
Episode 33 : Rembulan sadar.
***
Saat panggilan itu berlangsung, Kenzo bisa mendengar jika pintu ruangannya sedang di ketuk dan para pelayan sudah masuk membawakan bubur yang dia perintahkan buat.
Kenzo melihat gerak gerik keempat pelayan yang terlihat sopan dan biasa saja, para pelayan itu menunduk kearahnya dan meletakkan bubur di atas meja samping ranjang.
Keempat pelayan yang memang hari ini bertugas mengurus makanan di kediaman segera menghadap Kenzo.
"Tuan ..."
"Kami sudah meletakkan bubur di atas meja, ada lagi yang anda butuhkan Tuan?"
Salah seorang pelayan yang merupakan koordinator hari itu berbicara sembari tersenyum sangat manis seolah tengah menggoda Kenzo.
Sebagian pelayan di kediaman ini merasa mereka memiliki kesempatan berada di sisi Kenzo setelah mengetahui jika Rembulan yang merupakan pelayan seperti mereka bisa menjadi istri Tuan muda.
Mata Kenzo menjadi tajam dan wajahnya menjadi angkuh.
"Kalau sudah kenapa tidak keluar dari kamar ku? apa kalian mau dipecat? cepat keluar!"
Kenzo membalas dengan cara yang cukup ekstrim, Kenzo adalah lelaki yang selalu mendapat godaan dari banyak sekali wanita.
Dari kalangan atas, aktris, penyanyi bahkan bangsawan banyak yang mendekati Kenzo.
Kenzo tahu gerak-gerik seorang wanita yang menggoda nya, dan pelayan ini dengan sengaja telah menggodanya dan pelayan itu mengira Kenzo tidak akan tahu.
Pelayan itu langsung bergetar ketakutan, segera menunduk dan hampir menangis.
__ADS_1
"Ba ... baik Tuan, ma ... maafkan kami," balas pelayan itu menunduk dan melangkah dengan cepat menuju luar kamar.
"Cih! dasar tidak tahu diri!" geram Kenzo kembali lagi ke sisi Rembulan.
Kenzo jadi ingat, selain saat malam itu, Rembulan sama sekali tidak memiliki niat dan gelagat menggoda dirinya.
"Oh iya, kau tidak pernah berusaha menggoda ku, jadi benar ya ... kau menikah hanya demi uang!"
"Kenapa aku jadi kesal sekali?"
"Ini sangat tidak baik!"
Geram Kenzo menatap Rembulan dengan matanya yang tajam.
Dan entah mengapa dadanya panas ketika menyadari wanita ini tidak pernah mencoba menggodanya atau mengambil hatinya.
"Ibu ..."
Seru Rembulan dengan tiba-tiba duduk dengan nafasnya yang berat.
"Haaahhh!"
"Hanya mimpi buruk!"
Rembulan baru sadar jika dia baru saja bermimpi, dia mengusap dadanya dan saat ia menolah ke sisinya dia terkejut lagi untuk yang kedua kalinya.
"Astaga ..." serunya ketika melihat lelaki menyeramkan yang memiliki mulut pedas itu ada di sisinya tengah melihatnya dengan mata yang sangat tajam.
"Tu ... Tuan, kenapa anda ada di samping ku, dan ...." Rembulan mengusap dadanya menenangkan dirinya.
__ADS_1
Saat Rembulan berbicara dia baru saja sadar jika dia sudah ada di atas ranjang dan seluruh pakaiannya sudah berbeda dengan pakaian yang ia kenakan tadi malam.
Rembulan secara refleks menutupi bagian dadanya dan melihat kearah Kenzo.
Saat itu kain yang ada di dahinya terjatuh.
Rembulan melihat dengan rasa penasaran mengapa ada kain hangat menempel di dahinya.
"Tu ... Tuan, apa yang terjadi?"
Rembulan bingung, dia tidak tahu jika dia tengah demam dan Kenzo merawatnya dan membersihkan tubuhnya.
"Kau baru merepotkan aku, membuatku tidak masuk kantor dan membuatku melakukan banyak hal!"
"Kau memang merepotkan, tapi aku akan memarahi mu nanti saja, karena kau masih sakit, kau makan bubur dulu!"
Kenzo yang tadi entah mengapa masih marah atas bagaimana Rembulan ternyata tidak pernah mencoba menggoda dirinya membuat Kenzo berbicara begitu ketus dan tegas.
Hal itu sudah biasa bagi Rembulan, dia tahu jika lelaki ini memang memiliki mulut yang pedas.
Jadi dibandingkan melawan dan berdebat, lebih baik dia makan saja dulu, karena dia merasakan lapar yang teramat sangat sekarang ini.
.
.
.
.
__ADS_1