckk.." tasyapun berdecak kesal dan menatap rangga dengan tatapan sinis.


"Yasudah kamu mau ke mana? Ke salon?"


Tasyapun menatap rangga dengan heran, kenapa hari ini rangga benar benar aneh, mengajaknya belanja, trus menggantikan nama panggilan untuk rangga, ia benar benar bingung dengan sikap rangga hari ini, dan sekarang ia ingin mengajak nya ke salon.


"Betul tebakan saya,Wanita memang suka ke salon" ujar rangga dan kemudian melajukan mobilnya keluar dari basement.


"Siapa bilang? Saya enggak tuh.. dari pada ke salon mending keliling kota JG, lagian saya selama kuliah di sini, gak pernah keliling keliling kota ini" ujar tasya sembari tersenyum melihat ke arah luar jendela.


"Yakin kamu gak suka ke salon?" Tanya rangga seperti mengejek.


"Suka sih, tapi gak terlalu" jawab tasya.


"Okey.. kita keliling kota JG" ranggapun memenuhi keinginan tasya, karena ia juga tau selama di sini ia selalu di kawal dan merasa tidak bebas untuk kemana mana.


"Tumben bang rangga hari ini baik banget.." ucap tasya yang masih melihat ke arah luar jendela, dan rangga yang mendengar itu ia menoleh ke arah tasya, lalu ia tersenyum.


Rangga merasa, ia sangat senang jika tasya sudah tidak memanggilnya dengan bapak, walaupun ia sedikit tidak nyaman di panggil abang, namun lebih baik jika tidak di panggil bapak.


"Kenapa diam? Gak terima lagi kalau saya panggil abang?" Tanya tasya dan menoleh ke arah rangga.

__ADS_1


"Hmmm terserah kamu" jawab rangga sedikit canggung.


*


*


Sudah hampir 2 jam mereka berkeliling di kota JG, tak ada lagi pertengkaran selama 2 jam itu, mereka saling bertukar cerita, dan selama bercerita tasya merasa sudah tidak ada beban dan rangga juga tidak mengerjainya, ia merasa sangat senang selama perjalanan itu.


"Bang kita beli jajanan pinggiran yuk" ajak tasya pada rangga.


"Tidak, kalau kamu lapar kita ke restoran saja"


"Aa kenapa?" Tanya tasya cemberut.


"Itu makanannya tidak sehat, banyak debu dan bakteri" ucap rangga.


"Enggak.. gak sekotor itu... ayok" tasyapun merengek.


"Kalau saya sudah bilang tidak ya tidak..." tegas rangga yang membuat tasya langsung terdiam.


"Hmm yaudah" tasyapun membuang muka ke arah jendela, ia sangat kesal jika rangga kembali keras saat berbicara dengannya.


"Gak jadi laper, kita pulang aja" gumam tasya yang masih sangat kesal dengan rangga.


"Pulang?" Tanya rangga bingung yang melihat perubahan tasya tiba tiba diam dan murung seperti ini, namun rangga tidak peka jika tasya seperti ini karena ulahnya yang membentak tasya.


"Hmm.." jawan tasya singkat. Ia sudah tidak perduli jika rangga memarahinya hanya karna menjawab singkat seperti itu.


"Baiklah.." ranggapun hanya menurut saja.


*


*


Skip..


Kini mereka sudah sampai di hotel tempat tasya tinggal.


"Makasih.." setelah pintu mobil di buka oleh bodyguard tasya iapun langsung turun.


"Tunggu.." ranggapun menahannya.


"Besok saya akan pulang, soal kevin kamu tidak usah khawatir, dia sudah di awasi oleh anak buah saya" jelas rangga.


"Emm iya makasih". Tasyapun langsung turun.


"Apa? Hanya terimakasih?" Batin rangga kesal melihat tingkah tasya tiba tiba berubah.


*


*


Jangan lupa di vote kakak semua😉✨✨🥰 semoga kalian suka dengan karya pertama aku🥰 jangan lupa like dan komen.


Tunggu eps selanjutnya.


Saya akan selalu up cerita ini sesuai jadwal dan tidak menunggu banyak like, semoga dengan seperti ini kalain mau dan suka dengan karya yang saya buat ini.🥰🥰🥰🙏

__ADS_1


__ADS_2