
Malam hari itu didalam Hutan, terlihat Putri Kirana tengah berjalan untuk dapat sampai di Rumah Kayu, malam itu langit malam nampak begitu sangat cerah, sinar rembulan mampu menerangi langkah dari Putri Kirana, suasana yang sunyi hanya terdengar suara dari burung hantu, yang tengah hinggap pada dahan pohon besar disekitar Putri Kirana.
Putri Kirana terus memperhatikan sekitar, dengan sepasang mata hitamnya itu, rambut yang terurai dibelai lembut oleh angin malam yang saat itu cukup besar. Angin yang dingin menyentuh tubuhnya seakan mencium pipinya, hingga rasa dingin dimalam itu membuat tubuhnya sedikit bergetar, kesunyian yang malam itu ia rasakan, sungguh amat pantas menceritakan isi hatinya saat ini, ia bagikan sebuah rembulan yang selalu ditinggalkan oleh para bintang, bahkan kabut hitam yang menutupinya pun tak mampu ia mengusirnya.
Tak lama kemudian sampailah dia didepan Rumah Kayu yang terlihat dari kejauhan, sinar dari api yang memerah mampu menyinari Rumah Kayu didalam Hutan, ia menghentikan langkahnya sebentar. Putri Kirana menghela napasnya lalu, dengan segera ia melangkahkan kakinya kembali, dan berjalan untuk dapat mendekati Rumah Kayunya itu.
Saat sudah berada didepan Pintu Kayu yang saat itu sudah tertutup rapat, membuatnya terdiam sejenak, sambil berpikir kembali, lalu Putri Kirana dengan segera membalikkan tubuhnya ia berniat untuk pergi, hanya malam itu saja, karena ia tau betul Norr dan Leo masih salah paham dengan dirinya. Namun, saat ia akam pergi dengan segera terdengar seseorang tengah membuka Pintu Kayu dengan perlahan, sinar yang begitu cukup terang menyinari dirinya dan tempatnya saat itu, terlihat bayangan seorang Pria tengah terlihat dihadapannya, Putri Kirana hanya terdiam. Lalu saat ia mendengar suara berat dari seorang Pria membuat dirinya dengan segera menolehkan kepalanya ke arah belakang.
"Kemana saja kau? Kau baru saja kembali, dan kau akan pergi lagi?!" tanya Norr yang berada dibelakang Putri Kirana.
Putri Kirana yang mendengar perkataan dari Norr dengan segera ia menjawab tanya dari Pria itu, sambil membalikkan tubuhnya untuk dapat berhadapan dengan Norr.
"Aku... Ah, aku hanya cari angin." Ucap, Putri Kirana yang nampak terlihat dari raut Wajah dia yang gugup, juga tatapan mata yang menggambarkan sebuah kesedihan namun ia menolak dengan ucapannya.
Norr yang melihat hal itu dengan segera ia mendekati diri Putri Kirana, Putri Kirana hanya mampu terdiam sambil sesekali melirik ke arah Norr lalu dengan segera ia memalingkan pandangannya.
"Masuklah." Ucap, Norr yang berada didepan Putri Kirana sambil terus memperhatikan raut Wajahnya itu.
__ADS_1
"Iya, nanti. Aku masih ingin berada diluar." Ucap, Putri Kirana yang terlihat sangat tidak ingin diganggu.
Norr yang melihat perkataan juga sikap dari Putri Kirana, merasa bahwa dirinya tengah merasakan sebuah kekecewaan yang begitu sangat mendalam. Kemudian, Norr segera berbicara lagi pada diri Putri Kirana.
"Di luar sini sangatlah dingin." Ucap, Norr yang memperhatikan sekeliling.
Perkataan Norr nampaknya tidak digubris oleh Putri Kirana, terlihat ia hanya terdiam sambil sedikit tersenyum tipis, sambil melirik diri Norr yang saat itu masih berada dihadapannya. Norr, yang melihat sikap Putri Kirana yang seperti itu membuatnya semakin mengerti bahwa Wanita itu sedang sangat tidak ingin diganggu, dengan segera Norr melepaskan jubah yang melekat pada tubuhnya itu untuk dapat dikenakan oleh Putri Kirana.
