Pernikahan Paling Luar Biasa

Pernikahan Paling Luar Biasa
Episode 97 : Peran seorang istri.


__ADS_3

Episode 97 : Peran seorang istri.


***


Rembulan akhirnya pulang dengan hati yang terluka, dia melihat malam yang semakin gelap karena hujan.


Udara dingin bahkan tak sebanding dengan kenyataan yang menyakitinya hari ini.


"Ah ... mungkin aku yang terlalu berlebihan, mungkin aku harus berusaha lebih keras lagi,"


"Aku tidak boleh bersedih, Suamiku bersikap dingin pasti karena dia belum bisa menerima semua ini ..."


"Ini bukanlah apa-apa, yang pantas bersedih untuk sekarang adalah suamiku! pasti ada sesuatu yang lebih besar yang dia alami mengapa dia terlihat berbeda."


Rembulan memang bukanlah seseorang yang mudah menyerah, ketika ia sudah bertekad untuk melakukan sesuatu maka akan ia lakukan hingga akhir.


Rembulan pulang ke mansion suaminya, membersihkan dirinya dan menghubungi kepala pelayan Kakek Reynold untuk memastikan keadaan Kenzo di rumah sakit.


Rembulan duduk di atas ranjang, matanya masih menatap hujan yang bisa ia lihat dari jendela kaca kamar pribadinya dan Kenzo.


"Pernikahan ternyata tidak mudah ya ..."


"Dua kepribadian menjadi satu, apalagi kami baru saja hendak mengenal satu sama lain, mungkin ini adalah salah satu ujian, agar aku mengenal suamiku lebih dalam, mengenai tatapannya malam ini,"


"Aku yakin ada yang dia sembunyikan, dia memintaku pergi saat itu juga karena tidak ingin menunjukkan hal itu, pasti tidak ingin ditanyai juga ..."


Rembulan berbicara sendiri, seolah berbicara dengan hujan.


Walau ia baru saja menikah akan tetapi sudah banyak hal yang ia lalui, ketika ia mulai nyaman dengan Kenzo, ternyata ada sesuatu dalam diri Kenzo yang tidak pernah ia ketahui, terasa seperti monster tidur.


Sesuatu yang mengubahnya hanya dalam satu malam.


Rembulan meringkuk, dia merasa ada sesuatu yang salah dalam dirinya tetapi dia tidak bisa melakukan apapun.


Dulu ketika ia masih kecil, ayah kandungnya pergi dari dunia jadi dia paham mengapa Kenzo kesal melihat ada orang lain di sisinya.


Di satu sisi Rembulan bisa mengerti sikap Kenzo mengapa begitu dingin.


Namun di satu sisi, Rembulan ingin menjadi seseorang yang bisa menghibur Kenzo.


Rembulan tanpa sadar telah menjadi egois, tanpa sadar dia ingin dibutuhkan oleh suaminya.


Malam itu, Rembulan menangis begitu lama, ini adalah pertama kalinya Rembulan menangis selama itu.


Matanya bengkak, dan wajahnya pucat, karena tidak mengenakan pakaian hangat tadi keluar disaat musim hujan seperti ini, sepertinya kesehatan Rembulan menurun.


Tubuhnya menjadi lebih lemah dari sebelumnya, biasanya Rembulan tidak akan demam hanya karena hujan atau suhu dingin, namun kali ini dia merasa tubuhnya lemah sekali dan kepalanya sakit.


Dia tertidur ketika ia masih menangis, harapannya membuat hatinya terkoyak begitu dalam.


***


Waktu berlalu begitu saja,

__ADS_1


Rembulan tetap bangkit dari atas ranjang walau tubuhnya terasa berat sekali.


"Suamiku pasti belum makan, aku harus terus membawanya makanan, jika tidak ... dia bisa sakit,"


Rembulan pergi dengan cepat menuju ruangan dapur.


Dia memasak sepenuh hati, walau dia tahu Kenzo pasti akan menolak lagi, akan tetapi dia akan tetap berusaha memberikan yang terbaik.


Selama Kenzo tidak berselingkuh dan memukulnya maka Rembulan akan tetap mempertahankannya rumah tangganya.


Rembulan akan tetap berpegang teguh kepada ucapan suaminya yang katanya juga ingin mempertahankan pernikahan mereka.


"Nyonya Rembulan apakah anda yakin pergi ke rumah sakit sekarang? anda terlihat pucat sekali, sebaiknya saya panggilan dokter pribadi saja agar Nyonya istirahat di rumah, untuk makanan Tuan Kenzo bisa diantar oleh kami ..."


Kepala pelayan baru di kediaman Kenzo memberikan saran ketika melihat Rembulan yang kelihatan pucat sekali itu tetap menenteng bekal makanan di tangan untuk dibawa kepada suaminya.


Rembulan tersenyum lembut dan masuk ke dalam mobil.


