
Episode 95 : Kenzo terlihat sangat berbeda.,
***
"Haah!"
Rembulan mengatur pernafasannya, dia harus berbuat pelan dan menjaga kata-katanya, sebab bisa dilihatnya oleh Rembulan bagaimana Kenzo terdiam mematung dengan wajah pucat menatap kakeknya terus menerus.
Bahkan ketika Rembulan mengetuk pintu dan memasuki ruangan, tak disadari oleh Kenzo sama sekali.
Rembulan menelan salivanya kuat, ketika ia melangkah mendekat dia bisa melihat keadaan Kakek Reynold yang memejamkan mata dan ada alat-alat kesehatan pengukur denyut nadi di sekitar ranjang pasien Kakek Reynold.
"Ummm, su ... suami, aku datang ..."
Rembulan menyentuh bahu suaminya, berbicara lembut sekali dan tersenyum mencoba menghibur suaminya yang sebenarnya tengah dalam suasana hati yang sangat suram dan dalam.
Kenzo melihat kearah istrinya, tatapannya kosong dan hanya melihat beberapa detik, Kenzo mengalihkan pandangannya ke arah kakeknya lagi.
"Deg!"
Entah mengapa ada rasa sakit dan kecewa di hati Rembulan, dia sadar jika pastinya Kenzo terpukul alam tetapi ini adalah pertama kalinya Kenzo melihatnya dengan tatapan yang begitu dingin dan seolah tak ada perasaan sama sekali.
Sesaat senyuman di wajah Rembulan hilang, namun ia meneguhkan hatinya lagi, Rembulan tidak boleh mengharapkan perhatian dari suaminya di situasi seperti ini.
Yang harus ia lakukan hanyalah menghibur suaminya dan ada di sisi suaminya ketika Kenzo berada di titik terendah hidupnya.
Rembulan secara spontan melepaskan tangan dari bahu suaminya.
__ADS_1
Dengan tetap menegarkan hatinya.
Hawa di ruangan itu entah mengapa terasa dingin sekali, Rembulan sampai menggigil.
Dan di tangannya, dia masih menenteng bekal yang ia bawa untuk suaminya, namun ia bingung bagaimana membuka percakapan ketika ia sepertinya tak disambut di ruangan ini.
Setelah terdiam beberapa saat ....
*Terdengar suara guntur di luar*
Seolah melengkapi kesedihan hari ini, sepertinya hujan akan turun dengan deras malam ini.
"Su ... suami, kau pasti lelah sekali, jika kau bersedia aku akan menjaga Kakek malam ini, kau bisa makan dulu dan beristirahat setelah itu ..."
"Aku membawakan mu bekal makanan, agar kau tidak susah dan tidak kelelahan ..."
Akan tetapi, dia juga harus melakukan sesuatu, dia harus berguna bagi suaminya.
Rembulan berbicara sembari membuka bekal makanan, dia ingin suaminya makan dulu, agar memiliki tenaga.
Namun ketika tangan Rembulan membuka bekal itu ...
"Keluar!"
Suara dingin Kenzo memecah keheningan ruangan malam itu.
Rembulan otomatis mematung sejenak, dia melihat kearah suaminya dimana sekarang suaminya juga sudah menatapnya dengan tajam.
__ADS_1
Petir menyambar ketika Kenzo menatapnya, kali ini Rembulan benar-benar ketakutan dengan tatapan Kenzo.
Mata birunya seolah bersinar ketika cahaya petir terlihat dari jendela kaca.
"Aku bilang keluar? apa hak mu bisa masuk ke sini? keluar sekarang juga!" Kenzo benar-benar telah menjadi dingin.
Dia tidak suka ketika Rembulan datang memasuki ruangan dimana dia bersama kakeknya.
Kenzo merasa karena kehadiran Rembulan, membuat suasana hatinya semakin kacau, dia tidak ingin diganggu oleh siapapun, bahkan jika orang itu adalah istrinya sendiri.
Kehadiran Rembulan juga menyadarkan Kenzo, bagaimana kakeknya sangat percaya jika Rembulan bisa menggantikan kakeknya.
Hal itu membuat Kenzo marah dan merasa kehadiran Rembulan mungkin adalah pembawa sial baginya.
Sungguh, Kenzo benar tidak bisa berpikir jernih sekarang ini.
"Deg!"
Lagi-lagi Rembulan merasakan rasa sakit di dadanya, entah mengapa kali ini semakin sakit, bahkan lebih sakit dibandingkan ketika Kenzo menghinanya.
.
.
.
.
__ADS_1