Perjalanan Sang Phoenix

Perjalanan Sang Phoenix
202


__ADS_3

"Ah!"


"Ahh....!"


"Pelan sedikit." Ucap, Putri Yuri yang masih berada ditaman.


rambut panjangnya segera terurai berantakan, tubuhnya terjatuh diatas rumput hijau, jarak yang tidak terlalu jauh dari kamar Pangeran Kichiro membuat dirinya mendengar suara-suara yang tidak seharusnya ia dengar. Pangeran yang tengah terpejam segera tersenyum tipis, kemudian dia segera menggerakkan lengan kanannya sinar biru segera keluar dan mengelilingi tubuh Pangeran Kichiro.


Tak terasa hari sudah hampir menjelang pagi, Haruka yang masih terjaga terus menatap langit yang perlahan berganti dengan warna cerah. Haruka tidak bisa tertidur lagi, karena setiap kali ia menutup mata, selalu hadir bayangan dari Kichiro, yang membuatnya merasa kesal.


Haruka memperhatikan langit malam dari balik kaca jendela, kemudian dengan perlahan Haruka membuka kaca jendelanya dan berjalan keluar dari dalam kamarnya itu, Haruka yang tengah berada diluar kemudian dia segera meloncat kebawah, segera ia mendarat dengan sempurna.


Haruka kemudian segera melakukan teknik sihir kecil, dia memutar-mutarkan jari telunjuk kanannya, dengan perlahan sebuah lingkaran berwarna biru memutar perlahan itu adalah teknik dari kekuatan angin. Haruka terdiam sejenak kemudian dia teringat akan satu teknik yang berada didalam buku kuno itu, namun nampaknya Haruka harus mempelajarinya dengan sangat sungguh-sungguh, karena meskipun dia telah memiliki kekuatan berunsur angin dan petir Haruka masih menginginkan kekuatan yang lebih dari itu.


Teknik tiga unsur air searah dan fire storm, kekuatan yang sangat ingin Haruka miliki, meskipun terlihat sangat mudah menguasai dua teknik kekuatan itu, namun jika asal dalam mempelajarinya maka Haruka tidak akan pernah bisa mencapai tujuannya.

__ADS_1


Dan semua yang sudah ia korbankan akan sia-sia saja, Haruka kemudian mengangkat tangan satunya, segera kekuatan petir keluar dari dalam jari telunjuknya. Saat Haruka melihat kekuatannya telah ia keluarkan segera Haruka mengeluarkan jurus Three Shadows yang segera tubuh Haruka menjadi tiga orang yang serupa, namun nampaknya kedua bayangan Haruka tidak dapat berbicara sedari kemarin saat Haruka berkata mereka hanya melaksanakan perintah tanpa berkata apapun.


Haruka merasa itu tidaklah adil, Haruka kemudian segera menggerakkan lengan kanannya saat itu juga buku kuno yang tengah berada didalam kamar, bergerak karena terdorong oleh kekuatan angin yang Haruka miliki, saat sudah berada dihadapannya Haruka menatap buku kuno itu dengan segera ia meraihnya, dan membuka untuk melihat isi dari buku itu, Haruka mulai membacanya saat itu dia nampak sangat serius, Haruka akhirnya mendapatkan jawaban dari permintaanya itu.


"Jadi seperti itu, harus dapat mengerti satu sama lain, kedua bayanganku ini ternyata tidak memiliki sifat seperti diriku, salah satu dari mereka itu berhati lembut namun yang satunya berhati kasar, lalu yang satunya hmaku tidak mau terlalu banyak berpikir. Sangat menarik aku mendapatkan peruntungan dari itu, sekarang aku harus membuat mereka mampu untuk berbicara dan mengikuti perintahku." Ucap, Haruka yang segera melirik ke arah tiga bayangannya itu.


Haruka kemudian menggerakkan lengannya dihadapan ketiga bayangannya itu. Dia bermaksud agar bayangannya itu meraih tangannya dan bersatu, tanpa bicara Haruka sudah dapat melihat sikap tanggap dari ketiga bayangannya, saat Haruka mengenggam lengan dari dua bayangannya mereka berempat membentuk sebuah lingkaran. Sinar biru terpancar dari tubuh Haruka, lalu ketiga bayangannya hanya perlu memejamkan mata mereka menunggu Haruka yang tengah bekerja.


