Perjalanan Cinta Dokter Dan CEO

Perjalanan Cinta Dokter Dan CEO
33. Mengadu pada papa


__ADS_3

Pagi tlah tiba, kini penghuni mansion utama sudah terbangun dan sudah ada juga yang bersiap untuk kerja.


Di karena kan banyak tamu yang menginap di mansion keluarga bryan, maka semua berkumpul di ruang utama mansion itu sembari menunggu ART menyiapkan makanan di atas meja, karena ini sebenarnya masih sangat pagi maka blum waktunya untuk sarapan.


"Ehh kalian.." mama riana kaget melihat sahabat anak nya yang sedang sibuk di dapur. "ngapain repot repot sayang, udah biarin aja meereka yang masak, kan di rumah ini ada chef" Tutur mama riana lembut pada nayfa dan putri.


"Ehh mama" kompak mereka berdua.


"Gapapa ma, tasya maunya masakan kita katanya, jadi yaudah kita buatin, sekalikali ma hehe" tutur putri menjelaskan dan tertawa kecil.


"Ohh tasya udah bangunn.. eh tapi kalian gapapa kan di repotin sama tasya,kalian kan baru sampai tadi malam, kalo mau istirahat.. istirahat aja sayang ga usah di paksa" tutur mama riana yang tak enak pada dua sahabat anak nya itu.


"Udah gapapa ma ini udah selesai bubur nya" tutur nayfa lagi.


"Hmm yaudah makasih ya nak, kalian udah sayang sama tasya, kalian udah mau jaga tasya, tante sayang sama kalian, smoga persahabatan kalian selamanya ya" tutur mama riana yang terharu melihat kesetiaan ketiga sahabat itu.


"Yaudah mama ke sana dulu ya" mama riana menunjuk ke arah mami rani.


"Iya ma" kompak putry dan nayfa menjawab dan kemudian mama riana berlalu pergi.


Ketika itu juga rangga dan avnil turun dari tangga menuju ke ruang utama mansion itu, di karenakan kamar avnil dan rangga bersebelahan yang di siapkan oleh asisten rumah tangga itu.


"Pagi tante" tutur rangga tersenyum kecil dan cupika cupiki dengan mama riana.


"Pagi ngga" mama riana membalas senyum rangga.


"Pagi mi" sambung rangga mencium pipi mamanya, begitulah kebiasaan rangga kalo setiap pagi.


"Pagi sayang" balas mami nya.


Bagitu juga dengan avnil ia menyapa orang yang ada di sana.


"Gimana smalam ngga?" Tanya mama riana pada rangga tentang pembicaraan rangga dan anak nya smalam, dan mama riana melirik pada mami rani tanda berharap apa yang mereka pikirkan.


"Ehmm, gimana smalam? maksudnya tante?" Tanya rangga bingung.


"Sama calon menantu mami sayang, masa kamu gitu aja gak peka sih" tutur mami rani menggoda anak nya itu Dan sesikit tersenyum.


Lalu kembali mata kedua rani dan riana itu saling melirik dan tertawa.


"Ehmm ma-maksud nya apa mi? Calon menantu?" Rangga benar benar bingung dengan apa yang di bicarakan oleh rani dan riana itu.


"Yaudah yaudah, kan kamu smalam ngomong tuh sama tasya.. trus gimana? kalian ngobrolin apa sampai gak mau nunggu pagi hari tiba, ngebet banget mau ngomong sesuatu sama anak tante" tutur mama riana kembali menggoda rangga, avnil yang menyaksikan wajah rangga yang mulai memerah itu cuma geleng geleng dan tersenyum kecil pura pura tak tau apa apa.


"Hmm gak ngomong apa apa si tan, cuma ngomongin masalah yang terjadi akhi akhir ini, udah itu aja" tutur rangga menjelaskan.


"Hmm bener itu aja? Gak ada yang lain?" Lanjut mami nya itu bertanya.


"Iya.. emangnya kenapa?" Sembari rangga meminum air yang ada di depan nya karena slaah tingkah dengan pertanyaan yang di lontarkan padanya.


"Gapapa gapapa, gini amat punya anak yang susah peka" tutur maminya pelan, rangga sebenarnya mendengar itu namun ia tak menggubrisnya.


