Perjalanan Cinta Dokter Dan CEO

Perjalanan Cinta Dokter Dan CEO
18. Berdebat lagi


__ADS_3

"Tutup mulut mu itu,nanti debu yang ada di ruangan ini masuk ke mulut mu.


Tasya pun tersadar dan ia menutup mulut nya.


" bapak?" Kaget tasya melihat rangga


" iya saya kenapa? Ada masalah dengan adanya saya di sini?" Tanya rangga sedikit membentak tasya.


"Ti-tidak pak, ta-tapi kenapa bapak" omongan tasya terhenti oleh bantahan rangga.


" apakah saya mengenal anda sebelumnya? Saya rasa tidak tapi kenapa kamu melihat saya seperti kita pernah bertemu" tanya rangga pura pura berfikir dan tersenyum miring ke arah gadis itu.


Tasya pun tau rangga sedang berpura-pura tak mengenalnya karena ingin membuatnya kesal.


"Ohh tidak tidak, saya mungkin salah pak, saya kira bapak itu orang yang sering saya temui di pasar becek ternyata tidak, mungkin karena wajah bapak terlalu pasaran makanya saya keliru" tutur tasya tanpa merasa bersalah atas ucapan nya itu.


Sedangkan orang orang di sana yang mendengarkan penuturan tasya pun tersentak kaget dan melihat ke arah wanita cantik dan seksi itu. Rangga pun sudah sangat kesal pada tasya yang sudah berani menjatuhkan harga dirinya di depan bawahan nya itu.


Sekertaris dani yang mendengarkan hinaan dari gadis itu pun menahan tawa nya karena ia juga melihat wajah bos nya itu memerah karena terbakar emosi.


"Apa kamu bilang? Pasaran? Kamu kurang ajar sekali pada saya, apa kamu tak tau siapa saya?" Tanya rangga marah pada tasya.


"Tentu saja saya tau pak, anda itu kan CEO yang tak memiliki raut wajah kan?" Tutur tasya lagi menghina rangga. Rangga memplototi tasya tapi tasya tersenyum miring penuh kemenangan. Hati nya sangat puas melihat wajah rangga yang sudah terbakar emosi akibat dirinya.


"Eh ca, ini tamu spesial hotel kita ca kamu harus sopan ', minta maaf gak?" tegur manager itu pada tasya tak lain dan tak bukan ialah robi dan memerintahkan tasya untuk minta maaf.


"Ee maaf atas penuturan tasya tadi pak, saya harap bapak tak menghiraukan perkataan nya tadi" tutur manager itu sopan pada rangga.


"Baik lah saya tak akan menghiraukan nya" tutur rangga.


"Mari saya antar ke kamar VVIP pak" robi menuntuk rangga untuk memasuki lift.

__ADS_1


" saya tak ingin siapa-siapa yang nenghantarkan saya ke ruangan saya, saya hanya ingin dia yang menghantarkan saya ke kamar saya dan saya minta dia yang melayani saya selama saya ada di sini" tutur rangga tegas pada manager itu dan semua orang pun bergidik ngeri melihat tatapan tajam bos besarnya itu.


"What saya? Kenapa harus saya lagi si pak, tadi saya sudah menyambut bapak sekarang bapak ingin saya melayani bapak di hotel ini" tutur tasya sedikit berteria pada rangga.


"Sudah sudah ca kamu ikutin aja ya apa kata pak rangga,yaudah sana kamu antar pak rangga dan sekertarisnya itu"


"Aca nggak mau mas, apaan si" tutur tasya pelan pada robi dan mengerutkan keningnya.


"Ya sudah kalau tidak mau, saya akan memberi nilai yang negatif pada hotel ini dan saya akan menyuruh sekertaris saya untuk menelfon pemilik hotel ini" tutur rangga mengancam tasya dengan wajah yang datar dan pandangan nya hanya lurus kedepan tak memandang siapa siapa di sana.


"Aaakhh, yaudah iya iyaa saya akan mengantar bapak ke kamar" tutur tasya yang langsung menuju lift khusus tamu VVIP dan sembari mengomel ngomel.


"Bisa nya cuma ngancam aja dari dulu. Gak ada bakat lain apa selain ngancam" tutur tasya merungut yang hanya dirinya dan tuhan lah yang mendengar nya.


Seketika itu senyum khas rangga terukir kembali di wajah tampan nya karena mendengar persetujuan dari tasya.


Sekertaris dani hanya menggeleng kan kepalanya melihat pertengjaran tom&jerry itu.


Pov. Di dalam lift


Tasya berdiri dekat tombol lift dan rangga berada di samping belakang tasya. Rangga sedikit melirik ke arah tasya namun tasya melihat lirikan itu. Namun tasya tak menghiraukan nya.


"Ekhemm" rangga memecahkan suasana hening itu dan sembari ia melangkah beberapa langkah kecil ke samping sebelah taysa.


Tasya yang menyadari pergerakan rangga itu ia pun ikut bergeser ke samping menjauhi rangga.


"Pak lift ini kan sangat luas, bahkan muat 15 orang, tapi kenapa bapak makin lama makin geser ke sini si pak, modus ya?" Sentak rangga salting atas penuturan tasya namun iya segera membalikkan fakta.


" saya yang duluan masuk ke lift ini dan saya berdiri di sini, dan tiba tiba kamu mengambil tempat berdekatan dengan saya, itu berarti kamu yang ingin dekat dengan saya" tutur rangga membalikkan faktas.


"Apaam si ga jelas" kini tasya mundur dan berbalik badan untuk menjauh dari rangga dan berjalan di belakang rangga atau di tengah tengah dani dan rangga.

__ADS_1


Namun rangga kembali mundur dengan kedua tangan nya masih di dalam saku celana, karena rangga mundur tasya pun tak bisa lewat di belakang nya.


"Dani kamu lihat kan siapa yang ingin berdekatan dengan saya, saya ingin berpindah tempat dia pun ikut ke arah saya, jadi siapa yang modus disini?" Tanya rangga pada dani. Dani hanya mengiya kan apa yang dibilang bos nya itu.


"Loh kok jadi saya si yang kena, kan bapak yang mundur ingin menghalangi jalan saya gimana si" kesal tasya.


Kini mereka pun suda sampai di lantai 25. Pintu lift pun terbuka. Tasya berjalan duluan di depan 2 orang laki laki itu.


"Silakan masuk pak" tasya mempersilahkan rangga masuk ke kamar VVIP itu yang di ikuti oleh sekertaris dani.


Lalu rangga duduk di kursi tamu itu. Di dalam kamar VVIP itu terdapat banyak ruangan, bahkan bisa di katakan seperti rumah. Ada ruang tamu, dapur untuk masak dan tempat meja makan, lalu di atas adalah ruang kerja yang terpisah dari lantai 1 ruangan VVIP ini adalah 2 lantai.


*kursi tamu kamar VVIP*



*kamar hotel*



*kamar mandi hotel*



"Akhh ternyata nyaman juga di sini" tutur rangga sembari menebarkan pandangan lalu duduk di kursinya pada ruang VVIP itu.


"Terimakasih" tasya memaksakan senyumnya terhadap rangga.


Dani kini memasukkan koper rangga ke dalam kamar dan menyusun nya di dalam ruang ganti.


kini tinggal mereka berdua di ruangan itu.

__ADS_1


Jangan lupa di vote yaaa gayssss🥰🥰✨ semoga kalian suka dengan karya pertama saya🥰🙏


__ADS_2