
Kini tasya sudah duduk di samping rangga berjarak sekitar satu setengah meter. Dan kini cuaca di sana tampak dingin di tambah lagi dengan suasana mereka yang canggung. Mereka saling diam tak ada yang berani membuka pembicaraan.
Setelah beberapa menit terdiam kini tasya yang mengalah ia memulai pembicaraan.
"Ehem.. bagus juga suasana di belakang rumah tante rani" tutur tasya memulai pembicaraan.
"Hmm" cuma itu jawaban dari rangga, sambil memainkan ponsel nya. Tasya melihat ke arah rangga sejenak dia berfikir. "Kok adaa ya laki laki senyebelin ini" tutur tasya dalam hati nya.
"Mmm.. oiya pak, kalo boleh saya tau, semenjak kapan bapak sudah tidak menjadi dosen" tutur tasya dan melihat ke arah rangga kembali.
Rangga yang mendengar pertanyaan itu di lontarkan pada nya, kini rangga menoleh ke arah tasya.
"Kenapa?" Tanya rangga dengan tatapan dingin.
"Gapapa si pak, cuma nanya aja, kalo bapak gak mau jawab ya saya gak maksa" tutur tasya.
"Okey karena kamu maksa jadi saya akan jawab" jawab rangga dan tasya yang mendengar itu tambah semakin kesal ia merungut di dalam hati nya. "Whatt... gilak ni orang emang, orang gak maksa kok tapi seolah olah aku yang memaksa dia untuk jawab" kesal tasya dalam hati.
"Saya sudah tidak menjadi dosen semenjak beberapa bulan setelah kamu pindah ke kota JG" tutur rangga yang masih menatap tasya dan tasya kini menoleh ke arah rangga dan kali ini tatapan mereka berbeda.
"Setelah saya pergi? Bapak emangnya menghitung beberapa hari saya pergi ke kota JG?" Tanya tasya sedikit mengejek namun sebenarnya ia sudah geer karena rangga benar benar memperhatikan pergerakannya selama ini.
"Bukan kah kamu sudah tau kalau saya mengirim mata mata untuk menguntit kamu, ya jelas kan saya tau tentang kamu semua nya" tutur rangga menjelaskan. Dan tasya menaikkan alisnya saat mendengar jawaban dri rangga.
"Mm kalo boleh tau kenapa ya bapak mengirim orang untuk mengikuti saya, apa alasan bapak sebenarnya?" Tanya tasya yang bgitu penasaran.
"Bukankah abang kamu sudah menjelaskan nya? Apakah itu tidak cukup?" Rangga malah kembali bertanya pada tasya dan memberi tatapan dingin.
"Iya saya tau pak, tapi saya mau dengar alasan dari mulut bapak sendiri, dan saya berhak tau pak" tutur tasya.
" okey kalo kamu memaksa.." tutur rangga lagi dan lagi lagi jawaban rangga membuat tasya kesal karena dia seolah olah menjadi orang yang memaksa rangga untuk menjawab semua pertanyaannya.
"Alasannyaa.." rangga berhenti sejelak dan berpura pura berfikir.
"Apa pak?" Tanya tasya tak sabar.
"Karena saya ingin mencari tau tentang perempuan yang pernah memaksa saya untuk menjadi pacar pura puranya" tutur rangga dan kembali menatap tasya dengan tatapan penuh arti.
tasya yang mendengar jawaban rangga kini ia melihat ke arah rangga dan ia merasa malu jika mengingat kejadian waktu itu.
"Bapak.. bapak kok ngingatin kejadian itu di waktu yang gak tepat sii..." kesal tasya pada rangga. Rangga yang melihat tasya menunduk karena menyembunyikan pipi merahnya karena menahan rasa malu, senyumpun sedikit terukir di bibir rangga namun tak terlihat oleh tasya.
"Emang kenapa? Semua orang juga pasti akan ingat kalau kamu juga mengajak mereka untuk menjadi pacar pura pura kamu" tutur rangga. " sudah berapa banyak laki laki yang kamu jadikan pacar pura pura kamu?" Tanya rangga lagi dan kini tasya mengangkat kepalanya dan melihat rangga.
"Pak bapak tega banget si, mana ada saya seperti itu, lagian waktu itu kan karena saya panik gak tau harus gimana menghindari kevin" tutur tasya menjelaskan.
"Haha.." terdengar tawa dari mulut rangga yang membuat tasya tambah heran dan ia malah takut dengan mendengar rangga sedikit tertawa.
"Haha.. ternyata bapak juga bisa tertawa ya.." ejek tasya.
"Saya itu manusia bukan hewan" tutur rangga kesal dan sedikit marah pada tasya.
