
Terdengar suara ricuh yang melintang ditelinganya, membuatnya dengan perlahan menggerakkan jari-jemarinya yang semula seakan mati rasa itu, dengan perlahan kelopak mata yang menutupi retina hitam, bergerak dengan perlahan dan seolah mencoba untuk bangkit dari tidurnya. Sinar yang begitu cerah seakan tengah bergerak ke arah dirinya, lalu sepasang Mata yang tengah terpajam itu dengan segera terbuka, hingga terlihat keadaan disekitarnya, Putri Yuri merasa begitu sangat kebingungan saat melihat hal itu. Ia pikir ia akan mati dengan sangat mudah, tanpa ada yang akan membantu dirinya. Ternyata rencananya itu dapat digagalkan. Putri Yuri kemudian segera memlingkan kepalanya untuk dapat menoleh ke arah kiri, dia menatap tajam Wajah seorang tabib yang saat itu tengah berada disamping dirinya.
"Kau yang telah menyembuhkan diriku! Untuk apa?!" Bentak Putri Yuri dengan perasaan kesal.
Tabib Istana yang melihat kemarahan dari diri Putri Yuri, membuat dirinya merasa sangat bingung harus bagaimana ia berbicara dan menceritakan semua yang telah terjadi. Pelayan Istana yang tengah berdiri sambil menundukkan kepalanya pun ikut terdiam, mereka tidak berkutik sedikitpun, Putri Yuri yang melihat hal semacam itu membuat dirinya merasa begitu sangat curiga.
"Dimana ayahku?!" Ucap, Putri Yuri yang dengan perlahan ia segera bangkit dari duduknya.
Semua orang yang tengah berada didalam kamar Putri Yuri terdiam tanpa mau berkata satu patah pun terhadap dirinya. Lalu Putri Yuri segera menatap ke arah kiri disamping seorang Tabib itu tengah berdiri dengan tegak seorang Pria yang mengenakan pakaian hitam, Pria itu nampak belum cukup tua, ia terlihat masih gagah dengan tampang garang, lalu dengan cepat Putri Yuri segera berbicara kepada Pria itu yang tidak lain adalah Pamannya sendiri.
"Paman, dimana ayah? Apakah dia tengah berada didalam Ruangannya? Apakah dia mampu menguasai Istana Yu? Paman?! Cepat, jawab tanyaku?!" Ucap, Putri Yuri yang saat itu sudah terbangun dari tidurnya, ia menatap Wajah Pamannya dengan tatapan tajam yang begitu menusuk.
Pria yang Putri Yuri sebut sebagai Paman itu dengan perlahan ia berjalan untuk dapat mendekat ke arah Putri Yuri. Putri Yuri yang melihat hal itu hanya terdiam sambil terus menatap tajam diri Pamannya itu.
"Aku sudah mendengar semua rencana yang dibuat oleh ayahmu, aku sudah mengetahui bagaimana pergerakan kalian selama berada didalam Istana itu. Yuri, hal terbodoh yang dilakukan oleh seseorang adalah mengakhiri hidupnya, hanya karena sebuah masalah, apa kau tau itu?!" Ucap, Paman Liu dengan tatapan yang terlihat begitu sangat mengerikan.
__ADS_1
Putri Yuri yang mendengar perkataan dari diri Pamannya, dengan segera ia menggelengkan kepalanya sambil menutup sepasang Matanya, ia saat itu begitu sangat bingung harus berbuat apalagi, yang saat itu terpintas didalam benaknya adalah rencana untuk mengakhiri hidupnya.
"Paman, aku mohon ampun keponakanmu ini, memang sangat bodoh sekali, aku tidak berpikir bagaimana dampak dari setiap perbuatanku ini, Paman, dimana ayah?" tanya Putri Yuri dengan perasaan yang terlihat begitu sangat penasaran.
Paman Lu Meng, yang mendengar Putri terus saja Yuri menanyakan keberadaan dari Ayahnya Raja Age, membuat dirinya dengan tegas berbicara lagi kepada keponakannya itu sambil terus menatap tajam Wajahnya yang terlihat masih begitu sangat pucat.
"Ayahmu saat ini berada diluar Istana, dia begitu sangat ingin berjumpa dengan dirimu, maka dari itu kau harus bersiap-siap, bersihkan dirimu dan Pelayan Istana akan menyiapkan pakaian untuk kau kenakan." Ucap, Paman Lu dengan tatapan dingin dan tajam itu.
Putri Yuri yang mendengar bahwa ayahnya telah tiba, membuatnya merasa begitu sangat senang, lalu Putri Yuri segera menambah ucapannya lagi terhadap Pamannya.
"Apakah ayah berhasil untuk menguasai Istana Yu? Hari ini dia pasti telah mendapatkan hadiah terindah dari sang Dewa, dihari ulang tahunnya dia dapat menguasai Istana Yu." Ucap, Putri Yuri dengan perasaan yang terlihat begitu sangat senang.