Lama mereka berbincang dan kemudian papi riko pun turun karena ingin segera ke kantor, dan alhasil papi riko lah yang duluan sarapan, karena ia mendadak ada meeting sepagi ini.


*


*


Pov. Di kamar tasya.


" hellooww... pagi pacarnya pak rangga.. upsss"tutur putri yang baru saja membuka pintu dan nayfa yang sedang membawa nampan berisi bubur, roti dan susu.

__ADS_1


"Aku upss juga dehh" tutur nayfa lagi dan mereka berdua menertawai tasya.


"Hahahh"


"Ha? Pacar? Helloww ini masih pagi ya, jangan bikin hidup orang terbebani deh dengan mendengar nama itu" tutur tasya yang memutarkan bola matanya seperti orang julid.


"Ahahah iya deh maaf" tutur mereka berdua.


"Gimana kondisi lu? Suhu badan lu udah normal blum?" Tanya putri sembari memegang dahi tasya.


"Udah mendingan lah gak kayak smalam". Tutur tasya meyakinkan dua orang itu.


"Ekey mana?" Tanya tasya lagi.


"Tadi si mau mandi katanya, tapi mungkin skarang dia udah selesai" tutur nayfa.


"Panggilin dong pliss" tutur tasya membuat imut wajah nya.


"Knapa lu nyariin gua? Gak bisa hidup tanpa gua lu ca? Ape ape guaa ape ape guaa.. sibukk dah idup lu" tutur ekey yang mulutnya asal ngerocos. Dia memang seperti itu, itu adalah salah satu kenapa tasya suka pada ekey.


"Heh!! Gua pecat ya" tutur tasya yang di sambungi tertawa lemasnya itu.


"Gitu deh lu ca, ngancem mulu kerjaannya" tutur ekey sembari duduk di bibir kasur tasya


Tasya putri dan nayfa yang mendengar ekey berbicara seperti itu pun tertawa walaupun tasya masih terdengar lemas.


"Aa kangen deh lo marah marah kaya gini" tutur tasya kembali.


*


*


Setelah berbincang hal hal mengenai ekey tasya pun berfikir untuk ingin merubah posisinya.


"Apa? Jangan aneh aneh ya ca" tutur nayfa.


"Gua mau duduk bantuin gua dong, bosen tiduran trus, tapi diem diem aja gak usah kasih tau mama, ntar gak di kasih ijin lagi" tutur tasya yang memohon pada ketiga orang itu.


"Tuh kan ketebak, gak gak gua gak mau" tutur putri.


"Pliss,skali doang, kalo minsalnya gua gak bisa yaudah gua gak mau maksa juga, yang penting gua gerak" .


Akhir nya mereka bertiga itu membantu tasya untuk duduk, 1 kali merka mencoba tasya tak kuat menahan sakit, sehingga terdengar erangan kecil yang keluar dari mulut nya.


"1 kali lagi pliss, kali ini gua pasti bisa" tutur tasya yang suaranya terdengar khas orang yang menahan sakit.


"1 2 3.. " mereka bertiga menghitung dengan suara yang pelan supaya tak terdengar.


Dan hasilnya tasya berhasil untuk duduk.


"Huuff..akhirnya" tasya memejamkan matanya dan menyenderkan kepalanya di bantal.


Dan di sana tasya mulai di suapi untuk sarapan pagi.


sampai akhir nya tasya sudah hampir selesai.


Tok tok tok...


terdengar orang yang mengetok pintu dari luar.


"Masukk" tutur ekey.

__ADS_1


Pintu di buka dan ternyata itu adalah papa bryan


"Pagi pa" tutur putri nayfa ekey bersamaan. Mereka memang sudah seperti keluarga disini.


" pagi" tutur papa bryan yang masih terlihat lemas, namun ia sudah tak memakai kursi roda karena kesehatnnya sudah mualai membaik.


"Yaudah kita bertiga keluar dulu ya pa" tutur ekey, lalu di anggukkan oleh papa bryan.


Kini tinggallah tasya dan papa nya di dalam untuk berbicara.


"Paa..." lirih tasya yang kini mulai akan menangis.


