
Kenapa cinta ga pernah ber pihak kepadaku. Apa salahku, haruskah aku iklas menerima perlakuan mereka berdua. Dalam lubuk hati aku yang paling dalam aku masih mencintai kak Danu.
Aku tau kak Handa sering nginep di rumah kak Danu. Itu membuat hatiku tambah sakit. Apa mungkin mereka tidur dalam satu kamar? Entah lah.
Semoga saja nanti aku dapat pengganti yang lebih baik , dan segera bisa melupakan mereka.
Suatu hari aku ketemu kak Handa.
"Hei Tia, apa kabar?" Tanya kak Handa.
"Baik, kamu sendiri?" Balasku dengan senyum.
Aku mulai bisa menerima kenyataan, aku juga berhubungan baik dengan kak Handa dan kak Danu. Mungkin aku masih mencintai kak Danu tapi hanya sedikit tidak seperti dulu.
"Aku baik, tadi aku kerumahmu tapi kamu ga ada."
"Oya? Kenapa? Tanyaku.
"Enggak, cuma mau ngundang kamu sama sekeluarga besok kerumahku ya ada acara merti dusun." Jawabnya menjelaskan.
"Kirain ngundang mau nikah." Jawabku.
"Enggaklah siapa juga yang mau nikah, belum kepikiran aku." Jawabnya.
__ADS_1
"Insya allah ya, soalnya kan besok hari kerja jadi aku ga janji ya."
"Pulang kerja kan bisa." Sedikit melirik ke aku.
"Em iya deh iya."
Merti Dusun sering disebut juga dengan bersih Desa, hakikatnya sama dengan makna simbol rasa syukur masyarakat kepada sang Pencipta atas apa yang telah diberikan. Karunia tersebut dapat berupa rejeki yang melimpah, keselamatan, ketentraman, serta keselarasan hidup di dunia.
Besoknya sepulang kerja aku sama temen-temen kerumah kak Handa. Ada kak Wahyu juga, dia juga sudah bisa sedikit melupakan yang terjadi kemarin. Dan kami mulai berteman lagi. Tapi mungkin ga seperti dulu.
"Eh Tia sampai sini juga, udah lama ga main sini loh." Ucap ibunya kak Handa.
"Iya bu, udah kerja jadi jarang main hehe." Ucapku dengan senyum.
"Iya bu." Jawabku dengan senyum.
Beberapa menit aku disini, tiba-tiba ada ibunya kak Danu datang dia sendiri. Tapi dia sama sekali ga menyapaku, tatapannya seperti mengejeku. Padahal klo ketemu aku diluar dia sering menjelek-jelekan kak Handa di depanku. Entah mungkin jika dengan kak Handa juga menjelekanku. Aku jadi sedikit tau sifatnya.
"Liat tuh, katanya ga suka sama kak Handa, tapi dia kesini." Bisikku ke Meli.
"Mungkin jadi nikah beneran kak Danu sama kak Handa." Balas Meli.
"Mungkin ya, biarin aja lah." Kataku.
__ADS_1
"Eh tapi liat tuh kayaknya bapaknya kak Handa ga suka sama ibunya kak Danu." Kami melihat kearah bapaknya kak Handa yang dari tadi sama sekali ga menyapa ibunya kak Danu.
"Iya, tapi kasian loh kaya ga dianggap gitu."
"Biarin aja, lagian dia juga kaya ga kenal sama kita. Padahal kita sekampung ya, terus liat tuh gayanya angkuh sama kita." Ucap meli.
Ibunya kak Danu ga lama disini, mungkin ga betah karena kaya ga dianggap gitu. Tapi aku masih stay dirumah kak Handa. Dia juga pergi langsung pergi kok ga ada pamit sama orang-orang yang ada disini.
"Kita pamit aja yuk." Ucapku ke temen-temen.
"Iya ayo, udah lama juga kita disini." Jawab temenku.
Kami semua pun pamit, dan langsung pulang. Di perjalanan kami ketemu kak Damri.
"Pada dari mana?"tanya kak Damri.
"Dari rumah kak Handa" jawabku.
"Udah baikan nih critanya." Ledeknya.
"Ya gitu deh, kasian dia minta maaf terus kok yaudah aku ga tega." Ucapku.
"Kamu ini terlalu baik apa terlalu bodoh sih." Ucap kak Damri geleng-geleng kepala.
__ADS_1
Aku hanya tertawa. Biarin orang pada mau ngomong apa , aku beneran ga tega kok, dia dulu juga baik kok sama aku. Masa iya gara-gara satu kesalahan aja aku ga maafin dia.