
Episode 108 : Kenzo luluh kepada Laura?
***
Setelah Kenzo menenangkan dirinya, dia pergi mandi secepat kilat.
Rembulan mandi sedikit lebih lama karena merileks kan otot-totonya yang lelah akibat perilaku suaminya.
Dan Rembulan memang biasanya membutuhkan waktu yang lebih lama di kamar mandi.
Momennya tepat sekali, ketika Rembulan usai mengeringkan rambutnya, Kenzo juga sudah usai mandi dan mengenakan pakaian yang nyaman.
Ketika Kenzo membuka pintu dan melihat istrinya menyisir rambut panjangnya yang beru kering, Kenzo langsung melangkah dengan cepat dan memeluk istrinya dari belakang.
“Sayang …”
Rembulan menahan nafasnya sejenak ketika suaminya memeluknya erat, “Hmmm? Apakah kau lapar? Tunggu sebentar ya, aku akan memasak setelah ini,” Rembulan mengira suaminya pasti lapar dan dia harus segera menyiapkan makanan untuk suaminya.
Kenzo menggelengkan kepalanya, dia harus tetap tenang memberitahu kabar ini.
“Sayang … aku ingin mengatakan sesuatu, tapi berjanjilah jangan panik, dan kau harus tenang … ya,” Kenzo meraih dagu istrinya dan menatapnya lembut sekali.
Rembulan tentu menjadi semakin penasaran, mengenai kabar yang membuat suaminya sampai seperti ini khawatirnya terhadap dirinya.
“A … ada apa?” balas Rembulan sudah gugup terlebih dahulu.
Sisir yang ia genggam sampai terjatuh, firasatnya yang kuat mengatakan jika semua ini berkaitan dengan ibunya.
“Berjanjilah dulu jangan panik dan tetap tenang, yah …” Kenzo meraih tangan istrinya menggenggamnya begitu erat.
Kenzo menggenggam tangan mungil istrinya begitu erat dan yakin, sama seperti saat lalu ketika Kenzo tengah terpuruk, Rembulan juga menggenggamnya seperti ini.
“Umm … katakanlah,” Rembulan tak bisa menyembunyikan ekspersi panik di wajahnya, namun dia tetap terneyum dan menganggukkan kepalanya di hadapan suaminya.
Kenzo kemudian memberitahu keadaan Tasya kepada Rembulan, tentu saja Rembulan terpukul, tak bisa ia sembunyikan rasa sedih di wajahnya itu.
Tetapi Rembulan sebenarnya sudah terbiasa dengan kondisi seperti ini.
Dan saat dulu sebelum berada di sisi Kenzo bahkan lebih parah, karena ketika Ibunya masuk ke rumah sakit, Rembulan masih harus susah payah mencari uang untuk pengobatan ibunya, belum lagi hutang mereka dulu.
“Haah!”
Rembulan menghela nafas dengan sangat berat, dia menundukkan wajahnya dan tubuhnya bergetar, dia terjatuh ke dalam pelukan suaminya.
Sekarang, dia bisa menangis.
Di saat seperti ini, entah kenapa Rembulan merasakan hatinya tidak terlalu kosong, karena saat ini ada seseorang yang menggenggamnya ketika terpuruk.
Tanpa menunggu lebih lama, keduanya pergi ke rumah sakit.
Di dalam mobil, Rembulan diam saja, Kenzo menyempatkan mengikat rambut istrinya yang panjang, tadi Rembulan tak sempat merapihkan rambutnya karena kabar mengenai Ibunya.
__ADS_1
Setelah beberapa saat …
Keduanya sampai di rumah sakit, Kenzo memembiarkan istrinya duduk di ruangan pasien melihat Ibunya yang seperti tengah tertidur namun sebenarnya dalam masa kritis karena tadi panik karena kemarahan melihat Bimo.
“Sayang … aku ke tempat dokter dulu ya, mau menanyakan dokter mengenai keadaan Ibu mertua …” Kenzo mengecup dahi istrinya dan meminta ijin untuk pergi sebentar.
Rembulan menganggukkan kepalanya dan sekarang memang hanya fokus melihat ibunya yang pucat itu.
Kenzo pergi ke luar dan sebenarnya bukan untuk menemui dokter, Kenzo sudah menerima semua laporan tadi ketika bertelepon dengan kepala pelayan.
Kenzo pergi ke luar untuk menghubungi assitennya, dan megurus sesuatu.
***
Disaat yang bersamaan,
Laura sudah mendengar mengenai kabar bagaimana Bimo berhasil membuat Ibu kandung Rembulan terbaring koma, ketika mendengar itu Laura tersenyum dan tertawa bahagia.
