
Episode 48 : Jangan terlalu mendalami peran.
***
Saat melihat istrinya menyiapkan makanan untuknya, entah mengapa ada rasa hangat di hati Kenzo.
"Deg ... Deg ... Deg!"
Kenzo masih terlena dengan bagaimana Rembulan terlihat sangat cantik dan menggoda pagi ini.
"Tuan, duduklah dan makan, aku sudah memasak untuk mu,"
Rembulan bersikap seolah tidak ada apapun terjadi tadi malam.
Kenzo yang terkejut dengan seruan istrinya langsung menggelengkan kepalanya dan mengedarkan dirinya sendiri.
"Ehem!"
Dia segera duduk sesuai dengan keinginan Rembulan.
Dia duduk dan Rembulan dengan cekatan melayani suaminya, menyiapkan makanan untuknya diatas piring.
"Kenapa kau yang memasak?"
Itu adalah pertanyaan pertama yang ditanyakan oleh Kenzo kepada Rembulan.
Rembulan tersenyum ramah, lalu menjawab dengan jujur.
"Aku adalah istri di rumah ini, aku akan melayani mu sebagaimana istri melayani suaminya, aku hanya melakukan tanggung jawabku Tuan,"
__ADS_1
Rembulan sungguh tak pernah lupa tanggung jawabnya, namun hal itu entah mengapa membuat Kenzo kesal sekali.
Seolah yang merasa malu dan berdebar hanya dirinya saja, dan Rembulan terlihat biasa-biasa saja dan melakukan semua ini hanya demi perjanjian mereka saja.
"Cih!"
Kenzo hanya bisa melihat dengan tajam, dia tak peduli lagi.
Yang hanya ingin ia lakukan sekarang hanyalah cepat makan dan pergi ke perusahaan melaksanakan pekerjaannya yang sudah tertunda.
Kenzo memakan masakan istrinya, dan ternyata rasanya lumayan enak untuknya, tanpa sadar makanan itu sudah habis.
"Aku sudah selesai makan, aku pergi bekerja dulu ..."
Kenzo berbicara sembari berdiri, saat Kenzo berdiri diikuti oleh Rembulan hendak mengantar suaminya pergi bekerja.
Saat Kenzo melangkah diikuti oleh Rembulan, Kenzo yang sejak tadi kesal menghentikan langkah kakinya sebentar lalu melihat kearah Rembulan.
Kenzo menatap dengan tajam.
Kenzo juga tak tahu mengapa dia mengatakan kata kejam itu, dia tak mengerti mengapa dia marah ketika tahu semua ini hanyalah sandiwara bagi Rembulan dan dirinya.
Kenzo tidak tahu mengapa dia marah ketika menyadari jika semua debaran yang ia rasakan dan rasa hangat yang ia rasakan hanyalah sebuah sandiwara belaka.
"Deg!"
Jantung Rembulan berdetak sakit ketika mendengar ucapan Kenzo.
Rembulan kemudian tersenyum lagi, menunduk hormat dan menjaga langkah nya agar tidak terlalu dekat dengan Kenzo.
__ADS_1
Dia mundur beberapa langkah lalu tersenyum mengangkat wajahnya.
"Aku tidak akan melakukannya lagi Tuan, aku akan menjaga jarak dari mu, semoga harimu menyenangkan ..." Rembulan tersenyum lagi dari jauh.
Jarak mereka menjadi semakin jauh, seolah ada tembok besar menghalangi mereka sekarang.
Kenzo mencengkeram tangannya, sikap Rembulan yang tegar itu membuat Kenzo kesal, entah apa yang ia inginkan sebenarnya.
Kenzo pergi berlalu begitu saja, tanpa mengatakan sepatah katapun lagi.
Dia melangkah menjauh, pundaknya yang lebat dan tubuhnya yang tegak itu perlahan menghilang dari pandangan Rembulan.
"Apakah aku juga tidak pantas melakukan tanggung jawabku? menyedihkan, orang yang status sosialnya rendah memang akan selalu menundukkan kepala, bertahanlah Rembulan, lakukan semua ini dengan senyuman dan berdirilah tegap!"
"Angin sekuat apapun yang akan merobohkan mu jika kau memiliki akar yang kuat, kau tak akan tumbang"
Rembulan menyemangati dirinya sendiri.
Rembulan memang terbilang masih muda di segi usia, tetapi dia memiliki pemikiran yang sangat dewasa dan perilaku yang sangat sopan.
Tanpa menunggu lama, Rembulan dengan cepat pergi melangkah mengemas makanan yang sudah ia masak pagi tadi untuk ia bawa kepada ibunya.
Hari ini dia akan mengunjungi ibunya dan melihat sendiri keadaan sang ibu.
.
.
.
__ADS_1
.