Perjalanan Sang Phoenix

Perjalanan Sang Phoenix
191


__ADS_3

Kirana kemudian memperhatikan api kedua yang masih berkobar dihadapan dirinya, Kirana mulai berhitung sampai akhirnya dia dapat melewati api kedua, saat ini masih tersisa api ketiga keempat dan terkahir kelima, jika dia tidak berhati-hati salah sedikit saja dia bergerak, dan perhitungannya meleset maka sudah dipastikan dia akan terbakar oleh kobaran api yang amat panas itu.


Kirana memperhatikan api ketiga, yang mulai padam, dengan segera dia melewatinya dia harus sangat cepat karena hal itu berlangsung hanya dengan hitungan detik saja. Api keempat dan kelima masih tersisa, hawa panas seperti membakar tubuhnya, telapak kakinya terasa amat sakit, seperti tengah menginjak bara api panas, Kirana kemudian menatap ke arah bawah dia memperhatikan kedua kakinya yang sudah terasa sakit, dan perih yang amat menyiksa.


"Satu... Dua... Tiga...." Api keempat berhasil dia lalui dengan hati-hati, dan kini tinggal api terakhir yang berada dihadapannya, Kirana merasa sangat tidak nyaman dengan situasi seperti itu, untungnya Norr meminjamkan jubah kepada dirinya, sehingga dapat sedikit melindungi tubuhnya dari api-api itu.


"Satu... Dua... Tiga...." Ucap, Kirana lagi sambil berjalan untuk keluar dari api-api itu, dia merasa amat lega akhirnya dia dapat melewati situasi seperti itu, Kirana kemudian membalikkan tubuh dia melihat Norr dan Leo dari kejauhan, disana dia melihat Norr yang tengah menatap wajah Kirana, kemudian Kirana melambaikan tangannya sambil memberikan isyarat bibir bahwa dia baik-baik saja. Norr yang melihatnya kemudian segera memalingkan pandangan.


Kini dihadapan Norr telah berada dua siluman penjaga Mulut Neraka. Kirana yang melihat hal itu kemudian dia segera tersenyum tipis, dengan segera Kirana membalikkan tubuh untuk menyerang beberapa siluman dengan wujud yang serupa, yang kini tengah berada dihadapan dirinya, Kirana kemudian melangkahkan kakinya untuk menghadapi siluman wanita bertubuh hewan itu, dia harus mampu untuk mengandalkan dirinya sendiri dan tidak lagi bergantung terhadap orang lain apalagi menjadi sebuah benalu didalam hidup seseorang, sudah saatnya kini Kirana mempercayai kemampuannya sendiri.

__ADS_1


Apa yang dilakukan Norr dan Leo terhadap dirinya bukan lah suatu kesalahan, sikap dari kedua pria itu sangat wajar bagi Kirana, karena bagi mereka Haruka adalah segalanya. Kini Kirana mulai menyadari mengandalkan orang lain bukanlah hal yang baik untuk dirinya, siapapun yang merasakan beban yang dipikul Haruka pun akan merasa amat terbebani jika harus menanggung sebuah masalah milik orang lain. Sebagai teman Kirana baru menyadari saling tolong menolong tanpa mengharap sebuah balas memanglah lebih baik daripada harus terus dihantui dengan sikap balas budi yang malah mengecam pertemanan dan juga harga dirinya sebagai teman Haruka.


Kirana menatap beberapa siluman yang kini tengah berada dihapadannya, kini dia harus mengalahkan siluman itu agar mereka semua dapat kembali pulang, dan juga mencari keberadaan Haruka.


