Perjalanan Cinta Dokter Dan CEO

Perjalanan Cinta Dokter Dan CEO
74. Pulang


__ADS_3

Rangga dan tasya kini saling bertatapan.


*


Dan akhirnya tasya tersadar, ia kini berusaha berdiri dan berusaha melepaskan tangan rangga dari badannya.


"Awass.. lepas gak...!!" tasyapun memberontak saat tau rangga semakin mengeratkan pelukannya agar tasya tak beranjak dari posisi itu.


"Bangg... nanti ekey liat kitaa.." tasyapun tampak panik dan melihat kiri kanan dan ke arah kamar ekey, ia sangan takut jika ekey melihat kejadian ini.


"Biarkan saja... kalau dia merasa manusiawi dia tidak akan mengganggu kita jikalau dia melihat kita seperti ini" gumam rangga yang masih menahan tasya yang sedang berusaha keras untuk terlepas darinya.


"Bang...!!" tasyapun semakin memberontak.


"Biarkan seperti ini sejenak...!" Sedikit rangga membentak, lalu tasya kembali menatap mata rangga yang tampak sayu.


Kini mereka kembali saling bertatapan, mata rangga kini semakin sayu menatap tasya dan tampak seperti ada tatapan ketulusan untuk tasya.


"Aku tidak akan membiarkan perjodohan ini gagal" gumam rangga yang masih menatap tasya.


Namun tasya tak berkutip, ia malah menatap rangga dengan saksama.


"Saya tidak mencintaimu dan saya tidak punya perasaan terhadap kamu tetapi saya merasa nyaman bila berdekatan dengan kamu" sambung rangga yang penuh keyakinan.


Tasya semakin bingung, dan semakin gugup.


"Kenapa?" Tanya tasya dengan suara pelan.


"Apa pertanyaan ini untuk pernyataan saya yang kedua?" Tanya rangga.


"Iyaa.."


"Emmm tidak tidak.. pertanyaan ini untuk pernyataan yang pertama" sambung tasya yang semakin gugup dengan pertanyaan rangga dan tentunya juga karena tatapan rangga yang sangat membuat nya merasa tenang.


"Saya tidak punya jawaban atas pertanyaan kamu"


"Dan saya akan berusaha mencari tahu"


"Dengan rasa tidak sadar abang akan mempermainkan seorang wanita yang tidak bersalah" tutur tasya yang tidak suka dengan jawaban rangga yang ia rasa tidak memiliki pendirian dan egois.


"Mempermainkan?" Tanya rangga bingung.


"Iya, abang bilang, abang nyaman kalau dekat dengan saya, tapi abang gak punya perasaan apapun terhadap saya. Dan abang maksa saya untuk ikut kemanapun abang mau.. gimana kalau saya tiba tiba punya perasaan sama abang?" Tanya tasya dengan tatapan penuh keyakinan.


Lama rangga terdiam, karena ia tidak tau harus menjawab apa.


"Udahlah gak usah di jawab, saya udah tau jawabannya, abang pasti akan bersikap bodo amat dengan apa yang saya rasain kan?"


"Saya belum menjawab apapun, bagaimana bisa kamu membuat pernyataan seperti itu" jawab rangga.


"Sekarang saya tau abang butuh siapa, abang cuma butuh wanita yang mau mendengar apa yang abang perintahkan dan tidak membantah apa yang abang katakan tanpa harus melibatkan perasaan apapun" tasya berhenti berbicara sejenak dan kini matanya mulai berkaca.


"Jadii lepaskan saya.." dengan cepat tasya mendorong tubuh rangga namun rangga kembali memeluk tasya dengan erat lagi lagi tasya gagal untuk menjauh dari tubuh rangga.


"Mau apa sih??" Tanya tasya yang kini membentak rangga dan menunjukkan rasa kesalnya.


"Saya hanya mau kamu di samping saya...!" Bentak rangga.


"Egois tau nggaak..!" Dengan cepat tasya menginjak kaki rangga dengan sangat keras dan menjauh dari rangga.


"Owwwhh shitt..." rintih rangga menahan sakit.


"Saya gak ngerti ya sama kamu, tiba tiba bilang saya egois" ujar rangga yang masih menahan sakit.


"Emang, abang itu gak ngerti dan gak akan pernah ngerti, karna abang itu egois" tasya sebenarnya bingung dengan sikapnya sekarang, kenapa dia benar benar kesal dengan rangga, apa lagi mengingat kejadian di hotel waktu itu, ada wanita yang tiba tiba memeluk rangga.


"Dan skarang silahkan keluar saya sibuk.." tasya mendorong rangga dengan sangat kuat.


"Okey okey.. saya akan keluar, dan kamu ingat saya akan membalas kamu di kota JK nanti" kini ranggapun pergi meninggalkan tasya.


*

__ADS_1


*


Skip...


"Akhh kenapa gua jadi ksal sama tu orang.." kini tasya memejamkan matanya dan tak terasa air matanya terjatuh.


"Ca lu knapa nangis?" Tiba tiba ekey muncul karena tadi ia mengintip jadi sudah tau jika rangga sudah tidak ada di sini.


"Ga tau nih, tiba tiba pengen nangis aja" tasya pun mengusap air matanya.


"Emang dia apain lo tadi?" Tanya ekey penasaran dan duduk di sebelah tasya.


"Setiap cowok yang gua temuin pasti mereka gak tulus sama gua .. hikss hikss.." kembali tasya menangis


"Lo tau gak dia ngomong apa tadi? Dia bilang kalau dia nyaman sama gua tapi dia gak punya perasaan apapun sama gua, dan gak tau gua ngerasa sakit banget di perlakuin kayak gitu hikss hikss"


"Caa tapi itu namanya cinta ca.. emang dianya aja yang punya gengsi ketinggian" ujar ekey.


