
Jam sudah menunjukkan jam 7 pagi, rangga kini sudah bersiap untuk ke kantor.
Rangga keluar dari kamar nya dan menuruni tangga ke bawah untuk sarapan pagi, dan di sana ia sudah di sambut oleh dani dan para pekerja di rumahnya,
Semua menunduk ketika rangga sudah terlihat menuruni tangga. Rangga kini duduk di kursi makan.
"Apa jadwal saya hari ini" tanya rangga pada dani sembari mengaduk kopi.
"Hari ini orang tua anda ingin menemui anda di kantor jam 10 nanti bos, dan orang tua enjel juga mengajak anda untuk makan malam bersama di restoran excellent" (restoran excellent adalah restoran milik perusahaan rangga)
"Kapan orang tua saya meminta untuk menemui saya?"
"Tadi bos"
"Hmm.. baik lah, dan.. masalah orang tua enjel kamu saja yang menemui mereka, katakan saya sedang sibuk mengurus pernikahan saya" jelas rangga yang membuat alasan konyol dan membuat dani tersentak kaget.
"Apa bos? Ma-maksudnya?" Tanya dani dengan heran.
"Kenapa? Kamu tidak mau lagi menjalani perintah saya? Sudah bosan bekerja dengan saya?" Tanya rangga dengan tegas.
"Emm tidak bos.. maafkan saya" lalu dani menunddukkan kepalanya tanda meminta maaf.
"Itu saja jadwal saya hari ini? "
"Iya bos"
Kini rangga mulai memakan sarapannya.
5 mnt kemudian, rangga kini sudah selesai makan, dan ia segera berdiri dan menuju mobil dengan diikuti oleh dani untuk berangkat ke kantornya.
*
*
Di kota JG, gadis cantik itu kini sedang berada di dapur untuk memasak makanan pagi ini.
rambutnya yang di gulun dan diikat . Dan masih memakai baju dress tidur yang berwarna putih.
Ekey yang baru bangun kini bergegas menuju ke dapur untuk membantu tasya.
"Ehh.. calon istri siapa nichh..pak rang..."
Sengaja ekey memperpanjang kata "rang.." tasya yang mengerti ekey akan mengatakan nama siapa, kini ia langsung memberi tatapan tajam ke arah ekey.
"Apaa?!!! Rangga?!" Bentak tasya pada ekey.
"Udah bangun telat, gak bantuin masak, trus udah gitu ngatain orang lagi calon istrinya pak rangga.. udah bosen kerja key? Kalo iya bisa nih skarang gua psen tiket untuk lo pulang ke kota JK trus pulang ke kampung lo mau? Trus tinggal sama paman kamu itu mau?!" Lagi lagi tasya mengomeli ekey dan memberi ancaman yang membuat ekey menggeleng dengan cepat yang artinya ia benar benar tidak ingin di pecat.
"Ihh jangan gitu ca.. maafin yaa?" Lalu ekey kini langsung memeluk tasya, dan membuat wajah imut agar tasya memaafkan nya.
"Aduh.. yaudah yaudah gausah pake pluk plukan sgala. Tuh ptong sayuran di sana " kesal tasya dan menunjuk ke arah sayuran yang belum di potong.
"Iya iya buk dokter"
1 jam kemudian mereka sudah selesai memasak dan langsung menyantap hasil masakan mereka tadi.
di tengah tengan mereka sarapan/makan pagi tasya menyampaikan sesuatu pada ekey.
"Key.. kayak nya nanti siang gua mau ketemu sama kevin" ekey yang mendengar itupun langsung tersedak.
"Ca?? Jangan banyak tingkah deh.. nanti kalau dia.." dengan cepat tasya langsung memotongnya.
__ADS_1
"Sutt..!! Udah jangan mikir yang macem macem, gak bakalan terjadi apa apa lagi, apa gunanya kalian gua bawa kesini? Kalian gak mampu jaga gua?" Tanya tasya songong.
"I-iyaa mampu. Tapikan kenapa harus nyari masalah duluan si ca?"
"Dih siapa yang mau nyari masalah, aca tu cuman mau nanya dan meminta penjelasan dari kevin, itu doang kok" tutur tasya.
"Yaudah deh terserah lo, percuma debat" kini tasya tersenyum.
"Makasih key.. cantik deh pagi ini.." tutur tasya menggoda ekey, ekeypun tersipu malu.
"Tapi sayang ekey laki" sambung ekey lagi yang membuat tasya tertawa sangat keras.