Sinar biru memenuhi tubuh Haruka juga ketiga bayangannya, malam yang gelap terlihat dengan perlahan menerang, menunjukkan waktu malam telah usai kini ia digantikan dengan hari yang telah menjelang pagi, suara siulan burung yang tengah berada didalam taman Xiao Chen membuat Haruka yang tengah berkonsentrasi itu segera membuka matanya dengan perlahan. Kemudian dia melihat ke arah tiga bayangannya itu tak lama mereka mampu untuk tersenyum, bahkan dapat pula berbicara seperti Haruka.


Haruka kemudian menatap ke arah langit yang sudah terang, rasa dingin kini berganti menjadi sangat hangat, tak lama Haruka melepaskan genggamannya dan menyimpan kembali kekuatannya.


Xiao Chen yang tengah tertidur didalam kamar kemudian dia segera terbangun, perlahan ia memperhatikan sekitar, dan segera Xiao Chen berjalan untuk membuka kaca jendelanya agar sinar dari mentari masuk kedalam kamarnya.


Haruka yang sudah kembali ke dalam kamar segera membersihkan diri, dan berganti pakaian yang telah Xiao Chen berikan kepad dirinya. Haruka sungguh nampak siap untuk bertarung dengan Putri Yuri, dia ingin melihat seberapa hebat kemampuannya saat ini, Haruka kemudian segera menyisir rambut dan mengikatnya dengan ikat rambut yang serupa dengan warna pakaiannya. Haruka mengikat satu sambut panjangnya itu, dengan bantuan tangannya sendiri Haruka merapikan poni tebalnya itu. Hanya bermodalkan pakaian saja, namun tidak dapat dipungkiri wajahnya terlihat sangat cantik dan menawan. Di dunia modern dulu dia adalah seorang primadona, memiliki paras yang cantik dan terlihat manis, sayang seribu sayang sifatnya tidaklah serupa dengan paras cantik dan menawan itu.

__ADS_1


Haruka tidak pernah memperdulikan semua itu, saat dia telah selesai merias diri, Xiao Chen yang tengah berjalan untuk menuju kamar Haruka, dia berpikir wanita itu sangat kelelahan dalam berlatih jadi kemungkinan hari ini dia masih belum terbangun. Xiao Chen segera berdiri dihadapan pintu kamar Haruka saat ia ingin mengetuk pintu dia sangat dikejutkan dengan kehadiran Haruka yang tiba-tiba saja membuka pintu kamarnya.


"Ada apa?" tanya Haruka dengan dingin.


Xiao Chen kemudian menurunkan tangannya, dia melihat Haruka tengah memakai pakaian yang ia berikan kepada wanita itu, sambil tersenyum Xiao Chen segera berbicara pada Haruka yang tengah berada dihadapannya.


"Ternyata kau sudah terbangun, aku datang kemari sebenarnya hanya ingin membangunkan dirimu, tapi tidak disangka kau lebih cepat dibandingkan diriku." Ucap, Xiao Chen yang terus menatap wajah Haruka.


"Begitu kah? Hm, waktu kita tidaklah banyak, baguslah karena kau juga sudah siap, lebih baik kita segera berangkat." Ucap, Haruka dengan dingin.


Xiao Chen yang melihat sikap Haruka yang lagi-lagi tidak menganggapnya merasa sangat kecewa, dia pikir dengan memberikan hadiah hati Haruka akan menjadi lebih lunak, tetapi dia tetap saja keras dan menutup diri pada Xiao Chen, Xiao Chen hanya tersenyum tipis saat melihat wajah Haruka kemudian dia segera mempersilakan untuk Haruka berjalan terlebih dahulu.


"Baiklah, silahkan diluar sana sudah ada Rong yang akan mengantar kita." Ucap, Xiao Chen dengan tegas.


Haruka yang melihat Xiao Chen segera berjalan untuk meninggalkan dirinya, sungguh malang nasib Xiao Chen hari ini, alih-alih akan mendapatkan sebuah ucapan terima kasih, atau kata-kata manis yang terucap dari mulut Haruka, hal yang termudah saja Haruka tidak memberikannya meskipun itu hal kecil seperti hanya tersenyum saja. Nampaknya Xiao Chen terlalu banyak berharap.

__ADS_1


__ADS_2