Persahabatan Atau Cinta?

Persahabatan Atau Cinta?
13


__ADS_3

Kak Danu selalu saja mencoba mendekati aku, walaupun aku sama sekali ngga menanggapi.


Aku mau berteman baik sama dia, tapi kalau untuk pacaran lagi aku ngga mau. Aku juga masih belum move on sama Awan. Masih berharap dia hubungin aku.


Saat aku di pinggir jalan lagi nongkrong sama teman-teman. Aku liat kak Danu, dia boncengan sama cewek.


"Dih si Danu udah ganti pasangan aja." Ujar kak Satria.


"Iya, kemarin aja galau-galau segala. Eh tapi dia juga masih deketin Tia terus loh." Tambah kak Damri.


"Biarin aja kali, malah bagus kan kalau udah move on. Biar ga galau lagi." Ucapku santai.


"Eh tapi yakin kamu ga mau balikan lagi sama dia?" Tanya Tini.


"Enggak, udah gamau sakit lagi aku." Ucapku dengan senyum.


"Tapi kamu masih suka peduli sama dia. Aku tau loh kamu masih suka sama dia kan?" Ujar kak Damri.


"Sok tau, enggak kok." Jawabku


"Keliatan dari sikap kamu kali Tia. Jangan bohongin diri sendiri." Ujar kak Damri lagi.


"Aku juga tau Danu sama cewe itu dia ngga serius, semenjak diselingkuhin sama Handa, dan kamu pacaran sama Awan, dia sering gonta ganti cewek bukan cuma itu, dia juga suka mabuk hampir tiap hari." Kata kak Satria.


"Masa sih dia kaya gitu." Jawabku.


"Iya, bener yang dibilang Satria. Kami saksi nya. Dia juga kayanya sekarang sayang banget sama kamu." Kak Damri.


"Kalau sayang sama Tia ya berjuang lah jangan gonta ganti cewek aja." Sahut Tini.


Aku hanya menganggukan kepala, gatau mau bilang apa, perasaanku sama kak Danu udah ga ada. Emang bener sih aku masih suka peduli sama dia. Tapi bukan berarti kalau aku masih sayang kan.


Tiba-tiba kak Danu datang, tapi dia udah ga sama cewek tadi.


"Nih ada minuman sama cemilan." Kata kak Danu.


"Yee pas banget lagi laper." Mario.


"Dih kamu mah kalau ada makanan langsung laper."ujar Tini.


Semua pada tertawa, aku pura-pura sibuk dengan hp aku. Malas rasanya sama kak Danu. Dia selalu bilang kalau sayang sama aku tapi dia jalan sama cewe lain. Bukannya cemburu apa gimana ya aku udah ga ada rasa sama dia. Tapi omongannya bikin males aja. Laki-laki kok suka umbar kata sayang kesana kesini.


"Tia kamu kok sibuk main hp terus sih, ini makan." Ujar kak Danu menyodorkan makanan ke aku.


"Makasih, nanti aku ambil sendiri aja, Ini masih kenyang." Kata aku.


"Yaudah." Jawabnya singkat dengan nada kecewa.


"Darimana kamu Danu, siapa tadi?" Tanya kak Satria.


Kak Danu menatapku kemudian menjawab "Mm temen." Jawab kak Danu ragu.

__ADS_1


"Temen? Yang bener?" Tanya Tini.


"Beda sama yang kemarin kayanya ya?" Tanya kak Damri.


"Iyalah cuma temen kok, yang kemarin mana? Jangan ngada ada deh." Kak Danu gelagapan.


"Aku salah liat kali ya." Kak Damri


"Tia kerumahku yok, nanti tak buatin mi pedas." Ajak Tini, dia tau aku mulai ga nyaman disini.


"Iya ayok, sama beli gorengan dulu ya kayanya enak." Ujarku sumringah.


"Iya, kamu yang bawa motornya ya." Tini menyodorkan kunci motornya.


"Siap!" Aku pun melajukan motor menjauh dari orang-orang tadi.


"Kamu tau aja aku pengen pergi dari sana tadi." Ucapku.


"Iya dong, keliatan kali raut wajahmu berubah murung." Kata Tini.


"Makasih ya Tin."


"Yelah kaya sama siapa aja."


"Kita kemana ini, kerumah kamu nanti aja ya, kan masih kenyang tadi makan soto bareng-bareng."


"Ya muter-muter aja, kalau nggak ke gardu pandang aja yuk. Mumpung suasananya ga terlalu panas." Ajak Tini.