"Hahahah....!!! Itu bukan gua ya yang ngomong" tutur tasya sembari memegang perutnya karena saking ngakak nya.
"Sneng ya lo, kalo gua ngatain diri gua sendiri, emang ya punya bos ga ada akhlak" tutur ekey lagi dan tertawa bersama tasya.
*
Kini mereka sudah selesai makan dan mereka memilih untuk bersantai santai terlebih dahulu, karena tasya ingin kekampus setelah menemui kevin nantinya.
*
*
Di kota JK
Jam sudah menunjukkan jam 10. Kini mami dan papi rangga sudah sampai di kantor anak nya dan di lobby sana sudah di sambut oleh dani dan juga kariawan di sana.
Semua menundukkan badan mereka tanda memberi hormat. senyum dan sapaan orang orang di sana di balas juga oleh papi dan maminya rangga. Rangga sangat berbeda dengan kedua orang tuanya.
"Mari tuan dan nyonya saya antar menemui bos rangga" tutur dani dengan sopan dan tegas.
"Bos kamu itu benar benar bandel ya dani... sampai kapan dia akan melajang seperti ini" omel mami rani.
"Kamu juga dani sama saja dengan bos mu itu. Kalian itu sudah mapan, luangkanlah waktu kalian untuk berkencan dengan perempuan.. atau jangan jangan kalian ini hom*?" Tanya mami rani yang membuat dani sedikit tersedak.
Uhukk.. uhukk..
"Maaf nyonya.. sebelum bos menikah saya sepertinya juga blum bisa menikah, karena semua pekerjaan bos dan apapun keperluan bos, masih tanggung jawab saya, lalu jika nanti bos sudah memiliki pasangan ketika itulah pekerjaan saya akan semakin ringan dan memulai untuk memikirkan soal pernikahan" jelas dani dan membela diri karena ia tak terima di bilang hom* oleh nyonya nya itu.
"Apa? Baru memulai untuk memikirkan pernikahan? Kamu lihat saja itu bos kamu, sepertinya dia tidak bosan hidup sendiri tanpa istri sampai tua nanti"
Kini mami rani semakin sangat kesal dan terus mengomeli dani.
"Sudah lah mi, biar papi yang berbicara sama dia nanti" tutur papi riko menenangkan istrinya.
Kini mereka sudah keluar dari lift dan menuju ke ruangan rangga.
Dani langsung membuka pintu tanpa mengetuk terlebih dahulu karena itu perintah dari nyonya nya.
Rangga yang melihat dani langsung memasuki ruangannya tanpa mengetuk terlebih dahulu ia pun langsung marah. (Karena dani sebelum masuk biasanya mengetuk pintu lalu mebukanya walaupun blum terdengar persetujuan dari rangga terlebih dahulu, namun itu adalah kebiasaan dani yang rangga tau).
"Dani berani beraninya kamu.." rangga langsung terdiam karena melihat kehadiran kedua orang tuanya.
"Mami papi.." tutur rangga sedikit kaget.
"Kenapa? Gak boleh orangtua menemui anak nya?" Tanya mami rani kesal dan langsung duduk di sofa/ kursi tamu.
"Boleh boleh kok mi" rangga langsung menyalami papi nya dan kemudian mami nya.
"Dani..." rangga melirik ke arah dani dan dani pun langsung mengerti maksud bos nya itu. Itu artinya rangga menyuruhnya keluar dari ruangan itu.
__ADS_1
"Baik bos" tutur dani dan memberi hormat pada ketiga majikannya itu.
*
"Pi.. dia habis membentak mami smalam, dan ninggalin mami gitu aja padahal mami masih mau ngobrol sama dia" mami rani mengadu pada suaminya, rangga yang mendengar itupun langsung membela dirinya.
"Enggak gitu mi pi.. rangga begitu karena rangga baru pulang dari kantor dan capek banget dan tiba tiba mami membahas tentang pernikahan.. siapa yang gak emosi coba pi?" Jelas rangga.
"Tuh kan pi anak kamu udah bisa emosi sama orangtuanya sendiri"
"Mi maksudnya.." rangga langsung melihat ke arah papinya dan papi riko menyuruhnya untuk diam, karena papi riko tau tidak akan ada laki laki yang menang jika berdebat dengan perempuan.
"Okey jangan berdebat lagi.. mi ingat tujuan kita kesini mau menyampaikan sesuatu pada rangga" papi riko berhasil memberhentikan perdebatan antara anak dan mami nya.
