
Episode 67 : Kau menggoda aku lagi?
***
Rembulan jadi membisu dan tak bisa mengatakan apapun, Kenzo yang melihat betapa menggemaskan istrinya ini hendak mengerjai Rembulan lagi.
"Sayang ... sepertinya kau senang hendak melakukannya disini, jika kau masih diam ... aku tidak akan berhenti," bisik Kenzo menyeringai nakal dan sudah menyibak rambut istrinya agar memperlihatkan tengkuknya.
Saat Rembulan mendengar itu, dia langsung menyadari jika nafas Kenzo sudah dekat sekali di tengkuknya.
Hal itu membuat Rembulan merinding sekali dan langsung menggenggam tangan suaminya.
"Baiklah ... baiklah, pinggul ku masih sangat pegal, jangan dilakukan lagi ..."
"Aku akan memanggil mu suami,"
Seru Rembulan benar-benar panik, dia tidak tahu jika suaminya hanya suka mengerjainya saja.
"Deg ... Deg ... Deg!"
Jantungnya berdebar cepat sekali ketika Bulan memanggilnya dengan sebutan Suami.
"Coba panggil aku sekarang!"
Seru Kenzo sembari menelan salivanya dan jantungnya berdegup kencang ketika menunggu Rembulan hendak memanggilnya suami.
"Ummm ..."
Rembulan mencengkeram tangannya dan menunduk sekali, wajahnya memerah.
Entah mengapa hal ini sangat memalukan baginya.
"Su ... suami ..."
Rembulan memanggil Kenzo dengan panggilan suami, akan tetapi suaranya pelan sekali.
"Aku tidak dengar, apa kau sedang berkumur?"
Balas Kenzo merasa suara Rembulan sangat pelan.
'Astaga ... kenapa jalan cerita pernikahan ini jadi seperti ini? bukankah dia membenci ku lalu kenapa?'
Rembulan bertanya-tanya dalam hatinya, dia tidak mengerti sebenarnya mengapa dia harus memanggil Kenzo dengan sebutan Suami.
Akan tetapi Rembang lagi lagi tak mau mencari masalah jadi dia langsung menguatkan suaranya.
"Suami ... suami ... suami!"
Serunya tersenyum kaku, melihat kearah Kenzo dengan sangat canggung.
Rasanya Rembulan ingin bersembunyi saja ke tempat yang sepi, agar dia bisa berteriak karena malu.
*Blush*
Pipi Kenzo merah sekali, jantungnya juga berdegup kencang sampai ia harus mengusap dadanya.
"Kau menggodaku lagi kan istri?" geram Kenzo meraih tangan istrinya dan jemarinya meraih dagu istrinya dan membuat wajah mereka dekat sekali.
"Me ... menggoda? tidak sama sekali!"
"Tuan yang mengatakan untuk memanggil mu suami, jadi aku lakukan jadi mengapa itu jadi menggoda?"
Kali ini Rembulan sudah tidak bisa menahannya lagi.
Dia bingung mengapa dia harus dikatakan menggoda padahal dia tidak.
__ADS_1
"TUAN?"
Mata Kenzo tajam sekali dan salah satu alisnya naik memberikan kesan kejam dari wajah Kenzo.
"Emm ... ma ... maksudku suami,"
Rembulan merevisi ucapannya, karena merasa sewaktu-waktu dia bisa saja diserang jika membantah ucapan lelaki buas ini.
"Pfft ..." Kenzo terkekeh melihat reaksi istrinya.
Dia menatap lekat kearah bibir merah Rembulan dan mengusapnya menggunakan jemarinya.
'Suasana apa ini? kenapa dia tidak berhenti juga?'
'Apa yang harus aku lakukan?'
'Aku tidak tahu lagi!'
Rembulan sudah benar-benar bingung sekarang, mengapa Kenzo tidak berhenti juga.
Padahal dia sudah menuruti semua yang ia mau.
"Karena kau menggodaku maka aku akan mencium mu sekali lagi, baru setelah itu makan ..." bisik Kenzo tak bisa menahan dirinya lagi untuk segera melahap bibir istrinya ini.
Kenzo melingkarkan tangan kokohnya di pinggang istrinya, lalu salah satu tangannya yang lain di dagu Rembulan.
Kenzo kemudian mendekatkan bibirnya dengan bibir Rembulan hingga bibir mereka saling bersentuhan.
Rasanya lembut sekali, berbeda dari ciuman menuntut tadi, ciuman ini bertahap dan sangat lembut.
Sampai sampai Rembulan yang tadi menolak seolah terhipnotis oleh kelembutan ciuman yang diberikan oleh suaminya.
"Hah ..."