"Iya maaf" maaf tasya pada rangga karena tasya takut dengan tatapan rangga.
Agak lama mereka terdiam, kini rangga yang memulai untuk bertanya pada tasya.
__ADS_1
"Apa kevin masih menelfon kamu? Atau masih mengganggu kamu?" Tanya rangga sedikit lembut.
"Masih, dia masih menelfon dan mengirim pesan tapi saya tidak pernah membuka pesan itu dan tidak pernah menjawab tlfon dari nya" jelas tasya pada rangga.
"Bagus.." jawab rangga kembali dan membuat tasya merasa sedikit terheran.
Lama rangga dan tasya bercerita walaupun rangga tetap membuat tasya kesal namun tasya sudah sedikit terbiasa karane setiap bertemu rangga ia selalu di buat emosi oleh nya.
Kini mereka melihat pantulan cahaya di dalam kolam dan saling terdiam. dan tiba tiba petir menyambat dengan suara yang sangat kencang yang mebuat tasya terkaget dan dengan reflek ia langsung memeluk rangga.
Duuuaaarr....!! "Aaa..." teriak tasya dan ia memeluk rangga dan membenamkan wajahnya di dada rangga, rangga juga kaget, namun rangga kaget bukan karena petir namun karena tasya yang tiba tiba memeluk nya dan terasa dada tasya yang menempel di bagian depan tubuh rangga.
Rangga memejamkan matanya menahan semua apa yang ia rasakan.
"Aduhh ya tuhann... kenapa bisa keadaan semakin panas seperti ini..akhh!!" Tutur rangga merungut dalam hati karena ia tak tahan di peluk oleh tasya.
Lama tasya memeluk rangga karena ia benar benar terkejut. "Ekhemm.." rangga menyadarkan tasya dari ketakutannya. Tasya pun tersadar " ehh maaf pak saya tadi cu-cuma.." tasya sangat malu karena ia tiba tiba memeluk rangga dan kini ia tak bisa lagi berkutik.
"Cuma apa?" Tanya rangga yang ikut salah tingkah wajah mereka memerah.
"Seperti nya mau hujan ayok masuk, cuacanya semakin dingin" tutur rangga yang kini langsung berdiri dan tiba tiba hujan pun turun namun hujan itu tidak mengenai mereka karena mereka duduk di tepi kolam yang memang terlindungi.
Rangga tidak melihat tasya yang ikut berdiri, lalu ia berbalik lagi ke arah tasya.
"Saya bilang masuk masuk" tutur rangga sedikit marah, tasya yang mendengar itu ia pun melihat ke arah rangga dengan menengadahkan kepalanya karena posisi rangga berdiri di samping tasya.
"Hmm tidak pak, saya suka melihat hujan di malam hari, kalau bapk mau istirahat bapak duluan aja masuk ke rumah saya nanti saja" tutur tasya. Tasya memang suka melihat hujan tepat nya mendengar suara hujan yang turun dan membasahi bumi apa lagi hujan itu di malam hari ia sangat senang dengan suasana kesunyian yang hanya di isi oleh suara hujan.
Rangga yang melihat tasya menikmati suara hujan dengan menarik nafas nya dan memejamkan matanya, kini ranggapun tidak jadi untuk memasuki rumah nya, ia kembali duduk di sebelah tasya dan masih berdempetan.
"Pak.." tutur tasya sedikit kaget.
"Kamu jangan geer, saya bukannya saya mau bersama kamu, tapi saya malas berdepat dengan orang tua saya kalau mereka tau saya meninggalkan kamu sendiri di sini" jawab rangga cuek dan tak menatap tasya. Rangga yang tak mau tasya salah paham dengan nya dan tepat nya ia tak ingin tasya tau kalau rangga memang masih mau duduk berasama tasya.
Tasya hanya tersenyum dengan jawaban rangga.
Kini mereka saling diam dan menikmati cuaca yang dingin itu.
Rangga tak sengaja melihat tasya yang memeluk diri nya sendiri karena kedinginan dan mengelus lengan tangan nya. Lalu Rangga memencet tombol yang ada di atas meja tanda memanggil asisten rumah tangga, lalu kini asisten rumah tangga itu sudah menghampiri nya.
"Ada yang bisa saya bantu tuan.." tutur pembantu itu.
"Bawakan 1 kopi hangat, dan 1 teh hangat" tutur rangga dan di anggukkan oleh pembantunya itu.
"Ada lagi tuan?" Tanya pembantu itu.
"Bawakan syal berwarna merah saya kemari" tutur rangga memerintahkan asisten rumah tangga itu, kini asisten rumah tangga itu memberi hormat dan pergi untuk mengambil apa yang di perintahkan oleh tuannya.