"Aku istrinya, setidaknya aku harus mendukung nya apapun yang terjadi, aku harus ada ketika dia terpuruk ... aku tidak apa-apa, jangan terlalu khawatir ..."


Rembulan tersenyum lembut, lalu segera menutup pintu mobil.


Kepala pelayan baru yang memang ditunjuk secara langsung oleh Rembulan saat lalu merasa terharu melihat keteguhan Nyonya Rembulan.


Menurutnya Rembulan tidak sombong seperti yang diucapkan oleh para pelayan, hanya karena saat lalu Rembulan memecat beberapa pelayan bukan berarti Rembulan kejam dan sombong.


Kepala pelayan itu bisa menilai sendiri bagaimana sikap Rembulan sangat dewasa, dibandingkan usianya yang muda, sikap dan bagaimana Rembulan mengambil keputusan sangatlah patut diacungi jempol.


***


Hanya dalam beberapa saat Rembulan sudah sampai di rumah sakit.


Langkah kakinya sebenarnya sudah berat sekali, tetapi dia tetap melangkah dengan tegar.


"Nyonya Rembulan, maafkan saya tetapi saya tidak bisa membujuk Tuan Kenzo untuk makan ataupun tidur ..."


"Dia tidak mendengarkan siapapun,"


Kepala pelayan dan beberapa pelayan yang ada di luar ruangan segera menyambut Rembulan.


"Haah!"


Rembulan menghela nafasnya dalam.


"Tidak apa Pak, kalian juga pasti tidak bisa memaksa dia, biarkan aku saja yang membujuknya ..."


Seru Rembulan menelan salivanya kuat ketika hendak masuk ke ruangan pasien Kakek Reynold.


"Apapun sikap suamiku nanti aku tidak boleh sakit hati dan menangis, suamiku sedang sedih jadi aku tidak boleh bersikap egois!"


Rembulan sudah membulatkan tekadnya sebelum masuk.


Apapun sikap Kenzo nantinya, dia tidak akan peduli, dia akan terus berada di sisi Kenzo sampai Kenzo bisa berpikir dengan jernih.

__ADS_1


"Tok ... Tok ... Tok!"


Rembulan mengetuk pintu terlebih dahulu, lalu ia masuk ke dalam ruangan dingin itu lagi.


"Se ... selamat pagi, maaf mengganggu lagi ..."


Rembulan melangkah mendekat sembari berbicara lembut sekali, namun sebelum ia usai menyelesaikan ucapannya Kenzo yang terus berada di sisi kakeknya langsung mengusir Rembulan.


"Pergi."


Serunya dengan suara yang datar dan dingin.


'Ah ... diusir lagi! tapi dia harus makan, bagaimana ini?'


Rembulan mencari cara agar dia bisa membujuk Kenzo untuk makan, jika Kenzo tidak makan maka sudah bisa dipastikan sebentar lagi Kenzo akan sakit.


"Aku akan pergi, tapi sebelum itu makan lah dulu, Kakek pasti tidak suka jika tahu kau tidak makan dan menyakiti dirimu sendiri ..."


Rembulan memberanikan dirinya sendiri untuk berbicara dan terus saja berjalan hendak meletakkan makanan di meja.


Ketika mendengar itu, Kenzo langsung bangkit, matanya tajam sekali lalu langkah kakinya yang jenjang itu membuatnya cepat sekali sampai di hadapan Rembulan.


Kenzo hendak menarik makanan di tangan Rembulan namun Rembulan yang sudah tahu hal ini akan terjadi langsung menghindar.


"Jangan menghempaskan makanan lagi, banyak orang diluar sana yang tidak bisa makan! jangan dibuang makanan yang sudah susah payah aku masak!"


Rembulan tidak akan mau mengalah pagi ini.


Tadi malam dia pulang begitu saja karena syok, akan tetapi pagi ini dia akan memastikan Kenzo makan walau itu hanya sedikit.


"Kau tidak dengar aku? pergi dari sini! kenapa kau kembali lagi? kenapa? kau pikir siapa dirimu?"


Kenzo benar-benar tidak dalam keadaan yang normal sekarang, kesedihannya yang mendalam membuatnya marah kepada semua orang.


Ya, Bukan hanya Rembulan saja yang menerima kemarahan Kenzo akan tetapi semua orang yang berada di sekitarnya juga.


"Siapa aku? aku istrimu, lalu kau mau bilang apa? apa kau mau langsung menceraikan aku jika aku tetap berada di sini? hmmm?"


seru Rembulan menatap kearah Kenzo.


Rembulan sudah kehabisan kesabarannya, dia tahu Kenzo sedih akan tetapi tidak seharusnya dia melukai dirinya sendiri dan orang disekitarnya.


Kenzo sungguh tidak tahu cara memperlakukan orang disekitarnya dengan baik.


.


.


.


.


Masih ada dua episode lagi, ditunggu yaa ❤️

__ADS_1


__ADS_2