
Selama satu minggu setelah dari pantai, Tia merasakan tidak enak badan dan dia selalu muntah.
"Kamu kenapa Tia nggak masuk kerja udah 3 hari, tau nggak leader kita itu ngomel mulu." Ucap Arini teman kerja Tia, saat menelepon Tia.
"Aku sakit rin, muntah terus ini nggak bisa makan apa-apa, bau makanan atau bau orang masak juga muntah aku." Jawab Tia.
"Kamu hamil mungkin." Ucap Arini.
"Masa hamil, mm aku sama sekali nggak kepikiran sampai kesitu saking ngerasain nggak enak badan kaya gini." Jawab Tia.
"Kamu terahir datang bulan kapan?" Tanya Arini.
"Mm kapan ya aku lupa, kan emang nggak teratur datang bulan aku." Jawab Tia.
"Hadeh, coba deh beli testpack kali aja beneran hamil." Ucap Arini.
"Aku takut kecewa, soalnya aku udah sering juga tes kaya gitu. Tp hasilnya negatif terus."
Tia memang sering tes urin setiap bulannya, tapi dia selalu kecewa karena hasilnya selalu negatif.
"Coba dulu dong Tia, kali aja sekarang emang lagi hamil."
"Ya udah deh aku coba besok pagi. Besok kalau badan aku udah enak aku berangkat kerja kok." Ucap Tia.
"Iya deh, semoga hasilnya positif ya Tia. Semangat."
"Iya Rin, makasih ya."
"Ya udah istirahat sana. Aku mau kerja lagi. Ini lagi di toilet liat kamu online aku telepon aja."
"Iya makasih ya, semangat ya shift malamnya."
"Oke daahh."
Arini menutup teleponnya, dia saat ini sedang kerja shift malam.
Tia langsung istirahat rebahan, walaupun dia susah tidur.
"Siapa yang telepon sayang." Tanya Danu.
"Arini, katanya leader aku nyari aku karena udah tiga hari nggak masuk." Jawab Tia.
"Oh, gimana kalau kamu berhenti kerja aja sayang. Kasian kamu kalau capek, apa lagi kalau berangkat shift malam. Aku kadang nggak bisa tidur gara-gara ingat kamu malam-malam kerja aku malah enak-enak tidur."
"Nggak papa sayang, aku masih pengen kerja kok. Kan kamu siang kerja aku tidur, jadi kalau malam kamu juga harus istirahat."
"Ya udah sayang nggak papa, tapi kalau udah kecapean kerja kamu berhenti aja ya, biar aku yang kerja. Insya Allah cukup kok buat kita."
"Iya sayang, nanti aku pikirkan lagi ya sayang." Ucap Tia.
__ADS_1
"Ya udah, sekarang kamu istirahat aja. Mau aku pijit punggungnya? Biar enakan."
"Nggak usah kak, kak Danu kan capek tadi seharian kerja."
"Nggak papa sayang, biar kamu bisa langsung ngantuk terus tidur. "
Akhirnya Danu memijit punggung Tia sampai Tia terlelap. Keesokan harinya Danu bangun pukul 4 seperti biasa karena dia memang harus berangkat subuh. Tia juga ikut terbangun.
"Sayang kamu tidur aja dulu, aku bisa bikin minum sendiri kok." Ucap Danu saat Tia akan beranjak dari tempat tidur.
"Nggak papa kak, ini aku juga sekalian mau pipis terus sholat subuh." Jawab Tia.
"Ya udah sayang hati-hati ya di kamar mandinya takut terpeleset."
"Iya kak."
Sebelum keluar kamar Tia mengambil stok testpack yang sengaja ia beli banyak. Dan Tia langsung menuju dapur lalu membuat kopi untuk suaminya kemudian langsung menuju kamar mandi untuk tes urine dan wudhu.
Setelah test, Tia menangis bahagia melihat hasilnya. Hasilnya positif, dia sangat bahagia apa yang ia inginkan apa yang ia pinta dari yang maha kuasa telah terkabul. Tia langsung cepat-cepat ambil wudhu dan menunaikan shalat subuh. Tia menangis di dalam sholatnya. Ingat
dosa-dosanya dan terharu karena Allah masih mengabulkan doanya meskipun dosanya sangat besar.
Setelah sholat Tia langsung menuju kamar dan memeluk suaminya yang sedang bersiap-siap untuk berangkat kerja. tia menangis tergugu.
"Sayang kenapa kamu nangis? Ada yang sakit? Apanya yang sakit? Kamu muntah lagi ya. Ya udah aku ngga usah berangkat kerja ya kita ke dokter aja ya sayang." Ucap Danu panjang lebar.
"Sayang ini beneran? Kita nggak mimpi kan?" Ucap Danu.
Tia mengangguk langsung tersenyum.
"Alhamdulillah sayang aku sangat bahagia sayang." Ucap Danu lagi.
"Aku juga kak, aku sangat bahagia."
"Kamu istirahat ya, jangan capek-capek sekarang udah waktunya aku berangkat kerja. Kamu pengen makan apa sayang biar aku belikan terus nanti aku pulang awal."