"Apa lagi pas acara di hotel, ada cewek tiba tiba meluk dia di depan gua, gua merasa jadi selingkuhan dia waktu di acara itu"


"Gua gak tau ini perasaan apa, gua bingung.. kadang dia ngelindungin gua, perjatian, trus tiba tiba dia marah, ngebentak gua gak jelas ngancam gua..hiks hikss" tangis tasya kini semakin pecah.


"Ca.. gak biasanya lo nangis kayak gini dengan alasan gak jelas"


"Fix lo udah jatuh cinta sama tu orang" ucap ekey.


"Gua gak mau jatuh cinta sama orang kayak dia" kini tasyapun berdiri dan masuk ke kamarnya.


*


*


Skip.


Dalam 3 hari ini tasya banyak menghabiskan waktunya di dalam kamar dia keluar dari kamar hanya untuk makan saja.


Ekey yang merasa ada perubahan dari tasyapun kini ia masuk ke kamar tasya.


"Ca.. lo kenapa sih semenjak hari itu lo diem aja di kamar, jangan gitu dong." Ekey duduk di atas ranjang tepat di sebelah tasya.


"Lo mikirin pak rangga ya?" Tanya ekey.


"Apasih enggak lah ngapain mikirin dia" tasyapun langsung berdiri beranjak dari ranjang nya dan pindah duduk di sofa kamar nya.


"Ayo lah caa.. ngomong apa kek sama gua, gua jadi bingung ni.." kesal ekey.


"Emm key.."


"cepet mo ngomong apa?" Ekey dengan antusias ingin mendengar apa yang akan tasya bicarakan.


"Besok kita pulang yok" ujar tasya.


"Serius?"


"Iya lah.."


"Omg!!!! akhirnya....!!!!" Ekey pun dengan cepat mengambilkan ponselnya dari saku celana.


"Lo mau ngapain" tanya tasya yang melihat ekey sibuk dengan ponselnya.


"Mau pesan tiket lah.."


"Gak usah, udah gua psen" ekey yang mendengar itupun langsung tercengan.


"Hah? Kesambet apa lu tiba tiba inisiatif buat pesan tiket sendiri" ujar ekey.


"Udah lah jangan banyak tanya, mending lo bantuin gua beresin barang2 yang perlu gua bawa pulang"


*


*

__ADS_1


Skip..


Kesokan harinya.


Kini jam sudah menunjukkan jam 8 malam, tasya dan ekey sudah bersiap siap untuk ke bandara.


"Gilak banyak juga barang lu ca" ujar ekey.


"Ya iya lah, gua disini itu bertahun bukan berhari" jawab tasya.


*


*


Kini mereka sudah samapai di lobby hotel dan banyak para bodyguard di sana yang ikut serta membantu tasya membawa barang yang akan di bawa pulang.


"Ca.. nanti mas urus barang barang kamu yang masih banyak di sini ya?" Ujar robi yang kebetulan ada di sana.


"Emm iya mas, makasih ya udah bantu bantu ca selama tinggal di sini, maaf kalau ngerepotin terus hehehe.." ujar tasya merasa tak enak.


"Apa sih kok ngomongnya kayak gitu, tapi kamu masih mau datang kesini kan main main?" Robi pun mengusap kepala tasya dengan lembut dan langsung memeluk tasya.


Dan secara tak sadar ada orang dari kejauhan memfoto tasya dan robi yang saling berpelukan.


Cekrekk ceekreek... cerekk...


Lalu orang itu segera mengirim foto ke orang yang menyuruh mereka untuk memantau tasya.


*


Kini mereka semua sudah berada di dalam mobil dan segera menuju bandara. Begitu dengan robi ia juga ikut mengantar kepulang tasya.


*


//di kota JK//


"Siall.... berani berani nya dia berpelukan seperti ini!!" Seseorang yang selalu memantau ponselnya saat bekerja itu marah besar.


Ranggapun menaruh ponselnya di atas meja dengan sangga keras.


Takk...


"Dani...!!!" Teriak rangga.


Dani yang memang sudah ada di dalam ruangan nyapun merasa biasa saja, karena ia sudah terbiasa dengan bosnya itu.


"Ada yang bisa saya bantu bos" tanya dani sopan.


"Kamu pastikan dia harus menemui saya di malam ini juga" rangga pun memberi perintah pada dani.


"Tapi bos, apa itu tidak membuat keluarganya.."


"Saya yang akan menelfon orangtua nya , dan meminta izin untuk membawa ank nya kerumah saya"


"Baik bos" kini dani pun langsung ingin keluar.


"Pastikan hanya gadis itu saja yang datang kerumah saya.."


"Baik bos"


Kini dani mulai mengatur rencana untuk menjemput tasya di bandara.


Sedangkan rangga mulai mengabari orangtua tasya, dan meminta izin untuk membawa tasya kerumah nya hanya malam ini saja. Dengan alasan yang di buat buat oleh rangga.


Dan rangga mengajak orang tua tasya bekerja sama, tentu saja mereka mau membantu rangga, karena mereka berfikir akan lebih bagus tasya dan rangga selalu berdekatan dan membuat perjodohan ini berjalan dengan lancar.


Dan papa bryan menelfon salah satu bodyguard tasya, untuk memberi tasya pada dani saat tiba di kota JK nanti.


*


Jangan lupa di vote kakak semua😉✨✨🥰 semoga kalian suka dengan karya pertama aku🥰 jangan lupa like dan komen.

__ADS_1


Tunggu eps selanjutnya.


Saya akan selalu up cerita ini sesuai jadwal dan tidak menunggu banyak like, semoga dengan seperti ini kalain mau dan suka dengan karya yang saya buat ini.🥰🥰🥰🙏


__ADS_2