
Kini tak terasa hari sudah menjelang pagi, mentari mulai terlihat dari ufuk barat, namun langit masih nampak gelap. Xiao Chen yang tengah tertidur didalam kamarnya, nampak terbangun karena mendengar suara gaduh dari luar Istananya, tak lama Xiao Chen kemudian terbangun dari tidurnya, segera dia membuka kedua matanya dengan perlahan. Dilihatnya ruangan yang sunyi didalam kamarnya itu, tak lama kemudian dia mendengar suara kegaduhan dari luar Istana. Xiao Chen yang merasa terganggu dari semalam karena Haruka tidak mau berhenti untuk latihan membuatnya kurang istirahat, kini wajah Xiao Chen nampak lesu, kemudian dia segera beranjak dari kasurnya dan melihat sudah sejauh mana Haruka mendalami kekuatan yang berada didalam buku itu. Xiao Chen dengan perlahan menyentuh kain putih yang menutupi kaca jendelanya, lalu dengan segera ia menariknya, dilihatnya dengan mata telanjang Haruka tengah berlatih sangat keras, sampai membuat nafasnya tersenggal-senggal. Haruka mengusap keringat yang mengalir deras di wajahnya kemudian dia segera berlatih kembali. Xiao Chen yang melihat hal itu nampak kagum dengan kegigihan Haruka, memang benar apa yang dikatakan oleh para Dewa bahwa "Wanita bukanlah seseorang yang patut untuk di rendahan, namun kedudukannya setara dengan seorang pria, yang layaknya dijaga dan dihargai setiap tindakan dan ucapannya."
Xiao Chen tersenyum tipis saat melihat Haruka, Haruka yang sebenarnya telah menyadari akan kehadiran dari Xiao Chen kemudian dia segera menatap Xiao Chen yang tengah menatapnya dari balik jendela. Xiao Chen yang terkejut kemudian dia segera tersenyum tipis pada Haruka, Haruka yang melihatnya hanya terdiam, sambil memutarkan lagi Pedang pusakanya, Xiao Chen nampak gugup lalu dia segera menutup kembali kain yang menutup kaca jendelanya. Xiao Chen dengan segera membalikkan tubuhnya dan berjalan menuju kolam air panas miliknya. Haruka kemudian menghentikan latihannya saat dia terus terbatuk-batuk. Akhirnya Haruka berjalan untuk berpindah diri ke sisi taman, dibawah Pohon besar Haruka beristirahat sejenak sambil memejamkan mata. Haruka berlatih keras bukan karena ingin memenangkan pertandingan namun dia hanya ingin membawa teman-temannya kembali ke sisinya.
Entah sudah berapa lama Haruka terpejam, namun saat dia tersadar dihadapannya tengah ada Xiao Chen yang menatap wajah Haruka yang terlihat sangat letih itu.
"Hari sudah semakin siang, apakah kau tidak ingin membersihkan tubuhmu terlebih dahulu?" ucap, Xiao yang menatap wajah Haruka.
Haruka yang melihat ke arah Xiao Chen kemudian dia dengan segera bangun dari duduknya dan berjalan untuk memasuki Istana milik Xiao, tubuhnya sudah terasa lelah mungkin dengan membersihkan diri akan membuatnya merasa segar kembali. Tanpa berkata sepatah katapun Haruka segera berjalan untuk meninggalkan Xiao Chen. Xiao Chen yang melihat hal itu kemudian dia segera melirik wajah Haruka yang sama sekali tidak menggubris dirinya.
"Jangan terlalu memaksakan diri, jika kau terus begini hanya akan membuat dirimu semakin terbebani, biarkan mereka berusaha sendiri jangan terus selalu menjadi benteng, jika kau seperti ini malah akan membuat mereka semakin terlihat lemah, apa itu yang kau inginkan?" ucap, Xiao Chen dengan tegas.
Haruka yang mendengar ucapan dari Xiao Chen kemudian dia segera menghentikan langkahnya, Haruka menyangkal ucapan dari Xiao Chen.
"Tapi aku hanya...." Ucap, Haruka yang belum usai melanjutkan perkataannya.
Dengan segera Xiao Chen kembali berbicara, sambil menatap wajah Haruka.
"Iya, aku tau kau hanya ingin melindungi teman-temanmu, tapi coba kau pikirkan lagi ucapanku." Ucap, Xiao Chen dengan tegas.
__ADS_1
Haruka yang mendengarnya hanya terdiam, sambil memikirkan baik-baik perkataan dari Xiao Chen terhadap dirinya, kemudian Haruka berjalan untuk meninggalkan Xiao Chen sendirian. Xiao Chen yang melihat sikap Haruka yang nampak dingin dan sangat keras kepala, maka dia memilih berbicara dari hati ke hati agar dapat diindahkan oleh Haruka.