Sekarang hanya tinggal rencana selanjutnya.
“Demi mendapatkan Kenzo, harus ada pengorbanan yang aku lakukan, yah … aku harus membuat Kenzo menjadi milikku lagi!”
“Pengorbanan ku tidak boleh sia-sia! KENZO HANYA MILIKKU!”
Laura sudah merencanakan sesuatu yang terlalu berlebihan, sepertinya rasa sukanya menjadi obsesi sekarang.
Karena keyakinan awalnya yang berpikir Kenzo tak akan mungkin pergi darinya walau dia sudah menikah membuatnya hampir Kehilangan akal.
Bahkan sampai sekarang pun, Laura yakin jika di dalam hati Kenzo masih ada dirinya.
Laura sedang berada di apartemennya, dengan beberapa bawahannya sudah standby disana.
Laura akan melukai dirinya sendiri sampai masuk ke rumah sakit, dia akan membuat Kenzo iba kepadanya dan waktunya tersita.
Agar bawahannya memiliki waktu untuk menculik Rembulan disaat penjagaan Kenzo longgar.
"Ah!"
Laura berteriak kecil ketika dia melukai dirinya sendiri, karena takut sakit dia hanya bisa menggoreskan pisau di tangannya dengan luka yang sedikit.
Akan tetapi tidak apa, luka sekecil ini bisa dimanipulasi menjadi luka besar, hanya tinggal menyogok dokter di rumah sakit saja.
"Cepat bawa aku ke rumah sakit! apa yang kalian lakukan terdiam seperti patung begitu?"
Laura berteriak marah, dia merasa perih di tangannya karena ulahnya sendiri.
"Ma ... maafkan kami Nona," seru suruhannya itu segera membawa Laura ke rumah sakit.
Dan sesuai dengan skenario gilanya, dia benar-benar membuat dirinya seperti tengah kritis dan terluka parah.
Dia berbaring di ranjang pasien dan berakting jika dia tengah sakit.
__ADS_1
"Ckrek!"
Suara pengambilan foto terdengar di ruangan, Laura meminta suruhannya memoto dirinya dan mengedit foto itu agar terlihat semakin menyedihkan.
Dan tentu saja foto itu dikirimkan kepada Kenzo.
"Ken, jika kau tidak menjumpai aku dan berbicara denganku maka aku tidak akan mau hidup lagi!"
"Pagi ini aku mencoba mengambil nyawaku sendiri karena kau, aku sangat mencintaimu tapi inikah sikapmu kepadaku?"
"Setelah aku menceraikan lelaki itu demi dirimu, kau malah mencampakkan aku!"
Laura mengetik pesan playing victim kepada Kenzo.
Laura membuat seolah-olah Kenzo lah yang meninggalkan dirinya dan dia lah yang terluka.
Padahal nyatanya tidak begitu, Laura lah yang membuat segalanya berubah, dan keputusan Laura sendiri lah yang ingin bercerai, Kenzo tak pernah menginginkan sesuatu seperti itu.
Bagi Kenzo, pernikahan itu sakral dan berharga, jadi sesudah menikah maka harus bertanggung jawab.
Kenzo yang baru saja memerintahkan beberapa misi kepada Liam, Kenzo menerima pesan itu.
Mata Kenzo melebar dan jantung berdegup kencang sekali, lagi dan lagi panik attack nya hampir kambuh.
Entah apa yang membuatnya seperti itu, apakah karena melihat kondisi menyedihkan Laura atau karena hal lain.
Kenzo bangkit dari tempat ia duduk, lalu pergi ke rumah sakit yang sedikit jauh dari rumah sakit tempat Ibu mertuanya.
Entah apa yang dipikirkan oleh Kenzo, namun dia memang benar-benar akan pergi menjumpai Laura.
"Tunggu disana, jangan lakukan apapun dan tunggu aku disana!"
Kenzo membalas pesan itu terlebih dahulu sebelum ia pergi melangkah.
Ketika Laura mendapatkan balasan itu, tak bisa disembunyikan olehnya betapa senyumannya merekah dan bahagia ternyata rencananya berhasil.
"HAHAHAHA! AKU SUDAH YAKIN JIKA DI HATIMU MASIH ADA AKU!"
"LIHAT SAJA REMBULAN, AKU AKAN MENJADI PEMENANG, DAN AKU AKAN MEMBALAS PENGHINAAN MU KEPADAKU!"
Laura seperti seseorang yang kehilangan akal sehat, dia bahagia dan puas menerima pesan itu.
.
.
.
.
Author : Masih ada yang akan menyusul, ditunggu yaa 😘❤️
__ADS_1