Nafas keduanya semakin panas, Kenzo tanpa sadar hendak membuka baju Rembulan.
"Istri ... kau sungguh membuatku gila! kau membuatku ketagihan!"
Bisik Kenzo membuat Rembulan pusing.
Entah mengapa dia tidak bisa menolak sentuhan lelaki ini, rasanya hangat dan panas juga membuatnya pusing.
*Terdengar suara perut lapar Rembulan*
Saat perut lapar itu menggema, keduanya spontan membuka mata mereka dan ciuman mereka tiba-tiba saja berhenti.
Rembulan yang menjadi tersangka utama dengan suara memalukan itu langsung menundukkan kepala.
'ASTAGA! PERUT KAU SANGAT TIDAK BISA DIAJAK BERKOMPROMI!'
'AKU MALU SEKALI! AAAA!'
Rembulan sungguh malu sekali, wajahnya sudah semerah tomat dan jika bisa dia ingin menghilang saja.
"Pfftt ... istri, kau sudah lapar?"
"Baiklah ayo kita makan ..."
Tetapi berbeda dengan Rembulan yang sangat malu, sepertinya Kenzo biasa saja.
Kenzo malah senang melihat ekspresi Rembulan yang menurutnya sangat menggemaskan.
"Ummm ... suami, ayo kita makan!" seru Rembulan meraih goodie bag yang ia pertahankan tadi lalu meletakkan makanan diatas meja.
Rembulan berharap kejadian tadi terlupakan, atau setidaknya terhapus dari ingatannya.
__ADS_1
Karena baginya hal itu sangatlah memalukan.
***
Disana yang bersamaan,
Liam marah besar dengan seluruh petugas yang berjaga di lobby hari ini, apalagi kepada supervisor yang bertugas hari itu.
Para perempuan yang tadi meragukan Rembulan menangis tersedu-sedu, sedangkan para petugas keamanan sudah ketakutan dan bergetar.
Bagaimana jika mereka dipecat maka sumber keuangan mereka akan berhenti.
Bagaimana pun, di perusahaan ini mereka di gaji dengan upah yang sangat tinggi.
Kenzo memang sengaja memberikan upah yang tinggi karena bagi Kenzo, karyawan-karyawannya adalah aset paling penting perusahaan.
Dan memberikan upah yang tinggi juga bisa membantu perekonomian mereka.
Tetapi nyatanya kebaikan hati Kenzo itu malah mereka kecewakan.
Jika mereka dipecat dari perusahaan ini maka akan sulit mendapat pekerjaan di perusahaan lain.
"Pak Liam, apakah kami akan dipecat?"
"Kami berjanji akan memperbaiki sikap kami lagi, kami akan menghukum diri kami sendiri, tolong bantu kami Pak Liam ..."
Seru supervisi yang bertugas hari itu.
Liam yang memang juga marah kepada mereka ketika melihat cctv sedang menatap para bawahannya dengan tatapan yang sangat tajam.
"Hukuman kalian akan diberikan Langsung istri Pak Kenzo, aku akan memberikan kabar secepatnya?" geram Liam sebenarnya tak bisa melakukan apapun.
Karena kali ini para bawahannya itu telah melakukan kesalahan yang fatal.
***
Di sisi lain,
Di kediaman Kakek Reynold, dia baru saja mendapatkan penyelidikan mengenai kedekatan Kenzo dengan Rembulan.
Reynold yang sudah tua renta itu senang sekali.
Dia tengah berbaring di atas ranjang dengan infus di tangan.
Sebenarnya Reynold sedang dalam kondisi kesehatan yang sangat buruk, karena dia sudah tua jadi Reynold tahu jika umurnya sudah dekat.
"Tuan Reynold, apakah tidak masalah tidak memberitahu hal ini kepada Tuan Kenzo?"
Dokter pribadinya menanyakan lagi pertanyaan yang sama yang sudah ia sebutkan berulang kali.
Reynold meletakkan foto yang memperlihatkan bagaimana Kenzo sepertinya sudah menyayangi istrinya.
"Tidak usah, aku memang sudah tua, sudah waktunya pergi ..."
"Aku tidak ingin membuat cucuku itu sedih, setidaknya sebelum aku pergi aku ingin dia memiliki seseorang untuk bersandar ..."
"Dia sudah kesepian seumur hidup ketika kehilangan kedua orang tuanya!"
Reynold sangat menyayangi Kenzo, dia yakin Rembulan adalah yang paling tepat berada di sisi Kenzo.
Rembulan pasti bisa mengisi kekosongan hati cucunya itu.
Reynold hanya tidak sabar mendengar kehamilan dari Rembulan, agar dia bisa pergi dengan tenang.
.
__ADS_1
.
.