
Episode 66 : Panggil aku SUAMI!
***
"ORANG-ORANG INI MAU MATI RUPANYA!" geram Kenzo melangkah dengan cepat.
"Apa yang kalian lakukan?" seru Kenzo ketika sampai disitu.
Semua karyawannya, baik petugas keamanan atupun resepsionis syok ketika melihat Kenzo datang secara langsung.
Mereka gemetaran ketakutan dan menyadari jika ucapan wanita muda itu tidaklah bohong.
Saat Kenzo dengan murka melangkah mendekat, semua karyawan baik itu tim resepsionis atau keamanan segera menunduk hormat sekali.
Sedangkan Rembulan yang kesal sekali karena selalu saja dia diremehkan hanya karena bagaimana penampilannya mengalihkan pandangannya.
Dia mencengkeram goodie bag yang berisikan makan siang suaminya dan dia menahan tangisnya.
Rembulan tidak ingin menangis untuk orang-orang seperti mereka, walau dia dipermalukan di depan umum seperti ini dan dicurigai sebagai penjahat, sejak tadi Rembulan menahan rasa malu dan tangisan.
Rembulan sangat benci menangis untuk orang-orang yang menghinanya.
Walaupun begitu, dia tetaplah wanita muda yang hatinya lembut, dia mengalihkan pandangannya ke sisi yang berbeda dan dia berkedip-kedip cepat sekali agar dia tidak menangis.
"Maafkan kami Pak Kenzo, kami hanya melakukan tugas kami sebagai karyawan Disni dan ..." kepala supervisor yang bertugas di lantai bawah dan tadi adalah yang menyetujui penggeledahan mencoba menjelaskan situasi dan kondisi yang terjadi tadi.
Akan tetapi sebelum ia usai menyelesaikan ucapannya, Kenzo seolah tak mau berbicara dengannya, hanya saja menatapnya dengan tatapan yang sangat mematikan.
Kenzo tetap berjalan lurus ke hadapan istrinya.
"Apa yang mereka katakan kepadamu?"
Kenzo tak bertanya kepada karyawannya tetapi kepada istrinya.
Mendengar pertanyaan itu, Rembulan sama sekali tidak bergeming, entah mengapa dia kesal sekali sekarang.
Hanya bisa terdiam dan mencoba menahan air matanya sekuat mungkin.
"Mereka tidak mempercayai aku!" balas Rembulan pada akhirnya, dia tidak ingin berlama-lama berada di sekitar orang banyak lagi seperti ini.
Rembulan benci fakta bahwa ketika suaminya datang mereka semua menunduk hormat, tetapi saat ia sendirian, dia dituduh seenaknya dan bahkan tidak dipercaya sama sejak.
Hal itu menunjukkan bagaimana dunia kejam ini bekerja, kita tidak akan dihormati jika kita tidak memiliki harta, nama besar atau sesuatu yang dianggap besar oleh masyarakat umum.
Kenzo langsung menatap pada karyawannya dengan tatapan yang sangat tajam.
"Apa kalian tahu apa yang baru saja kalian lakukan?"
"Dia istriku dan kalian menggeledah nya dengan tidak sopan!"
__ADS_1
"Apakah attitude di perusahaan ini sudah hilang?!"
Kenzo berteriak sampai menggema dalam gedung perusahaan.
Membuat semua orang semakin ketakutan.
Liam sudah turun ke bawah ketika mendengar informasi jika Kenzo Smith turun secara langsung menuju lantai bawah.
"Pak Kenzo ..." belum sempat Liam menanyakan permasalahan kepada atasannya, Kenzo langsung memerintahkan Liam untuk memberikan konsekuensi kepada para karyawannya.
"Berikan mereka hukuman atas apa yang mereka lakukan! lihat saja di cctv mengapa aku memarahi mereka!"
"Dan kau harus mulai memeriksa satu persatu attitude karyawan di perusahaan ini! mengerti?"
Kenzo benar-benar kecewa, marah dan kesal, hanya karena para resepsionis dan petugas keamanan itu semua karyawan Kenzo akan diperiksa satu persatu mengenai attitude dan perilaku mereka.
Rembulan hanya diam saja, berada di belakang suaminya masih terdiam dan merasa kecewa, bagaimana ternyata di semua tempat sifat manusia itu sama saja.
"Istri, ayo kita pergi!"
Kenzo langsung menggenggam tangan istrinya, membawanya pergi menuju ruangan pribadinya.
