Perjalanan Cinta Dokter Dan CEO

Perjalanan Cinta Dokter Dan CEO
40. Labil


__ADS_3

Kantor milik perusahan IM



Lobby kantor





*Penampilan tasya



*penampilan rangga



Kini rangga dan tasya keluar dari dalam mobil dan di sambut oleh kariawan yang ada di sana. Semua memberi hormat dan menyapa rangga namun rangga hanya terdiam seperti tak menganggap ada orang di sekitar sana.


Dan kini semua mata tertuju pada tasya karena ia berjalan berdampingan dengan rangga, biasanya kariawan yang melihat orang yang berjalan sejajar dengan rangga hanya orang tertentu atau bahkan sahabat rangga sendiripun terkadang tak berani berjalan berdampingan dengannya.


Namun dengan keramahan tasya, ia membalas sapaan kariawan di sana dan tak lupa ia memberi senyuman manis yang terukir di wajah nya.


Kini mereka bertiga menaiki lift khusus untuk direktur perusahaan itu. Lalu dani kini menekan tombol lantai menuju ruangan rangga.


Rangga yang sedikit kesal karena tadi ia sempat melihat tasya membalas sapaan dari kariawan di sana dan memperlihatkan senyuman manisnya pada semua yang ada di sana rangga pun kini melihat ke arah tasya.


"Kamu tidak perlu bersusah payah untuk menebar pesona kamu di kantor saya, karena orang di kantor saya tidak ada yang lebih kaya dari saya, paham!" Rangga pun kini kemali menatap kedepan. Tasya pun sentak kaget dengan penuturan rangga.


"Ma-maksud bapak?" Tanya tasya bingung.


"Jangan pura pura bodoh, saya tau kamu sedang mencari perhatian pada laki laki yang ada di lobby tadi, percuma... kamu tidak akan menemukan yang lebih kaya dari saya" tutur rangga sombong.


"Whatt?? Bapak menuduh saya tebar pesona untuk mendapatkan laki laki kaya? Gitu?" Tanya tasya yang menatap rangga dengan tatapan ber api api.


"memang iya bukan??" Tanya rangga kini juga menatap tajam tasya.


Dani yang menyaksikan pertengkaran yang akan segera di mulai ia pun hanya bisa memejamkan matanya karena ia juga ikut kesal.


"Ohh okeyy.. benar.. memang tadi saya tebar pesona, Emangnya kenapa? Salah? Bapak gak suka saya tebar pesona sama laki laki lain? Saya kan cewek murahan di mata bapak, jadi bapak jangan heran kalo saya sering tebar pesona dan sering menggoda banyak laki laki, sampai sini paham?!!" Jawab tasya dengan suara sedikit meninggi karena emosinya seakan akan akan meledak.


"Woww hebat" rangga menepuk tangan lalu kembali memasukkan tangannya ke dalam saku celananya.


"Akhirnya kamu mengaku kalo kamu itu memang cewek murahan" tutur rangga tersenyum sinis.


Tasya kini melipat tangan nya di depan dada karena sedang menahan emosi. Tasya kini memilih diam takut jika nanti ia melawan akhirnya dia juga yang akan menangis.


Kini lift sudah terbuka dan mereka melangkah ke dalam kantor rangga.


Dan akhir nya mereka sudah sampai di dalam ruangan rangga, dan dani pun menaruh berkas kerja yang ia bawa di atas meja rangga.


"Dani keluar sebentar" perintah rangga pada dani.


"Baik bos" lalu dani pun memberi hormat dan keluar.


"Duduk" perintah rangga pada tasya sembari menunjuk sofa yang ada di depan mereka. Rangga pun kini duduk namun belum diikuti oleh tasya.

__ADS_1


Rangga yang tak melihat tasya bergerak kini ia kembali memerintakan tasya.


"Saya bilang duduk, kamu ini sepertinya sangat suka mendengar saya berbicara dua kali" tutur rangga melihat ke belakang sembari menyenderkan punggung nya dan merentangkan tangan nya di bagian kepala sofa.