°^°^
Pagi hari didalam Istana Yu.
Putri Yuri tengah duduk di atas kursi rias yang dihadapannya sebuah cermin besar, Putri Yuri tengah berelok wajah dengan ditemani Yuan pelayan Haruka.
Yuan masih diberi kesempatan untuk tetap hidup namun syaratnya dia harus mengabdikan dirinya di Istana Yu, itu adalah kebijakan dari Kaisar Yu, yang disetujui oleh Pangeran Kichiro karena dialah yang memohon sendiri kepada ayahnya agar dapat mengampuni kesalahan Yuan, yang memang tidak ada sangkut pautnya dengan dirinya.
Tetapi bagaikan tengah berpijak diatas sebuah Pedang yang tajam, yang tengah berada diatas jurang mengerikan. Hidup Yuan masih tetaplah menderita, hanya yang dapat membedakannya, dia tidak segera mati. Namun, bagi Yuan lebih baik dia mati daripada hidup menderita didalam genggaman Kaisar Yu.
"Ahh! Dasar pelayan tidak tau diuntung!" teriak Putri Yuri dengan kesal terhadap Yuan.
Yuan yang mengakui kesalahannya kemudian dia segera meminta maaf kepada Putri Yuri, dengan bersujud dibawah kakinya.
"Maafkan hamba Putri, hamba sungguh tidak bermaksud berbuat buruk terhadap diri anda, mohon jangan hukum hamba." Ucap, Yuan sambil bersujud dibawah kaki Putri Yuri, tanpa melihat wajah Putri Yuri, Yuan sudah sangat ketakutan, tanpa adanya Haruka hidup Yuan menjadi menderita.
Putri Yuri yang terlihat sangat kesal, kemudian segera menatap wajah Yuan dengan tatapan jijik.
__ADS_1
Hm, kau itu dahulu hanyalah seorang pelayan dari Putri Hanna, kini dia sudah membuang dirimu dan lihatlah dirimu sudah sangat serupa dengan seekor binatang pengendus yang menjijikkan!" Ucap, Putri Yuri dengan kesal.
Kemudian Putri Yuri segera menendang tubuh Yuan sampai terpental ke lantai. Dengan segera Putri Yuri bangun dari duduknya dan berjalan untuk mendekat ke arah Yuan. Putri Yuri menatap wajah Yuan dengan tampang marah dan jijik, segera dia meremas kedua pipi Yuan dengan sangat keras menggunakan tangan kanannya.
"Kau sama tidak bergunanya dengan Tuanmu itu, cih jika bukan karena permohonan dari Pangeran Kichiro kini seharusnya kau sudah berada di Neraka apa kau tau itu!" Bentak Putri Yuri dengan keras.
Yuan hanya terdiam sambil menahan amarah saat Putri Yuri merendahkan Putri Hanna entah mengapa dia merasa sangat tidak terima.
"Jika anda ingin merendahkan martabat saya itu saya terima, karena saya hanyalah seorang pelayan, namun saya tidak akan pernah terima jika anda merendahkan martabat Putri Hanna, jangan menjadi orang yang sok tau, anda hanya mendengar Putri Hanna berdasarkan katanya dari orang lain, jika anda tidak mengetahui apapun lebih baik anda diam!" Ucap, Yuan dengan tampang serius.
Putri Yuri nampak kesal dengan ucapan Yuan yang begitu tiba-tiba saja sangat berani terhadap dirinya, Putri Yuri semakin dibuat murka oleh Yuan, sampai-sampai dia menampar wajah Yuan dengan keras. Yuan hanya terdiam sambil tersenyum kecil, Putri Yuri yang melihatnya sungguh merasa marah seorang pelayan yang rendah seperti Yuan beraninya membantah ucapannya.
"Kurang ajar! Cari mati ya!" Bentak Putri Yuri dengan kesal, sambil mengeluarkan sebuah kekuatan.
"Bunuh saja aku Putri, agar nanti Pangeran Kichiro tau siapa diri anda yang sesungguhnya!" Ucap, Yuan dengan tegas.
Putri Yuri nampak terkejut dengan ucapan dari Yuan, kemudian dia segera terdiam sejenak sambil memikirkan lagi ucapan dari Yuan.
"Sial! Benar juga apa yang dikatakan oleh pelayan busuk ini!" Dalam benak Putri Yuri yang segera menurunkan tangannya dan tak lama kekuatannya menghilang, lalu Putri Yuri segera membentak Yuan untuk segera keluar dari dalam kamarnya.
__ADS_1