Pernikahan Paling Luar Biasa

Pernikahan Paling Luar Biasa
Episode 47 : Berdebar-debar.


__ADS_3

Episode 47 : Berdebar-debar.


***


Setelah malam yang begitu panas, keduanya menjadi diam, entah mengapa Kenzo ikut diam dan malu.


Rembulan ikut mandi setelah Kenzo menyelesaikan mandi nya.


Saat Rembulan keluar dari kamar mandi, menggunakan baju yang besar seolah membuat tubuhnya tenggelam, pipi Kenzo langsung memerah saat itu.


Kenzo tengah duduk di atas ranjang, dengan dada bidang yang terlihat jelas sekali, sembari membaca buku, mata birunya langsung menangkap Rembulan yang langsung menunduk seolah tak melihat Kenzo di atas ranjang.


*Blush*


Pipi Kenzo yang memerah itu tak bisa ia sembunyikan, Kenzo mencoba menutupi wajahnya menggunakan buku yang ia pegang.


Namun matanya mengintip seluruh kegiatan Rembulan yang mengeringkan rambutnya.


'Ah ... tengkuknya indah sekali, bagaimana dia bisa begitu cantik? semakin cantik dan cantik setiap aku melihat nya?'


Kenzo berdebat sendiri dengan dirinya, dia tak bisa mengalihkan pandangan dari istrinya yang tengah mengeringkan rambutnya.


Setelah beberapa saat mengeringkan rambut, Rembulan mencoba naik ke atas ranjang tanpa melihat kearah Kenzo.


Rembulan sebenarnya malu sekali, tetapi dia menelan rasa malunya karena Rembulan sadar hubungan ini tak akan bertahan seperti hubungan suami istri yang lain.


Tanpa sadar sesuatu dalam dirinya kembali terbakar, gairahnya sangat besar dan itu hanya karena ia melihat tengkuk istrinya saja.


"Selamat malam Tuan, semoga mimpi indah ..."

__ADS_1


Rembulan menunduk hormat lalu ia menyampingkan tubuhnya berlawanan dengan tubuh Kenzo lalu mulai memaksa dirinya sendiri untuk terlelap tidur.


"Haahh!"


"Aku pasti sudah gila!"


geram Kenzo kesal pada dirinya sendiri, ia segera menutup buku yang ia baca lalu mencoba dengan keras tidur pula.


Dia melakukan hal yang sama seperti Rembulan, mengenyampingkan tubuhnya berlawanan dengan tubuh Rembulan.


Namun semakin waktu berjalan, Kenzo tetap tak bisa terlelap, dia tanpa sadar sudah berbaring menghadap Rembulan yang sepertinya sudah terlelap karena kelelahan.


Kenzo menatap tengkuk istrinya yang kelihatan, tanpa sadar Kenzo menelan salivanya dengan kasar dan mulai mengusap leher istrinya.


"Lagian kau istriku, berpelukan itu hal biasa!"


Kenzo menarik pinggang istrinya dan membuatnya tepat berada dalam pelukannya.


Rasanya nyaman sekali malam ini tidur bersama istrinya dan memeluknya hangat.


Semua pikiran yang masih mengelilingi nya seolah hilang dan akhirnya ia bisa tidur terlelap.


Tanpa bermimpi buruk dan merasakan kesepian seperti malam sebelumnya.


Tanpa sadar, pagi sudah kembali datang, Kenzo terbangun dengan gorden kamar yang sudah terbuka lebar.


Selimut sudah bertebaran disana-sini, dia melihat ke sisinya dan tak menemukan istrinya disana.


Entah mengapa ada kekecewaan dalam diri Kenzo, lalu ia memegangi kepalanya dan seperti menyesali perasaan kecewa barusan.

__ADS_1


"Apa sih yang kau pikirkan Ken? berhenti berpura-pura dengan dirimu sendiri, dia bukan Laura!"


Ketus Kenzo mengembalikan kesadarannya lagi, dia bangkit dari ranjang dan mulai membersihkan dirinya.


Kemarin dia sudah tidak masuk ke kantor, hari ini dia harus kembali bekerja dan menyelesaikan semua pekerjaan yang sudah tertunda.


Kenzo melakukan segalanya Seperti biasa, membersihkan dirinya, memakai pakaian yang sudah tersedia di lemari, memilih jam mewah sesuai dengan warna dasi dan melihat cermin untuk memastikan tampilannya sudah rapih.


Kenzo mengambil jas nya dan tas kerja, dia melangkah hendak pergi sarapan.


Lalu, saat ia sampai di ruangan makan jantung nya berdegup kencang sekali.


Matanya melebar dan tanpa sadar dia membeku sesaat.


"Deg ... Deg ... Deg!"


Lagi lagi Kenzo tak bisa mengendalikan dirinya, dia membisu dan membeku.


"Tuan, anda sudah bangun?"


Rembulan menyambut Kenzo dengan senyuman.


Rambutnya diikat dengan sebuah pita sederhana, menggunakan celemek dan tengah menyiapkan sarapan pagi untuk suaminya.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2