Tak lama kemudian kini art itu kembali dengan membawa pesanan tuan nya.
"Ini tuan kopi dan teh nya, dan ini syal yang tuan minta." Tutur art itu. Dan memberi syal itu pada rangga.
"Terimakasih mbak" tutur tasya tersenyum ke arah art itu
"Tidak masalah nona" tutur art itu lembut.
__ADS_1
"Saya permisi" pamit art itu dengan menundukkan kepala nya tanda hormat dan di anggukkan oleh tasya dan tersenyum lembut.
"Ini" rangga memberi syal itu pada tasya. Dan tasya pun bingung.
"Untuk saya pak?" Tanya tasya.
"Iya lah untuk kamu, memang ada orang selain kamu dan saya di sini" tutur rangga dan tasya melihat ke sana kemari mencari keberadaan orang lain.
Lalu tasya mengambilnya."terimakasih pak" tutur tasya lembut dan langsung memakai syal itu. Ketika tasya memakai syal itu ia mencium bau parfum rangga yang masih melekat di syal itu, tasya menikmati harumnya aroma itu sembari bergumaman di dalam hati nya.
"Humm.. gilak harum banget syal nya, pasti ini bau parfumnya pak rangga" tutur tasya dan tasya pun tak sengaja menatap rangga, rangga yang menyadarinya pun langsung menoleh ke arah tasya.
"Kenapa kamu menatap saya sambil senyum senyum" tasya pun tersadar dan langsum menyadarkan diri nya dengan menggeleng gengkan kepala nya.
"Tidak saya tidak menatap bapak" tutur tasya membela diri.
"Alasan" tutur rangga dan sedikit tersenyum karena lagi lagi dia membuat wajah tasya memerah.
Kini sudah menunjukkan jam 11.30 malam tasya kini tampak menguap dan rangga yang melihatnyapun langsung mengajak tasya untuk masuk dan istirahat.
"Ayo kita masuk" rangga tiba tiba berdiri dan mengajak tasya namun tasya hanya menatap rangga.
"Ckkk.. masuk saya bilang" bentak rangga.
"Iya iya pak" tasya langsung berdiri dan mengambil tas nya.
"Cehkk Bapak ini kadang kadang lembut, trus tiba tiba kasar banget tiba tiba dingin banget gimana siih" tutur tasya kesal yang mensejajarkan jalan nya di sebelah rangga. Namun rangga tak menggubrisnya.
Kini mereka sudah sampai di depan kamar mereka masih masing dan berhenti sejenak.
"Nih pk" tasya melepaskan syal rangga dan mengembalikan syal itu, walaupun sebenarnya tasya masih ingin mencium bau parfum itu.
"Hmm" ranggga mengambilnya dan kembali menyuruh tasya untuk masuk ke kamar.
"Sudah sana masuk" tutur rangga yang hanya menaikkan alisnya mengarah ke kamar alya.
"Hmm iya pak, btw makasih ya pak udah nemenin saya duduk di luar dan ngobrol" tutur tasya.
"Jangan geer, saya hanya terpaksa karena orang tua saya" tutur rangga cuek. "Sudah sana masuk" lagilagi rangga menyuruh tasya masuk dengan nada yang sedikit tinggi.
Kini tasya masuk ke kamar itu. Sedangkan rangga tidak langsung masuk ke dalam kamar ia malah memilih untuk duduk di sofa depan kamar nya.
"Hufftt.." rangga menghela nafas berat nya karena ia berhasil menahan diri dan apa yang ia rasakan saat bersama tasya, rangga tetap lelaki normal yang mudah terpancing apa lagi pada saat malam hari.
Kini rangga menatap syal itu dan sedikit senyum terukir di wajahnya.
Lalu rangga tak sengaja mencium syal yang sudah di pakai tasya itu. rangga pun memejamkan matanya saat mencium bau parfum tasya yang menempel di syal itu, lama ia menciumnya dan akhirnya ia tersedar.
"Akhh.. kenapa si gua.." tutur rangga yang tersadar dengan tingkah aneh nya.
Lalu rangga memutuskan untuk masuk ke kamar nya dan memutuskan untuk langsung tidur.
Jangan lupa di vote kakak semua😉✨✨🥰 semoga kalian suka dengan karya pertama aku🥰 jangan lupa like dan komen.
Tunggu eps selanjutnya.
__ADS_1
Saya akan selalu up cerita ini sesuai jadwal dan tidak menunggu banyak like, semoga dengan seperti ini kalain mau dan suka dengan karya yang saya buat ini.🥰🥰🥰🙏