Pernikahan Paling Luar Biasa

Pernikahan Paling Luar Biasa
Episode 88 : Pandai memanipulasi hati.


__ADS_3

Episode 88 : Pandai memanipulasi hati.


***


Waktu akhirnya berlalu,


Di apartemen Laura, dia tengah meminum banyak sekali sampanye, dia duduk sendirian dan membayangkan ada Kenzo disana.


Dia tahu Kenzo dan wanita itu menghabiskan waktu bersama dan hal itu menyakitinya.


"Harusnya aku yang berada di sisi Kenzo,"


"Kenapa menghiraukan aku? tidak mungkin kau sudah melupakan aku kan?"


"Kau hanya kasihan kepada wanita itu, dan karena hatimu baik, kau ingin mempertahankan pernikahan yang tidak didasarkan cinta!"


"Aku tidak akan membiarkan hal itu Ken, aku sangat mencintai mu dan aku sudah mengambil semua resiko agar bisa berpisah dengan cepat dan bersamamu!"


Laura benar-benar telah menjadikan Kenzo sebagai obsesinya, dia merasa ketika Kenzo menjadi milik wanita lain dia menjadi semakin tertantang untuk mendapatkan Kenzo.


"Tring ... Tring ... Tring!"


Saat itu ponselnya berdering, senyuman di wajahnya seketika tergambar.


"Apakah ini dari Kenzo?" sahutnya tanpa berpikir panjang langsung mengangkat panggung itu.


"Halo?"


Laura mengangkat panggilan namun tak ada jawaban awalnya.

__ADS_1


"Halo, apakah ini kau Kenzo? aku tahu kau pasti merindukan aku kan? aku tahu kau pasti menghubungi aku kan? Kenzo kembali lah kepadaku ...."


Laura berbicara sesuka hatinya, mungkin karena pengaruh alkohol di pagi hari membuatnya tak bisa berpikir jernih.


Karena tentu saja panggilan itu bukanlah dari Kenzo melainkan mantan suaminya yang merasa dipermainkan oleh Laura.


"Oh?! Kenzo? akhirnya aku tahu kenapa kau menggugat cerai aku dengan melakukan berbagai cara, sejak awal kau hanya bersandiwara di hadapan ku, berpura-pura menjadi istri yang baik,"


"Setelah berpisah akhirnya aku tahu manusia seperti apa kau, kau merasa menjadi pusat dunia dimana semua orang harus mencintai mu dan menjadi budak mu, kau memanipulasi aku dalam perpisahan kita dan membuat aku menjadi pihak yang salah agar kau bisa pergi dengan bebas dan bahagia!"


"HAHAHA! Kau salah Laura, aku bersumpah akan membalas mu, kau harus tahu apa konsekuensi mempermainkan hatiku!"


Mantan suami Laura juga adalah seorang CEO, walau tidak seterkenal Kenzo akan tetapi dia tetap memiliki kekuasaan.


Dan Laura benar-benar adalah wanita yang pandai mempermainkan hati seseorang.


Laura yang mendengar ancaman itu menelan salivanya kuat, dia mematikan panggilan itu segera dan tanpa sadar pingsan begitu saja diatas meja karena terlalu mabuk.


***


Disaat yang bersamaan,


Kenzo sudah kembali ke kantor sedangkan Rembulan kembali ke kediaman Ibunya untuk menjenguk ibunya sebentar sebelum melakukan les bersama chef Austin.


Senyuman di wajah Kenzo tak bisa lagi ia tutupi, bayangan mengenai Rembulan yang terus saja berada di kepalanya membuatnya tak habis pikir mengapa ada wanita seimut itu di dunia.


"Aku beruntung memiliki istri seperti istriku, bagaimana mungkin dia sangat menggemaskan dan seksi disaat yang bersamaan?"


"Apakah dia tahu seberapa menggodanya dia? ah ... hanya berpisah beberapa saat sudah membuatku sangat merindukan dia, bagaimana ini?"

__ADS_1


Kenzo benar-benar telah dimabuk asmara oleh istrinya, bagaimana seharian penuh dia hanya memikirkan mengenai istrinya.


"Ah ... sepulang kerja aku akan pergi bersamanya membeli beberapa pakaian dalam seperti yang aku rencanakan, sepertinya dia tidak menginginkan apapun dariku, bahkan tidak meminta uang sedikitpun, jadi aku harus berinisiatif sendiri ..."


Kenzo sudah memiliki rencana selanjutnya, dia tidak sadar jika banyak sekali berkas menumpuk diatas mejanya, karena liburan dadakannya bersama sang istri.


Bagaimana pun, Kenzo adalah pemimpin sebuah perusahaan, tentu dia tidak seharusnya memiliki banyak waktu untuk bersenang-senang.


***


"Ibu ... aku kembali,"


Rembulan kembali ke kediaman ibunya dengan wajah yang begitu cerah, dia merasa segala sesuatu menjadi lebih baik dan dia tidak lagi bersandiwara dalam hubungan rumah tangganya.


Karena Kenzo kelihatan ingin mempertahankan pernikahan mereka juga.


"Nak, wajahmu kelihatan lelah sekali, apakah kau baik-baik saja?" Tasya merasa khawatir dengan putrinya, matanya kelihatan lelah namun senyumannya terus saja terlihat.


"Umm? aku? tentu aku baik Ibu, malah lebih baik dari sebelumnya," seru Rembulan memeluk ibunya yang baru saja selesai melakukan latihan berjalan seperti biasanya.


Tasya tersenyum, sepertinya dia tidak perlu khawatir lagi mengenai cerita putrinya saat lalu, karena sekarang Rembulan sepertinya telah menemukan jawabannya sendiri.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2