
Bab 71
Siang ini angin cukup kencang dan matahari sangat terik. Tia duduk di taman depan rumahnya dengan potongan potongan buah mangga muda dan timun beserta sambal rujak di hadapannya.
Gendhis yang duduk di pangkuan Tia terlihat sangat manis mengenakan jumsuit hitam dan topi warna abu-abu, pipinya yang gembul membuat siapa saja yang melihatnya ingin mencubitnya gemas.
Danu sedang berangkat mencari media tanam untuk dijual. Danu tipe pekerja keras dia tidak pemilih dalam bekerja. Bekerja apa saja dia mau. Yang penting halal dan berkah.
"Hei be lagi ngapain?" Meli sedikit berteriak karena jarak mereka cukup jauh.
"Sini makan rujak. Ada mangga muda sama sambal." Jawab Tia melambaikan tangannya.
Meli pun menghampiri Tia.
"Waaw seger banget ini panas-panas gini makan rujak." Melihat mangga muda Meli mau ngiler dan segera mengambil potongan mangga muda.
"Sambalnya aku yang bikin looh, enak kan." Ucap Tia penuh percaya diri.
"Iya iya enak. Iyain aja biar seneng." Kelakar Meli.
"Huuu.. eh itu ada undangan buat kamu mel." Ucap Tia.
"Undangan apa?" Tanya Meli penasaran.
"Undangan pernikahan dari Handa." Ucap Tia malas.
"Oh iya tadi dia udah chat aku, males nggak sih datangnya. Males banget tau liat mukanya." Meli masih asik dengan rujaknya.
"Ya males sih, tapi kalau nggak datang ya gimana. Eh kamu tau nggak kemarin pas dia kesini dia itu masih lirik-lirik kak Danu tau nggak, jadi bete banget aku."
"Masa sih. Berani banget dia kaya gitu. Dia nikah cuma pelampiasan aja kali ya."
"Mungkin. Tapi bagus lah kalau dia nikah, kan jadi aman udah nggak ada pelakor lagi."
"Iya dia aja masih suka chat mamasku."
"Mamasmu siapa?" Tanya Tia penasaran.
"Itu tuh cinta pertama aku. Masa ga tau." Meli mengedip-ngedipkan matanya.
"Ooh emang dia ini gatel banget kok orangnya." Ucap Tia geram.
"Iya emang, udah banyak korbannya. Gendhis pangku mama sini sayang." Meli mengulurkan tangannya ke ada Gendhis untuk menggendong.
__ADS_1
"Mm aku titip Gendhis sebentar ya mau mandi dulu."
"Oke siap."
Di tempat lain..
Ciko berada di depan ruangan di mana istrinya akan melahirkan. Dia sangat deg-degan, belum pernah dia merasakan takut seperti ini. Cemas, takut, gemetar itu yang dirasakan Ciko saat ini. Meskipun yang akan dilahirkan bukan anak kandung Ciko tapi dia sudah berjanji akan mencintai dan mengasihi bayi ini.
Istri Ciko melakukan oprasi cesar karena keadaan tidak memungkinkan untuk melahirkan normal.
Setelah menunggu beberapa jam seorang dokter keluar dari ruangan oprasi.
"Gimana dok oprasinya, anak dan istri saya sehat kan?" Ciko sangat cemas, tidak sabar menantikan jawaban dari dokter.
"Oprasi berjalan lancar, tapi anak bapak sangat lemah harus di rawat secara intensife karena berat badan kurang dan tadi sempat kemasukan air ketuban kalau istri bapak masih dalam pengaruh obat bius tunggu setengah jam lagi baru hilang efek biusnya pak." Terang dokter membuat Ciko semakin khawatir.
"Tolong rawat anak dan istri saya dengan baik dok, selamatkan anak saya dok."
"Iya pak kami akan berusaha semaksimal mungkin." Dokter tersenyum dan meninggalkan Ciko seorang diri.
Bukan hanya keslamatan istri dan anaknya yang di cemaskan Ciko. Tapi juga biaya rumah sakit, dia hanya kuli bangunan dan tabungannya hanya sedikit, dan biaya rumah sakit sangatlah mahal.
Ciko akan mencoba menelepon ibunya. Siapa tau ibunya bisa membantu.
"Bu, istri aku melahirkan ibu bisa ke rumah sakit sekarang." Tanya Ciko.