"Aku belum pengen makan apa-apa kak, nanti aja aku telepon kalau pengen kak."
"Ya udah aku berangkat dulu ya sayang." Ucap Danu dengan mengecup kening Tia.
"Hati-hati ya kak." Ucap Tia lalu menyalami Danu dan mengecup punggung tangan Danu.
Danu dan Tia hari ini sangat bahagia sekali, berbeda dengan Ciko yang harusnya juga bahagia karena akan melamar pacarnya tapi dia malah galau karena tiba-tia dia ragu mau melamar pacarnya.
Akhirnya Ciko melihat story Tia di aplikasi Facebook, Tia membuat story foto testpack garis dua. Ciko langsung panas dia cemburu dia marah, dan dia langsung semangat untuk melamar pacarnya untuk membalas cemburu dan sakit hatinya karena Tia meninggalkannya dan sekarang sedang hamil.
"Ciko kok kamu belum siap-siap, yang mau nganterin kamu melamar juarti udah pada datang tuh." Ucap embahnya Ciko.
"Iya mbah sebentar lagi." Jawab Ciko.
__ADS_1
Ciko langsung bergegas mandi dan berganti pakaian senada dengan juarti. Juarti yang membeli pakaiannya dan menyiapkannya.
Tidak lama kemudian rombongan Ciko menuju rumah Juarti, dan melakukan prosesi lamaran. Setelah selesai lamaran masuk ke sesi pemotretan. Sejak berangkat dari rumah sampai selesai lamaran dan berfoto Ciko tidak pernah tersenyum sekalipun. Ciko selalu teringan story milik Tia.
'Tia tega sekali dengan aku, padahal aku sangat mencintainya.' batin Ciko.
Setelah semua selesai, rombongan Ciko berpamitan untuk pulang.
Juarti memposting foto saat tukar cincin dan dia menandai akun milik Ciko.
Tia yang melihatnya hanya tersenyum sinis.
'ternyata memang benar dia tidak serius dengan aku, belum lama dia bilang kalau dia belum siap untuk menikah, dan saat aku sudah meninggalkan dia dia langsung melamar pacarnya. Mana pacarnya nggak lebih cantik dari aku lagi.' batin Tia.
"Tia, lihat nih Ciko lamaran. Waduh parah katanya belum siap. Sekarang udah ada aja pengganti kamu, langsung dilamar lagi." Ucap Meli yang sedang menemani Tia tiduran di kamar.
"Iya aku udah lihat, aku ini nggak cantik tapi lihat deh dengan jelas pilihan Ciko ini, nggak banget kan. Hidung aku udah pesek tapi dia kok milih yang lebih pesek dari aku sih. Tadinya aku sedih Ciko lamaran karena bagaimanapun rasa aku ke Ciko masih ada, tapi melihat pilihan Ciko ini aku nggak jadi sedih tapi kasihan." Ucap Tia.
"Kamu ini kalau ngomong suka bener." Ucap Meli seraya tertawa.
"Eh tapi kok selera Ciko gini amat ya, apa mungkin cuma pelampiasannya aja kali karena kamu tinggalin dia." Ucap Meli lagi.
"Nggak tau, padahal mantan-mantannya sebelum aku itu cantik-cantik loh. Lebih cantik dari aku malah. Ya udah lah biarin aja, semoga dia bahagia aku sekarang juga udah hamil kan aku harus hilangin rasa aku ke Ciko." Ucap Tia.
"Iya bener be, tapi kok aku ngerasa aneh ya. Kenapa tiba-tiba dia melamar pacarnya. Ini sih fix cuma pelampiasan be." Ucap Meli.
"Iya udah lah biarin aja." Ucap Tia enggan membahas soal Ciko.
Dirumah Ciko ada Totok, karena tadi Totok ikut mengantarkan Ciko melamar pacarnya.
"Ko dari tadi aku perhatikan kok kamu kaya nggak senyum sama sekali sih, kenapa?" Tanya Totok.
"Nggak papa mas, cuma grogi aja tadi." Jawab.
"Jangan bohong, aku tau kok masalahmu sama Tia sama Danu. Cerita aja sama aku apa yang kamu rasain sekarang. Jangan di pendam sendiri ya." Ucap Totok.
"Aku sebenarnya sama juarti cuma pelampiasan aja mas, aku masih cinta sama Tia tapi aku sakit hati sama dia mas." Ucap Ciko.
"Harusnya jangan sampai seperti ini kalau kamu nggak cinta, menikah itu untuk seumur hidup lo bukan hanya satu atau dua hari. Mulai sekarang kamu harus move on dari Tia dan rubah niat kamu menikah." Ucap Totok menasihati.
"Iya mas, aku akan rubah niat aku. Aku juga akan belajar mencintai calon istri aku mas."
"Nah begitu dong, ya udah aku pulang dulu udah ada janji sama anak-anak, biasa mau ke hutan hehe. Mau ikut nggak?" Ucap Totok.
"Boleh mas, nanti aku susul aja mas tapi. Aku masih ada urusan dulu." Ucap Ciko.
"Oke, nanti ke tempat biasa ya."
"Oke siap mas."
__ADS_1