"Sayang.. maafin papa ya nak, papa gak bisa jagain kamu sehingga kamu terluk seperti ini, maaff.." tutur papa bryan yang langsung meminta maaf dan memeluk anak gadisnya itu.


"Paa.. papa gak salah, papa jangan minta maaf sama adek" tutur tasya yang air matanya kini sudah menetes.


"Pa adek takut hiikkss, adek kesakitan malam itu, adek juga kedinginan, untung bang avnil datang jemput adek hikkss hikkss " tutur tasya yang mengadu pada papa nya itu.


"Iya sayang papa tau, kamu skarang tenang ya, kamu skarang udah aman, kamu gak perlu takut lagi ada papa" papa bryan menenangkan tasya dan mencium anak nya itu.


"Paa.. hikss hikss sakittt.. adek gak kuat sakit paa.." tangis tasya kini semakin pecah dan mengeluh pada papa nya itu tentang punggung nya terasa sakit karena tertembak. Begitu juga dengan papa bryan ia meneteskan air matanya.


Tasya cuma ingin menangis dan mengeluh hanya di depan papa nya, sedangkan selain papa nya, ia cuma ingin bisa terlihat kuat namun ia tak bisa menyembunyikan itu dari papa nya.


Papa bryan melepaskan pelukannya dan menghapus air mata anak nya itu.


"Kamu dengar ya sayang, gak ada lagi yang bisa nyentuh anak papa ini, papa janji sayang ini gak akan terulang lagi, kamu ingat janji papa, jadi kamu jangan tukut sayang, ada papa bang avnil yang ikut jagain kamu" tutur papa bryan sembari mencium dahi anaknya. Lalu tasya mengangguk pelan dan masih terdengar isakan tangisnya.


"Kangen sama papa hiikkss hiikks, maafin adek ya udah bikin semua orang panik dan repot kayak gini nungguin adek pulang hiikss hiikks" tutur tasya yang masih dengan isakan tangisnya yang seperti anak kecil, begitu manjanya anak itu jika di hadapan papa nya .


"Udah udah sayang ini bukan salah kamu, ini salah papa yang lalai untuk menjaga kamu" tutur papa nya itu lalu memeluk nya.


Tok tok tok...


Suara ketukan Pintu kembali berbunyi, kali ini adalah mama riana.


Tasya yang mendengar ketukan pintu itu dengan cepat ia menghapuskan air matanya dan bersikap seperti semula seperti tak terjadi apa apa.


"Ehh papa, pantasan di cari di kamar papa gak ada, ternyata di sini" tutur mama riana yang tersenyum mengarah pada suami nya itu. Lalu senyuman itu juga di balas oleh suaminya.


"Ehh adek udah bisa duduk? Kamu duduk sendiri?" Tanya mama riana yang langsung menghampiri anak nya itu.


"Nggak maa, tadi di bantuin sama ekey, putri dan nayfa" tutur tasya." Oh gitu, kamu udah sarapan sayang?" Tanya mama riana sembari mengelus kaki anaknya itu,


"Udah ma, tuh buburnya udah habis" tutur tasya yang mennjuk mangkok kosong.


"Hmm yaudah, 5 menit lagi dokter sampai untuk meriksa kamu, mama sama papa sarapan di bawah dulu ya sayang, gak enak sma tante rani kalo kelamaan" " yuk pa" ajak mama riana dan papa bryan pun berdiri .


//Di meja makan//


Di sana sudah ada, papa bryan, mama riana, mami rani, rangga, avnil, ekey, nayfa dan juga putri.


"Papi kamu kemana ngga?" Tanya papa bryan pada rangga.


"Ada meeting mendadak om, makanya harus buru buru ke kantor tadi" jelas rangga yang sedang mengunyah roti.


Semua orang sarapan smebari berbincang hal hal kecil dan tak lagi membahas masalah penculikan itu.


Jangan lupa di vote kakak semua😉✨✨🥰 semoga kalian suka dengan karya pertama aku🥰 jangan lupa like dan komen.


Tunggu eps selanjutnya.

__ADS_1


Saya akan selalu up cerita ini sesuai jadwal dan tidak menunggu banyak like, semoga dengan seperti ini kalain mau dan suka dengan karya yang saya buat ini.🥰🥰🥰🙏


__ADS_2