
Sementara itu masih didalam Istana Xiao Chen terlihat Haruka tengah bertarung dengan sangat hebat dengan Putri Kirana. Tembok besar Istana Xiao Chen dengan perlahan runtuh, bongkahan besar yang akan menimpa tubuh Putri Kirana segera ia tangkap dengan kedua tangannya, Haruka yang melihat hal itu tampak sudah sangat lelah, tanpa banyak pertimbangan Putri Kirana segera melemparkan bongkahan tembok besar itu ke arah Haruka, Haruka yang melihat hal itu dengan segera ia mengangkat Pedangnya untuk menghancurkan bongkahan tembok itu.
"Kirana! Sadarkah ini aku Haruka! " Ucap, Haruka yang segera mendekati Putri Kirana.
Putri Kirana yang saat itu terlihat sudah sangat lemas, tetap memaksakan diri untuk melawan Haruka. Ketika Haruka tengah berjalan untuk dapat mendekati Putri Kirana tubuhnya dengan segera ditindih oleh Putri Kirana kini ia tengah menatap Wajah Putri Kirana dengan darah yang menetes dari dalam tubuhnya.
"Kirana! Sadarlah ini diriku!" Ucap, Haruka dengan semua luka yang telah menggores tubuhnya.
Darah segar tampak memenuhi tempat Xiao Chen, kini sebentar lagi Istana Xiao Chen akan hancur.
"Kirana! Apakah kau sangat membenci diriku, hah! Apa yang kau inginkan? Cepat katakan! Aku akan memberinya tetapi aku mohon kembalilah seperti sedia kala! Aku mohon! Ingatlah kau disaat mengingat rambutku dengan lembut? Apakah itu adalah bentuk dari sebuah dendam?! Kirana!" Ucap, Haruka yang saat itu tubuhnya sudah dipenuhi dengan luka.
Putri Kirana yang mendengar perkataan dari Haruka hanya mampu menggeram, sampai pada akhirnya runtuhlah Istana Xiao Chen dan menimpa tubuh mereka. Kabut gelap begitu sangat banyak, puing-puing dari runtuhan Istana Xiao Chen tampak tengah menumpuk.
Tik...
Tik....
__ADS_1
Tik....
Langit mulai menangis, membasahi bumi, membasahi tempat dimana Haruka dan Putri Kirana berada, mungkinkah mereka semua mati? Mungkinkah ini sudah menjadi akhir dari semuanya? Mungkinkah Dewa sudah menggariskan takdir bahwa inilah akhir dari kehidupan mereka. Air hujan yang turun dari langit mendung semakin deras, kilatan petir menyambar dengan sangat kencang, suara gemuruh dan angin ditempat itu semakin kencang.
Sampai pada akhirnya terlihat bongkahan tembok besar bergerak dan terangkat oleh sebuah tangan yang sudah diselimuti dengan darah merah yang sangat kental.
"Ukhuk... Ukhuk." Haruka membuka bongkahan tembok yang menimpa tubuhnya, kini tubuhnya tak mampu ia gerakkan darah mengalir dengan perlahan bersama dengan derasnya air hujan.
Tak lama kemudian Haruka segera menatap ke arah samping kiri, dilihatnya tubuh Putri Kirana tengah terhimpit oleh bongkahan tembok besar darah terus mengalir keluar, dengan sekuat tenaga Haruka menggerakkan lengannya untuk dapat mengangkat bongkahan tembok besar itu.
"Kau tidak boleh mati! Aku tidak akan mengizinkan semua itu terjadi kepadamu!" Ucap, Haruka yang segera memindahkan bongkahan tembok besar itu ke arah samping.
"Ki.. Kirana?!! Kirana?! Kirana bangunlah!" Teriak Haruka dengan sangat keras.
°^°^
Tak lama kemudian datanglah Norr, Leo dan juga Pangeran Rendra mereka sungguh sangat tidak menyangka dengan apa yang telah mereka lihat, Istana milik Xiao Chen hancur bahkan sudah tak berwujud, Norr yang tidak dapat berpikir apapun lagi dengan segera ia berlari untuk dapat mencari dimana keberadaan dari Haruka dan juga Putri Kirana.
__ADS_1
"Tidak! Tidak! Tidak boleh terjadi!" Ucap, Norr yang segera berjalan untuk dapat mencari keberadaan dari Haruka dan juga Putri Kirana.
Pangeran Rendra juga Leo yang melihat kondisi ditempat itu yang sudah seperti itu membuat mereka dengan sigap ikut mencari keberadaan dari Haruka dan juga Putri Kirana. Ketika Norr tengah berjalan bahkan hampir saja ia menginjak tubuh Haruka, jika ia tidak menundukkan kepalanya mungkin saja Wanita itu ini telah ia injak. Sungguh Norr merasa sangat terkejut ketika melihat diri Haruka dan juga Putri Kirana yang tengah terluka.
"Haruka!? Kirana?! Kalian...?!" Ucap, Norr dengan perasaan tidak menyangka.
Dengan cepat ia segera menundukkan tubuhnya untuk dapat menyembuhkan luka Haruka dan juga Putri Kirana, tak lama Putri Kirana membuka sepasang Matanya, dilihatnya Norr tengah berada dihadapannya.
"Norr?! Aku... Sangat merindukan dirimu." Ucap, Putri Kirana yang terlihat sangat lemah.
"Diamlah kau! Apa kalian tau, kalian telah membuat diriku merasa sangat cemas! Jika kalian mati, aku tidak akan pernah bisa memaafkan diriku sendiri apa kau tau itu! Aku mencintaimu Kirana." Ucap, Norr dengan perasaan sedih dalam dirinya.
Putri Kirana yang mendengar perkataan dari diri Norr membuatnya merasa sangat senang, Haruka yang tengah berada ditempat itu hanya mampu tersenyum tipis.
"Aku pikir kau tidak akan pernah bisa kembali, hei Kirana! Haha... Jangan seperti ini lagi, aku tidak suka bertarung dengan dirimu!" Ucap, Haruka dengan sedikit tersenyum tipis kepada diri Putri Kirana.
"Terima kasih Norr, terima kasih Haruka." Ucap, Putri Kirana dengan tersenyum kecil kepada diri mereka.
__ADS_1
Ketika Putri Kirana tengah tersenyum menatap diri Norr, ia dikejutkan dengan kehadiran dari Pangeran Rendra juga Leo, hal itu membuat dirinya merasa sangat bingung. Pangeran Rendra yang melihat diri Putri Kirana tanpa berkata apapun, hanya melihat dari kejauhan ia tersenyum kepada Putri Kirana. Kemudian dia pergi menjauh dari tempat itu.
"Jika aku tidak dapat membuatmu bahagia, maka aku rela jika kau bisa mendapatkan kebahagiaan itu dari orang lain, cinta memanglah serumit ini, maaf Kirana, maafkan diriku, aku seperti ini sebagai wujud rasa cintaku padamu, aku pamit." Ucap, Pangeran Rendra yang segera menjauh dari diri Putri Kirana dan juga Norr.