Lu Meng kemudian segera memberikan sedikit isyarat kepada Pelayan itu, untuk segera menangani Putri Yuri, Pelayan Istana yang melihat hal itu lalu dengan segera mereka mengerti akan Isyarat yang ditunjukkan oleh diri Lu Meng.
"Yuri, Paman harus segera keluar dari kamarmu ini, cepatlah kau bersiap-siap, pastilah dirimu sudah tidak sabar bukan untuk dapat melihat ayahmu?" ucap, Paman Lu Meng terhadap diri Putri Yuri.
__ADS_1
Putri Yuri yang mendengar ucapan dari diri Pamannya, lalu dengan segera Putri Yuri menjawab perkataan dari Pamannya yang telah berbicara seperti itu terhadap dirinya.
"Baiklah Paman, aku pasti akan segera menemui ayah, kau sudah boleh pergi sekarang." Ucap, Putri Yuri dengan perasaan senang.
Paman dari Putri Yuri ketika melihat sikap dari keponakannya yang terlihat begitu sangat senang, membuatnya tersenyum tipis kepada diri Putri Yuri, lalu Paman Lu segera pergi bersama dengan tabib Istana untuk dapat keluar dari dalam Kamar Putri Yuri. Putri Yuri yang melihat diri Pamannya telah pergi dari dalam kamarnya membuat Putri Yuri merasa sedikit curiga dengan sikap yang terkesan terburu-buru dari Pamannya itu. Namun, hal itu segera tidak dipermasalahkan oleh diri Putri Yuri, segera Putri Yuri menatap Pelayannya yang saat itu masih berdiri ditempatnya.
"Apa yang kalian lakukan disana?! Cepat bantu diriku untuk menuju kolam air." Ucap, Putri Yuri dengan sikap kasar yang masih seperti biasanya itu.
Para Pelayan Istana yang mendengar perkataan dari diri Putri Yuri, segera mereka mengangkat kepala dengan perasaan yang sedikit terkejut, lalu para Pelayan itu segera berjalan mendekat ke arah Putri Yuri mereka akan membantunya untuk membersihkan diri. Tabib Istana yang saat itu tengah berada diluar kamar Putri Yuri, merasa begitu sangat bingung dengan apa yang saat itu tengah diucapkan oleh adik dari Raja Age itu, Pria yang memilih untuk menjadikan dirinya sebagai seorang Guru bela diri itu, membuat dirinya memang tidak pernah dianggap oleh keluarga Kerajaan. Namun, tidak dapat dipungkuri dia adalah orang pertama yang selalu berada digarda terdepan ketika Raja Age dan Putri Yuri membutuhkan uluran tangan.
"Mohon maaf Tuan, mengapa anda tidak berkata sejujurnya terhadap Putri Yuri?" ucap, Tabib Istana dengan perasaan bingung dihatinya.
Lu Meng yang mendengar perkataan dari Tabib Istana itu, membuat dirinya segera mengerutkan dahi, dengan nada bicara yang tidak terlalu besar karena harus berhati-hati agar Putri Yuri tidak mendengar hal itu.
"Apa kau gila hei Tabib, jika aku langsung berbicara yang sejujurnya maka bisa kau bayangkan apa yang nantinya akan terjadi pada keponakanku itu?! Dia sudah tidak memiliki kedua orangtua, hanya akulah yang mau ikut serta dalam upacara ini. Kedua kakakku sudah tidak ingin campur tangan dengan keluarga ini, kau tau bukan apa sebabnya? Jika saja dia tidak terlalu nekat untuk menguasai kekuatan itu pasti saat ini semua tidak akan pernah menjadi seperti ini!" Ucap, Adik kandung dari Raja Age dengan perasaan kecewa yang begitu sangat kental.
__ADS_1
Tabib Istana yang mendengar perkataan itu hanya mampu terdiam, sudah puluhan tahun keluarga ini telah bercerai berai, karena hanya sebuah kekuatan yang berasal dari Nenek moyang itu. "Faiyarufu" salah satu kekuatan yang mampu memecah keluarga yang dahulunya hidup rukun, kini menjadi seperti tidak saling mengenal satu sama lain, sungguh miris hanya karena sebuah kekuasaan, merebutkan tahta kerajaan untuk menjadi seorang Raja harus mengorbankan sebuah ikatan tali persaudaraan dari saudara sedarah daging, dunia yang penuh dengan kekelabuan ini sungguh dapat mengubah semuanya dengan sekejap mata. Tidak mengenal rasa takut, semua dilakukan dengan membabi buta.
"Semoga hal semacam itu tidak akan pernah terjadi dikehidupan yang mendatang." Dalam benak Lu Meng yang segera melangkahkan kakinya dengan sangat cepat.