"Hmm" jawab tasya dan ia pun kini duduk di bagian pojok sofa. Dan kini mereka duduk berjauhan.



"Katanya bapak ada meeting, yaudah sana keluar" tutur tasya dengan posisi duduk dan melipat tangannya di depan dada seperti anak kecil yang sedang marah dan wajah tasya tampak sangat kesal.


"Berani kamu mengusir saya dari ruangan saya sendiri? Seharusnya saya yang berhak mengusir kamu dari sini" tutur rangga yang masih berposisi seperti tadi namun menatap ke arah kiri melihat tasya.


"Ohh yaudah, gak perlu di usir saya sudah mau pergi kok dari ruangan jelek ini" tutur tasya yang kemudian berdiri dan hendak membuka pintu. Namun dengan cepat rangga menekan remot untuk mengunci pintu.


"Loh kok gak bisa di buka?" Tanya tasya pada dirinya sendiri.


"Kamu gak akan bisa keluar dari ruangan ini, tanpa izin dari saya" tutur rangga dan kini ia berdiri dan memperlihat kan remot itu pada tasya kemudian ia masukkan ke dalam saku jas nya dan ia berjalan menuju kursi kebesarannya.



"Ccckk.." tasya pun berbalik dan ia bergegas untuk duduk di depan meja kerja rangga.


"Kenapa?" Tanya rangga sembari membuka lapotnya.


"Bapak tuh ya ngeselin banget, beda banget sama om riko beda banget sama tante rani dan beda banget bangett sama alya" omel tasya pada rangga sembari menunjuk ke arah rangga.


"Trus?" Tanya rangga dan menatap tasya dengan tatapan dingin.


"Daann beda dari manusia lain nya" tutur tasya mengejek dan sedikit tersenyum sinis seolah olah ia berhasil membuat rangga kesal namun ternyata sebalik nya rangga tak menggubrisnya sama sekali.


"Saya gak perduli" sambung rangga sembari membuka berkas yang ada di depannya.


Tok tok tok...


Seseorang mengetuk pintu ruangan rangga.


"Masuk.." tutur rangga. Dan kini pintupun terbuka dan ternyata itu adalah dani. Dani bisa membuka pintu dengan memakai sidik jari nya yang sudah terdaftar di sana.


"Maaf mengganggu bos, semua sudah siap dan semua sudah ada di ruang meeting menunggu kita" tutur dani.


"Hmm" tutur rangga dan langsung berdiri namun tasya acuh tak acuh pada rangga.


"Jangan macam macam di dalam ruangan saya, saya akan pantau kamu melalui cctv yang terhubung di ponsel saya" tutur rangga lalu ia pun kembali berjalan menuju pintu.


Ketika ia sudah di luar ruangan, ia memberi instruksi pada bodyguard yang berjada di depan ruangannya.


"Kalian tunggu di sini saja, tidak perlu mengikuti kami ke ruang meeting, kalian jaga saja disini karena di dalam ada tamu saya" tutur rangga dan kembali berjalan menuju ruang meeting.


Rangga yang kini sedang sibuk meeting dengan karyawan, sedangkan tasya hanya bosan di dalam ruangan rangga.


*


"Akhh.. lama banget sii udah 1 jam nunggu gak kelar kelar" kesal tasya yang melihat jam di tangan nya yang menunjukkan jam 9 pagi.


Tasya hanya menyender di sofa dan memainkan ponselnya, namun tetap saja ia sangat bosan, dan di tambah lagi ia tiba tiba lapar karena sedang bosan.


"Akhh.. mana gua laper banget lagi" tutur tasya yang kini memegang perutnya masih dengan posisi menyender dan memejamkan matanya.


"Ni kantor gak punya tatakrama banget si.. tamu gak di kasih minum gak di kasih makan" omel tasya.

__ADS_1


"Sumpah depresi gua lama lama nunggu manusia kutub di sini" kesal tasya.


