
Diatas langit Kirana yang masih teramat bingung dengan apa yang dilihatnya, dia mencoba untuk berbicara langsung pada Norr.
"Bukankah kau adalah Burung milik Hanna?" "jadi kau sebenarnya adalah siluman?!" ucap Kirana dengan wajah tegas.
Norr yang mendengar hal itu segera menyipitkan matanya dan menjawab tanya Kirana dengan tegas.
"Kalau iya, memang kenapa?!" ucap Norr.
Kirana terkejut mendengar pengakuan dari Norr.
"Tidak ada, hmm apa kita masih jauh?" ucap Kirana denga penasaran.
"Tidak." Jawab Norr yang terus memperhatikan arah.
Tak lama dia melihat sebuah Istana yang terlihat sangat besar dan megah, namun sangat mengerikan dengan warna hitam yang menghiasi setiap temboknya.
__ADS_1
Norr semakin merasa dekat dengan Haruka, kemudian Norr mengepakkan sayapnya yang terbentang dengan lebar diudara.
Haruka yang masih berhadapan dengan Pangeran Iblis, segera melirikkan matanya kesamping kanan, potongan lengan itu terlempar tidak jauh dari pandangannya. Prajurit lain yang melihat hal itu nampak terkejut, mereka semakin ketakutan terhadap Haruka.
Prajurit yang masih berdiri dibelakang Haruka menyentuh lengan kanannya yang terasa sakit, darah segar bercucuran, menetes dengan cepat membasahi semak yang hijau dengan darah berwarna merah kental.
Aroma darah tercium menusuk hidung Pangeran Iblis, wajahnya terlihat murka, dia mendengus seperti banteng, tatapan matanya diselimuti kobaran api yang sudah membara dalam hatinya.
Haruka yang kemudian membalikkan pandangannya, dia menatap tajam kedua bola mata Pangeran Iblis yang menatapnya penuh dengan kebencian. Dengan perlahan Haruka berjalan semakin mendekat kearah Pangeran Iblis.
Seluruh Prajurit yang melihat hal itu bergeming ditempatnya. Mereka tak mungkin melawan Haruka yang terlihat sangatlah kuat.
"Selamat tinggal." Ucap Haruka sambil mengangkat Pedang Pusakanya keatas langit.
Pangeran Iblis dibuat gelisah karenanya, dia menatap Pedang Haruka yang sudah bersiap untuk menyantap tubuhnya.
__ADS_1
Kemudian Pangeran Iblis segera memejamkan kedua matanya, Haruka yang memiliki sifat bak seekor Macan itu dengan sadisnya membunuh Pangeran Iblis dengan menggunakan Pedang Pusaka. Cahaya berwarna biru memenuhi tubuh Pangeran Iblis, sayatan yang Haruka berikan sungguh dalam, berkali-kali dia menancapkan pedangnya pada tubuh Pangeran Iblis.
Tidak terdengar suara teriakan dari Pangeran Iblis, yang membuat Haruka agak bingung, mungkinkah luka yang dia berikan kurang atau itu tidak terlalu sakit untuk Pangeran Iblis.
Darah milik Pangeran Iblis menodai tubuh Haruka, tak lama cahaya biru itu menghilang dengan perlahan, Haruka menatap tubuh Pangeran Iblis yang penuh sayatan tak lama terjatuh diatas rumput hijau.
Haruka yang masih teramat penasaran dengan perlahan dia mendekat kearah tubuh Pangeran Iblis yang sudah terkapar diatas rumput hijau. Saat Haruka ingin menyentuh tubuh Pangeran Iblis entah mengapa tubuhnya dengan tiba-tiba merasakan sakit yang teramat dalam.
Bibir Haruka mengeluarkan darah dengan perlahan, hal itu membuatnya merasa sangat terkejut, tak lama pundaknya disentuh oleh seseorang. Dengan segera Haruka mengangkat kepalanya dan menatap orang yang telah menyentuh pundaknya.
Haruka melirik kearah kiri betapa terkejutnya dia saat melihat Pangeran Iblis yang tengah berdiri disampingnya dengan wajah yang sangat mengerikan.
Haruka kemudian menatap kearah semak tempat Pangeran Iblis terkapar, namun dia tidak melihatnya lagi. Wajahnya agak panik namun tak lama Haruka tersenyum licik.
"Tipuan?!" ucap Haruka dingin.
__ADS_1
"Hmm, sekarang kau harus tau siapa lawanmu ini sebenarnya, saat ini kau berada dalam pengaruhku, jika kau melawan maka tubuhmu akan merasakan sakit yang amat menyiksa." Ucap Pangeran Iblis.
"Kau pikir aku perduli?!" ucap Haruka sambil mengangkat Pedang Pusakanya tepat dileher Pangeran Iblis.