Kirana berlari untuk menghampiri siluman wanita bertubuh hewan itu, dia segera mengarahkan pedangnya pada dua siluman wanita yang tengah berada dihadapannya, Kirana kemudian segera menusuk mata dari salah satu siluman yang tengah berada dihadapannya, namun siluman wanita itu hanya tersenyum licik menatap wajah Kirana, Kirana yang merasa terkejut dengan tatapan dari sepasang mata merah milik siluman itu, Kirana kemudian menarik kembali Pedangnya segera dia meloncat ke atas dengan tubuh yang segera memutar Kirana mendaratkan tubuhnya lagi kebawah dengan mengarahkan ujung Pedangnya tepat dihadapan salah satu dari siluman itu.


Siluman wanita itu kemudian menatap wajah Kirana dengan sorot mata penuh dengan kebencian, dan juga sangat mengartikan bahwa dia sangat tidak mempercayai kemampuan dari Kirana. Salah satu dari siluman itu kemudian membuka mulutnya lidahnya ia julurkan dengan warna hitam pekat dihadapan Kirana. Tak lama sebuah api berwarna biru keluar dengan cepat dari mulut Siluman itu.


Kirana menatap tajam wajah dari kedua Siluman itu, dia kemudian segera menghela napasnya, Kirana yang sudah merasa terpojok tak lantas membuatnya menyerah begitu saja, saat kedua Siluman wanita itu berjalan mendekat ke arah dirinya, Kirana sudah mulai mempersiapkan diri untuk menyerang, kini dia tengah menunggu waktu yang dirasanya sangat tepat saja untuk dapat menyerang kedua Siluman itu.

__ADS_1


Kirana menggenggam erat Pedang merahnya kemudian saat kedua Siluman itu mendekat Kirana segera mengepalkan tangan kirinya. Dia kemudian segera berhitung untuk dapat menyerang kedua Siluman itu dengan cepat dan akurat. Semakin mendekatnya kedua Siluman itu semakin siap diri Kirana untuk menghadapinya. Tak lama kini kedua Siluman wanita itu tengah berada dihadapan Kirana sambil menatap wajah Kirana dengan tajam. Kemudian mereka semakin mendekat, tujuannya tak lain untuk mendorong tubuh Kirana agar masuk kedalam lubang api itu.


Kirana hanya terdiam kemudian saat melihat kedua Siluman wanita itu bergerak sangat cepat ke arah dirinya, Kirana tak lama memunculkan senyum sinis diwajahnya hingga memperlihatkan bahwa itu adalah bagian dari rencananya.


Kedua siluman itu bergerak dengan sangat cepat ke arah dirinya, saat itu juga Kirana segera menghindar dengan cara meloncat ke atas dan membiarkan salah satu dari Siluman itu masuk kedalam lubang api yang amat panas, Kirana kemudian tersenyum licik saat melihat Siluman wanita yang satunya terkejut saat melihat pergerakan dari Kirana yang cepat dan akurat, kemudian salah satu dari Siluman wanita itu segera menatap wajah Kirana dengan kesal, dia dengan segera menyemburkan api kepada Kirana, Kirana yang melihat hal itu kemudian segera menghindar dengan cepat namun sialnya kekuatan dari Siluman itu telah mengenai jubah milik Norr yang saat itu masih dia kenakan.


Kirana yang tengah berjongkok diantara api kecil disampingnya merasa sangat kesal saat melihat Siluman itu telah merusak jubah milik Norr.


"Ih, dasar Siluman tidak tau diuntung!" Ucap, Kirana dengan kesal saat melihat jubah Norr yang rusak karena kekuatan api dari Siluman itu.

__ADS_1


Kirana kemudian segera terbangun dan dia menatap tajam Siluman wanita yang tengah menjulurkan lidahnya dihadapan Kirana, Kirana menggenggam dengan erat Pedang merah yang tengah bersamanya itu. Dengan tampang kesal Kirana kemudian menggertakkan giginya.


"Dasar Siluman jelek, buruk rupa, beraninya kau merusak jubah ini, baiklah cukup bermain-mainnya kali ini aku tidak akan segan untuk memusnahkan dirimu dari muka bumi ini!" Bentak Kirana dengan tampang yang begitu mengerikan.


__ADS_2