Sudah hampir 2 jam tasya menunggu rangga meeting ia sangat bosan sehingga ia tertidur di sofa.


Pov. Di ruang meeting.


Rangga yang masih sibuk memperhatikan kariawan nya yang sedang memberi laporan bulanan pada nya kini mata rangga teralih kan pada ponsel yang ia taruh di depan nya. Karena rangga juga sedang memantau tasya dari Cctv yang menyambung pada ponsel nya.


Senyum khas rangga pun terukir di wajah nya yang sedang menatap ponselnya itu, ia melihat tasya yang seperti nya sudah terlelap di atas sofa dengan posisi kepalanya di rebahkan ke bagian untuk menaruh tangan di sofa.


Dani yang kini melihat bos nya yang tersenyum sendiri, ia pun paham apa yang sedang bosnya lakukan itu, ia tau bahwa rangga sedang memantau tasya dari cctv.


"Boss boss.. katanya gak suka, gak level sama non tasya tapi malah senyum senyum sendiri melihat nona dari cctv" gumam dani dalam hati nya.


*


Kini meeting sudah selesai, meeting berjalan 3 jam seperti biasanya jika sedang membahas tentang laporan 3 bulan terakhir.


Rangga kini bergegas menuju ke dalam ruangan nya, dan dani pun membuka pintu untuk rangga. Dan dani pun biasanya langsung ikut masuk namun ketika dani ingin masuk ia di tahan oleh rangga.


"Dani kamu tidak usah ikut masuk, nanti saja jika saya membutuhkkan kamu" tutur rangga dan kini rangga menutup pintu dan menekan tombol kunci.


"Huuftt.." dani hanya bisa menghela nafasnya melihat sikap aneh bos nya itu namun ia paham kenapa bosnya seperti itu.


*


*


Rangga yang kini berjalan mendekati sofa ia benar benar mendapati tasya yang sudah tertidur dengan lelap.


Senyumpun kembali terukir di wajah tampannya itu.


rangga kini mendekat ke arah tasya dan berjongkok untuk melihat wajah tasya.


Tak sengaja rangga pun reflek memindahkan rambut tasya yang menutupi wajah cantik gadis itu.


"Cantik juga ni cewek kalo di liat liat" gumam rangga di dalam hati nya.


Lalu rangga berdiri dan mengambil selimut di dalam kamar yang ada di ruangan itu.


Kini rangga sudah kembali dengan membawa selimut.


dan rangga kembali berjongkok di lantai dengan posisi kaki bagian kanan di lantai dan kaki bagian kiri menumpu badannya.


Rangga kini menyelimuti tasya, setelah itu rangga kembali menatap wajah tasya, namun semakin lama rangga mendekatkan wajahnya mendekati wajah tasya dan berniat ingin mencium bibir tasya yang begitu menggemaskan di mata rangga. Rangga sebenarnya tidak sadar jika dirinya sudah semakin tergoda dengan kecantikan tasya.


Namun ketika rangga ingin mencium tasya tasya pun mengerjapkan matanya dan tersadar.


Ia melihat wajah rangga yang begitu dekat dengan nya ia pun berteriak dan mendorong rangga.


"Aaa... bapak ngapain?" Teriak tasya dan mendorong rangga kini rangga terduduk di lantai dan badannya mengenai meja.


"Awhh... kamu kasar banget sii.." marah rangga sembari menahan sakit di bagian punggung nya.


Tasya yang kini menyilangkan kedua tangan nya di depAn dada nya karena takut rangga sudah menyentuhnya.


Jangan lupa di vote kakak semua😉✨✨🥰 semoga kalian suka dengan karya pertama aku🥰 jangan lupa like dan komen.


Tunggu eps selanjutnya.

__ADS_1


Saya akan selalu up cerita ini sesuai jadwal dan tidak menunggu banyak like, semoga dengan seperti ini kalain mau dan suka dengan karya yang saya buat ini.🥰🥰🥰🙏


__ADS_2