Persahabatan Atau Cinta?

Persahabatan Atau Cinta?
78 Ternyata Hamil lagi


__ADS_3

78


Malam hari saat Danu dan Tia selesai melaksanakan ritual malam jumat, mereka berbincang-bincang.


"Kak dulu pas kita pacaran, kakak sebenarnya cinta nggak sih sama aku?" Tia menatap lekat wajah Danu dari samping.


"Hehe ya cinta dong sayang." Jawab Danu tersenyum ke arah Tia.


"Tapi kalau cinta kok kakak menghianati aku sih." Bibir Tia cemberut dibuat-buat.


"Dulu aku masih muda, masih labil sayang. Yang penting kan sekarang kita udah sama-sama, dan kakak juga sangat mencintai kamu."


"Tapi aku sampai sekarang kalau ingat kejadian itu masih suka sebel kak."


"Iya-iya sayang maafin kakak ya." Tangan Danu memegang kedua pipi Tia.


"Oiya terus kenapa kakak dulu juga terus melamar aku? Padahal kan aku udah benci banget sama kakak."


"Aku merasa kamu yang paling baik, kamu masih mau maafin aku walau kesalahanku mungkin sulit untuk di maafkan. Kamu juga mau terima aku apa adanya."


"Iya aku terima, orang kakak aja maksa kok." Tia tersenyum.


"Hehe, yang di paksa akhirnya cinta juga kan" goda Danu.


Tia hanya tersenyum sambil memainkan hidung mancung Danu.


"Eh kak, aku kok nerasa aneh ya sama perut aku, aku juga nggak pernah haid." Ucap Tia.


"Maksud kamu, kamu hamil gitu? Atau aneh gimana?" Danu mengerutkan dahinya.


"Mm iya, aku kayaknya hamil deh kak."


Danu terdiam seperti memikirkan sesuatu.


"Kalau aku hamil gimana kak?" Tanya Tia.


"Ya nggak gimana-gimana, terima aja kan rejeki sayang."


"Tapi Gendhis aja masih umur 6 bulan kak." Tia sedikit cemas.


"Nggak papa sayang, kamu yang tenang ya. Coba besok di tes dulu biar nggak panik begitu." Ucap Danu coba menenangkan.


Keesokan paginya.


Tia yang masih menyimpan tespek yang dulu pernah dia beli, pagi ini ia gunakan untuk mengetes urinnya.


Tia menaruh urinnya ke wadah dan mencelupkan tespect tersebut. Seketika keluar dua garis berwarna merah. Tia tak tau harus senang atau sedih.


Tapi Tia meneteskan air matanya.

__ADS_1


Saat keluar dari kamar mandi, Tia melihat ibunya yang sedang membuat teh.


"Bu." Panggil Tia dengan suara bergetar.


"Kenapa kamu Tia?" Tanya Ibunya.


"Ini bu." Tia memperlihatkan hasil tesnya.


"Alah, kamu pasti ngeprank ibu kan. Yang bener aja Tia pagi-pagi begini udah bercanda aja." Ucap Ibunya yang mengira Tia hanya bercanda.


"Tia serius bu." Tia menatap ibunya lekat.


"Tia, kamu nggak Kb dulu? Gendhis kan masih kecil. Ah kamu ini Tia." Ekspresi ibunya seketika berubah, seperti tidak suka.


Akhirnya Tia memilih pergi menemui Danu yang masih di kamar.


"Kak, aku beneran positif." Ucap Tia.


Danu tersenyum. "Nggak papa sayang, kita hadapi sama-sama ya. Semoga ini membawa rejeki yang berkah untuk kita." Ucap Dani.


"Tia senang kakak nggak marah."


"Ngapain harus marah, kita kan buat sama-sama sayang, anggap aja ini rejeki kita." Danu tersenyum genit membuat Tia tersipu malu.


"Nanti aku mau periksa ke bidan kak."


Di balas anggukan oleh Tia.


Tia dan Danu keluar dari kamar. Adik Tia sedang berbincang dengan ibunya.


"Kak kamu hamil lagi ya kata ibu." Ucap Adik Tia.


"Iya aku positif." Jawab Tia.


"Tau nggak kak, aku semalam itu mimpiin kakak hamil lagi terus kakak hamil anak kembar. Kebetulan banget kan kak."


