Pernikahan Paling Luar Biasa

Pernikahan Paling Luar Biasa
Episode 38 : Bubur paling hangat.


__ADS_3

Episode 38 : Bubur paling hangat.


***


Saat Rembulan tengah menangis sampai sesenggukan dan mengusap air matanya sendiri, sebenarnya sejak tadi Kenzo sudah ada di luar kamar dan mendengarkan segalanya.


Dia tepat ada di depan pintu menenteng sebuah nampan dimana ia meletakkan bubur yang akan disantap oleh Rembulan pagi ini.


Kenzo terdiam ketika mendengar semua kebohongan yang dilontarkan oleh Rembulan kepada Ibunya.


Kenzo juga terdiam, bagaimana ia akhirnya tahu jika wanita muda yang menjadi istrinya itu hanya berpura-pura tegar dan bisa melakukan nya sendiri.


Kenzo tak berkutik, dia hanya diam saja, dia ingin menunggu beberapa waktu lagi sampai Rembulan tenang dulu.


Dia menunggu di depan pintu, dengan segala pikiran yang melayang di pikirannya.


Karena sama seperti Rembulan, sesungguhnya dia juga tidak menginginkannya pernikahan ini, jadi dia juga tak bisa melakukan apapun, dia tidak akan bisa mencintai istrinya dan Kenzo yakin dengan hal itu.


Tetapi sebagai gantinya, Kenzo akan memperlakukan Rembulan dengan baik mulai dari sekarang, sampai akhirnya mereka berpisah nantinya.


***


Setelah beberapa saat ...


Kenzo memastikan jika Rembulan sudah tidak menangis lagi.


"Aku masuk ..."


Kenzo membuka pintu dengan nampan di tangan, dia melihat diatas ranjang, wajah yang masih pucat itu tersenyum lagi.


Seolah tak terjadi apapun, seolah dia tidak pernah menangis sebelumnya.


Padahal tentu saja Kenzo sudah mendengar semuanya.

__ADS_1


"Tuan ..." Rembulan tersenyum cerah, dia menunduk hormat dan seperti menyambut Kenzo dengan baik.


"Makanlah, aku memasak nya untuk mu, rasanya tidak akan terlalu asin,"


"Katakan padaku jika kau sudah selesai makan, aku akan pergi ke ruangan kerja ku, jadi jika buruh sesuatu kau bisa langsung hubungi aku saja, untuk hari ini kau istirahat sampai sembuh dulu ..."


Kenzo terlihat berbeda dari sebelumnya, Nada suaranya lembut dan kemarahan dalam dirinya seolah mereda.


"Terimakasih banyak Tuan, tenang saja aku tidak akan merepotkan mu, aku akan sembuh dengan cepat dan melakukan tanggung jawabku dengan baik,"


"Tuan serahkan saja semuanya kepadaku, dan ... terimakasih sudah memberikan aku makanan ..."


Rembulan berbicara Tulus sekali, bisa dilihat oleh Kenzo bagaimana Rembulan senang sekali melihat makanan yang dibawa olehnya.


"Cih, kau sudah sangat senang hanya karena makanan, menyebalkan melihat wanita lemah sok kuat!" Kenzo berbicara kecil, sembari dia melangkah keluar dari kamar lagi.


Rembulan tidak terlalu mendengar apa yang diucapkan oleh Kenzo saat ia pergi melangkah, jadi Rembulan hanya diam saja sampai Kenzo pergi dari kamar.


"Tak ... Tak ... Tak!"


Dia langsung duduk di depan meja kerjanya, dan menghidupkan komputer, mengaktifkan cctv di kamar pribadi.


Dia sebenarnya ingin melihat Rembulan lebih lama, dia ingin melihat bagaimana reaksi Rembulan memakan masakan darinya.


...


Setelah Kenzo pergi dari kamar, Rembulan menatap makanan yang ada di atas nampan di meja dekat ranjang.


Dia mengambil wadah bubur dan merasakan hangat di wadahnya.


"Hangat ... pasti rasanya enak ..." Rembulan terlihat sangat bahagia.


Kebahagiaan yang sederhana, yang terlihat sangat bersinar di mata Kenzo.

__ADS_1


"Deg ... Deg ... Deg!"


Seperti ada petir dan sinar menyambar dalam diri Kenzo disaat yang bersamaan ketika melihat Rembulan menyendok bubur ke mulutnya.


Pipi Rembulan mengembung dan matanya terpejam menikmati bubur yang dihidangkan olehnya.


Rembulan terharu sekali hanya karena semangkuk bubur, setiap suapan dia selalu bersyukur dan mengatakan betapa enak bubur biasa yang dimasak oleh suaminya.


"Ini enak sekali, rasanya hangat ... aku suka,"


Rembulan selalu mengatakan hal yang sama, sampai ketika bubur itu habis.


"Ah ... ini kali pertama aku makan pagi, aku selalu melewatkan makan pagi dan pergi bekerja, mungkin Tuan Kenzo tidak terlalu jahat ... karena dia aku bisa makan pagi,"


Ya, Rembulan memang senang sekali, dia puas karena memakan sarapan pagi pertamanya, dia terbiasa bangun subuh, memasak makanan untuk ibunya, lalu pergi bekerja dan tak sempat sarapan.


Jadi, bubur hangat itu sungguh sangat berharga untuknya.


"Deg ... Deg ... Deg!"


Melihat betapa bahagianya istrinya rasanya dada Kenzo diremas sampai rasanya sakit.


Kenzo sampai mengusap dadanya karena rasa perih, dia baru pertama kali melihat wanita muda yang begitu rapuh dan tersenyum puas memakan semangkuk bubur.


Seolah kehidupan yang dijalani istrinya itu sebelum bersamanya sangatlah pelik dan menyedihkan.


.


.


.


.

__ADS_1


Author : Maaf ya baru update 🙏


__ADS_2