"Huftt... yaudah rangga minta maaf mi" tutur rangga.(walaupun dia tegas kasar dan dingin, namun rangga memiliki sisi lembut yang jauh tersimpan di dalam dirinya sehingga orang tak bisa melihat sisi lembutnya).
"Hmm iya mami maafin.. lain kali jangan gitu"
"Iya mi"
"Ya sudah papi langsung aja.., ngga tadi pagi papi habis menelfon bryan atau orangtuanya tasya" tanpa berbasa basi papi riko langsung ketujuan pembahasan mereka.
"Trus apa hubungannya sama mami papi ke sini?" Tanya rangga polos.
"Ada hubungannya... kami dan orangtuanya tasya setuju kalau kalian di jodohkan" tutur mami rani yang membuat rangga benar benar kaget..
"What?? Di jodohin? Mi pi, kok gak ngomong dulu sih sama rangga, gak bisa gitu dong pi, main jodoh jodohin aja.., enggak ah mi, rangga gak mau di jodohin sama dia" tutur rangga menolak perjodohan itu.
"Lagian rangga masih mampu kali nyari pasangan sendiri"
"Yaudah mana? Udah tiga tahun mami gak liat kamu bawa cewek kerumah kita, kalau ada itupun enjel, emang kamu mau sama enjel? Mami sama papi sih ogah punya menantun sombong kayak gitu" tutur mami rani.
"Ada mi tenang aja, gausah buru buru kali nyari pasangan, harus bertahap lah biar dapet yang sempurna" tutur rangga.
"Ngga.. kalau kamu mau cari yang sempurna itu gak ada, ketika kamu sudah menikah nantinya, otomatis kamu dan istri kamu itu menjadi orang yang sempurna, cinta kalian sempurna, kehidupan kalian sempurna bahkan kebahagiaan kalianpun sempurna" jelas papi riko
"Iya pi, tapi bukan dengan tasya" bantah rangga.
"Ngga, papi tau kamu masih trauma dengan kejadian tiga tahun lalu, kamu masih menganggap semua permpuan itu murahan seperti tara, tapi tidak semua perempuan seperti itu" jelas papi riko kembali.
"Papi sangat mengenal keluraganya tasya, orangtua tasya adalah sahabat sekaligus rekan kerja papi, begitupun kamu dengan avnil, kamu sangat tau avnil itu seperti apa. Mereka mendidik tasya dengan sangat baik, sehingga dia menjadi perempuan yang lembut, mandiri dan juga rendah hati" jelas papi riko kembali untuk meyakinkan anaknya itu.
"Pi itu menurut papi tapi menurut pandangan rangga dia gak seperti itu" bantah rangga kembali.
"Papi tau kamu tidak mudah untuk jatuh cinta, tapi apa salahnya mencoba, kamu coba jalani dulu dengan tasya, jika kalian benar benar tidak saling suka atau tidak saling memahami satu sama lain, kami selaku orangtua tidak akan memaksakan kalian untuk bersama" jelas papi riko kembali.
"Ngga.. mami sama papi umurnya udah tua loh, temen temen mami dan papi kamu udah pada punya cucu semua, hanya kamu anak mami yang saat ini sudah pantas untuk menikah, kalau menunggu adek kamu.. bisa bisa mami sama papi kamu nanti meninggal tanpa memiliki cucu" tutur mami rani yang membuat rangga sedikit merasa bersalah.
"Mii kok ngomongnya gitu"
"Yaudah kalau kamu gak mau mami sama papi kyak gitu, nikah ya... mami mohon bgt sama kamu, nanti mami gak akan maksain kalian untuk bersatu jika kalian gak cocok, setidaknya kamu dan tasya mencoba untuk menjalani dulu" jelas mami rani.
Rangga terdiam dan berfikir sejenak dan ia langsung memberi keputusannya pada keduaorang tuanya itu.
Hufftt... rangga menarik nafasnya dalam lalu membuangnya dengan kasar.
"Baik lah mi pi, rangga setuju, tapi mami sama papi jangan memaksakan kami ya" rangga menyetujui permintaan dari kedua orangtuanya.
Mami rani dan papi riko yang mendengar persetujuan dari anak nya kini mereka saling menatap dan tersenyum bahagia.
Jangan lupa di vote kakak semua😉✨✨🥰 semoga kalian suka dengan karya pertama aku🥰 jangan lupa like dan komen.
__ADS_1
Tunggu eps selanjutnya.
Saya akan selalu up cerita ini sesuai jadwal dan tidak menunggu banyak like, semoga dengan seperti ini kalain mau dan suka dengan karya yang saya buat ini.🥰🥰🥰🙏