"Masa sih." Tia tersenyum membayangkan kalau dia punya anak kembar.


"Iya kak, bayinya Cewek sama cowok."


"Semoga saja, kakak juga pengen punya anak kembar." Tia tersenyum lebar.


Beberapa hari berlalu, kabar kehamilan Tia langsung menyebar ke semua warga.


"Hai Tia, denger-denger kamu lagi hanil anak kembar ya?" Saat Tia berpapasan dengan tetangganya.


"Kata siapa mbak kalau aku hamil anak kembar." Tia tersenyum, dia merasa sangat lucu dengan desanya, ada kabar apapun pasti selalu cepat menyebar. Apa lagi kalau berita buruk, atau gosip nggak jelas sudah pasti semua warga langsung tau.


"Kata ibu mertua kamu Tia." Ucap tetangga Tia.

__ADS_1


"Oh, doain aja bu semoga beneran anak kembar." Jawab Tia setenang mungkin."


"Anak kamu kan masih kecil Tia, nanti siapa yang mau ngurusin kalau kamu punya anak kecil-kecil 3." Tetangga Tia menyepelekan Tia karena mempunyai anak kecil malah sudah hamil lagi.


"Insya Allah bisa kok mbak, ya sudah saya duluan ya. Mau beli pempers dulu." Tia kemudian pergi, sebelum pembahasan semakin panjang.


Selama hamil Tia menikmati hari-harinya dengan bahagia, keluarga Tia yang semula kurang suka dengan kehamilannya, sekarang malah tidak sabar menantikan kelahirannya.


***


Pagi hari Tia sedang ceck up kehamilannya di sebuah puskesmas.


"Ibu ini hamil anak ke berapa?" Tanya bidan tersebut.


"Anak ke dua bu." Jawab Tia


"Anak pertama umur berapa bu?" Tanya Bidan itu lagi.


"Anak pertama saya berumur 6 bulan bu." Tia langsung mendapat tatapan sinis dari bidan tersebut, membuat Tia jadi kikuk dan ragu.


"Kenapa ibu nggak kb dulu, anak ibu itu masih kecil, masih membutuhkan asi yang cukup dari ibu. Kasian kan dia kalau di usianya yang masih sangat bayi ibunya malah sudah hamil lagi." Ucapat pedas keluar dari mulut tajam bidan tersebut.


"Bu kalau masalah itu biar jadi urusan saya dan suami saya, bu bidan tugasnya hanya memerisa keadaan saya dan janin saya. Itu namanya rejeki bu, saya juga tidak merencanakannya."


Ibu bidan tersebut hanya diam dan menatap tidak suka kepada Tia.


Setelah selesai periksa, Tia langsung pulang bersama Danu.


"Kenapa kamu kok cemberut gitu sayang?" Tanya Danu.


"Bidannya nyebelin, besok-besok kita nggak usah periksa kesini lagi kak. Pelayanannya juga minus." Gerutu Tia.


"Yang sabar ya sayang, biarin aja mereka mau gimana. Kita fokus aja sama keluarga kita sama anak-anak kita." Ucap Danu, Tia hanya mengangguk.


Setelah sampai rumah, Tia langsung menggendong Gendhis dan menciuminya. Tia masih kepikiran ucapan bidan tadi, dia juga takut kalau nanti tidak adik dengan anaknya.


"Kak, semoga apapun keadaan kita, kita tetap berlaku adil sama anak-anak kita ya." Tia menatap Danu.


Danu tersenyum. "Iya sayang, semoga kita adil dalam segala hal kepada anak-anak kita."


Tia dan Danu saling meneluk, mereka begitu saling menyayangi. Meskipun awalnya Tia sangat membenci Danu tapi melihat perlakuan Danu yang selalu sabar dan penyayang membuat hati Tia luluh.


"Nanti anak kita cowok apa cewek ya kak." Tia mengelus perutnya yang masih rata.


"Cowok sama cewek sama saja, yang penting sehat sayang." Jawab Danu.


"Mmm aku pengen cowok, kita kan udah punya sibgembul ini." Tia mencubit gemas pipi Gendhis. "Jadi aku berdoanya semoga adiknya cowok hehe."


"Iya kita boleh berharap, tapi kangan samapai kecewa ya kalau ternyata tidak sesuai yang kita harapkan." Ucap Danu penuh kelembutan.

__ADS_1


__ADS_2