Sedangkan Liam akan memberikan hukuman setimpal kepada para karyawannya ini.
Rembulan mengikuti langkah suaminya ketika tangannya di genggaman erat begitu.
Tetapi dia masih diam saja.
Dindingnya terbuat dari kaca dimana menunjukkan pemandangan mewah kota, karena dinding terbuat dari kaca membuat pencahayaan di ruangan ini juga terang dan bagus.
"Duduk dulu, kita makan bersama disini ..."
Kenzo meraih bahu istrinya dan membuatnya duduk di kursi sofa yang ada di ruangan.
Kenzo membuka kancing jas nya dan melangkah ke meja kerja, dia meletakkan jasnya di kursi kebesarannya sembari matanya masih melihat bagaimana wajah Rembulan kelihatannya masih kesal dengan perbuatan para karyawannya.
Melihat reaksi istrinya diam dan kesal entah kenapa membuatnya tak tenang sama sekali.
Dia melangkah dengan sangat cepat karena gejolak hatinya yang tak ia mengerti.
Lalu saat Rembulan belum sempat menolah kearah Kenzo, Kenzo langsung mendorong istrinya sampai terjerembab ke sofa.
Agar kepala Rembulan tidak sakit, Kenzo menahannya dengan tangannya.
"Tu ... Tuan ada apa? kenapa ..." belum sempat Rembulan melanjutkan ucapannya, Kenzo segera melahap bibir istrinya yang sejak tadi mencuri perhatiannya.
"Hmmm ... tu ... tunggu dulu, Tuan kita ada di perusahaan mu," Rembulan mencoba mendorong.
Semua ini terlalu tiba-tiba dan dia tidak siap sama sekali.
__ADS_1
Dia juga tidak mengerti mengapa suaminya tiba-tiba saja menuntut ciuman.
Lalu tanpa melepaskan dekapannya di tubuh Rembulan dan tangannya masih mengontrol pergerakan istrinya, Kenzo membisik dengan nafas yang berat dan panas.
"Kenapa kau membuatku seperti ini?"
"Ada apa denganku? aku benci melihat mu bersedih karena oranglain!"
"Karena aku belum tahu apa yang terjadi kepadaku, yang terjadi hatiku maka kau tidak boleh bersedih karena oranglain, jika kau bersedih karena oranglain lain maka aku akan membunuh mereka karena mu!"
"Apakah kau mengerti? istri?"
Bisikan itu memiliki tekanan yang membuat Rembulan terkejut, dia tidak tahu jika ekspresi kesal dan sedihnya tadi karena karyawan Kenzo membuat Kenzo murka begini.
Rembulan menelan salivanya, dia menundukkan kepalanya dan mengangguk.
"Baiklah, aku tidak akan bersedih karena oranglain lagi Tuan ..."
Balas Rembulan dengan lembut.
Mata Kenzo menjadi tajam ketika itu lagi, dia tidak tahu mengapa akan tetapi panggilan tuan rasanya terlalu kaku, padahal mereka sudah melakukan banyak hal bersama.
"Jangan panggil aku Tuan! panggil SUAMI!"
"Sama seperti aku memanggil mu Istri!"
Kenzo merasa tak adil, dia kembali duduk dan meraih tangan Rembulan agar ikut duduk di sisinya.
"Su ... suami? ta ... tapi Tuan tidakkah itu?" Rembulan jadi gugup sekali.
Wajahnya merah padam dan dia tak berani melihat wajah Kenzo.
"Kau panggil aku Tuan lagi, aku bersumpah jika aku akan menghabisi mu di sofa ini!"
Bisik Kenzo menyeringai di telinga Rembulan.
Hal itu membuat Rembulan syok dan langsung memegangi pinggangnya yang masih sedikit pegal.
Dia mengingat bagaimana buasnya Kenzo tadi malam, dan dia tak mau hal itu terulang lagi.
Saat mengingat itu, seperti ada teko panas di wajahnya, rasanya sangat panas dan memalukan.
Rembulan jadi membisu dan tak bisa mengatakan apapun, Kenzo yang melihat betapa menggemaskan istrinya ini hendak mengerjai Rembulan lagi.
"Sayang ... sepertinya kau senang hendak melakukannya disini, jika kau masih diam ... aku tidak akan berhenti," bisik Kenzo menyeringai nakal dan sudah menyibak rambut istrinya agar memperlihatkan tengkuknya.
.
.
__ADS_1
.