
Langit masih nampak cerah dengan warna birunya, sinar mentari ikut menemani kehangatan disiang hari itu, Haruka berjalan untuk memasuki pedesaan, begitupun dengan Pangeran Kichiro, setelah mereka telah berjalan untuk melalui pedesaan yang nampak sedikit ramai, karena banyaknya penduduk yang masih berkeliaran hanya anak-anak yang tengah berkumpul dijalanan untuk sekedar bermain dan bercanda, Haruka hanya terdiam tanpa berbicara lagi terhadap Pangeran Kichiro, sehingga membuat suasana ditempat itu terasa sangat canggung, hingga tak lama kemudian setelah melewati pedesaan Haruka dan Pangeran Kichiro akhirnya bertemu dengan keramaian didalam sebuah pasar.
Haruka hanya terdiam lagi selama diperjalanan ia tidak berbicara sedikitpun sampai pada akhirnya Pangeran Kichiro bertanya kepada Haruka sehingga suasananya tidak terlihat begitu sangat canggung.
"Nona Haru...?" ucap Pangeran Kichiro yang berbicara disamping Haruka.
Haruka yang mendengarnya segera ia melirik ke arah kanan untuk memperhatikan Pangeran Kichiro yang tengah memulai pembicaraan.
"Iya...?" balas Haruka dengan sedikit menatap wajah Pangeran Kichiro.
Pangeran Kichiro yang melihat Haruka menanggapi pertanyaannya kemudian dia segera mengutarakan apa yang sejak tadi tengah ia pikirkan, terus-menerus.
"Jika aku boleh tau, apakah benar Naga Emas itu adalah milikmu?" ucap, Pangeran Kichiro dengan penasaran.
Haruka yang mendengar pertanyaan dari Pangeran, segera ia membalasnya dengan memalingkan wajahnya untuk dapat memperhatikan jalan.
"Bukan." Ucap, Haruka tegas.
Pangeran Kichiro yang mendengar jawaban dari Haruka yang ternyata ia menjawab bahwa Naga Emas itu bukanlah miliknya, semakin membuat rasa penasaran yang didalam hati Pangeran Kichiro semakin menjadi-jadi.
"Bukan? Lalu...?" ucap, Pangeran Kichiro yang terlihat begitu penasaran.
Sambil berjalan dan memperhatikan setiap barang yang disediakan didalam Pasar, tanpa rasa ada beban Haruka segera menjawab tanya Pangeran Kichiro lagi.
"Itu adalah milik seseorang." Ucap, Haruka dengan jujur.
Pangeran Kichiro melihat wajah Haruka dan nampak jelas dari suaranya dia tidaklah berdusta, kemudian Pangeran Kichiro terdiam sejenak sambil berpikir kembali bahwa semua dugaannya yang berkata bahwa dia adalah Hanna itu semua salah besar, dan lagi saat Haruka berkata itu adalah milik seseorang nampak jelas sekali bahwa dia sangat tidak ingin membicarakan siapa sosok seseorang yang dimaksud Haruka, Pangeran Kichiro berpikir bahwa seseorang yang dimaksud Haruka itu berarti adalah seseorang yang pastinya berharga dalam Hidup Haruka, lagipula jika ia adalah Hanna tidaklah mungkin dia berkenan menerima ajakan dari dirinya. Hati memang tidak pernah salah, namun kini Pangeran Kichiro berpikir secara logis bahwa Hanna, dan Haruka adalah kedua wanita yang berbeda.
__ADS_1
"Hm, jadi seperti itu." Ucap, Pangeran Kichiro yang tersenyum tipis menatap wajah Haruka.
Haruka hanya terdiam sambil terus berjalan kemudian saat mereka tengah melalui keramaian didalam Pasar, Pangeran Kichiro melirik ke arah samping kirinya, dia melihat ada seorang pedagang kaki lima yang tengah menjual berbagai macam aksesoris.
"Tunggu sebentar ya." Ucap, Pangeran Kichiro yang berjalan untuk meninggalkan Haruka.
Haruka hanya terdiam sambil menoleh ke arah Pangeran Kichiro yang tengah menghampiri seorang pedagang kaki lima, Haruka kemudian menghentikan langkahnya, sedangkan Pangeran Kichiro tengah menemui pedagang itu, dia melihat-lihat beberapa benda yang pedagang itu sajikan, kemudian pandangannya tertuju pada salah satu pin rambut dengan hiasan kupu-kupu berwarna biru, Pangeran Kichiro segera mengambil benda itu, dan berbicara kepada salah seorang pria bahwa dia menginginkan benda itu.
Haruka yang masih memperhatikan Pangeran Kichiro dari belakang, ia berbisik lirih didalam hatinya, jika hadirku bukanlah bahagiamu, mungkin kepergian diriku akan membebaskan belenggu pada dirimu, aku tau, aku mengerti kau sangat mencintai Hanna, tapi lihatlah aku bukan dia, aku tau kau sangat ingin bertemu dengan dirinya, tapi sadarkah aku sudah berada dihadapanmu, hah mungkin aku yang terlalu banyak berpikir, ternyata dihatimu itu bukanlah aku melainkan Hanna.