"Ok siap."


Drrt... Drrt... Hp aku bergetar ternyata kak Danu nge chat aku.


~kamu kok malah pergi sih, aku kangen sama kamu.~


"Nih liat kak Danu masih aja ganggu aku" ujarku ke Tini.


"Ih dasar, biarin aja gausah di bales. Bikin perut mules aja." Ujarnya dengan tertawa


"Yee apa hubungannya coba." Aku ikut tertawa.


"Ya itu lo omongannya, bikin perut mules, udah suka ganti ganti pasangan, sama kamu masih merayu terus."


"Biarin aja lah, yang penting aku tetap jaga jarak aman hehehe"


"Iya kamu jangan sampe kena perangkapnya lagi, kamu mau minum apa?"


"Iya iya bawel, floridona aja seger kayanya."


~kok ga bales sih, kamu dimana?~ kak Danu lagi.


Pengen bales, tapi males nanti malah melebar kemana mana.

__ADS_1


"Tin kita duduk di rumah pohon itu ya." Tunjuk ku pada sebuah rumah pohon.


Di gardu pandang ini aku bisa melihat beberapa gunung, rawa pening juga keliatan dari atas sini. Suasananya sejuk, enak buat santai.


"Iya, nanti fotoin aku ya. Mau aku unggah ke fb." Pintanya.


"Jangan sekarang ya unggah foto ya, nanti kalau anak-anak tau pada nyusul kesini, mereka kan masih sama kak Danu nanti ikut kesini."


"Iya iya tenang aja. Eh gimana kabar Awan Tia." Tanya Tini.


"Ga ada kabar, dia ga pernah balas chat aku, telepon ku juga ga pernah diangkat. Udahlah biarin aja. Kalau jodoh ga akan kemana."


"Yee katanya cinta kok pasrah gitu."


"Bukan pasrah, ini lebih ke nerima keadaan aja. Aku juga lagi malas cinta-cintaan."


"Yaudah kamu yang sabar ya."


"Its'okay hehehe"


Aku dan Tini menikmati suasana dingin ini sampai senja, pemandangan senja di sini sangat indah. Langit berwarna oranye keemasan, selalu mengingatkan tentang kenangan juga kerinduan.


Kedatangan senja yang menenggelamkan matahari mengajarkan pada kita, bahwa segala sesuatu tak ada yang abadi.


Senja mengajarkan kita bahwa sesuatu yang terlihat indah sebagian besar hanya bersifat sementara.


Tak terasa air mataku luruh begitu saja dipipi mengingat kisahku yang menyakitkan. Kisahku dengan kak Danu, dengan Awan. Apa mungkin aku ditakdirkan untuk selalu disakiti.


"Kok kamu nangis sih" ucap Tini membuyarkan lamunanku.


"Eh ng ngga kok siapa yang menangis." Elak ku sambil mengusap pipi.


"Kamu mikirin siapa? Kak Danu apa Awan?" Tanya Tini dengan mengelus pundak ku.


"Aku ga tau, Awan pergi karena cemburu aku masih peduli sama kak Danu. Tapi ini ngga wajar sama sekali sepertinya ada yang disembunyikan dari aku. Kalau kak Danu, aku sakit jika mengingat kejadian kak Danu dengan Handa. Bayangan kak Danu dan Handa selalu muncul di ingatanku." Aku menangis dipelukan Tini.


"Kamu yang sabar ya, aku tau kok kalau kamu wanita kuat. Aku belum tentu bisa kuat kaya kamu." Dia mengelus rambutku.


"Aku gatau. Harus gimana lagi."


"Kamu harus bangkit, ga boleh berlarut-larut dalam kesedihan."


"Makasih ya udah mau dengerin curhatan ku."


"Aku seneng kamu curhat sama aku, kalau ada apa-apa cerita ya, jangan dipendam sendiri."


Aku mengangguk. Tini sangat baik sama aku. Aku suka curhat sama Tini, Meli, dan Kala. Tini sama Meli sahabatku sejak kecil juga mereka berdua masih saudara sama aku. Kalau Kala sahabatku sejak smk dia juga ga kalah baiknya kok dia udah seperti saudara bagi aku.


"Yaudah kita pulang yuk, udah mulai gelap." Ajak Tini.


"Iya ayo. Besok aku berangkat kerja bareng kamu ya."

__ADS_1


"Iya, besok aku jemput." Ucapnya tersenyum.


__ADS_2