
Episode 29 : Rembulan sakit?
***
Dari kejujuran Rembulan ini, Kenzo akhirnya sedikit tahu mengenai alasan mengapa Rembulan menikah dengannya, tentu saja pasti kakeknya yang meminta Rembulan untuk itu.
Akan tetapi nasi sudah menjadi bubur, Kenzo juga tidak ingin menerima wanita ini begitu saja jadi biarkan saja berjalan seperti ini.
"Aku tidak ingin uang itu, pegang saja, itu kan bayaran mu saat lalu, aku tidak mengambil uang yang sudah aku berikan!" gerutu Kenzo berdiri.
"Kau lanjutkan makan mu saja, kau tidur di kamar ku, dan jangan menolak ku seperti tadi lagi, kita harus segera memiliki anak jika ingin cepat berpisah!"
Kenzo mengangkat dagunya, dia seperti kesal sendiri.
Bagaimana ternyata setelah ia berbicara dengan wanita ini, wanita ini ternyata sangat polos, suaranya lembut dan matanya jujur.
Hal itu membuat Kenzo kesal entah karena apa.
"Baik Tuan, maafkan aku, aku akan mempersiapkan diriku dan memiliki anak dengan cepat, agar kita dengan cepat berpisah." balas Rembulan yang sudah menerima takdir hidupnya dan akan melakoni peran ini dengan baik.
Dia berbicara dengan percaya diri dan lagi matanya yang bulat dan berbinar itu membuat Kenzo tidak tahan menatapnya lama.
Kenzo tidak membalas ucapan itu sama sekali dan pergi begitu saja lebih dulu ke kamar pribadinya.
***
Setelah itu, Rembulan menghabiskan makanannya, meminum banyak air putih agar rasa pusing di kepalanya berangsur menghilang.
Sejak tadi, kepalanya pusing sekali, tetapi masih bisa ia tahan, jadi dia tidak terlalu membutuhkan obat sekarang.
__ADS_1
Rembulan juga menurut bagaimana ia tidur di kamar pribadi Kenzo, saat ia memasuki kamar itu, dia menemukan jika Kenzo sudah terlelap.
Dengan lengannya menutupi wajahnya.
Rembulan terlalu takut untuk naik ke ranjang Kenzo, bagaimana pun Rembulan sebenarnya belum siap sama sekali melakukan hal itu lagi.
Dan Rembulan takut jika dia naik ke ranjang ini maka Kenzo akan menyerangnya lagi seperti tadi.
Dengan perdebatan batin yang begitu pelik, Rembulan akhirnya memutuskan untuk tidur di sofa dekat ranjang saja.
Hal itu dirasa lebih nyaman dan aman untuk malam itu.
***
Tanpa sadar, karena lelah keduanya tidur dengan pulas, walau Kenzo di ranjang sedangkan Rembulan di sofa.
Pagi itu, Kenzo bangun seperti biasa, dia bangkit dan melihat jika tak ada Rembulan di sisinya, matanya menyipit dan mencari keseluruhan ruangan.
"Wanita ini, tidak bersyukur sekali, apakah dia tidak ingin tidur satu ranjang denganku!" geram Kenzo bangkit dengan kesal.
Hendak membangunkan Rembulan dan meminta penjelasan akan hal itu.
"Woi!"
"Bangun!"
"Woi ...."
Kenzo mencoba membangunkan Rembulan dengan cara yang arogan.
__ADS_1
Setelah beberapa kali memanggil, Rembulan tak kunjung bangun.
"Sialan, apakah kau menguji kesabaran ku, kau kira karena sudah menjadi istriku kau bisa tenang-tenang begitu?" geram Kenzo tak lagi memiliki kesabaran.
Dia langsung meraih bahu Rembulan hendak mengguncang nya sampai bangun.
Akan tetapi saat tangannya menyentuh bahu Rembulan, Kenzo bisa merasakan panas tubuh Rembulan yang terasa di tangannya.
Kenzo menarik bahu Rembulan agar wajahnya yang menghadap kearah belakang sofa agar menghadap kearahnya.
Saat itulah Kenzo bisa melihat betapa pucat wajah Rembulan sekarang ini.
"Rembulan, apakah kau masih hidup?"
"Woi!"
Kenzo mencoba menyentuh pipi dan dahi Rembulan, dan memeriksa denyut nadi nya.
Dan ternyata Rembulan masih hidup dan bernafas dengan normal, dan sepertinya hanya sakit demam.
"Ck! merepotkan!" geram Kenzo menggendong Rembulan di tangannya dan merebahkan tubuh istrinya di ranjang.
Hanya dalam beberapa saat ia menelepon dokter pribadinya agar datang ke kediamannya, Kenzo tidak ingin membawa Rembulan ke rumah sakit karena akan menarik perhatian dan kakeknya akan langsung tahu dan hal itu sangat rumit baginya.
.
.
.
__ADS_1
.