
Episode 60 : Pagi hari sudah menggoda.
***
Setelah berpikir beberapa saat, Kenzo menyimpan ponselnya, lalu dengan hati yang bergemuruh dia datang ke ruangan makan.
Disana, Rembulan sudah mempersiapkan makanan seperti biasa di atas meja makan.
Kenzo melihat istrinya terlihat sangat cantik seperti biasa, semakin cantik jika dia perhatikan.
"Tuan ... aku sudah menyiapkan sarapan pagi dan bekal makan siang ..." kelihatan Rembulan berbicara dengan riang.
Karena sebentar lagi dia akan mendapatkan guru les membuat kue, salah satu keinginan Bulan sejak dulu adalah memiliki kemampuan mumpuni untuk membuat kue, agar dia bisa berjualan nanti dan tetap mengandalkan rasa dan kualitas.
Kenzo hanya diam saja, dia menatap Rembulan yang sudah duduk di tempat paling jauh dari suaminya, hendak makan pagi juga.
Kenzo berpangku tangan dan menatap kearah Rembulan beberapa saat, dia merasa Rembulan terlalu jauh dari tempatnya.
"Istri ..." Kenzo memanggil istrinya dengan sebutan biasa.
"Ya Tuan?"
Balas Rembulan menatap dengan tatapan yang antusias.
Kenzo menggerakkan tangannya, meminta Rembulan untuk datang dan duduk di sisinya.
Rembulan mengernyitkan dahinya, dia bingung, padahal dia sengaja duduk lebih jauh agar Kenzo tidak merasa risih seperti saat lalu.
__ADS_1
Saat setelah Mereka sarapan saat lalu, Kenzo meminta Rembulan untuk tidak terlalu mendalami peran.
Tetapi Rembulan tidak memilih pilihan lain kecuali menurut.
Rembulan melangkah dengan pinggulnya yang sedikit sakit, dia harus memegangi pinggulnya agar rasa perihnya tidak terlalu terasa.
Mata jeli Kenzo melihat adegan itu dengan jelas, dia melihat pinggul istrinya yang membuat cara jalan Rembulan terlihat aneh.
"Kenapa dengan pinggul mu? apakah kau baik-baik saja?"
"Kenapa kau kelihatan kesakitan? apa perlu ke rumah sakit?"
"Cara jalan mu terlihat sangat aneh!"
Kenzo menghujani Rembulan dengan berbagai pertanyaan, menatap dengan lekat pinggul istrinya yang sudah berada di sisinya.
Pipi Rembulan merah sekali ketika itu, dia membeku dan jantungnya hampir meledak.
"Tu ... Tuan, tolong hentikan ... pinggul ku baik-baik saja, hanya sedikit pegal ... tidak perlu ke rumah sakit!"
Tanpa sadar Rembulan berbicara terlalu kencang karena tegang dan malu sekali ketika melihat suaminya benar-benar serius memegangi pinggulnya.
Saat melihat eskpresi Rembulan, Kenzo akhirnya mengingat bagaimana dia menghabisi istrinya tanpa ampun.
Kenzo langsung melepaskan tangannya, dan pipinya juga ikut memerah.
"Ka ... kau sudah menggodaku bahkan saat hari masih pagi! duduk saja dan cepat makan!" seru Kenzo juga merasa jantungnya berdebar tak karuan.
__ADS_1
Dia jadi ingat ekspresi istrinya tadi malam, dan kenikmatan tiada Tara ketika dia melakukannya.
"Menggoda? kenapa Tuan mengatakan aku menggoda? aku kan hanya mengatakan pinggul ku baik-baik saja ... apakah ketika mengatakan itu diklasifikasikan menjadi salah satu cara menggoda?" Rembulan harus meluruskan hal ini.
Dia ingin tahu mengapa Kenzo selalu mengatainya menggoda padahal dia tak melakukannya.
Kenzo menelan salivanya dengan kuat, dia juga memejamkan matanya sejenak untuk menurunkan gairah yang sudah menggila lagi.
"Istri ..." Kenzo akhirnya membuka matanya lalu dia meraih belakang leher istrinya dan mendekatkan wajah Rembulan ke wajahnya.
"Setiap ucapan yang keluar dari mulut mu, setiap tindakan mu adalah aksi menggoda bagiku, jadi jika kau tidak ingin menggunakan kursi roda nanti, maka jangan menggoda ku, kau paham istri?" bisik Kenzo dengan matanya yang biru dan tajam.
Wajahnya sudah merah sekali dan nafasnya berat.
"Ja ... jadi aku harus apa?" Rembulan tidak tahu lagi, dia semakin bingung dan pusing dibuat suaminya ini.
Saat wajah Rembulan meminta penjelasan, lagi lagi waktu seolah berjalan lambat, wanita ini benar-benar mengalihkan dunia Kenzo.
Sampai Kenzo terdiam dan terpaku menatap istrinya.
Kenzo bahkan lupa jika baru saja mantan kekasihnya yang merupakan cinta pertamanya baru mengirim pesan.
.
.
.
__ADS_1