"Kalau begitu kenakan ini, disini sangat dingin, jangan sampai kau demam, tidak perlu berpikir terlalu banyak, karena semua akan berlalu." Ucap, Norr yang tengah memberikan jubahnya pada diri Putri Kirana.
Putri Kirana yang melihat jubah merah tengah berada ditangan Norr, dengan perlahan Putri Kirana mengulurkan tengannya dan mengambil jubah merah itu, sambil tersenyum tipis ia segera berbicara pada diri Norr.
Norr yang melihat hal itu sedikit ia terkejut, namun dengan segera ia membalikkan tubuh untuk dapat masuk kembali ke dalam Rumah Kayu, Putri Kirana kemudian segera menundukkan kepalanya, Norr yang sudah berada didepan pintu yang terbuka segera ia menghentikan langkahnya, lalu dengan segera ia berbicara pada diri Putri Kirana, sambil menolehkan kepalanya ke arah belakang untuk dapat menatap Wajah Putri Kirana.
"Jika angin semakin kencang dan dingin, segeralah masuk ke dalam Rumah." Ucap, Norr yang melirik Putri Kirana, dia yang saat itu masih berada dibelakangnya.
Putri Kirana yang tengah tertunduk dengan perlahan ia segera mengangkat kepalanya ke atas untuk dapat menatap diri Norr, lalu dengan cepat Putri Kirana segera menjawab ucapan dari Norr.
__ADS_1
"Baik." Ucap, Putri Kirana dengan dingin.
Norr yang mendengar jawaban dari Putri Kirana yang terdengar sangat singkat, dan terkesan cuek itu dia hanya dapat menghela napas dan berjalan untuk dapat masuk ke dalam Rumah Kayu, lalu dengan perlahan Norr menyentuh Pintu kayu itu dengan lengannya. Putri Kirana kemudian menatap diri Norr yang tengah berada didepan Pintu, sedangkan Norr terus memperhatikan diri Putri Kirana yang masih berada diluar Rumah.
Perlahan Pintu Rumah tertutup, sinar yang menyinari diri Putri Kirana menghilang dengan perlahan, lalu dengan segera menghilang, kini kembalilah dirinya dengan kegelapan malam.
Putri Kirana kemudian segera membalikkan tubuhnya, lalu ia dengan segera menatap langit malam yang begitu sangat terang, dengan adanya sinar dari rembulan. Lalu Putri Kirana yang tengah menatap Rembulan malam seakan terhanyut dengan sinar dari Rembulan itu. Sambil terus memeluk jubah merah milik Norr, ia lekatkan jubah yang tengah berada didalam pelukannya itu tepat pada tubuhnya, seakan tengah memeluk seseorang yang begitu sangat ia dambakan kehadirannya.
Norr yang diam-diam tengah memperhatikan Putri Kirana dari balik jendela hanya mampu terdiam, entah mengapa ia merasa bahwa Putri Kirana tengah menyimpan setumpuk masalah. Tetapi, ia malah memilih untuk diam tanpa mau menceritakan semua keluh kesanya, kini Norr mulai berpikir adilkah dirinya jika ia bersikap begitu terhadap Putri Kirana hanya karena alasan ingin menjaga Haruka?, lalu Norr segera menutup kembali kain merah penutup kaca itu, dengan segera ia pergi untuk dapat memasuki kamarnya. Dengan langkah hati-hati agar tidak membangungkan Leo yang saat itu sudah terlelap terlebih dahulu diatas Kursi Kayu.
Sedangkan Putri Kirana yang masih berada diluar, hanya terdiam. Namun, didalam batinnya ia tengah bercerita kepada angin dan Rembulan tentang kesedihan yang tengah ia rasakan, berharap mereka dapat mengerti apa yang tengah ia rasakam meskipun luka itu tak mampu ia bicarakan dengan ucapan.
"Hati temaram.
Tersembunyi dibalik tawa...
Tiada secercah cahaya ataupun lentera...
__ADS_1
Mungkin ini arti dari setiap sunyi dalam keramaian...
Terkurung dalam dinding sebuah dinding kesendirian...."