"Kapan lahirannya, kok kamu baru ngasih tau ibu. Ya sudah ibu segera kesana." Ucap ibunya Ciko.
Ciko sebenarnya malu mau meminta bantuan ibunya. Tapi Ciko nggak tau lagi mau meminta bantuan dari siapa.
Di rumah Tia
"Sayang kita tidur di rumah ibu yuk. Udah lama kita tidak menginap di rumah ibu." Ucap Danu saat sedang duduk santai di depan rumah.
Tia hanya diam, Tia selalu takut dan enggan jika di ajak ke rumah ibu mertuanya. Jika melihat ibu mertuanya Tia selalu terbayang masa lalu, dan Tia selalu ingat saat ibu mertuanya dulu selalu menjelek-jelekan Tia dengan Handa.
"Sayang mau nggak?" Tanya Danu lembut.
"Iya tapi bentar lagi ya, aku mau makan dulu." Ucap Tia.
Tia enggan makan di rumah ibu Mertuanya karena ibu mertuanya kalau masak selalu pedas meskipun ia tau kalau Tia tidak suka pedas tapi tiap kali masak selalu pedas. Entah sengaja atau tidak tapi kenyataannya ibu mertuanya itu tau kalau Tia tidak tahan pedas.
Pernah ketika Tia di rumah Danu.
__ADS_1
Flash back
"Makan dulu Tia. Itu sayurnya nggak pedes banget kok." Ucap Ibu mertua Tia.
"Iya bu, ibu sudah makan?" Tanya Tia.
"Ibu sudah, sana kalau mau makan mumpung masih panas."
"Iya bu." Tia berjalan ke dapur untuk mengambil nasi dan sayur.
Tia mengambil sayurnya banyak karena ibu mertuanya bilang tidak pedas. Bodohnya Tia tidak nyicip dulu.
Ketika makan lidah Tia kaya kebakar saking pedasnya. Mau nggak mau Tia harus menghabiskan makanannya.
"Ibu kok Tega bohongin aku sih, aku ini beneran nggak bisa makan pedas bukan pura-pura." Batin Tia dengan mata berkaca-kaca.
Flashback off
"Iya sayang, nanti aku makan di rumah ibu aja. Sana kalau mau maka biar Gendhis sama aku." Ucap Danu.
"Iya." Tia beranjak dari duduknya dan mengambil nasi untuk di makan.
Setelah beberapa menit Tia selesai makan. Tia dan Danu pergi ke tempat ibunya Danu.
Sampai di rumah Danu, ibunya Danu sedang membersihkan rumah. Meskipun rumahnya selalu bersih tapi ada aja yang di bereskan entah mindah lemari, kursi, dan perabot-perabot yang lain selalu berpindah-pindah tempat. Jika barang-barang tersebut bisa bicara pasti sudah mengeluh pusing.
"Bu istirahat dulu kalau capek." Ucap Danu mengingatkan.
"Halah cuma gini aja capek, kalau kerjaan cuma diem aja itu ibu malah capek. Kalau banyak gerak gini ini bikin badan sehat tau." Ibu Danu melirik Tia seperti menyindir Tia.
"Ya udah terserah ibu aja." Ucap Danu.
Danu memang tidak pernah cocok kalau ngobrol dengan ibunya. Pasti ujung-ujungnya berdebat.
"Tia ke kamar dulu mas." Tia berdiri menuju kamarnya.
Tidak di pungkiri Tia memang nyaman tidur di kamarnya dengan Danu di rumah itu di banding dikamar di rumah ibunya. Tapi sikap ibu mertuanya yang membuat Tia tidak nyaman.
"Iya sayang."
"Istri kamu itu kalau kesini cuma ngurung diri di kamar aja, ngapain gitu kek jangan cuma di kamar aja." Bisik ibunya Danu tapi Tia masih bisa mendengarnya dengan jelas dari kamarnya.
Tanpa sadar Tia menitikan air matanya. Dulu siapa yang memintanya Tia dulu udah bilang nggak mau kan waktu dilamar tapi ibunya Danu yang membujuk-bujuk terus, tapi sikap ibunya Danu seoalah Tia yang ngejar-ngejar Danu
__ADS_1
"Orang rumah juga selalu bersih begini terus Tia disuruh ngapain lagi bu? Ibu ini kalau ngomong hati-hati loh, nanti Tia sakit hati."