Tak lama kemudian Pangeran Kichiro segera kembali untuk menemuo Haruka, sambil menyimpan sesuatu didalam tangannya, Haruka yang terlihat tengah termenung sangat dikejutkan dengan kehadiran Pangeran Kichiro yang menghampiri dirinya.
"Hei, Nona Haru...." Ucap, Pangeran Kichiro yang segera menyadarkan Haruka.
Haruka yang tengah merenung kemudian dia segera tersadar akan kehadiran Pangeran Kichiro yang telah berada dihadapannya itu.
"Ah, hm, maaf... Kau sudah selesai? Apa yang kau cari ditempat itu?" tanya Haruka yang memperhatikan wajah Pangeran Kichiro.
"Ini...?" ucap, Haruka sambil menatap wajah Pangeran Kichiro.
"Untuk dirimu." Balas Pangeran Kichiro dengan menatap wajah Haruka.
Haruka hanya terdiam saat mendengar ucapan dari Pangeran Kichiro terhadap dirinya, kemudian Pangeran Kichiro berniat untuk memakaikan pin itu pada rambut Haruka.
"Jika kau berkenan, izinkan saya memasangkan pin ini pada rambutmu itu." Ucap, Pangeran yang memperhatikan wajah Haruka.
Haruka terdiam sejenak, kemudian dia segera menyetujui permintaan dari Pangeran Kichiro, dalam benak Haruka itu hanyalah sebuah pin, dan dia hanya ingin memasangkannya saja, tidak lebih dari itu.
__ADS_1
"Baiklah." Jawab Haruka yang menyetujui permintaan dari Pangeran Kichiro.
Pangeran Kichiro terlihat sangat senang, saat Haruka mengizinkanya untuk memakaikan pin itu sendiri, Haruka kemudian membalikkan tubuhnya, dan membiarkan Pangeran Kichiro memakaikan pin rambut itu.
Pangeran Kichiro melihat ikat rambut berwarna biru tengah melilit rambut Haruka, kemudian Pangeran Kichiro menarik ikat rambut itu, dan segera rambut Haruka yang tadi terikat kuda, menjadi terurai sampai menyentuh wajahnya.
"Pangeran...?" ucap, Haruka yang nampak terkejut, segera ia menoleh ke arah belakang.
Pangeran Kichiro kemudian menatap wajah Haruka, sambil berbicara kepada dirinya.
"Kau akan telihat lebih cantik jika sedikit menyisakan rambutmu agar tetap terurai." Balas, Pangeran Kichiro yang segera merapikan rambut Haruka, ikat rambut berwarna biru itu memiliki sebuah tali pita yang cukup panjang, Pangeran Kichiro segera menariknya dan mengikat rambut Haruka dengan pita dari ikat rambutnya, sentuhan terakhir Pangeran Kichiro segera meletakkan pin kupu-kupu itu diatas rambut Haruka.
"Sudah selesai." Ucap, Pangeran Kichiro.
Haruka yang mendengarnya terlihat sangat canggung, kini semua orang yang tengah berada didalam Pasar tengah memperhatikan mereka, penduduk desa telihat tengah menjadikan diri Haruka objek pergosipan mereka.
"Terima kasih, bisakah sekarang kita pergi saja dari tempat ini?" ucap, Haruka yang merasa sangat tidak nyaman.
Pangeran Kichiro yang mendengar hal itu kemudian dia segera memberikan ikat rambut yang telah Pangeran Kichiro rusak, kini ikat rambut itu nampak polos tanpa adanya tali pita yang melengkapinya. Haruka yang melihatnya dibuat sangat terkejut itu adalah ikat rambut yang telah diberikan Xiao Chen terhadap dirinya, bukannya sayang tetapi Haruka hanya ingin sekedar menghargai pemberian apapun itu dari orang lain.
"Kau merusaknya?" ucap, Haruka yang segera menoleh ke arah Pangeran Kichiro.
Pangeran yang terkejut telihat telah membuat diri Haruka marah terhadap dirinya. Dia tidaklah tau jika benda itu sangat berharga bagi Haruka.
"Maaf.... Aku tidak bermaksud...?!" Jawab Pangeran Kichiro dengan terkejut.
Haruka yang melihat raut wajah dari Pangeran Kichiro yang terlihat bersalah, membuat diri Haruka menghela napasnya.
__ADS_1
"Sudahlah tak apa, aku tidak marah kedapa dirimu, hanya saja bagaimanapun bentuk dari sebuah barang, kau tidak boleh merusaknya, semua benda itu memiliki nilai tersediri, layaknya manusia benda pun ingin dihargai, apa kau mengerti?" ucap, Haruka dengan tegas.
Pangeran Kichiro terlihat sangat terkejut saat mendengar ucapan dari Haruka, sungguh salah besar jika Pangeran Kichiro membandingkan antara dirinya dengan sosok Hanna, mereka terlihat begitu sangat bertolak belakang, dan lagi saat melihat Haruka, Pangeran Kichiro mulai yakin Haruka terlahir dari dunia atas para Dewa dan Dewi.