Persahabatan Atau Cinta?

Persahabatan Atau Cinta?
19


__ADS_3

Sampai di tenda semua orang melihatku seolah meminta penjelasan kenapa Iman sampai menangis.


"Kenapa pada liatin aku sih?" Ucapku sedikit risi.


"Kenapa Iman menangis Tia?" Tanya kak Totok.


"Loh kok tanya aku, tanya sama Iman dong kenapa dia menangis." Aku ga mungkin langsung menjelaskan ke semuanya. Biar Iman sendiri yang bicara.


"Iman kamu kenapa menangis?" Tanyaku.


"Kamu jahat Tia, kenapa kamu menolak aku, kenapa kamu ga mau nikah sama aku." Aku bingung mau jawab apa.


"Aku jahat?" Aku menatap semua yang ada disini "kalian semua pasti tau kan, kenapa aku menolak Iman" aku tertawa sinis.


"Kalian ingat yang dilakuin dia ke aku? Kenapa sekarang jadi aku seolah yang jadi penjahat disini!" Aku jengkel.


"Dan kamu Awan, kenapa kamu jadi seperti ini, ini semua karna perbuatan kamu sendiri! Tolong berpikir dewasa. Jangan seolah kamu yang tersakiti. Aku rasa aku ga perlu jelasin apa-apa" kemudian aku pergi ke tepi pantai. Menyendiri di sana Meli mengikuti aku.


"Kamu yang sabar ya be" ucap Meli.


"Iya aku gapapa kok, ya aku merasa aja mereka pada menghakimi aku, kamu tau sendiri kan apa yang dilakukan Iman ke aku dulu."


Perasaanku bukan kasian lagi, tapi jengkel, kecewa, kok bisa Iman kaya gitu.


"Iya kamu tenang aja, ada aku kalau ada apa-apa cerita ya, jangan dipendam sendiri."


"Makasih ya be."


Sepanjang di pantai ini aku hanya diam, aku rasanya sudah tidak mood. Saat yang lain jalan-jalan keliling pantai dan bermain ombak aku hanya duduk di tenda.


"Tia maaf ya gara-gara aku kamu jadi seperti ini." Tiba-tiba Iman datang.


Aku tak menimpali omongannya, aku hanya diam dan langsung meninggal kan Iman.


"Tia sini." Meli berteriak memanggilku.


Aku menghampirinya.


"Kita makan siang dulu yuk. Tadi aku pesen ikan bakar disana" tunjuk Meli disebuah kedai di pinggi pantai.


"Ada siapa disana?" Tanyaku.


"Ada anak-anak, tapi kita beli langsung dibawa pergi aja gausah makan disitu."


"Iya, aku lagi males sama mereka, mereka kan tau ceritaku sama Iman gimana."


"Iya, tapi mungkin maksud mereka ga seperti itu. Nanti biar aku yang jelasin sama mereka."


"Iya, makasih ya."


Setelah beli makanan aku dan Meli makan di tenda, temen-temenku diem kaya yang merasa bersalah sama aku.

__ADS_1


"Tia maaf ya tadi sikapku ke kamu kaya gitu, aku belum tau ceritanya." Kak Damri datang ke tenda.


"Iya gapapa kok bukan salah kak Damri."


Yang lain juga ikut ke tenda dan minta maaf sama aku, aku sebenarnya ga marah cuma sebel aja sama mereka.


Akhirnya sore datang kami pun bersiap untuk pulang, seneng banget aku dari tadi emang aku pengen cepet-cepet pulang.


"Aku nanti turun gang masuk rumahku aja ya" kataku.


"Ga mau nongkrong dulu Tia ?" Kata kak Totok.


"Enggak, besok aja aku capek banget ini. Untung besok aku ambil cuti."


"Yaudah." Jawabnya.


Disepanjang perjalanan aku tidur sampai tau tau udah sampe rumah aja. Aku langsung pulang dan istirahat. Rasanya capek badan capek pikiran.


Saat aku buka hp banyak chat dari kak Danu dan dari Iman.


~Tia udah pulang belum?~ kak Danu.


~Tia maafin aku ya~ Iman.


Dan masih banyak lagi, aku malas membalasnya.


Paginya aku buka hp dan membalas pesan mereka.


Dia langsung membalas.


~iya gapapa, cuma pengen pastiin kamu udah pulang belum kok.~


~mm iya.~


Terus aku balas pesannya Iman.


~udah aku maafin, aku minta tolong kamu jangan ganggu aku lagi, aku ga mau ada urusan sama kamu lagi!~


~Iya tia aku ga akan ganggu kamu lagi.~


~oke!~


#


Hari-hari kak Danu selalu dekati aku terus, dia antar aku kerja jemput aku. Melihat perjuangan dia untuk bersama aku, membuat aku lupa jika dia pernah menyakitiku. Dia sepertinya memang sudah berubah. Aku menghargai perjuangan kak Danu. Tapi kalau untuk pacaran lagi aku belum bisa.


"Tia makasih ya udah mau berteman lagi sama aku seperti dulu." Kata kak Danu


"Iya kak sama-sama."


"Tia kita main yuk ajak temen-temen juga. Kemana gitu." Ajak nya.

__ADS_1


"Boleh, kita samperin aja mereka ke tempat tongkrongan yang biasa, kalau ga ada ya kerumah mereka satu-satu." Ucapku


Yang ada hanya kak Damri, kak Satria, Kala, kak Agus. Kita jalan ke desa paling atas di gunung merbabu. Disana ada bendungan, bendungan ini belum banyak pengunjung, ada pengunjung itupun penduduk asli desa ini.


Karena tempatnya memang jauh dari jalan besar dan akses jalannya pun susah, jalan disini hanya setapak dan tidak rata. Tapi tempatnya Masya Allah sangat indah. Banyak pohon pinus menjadikan suasana tambah sejuk, dan rumput hijau seperti padang rumput. Ada sungai yang berasal dari bendungan buatan oleh penduduk sini.


"Aku baru pertama kesini, dingin banget tapi aku suka makasih ya kak Danu udah ajak aku kesini." Kataku ke kak Danu.


"Sama-sama Tia, Allhamdulillah kalau kamu suka." Jawab kak Danu dengan senyum mengembang.


Kami semua main air, airnya sangat dingin kaya air di kulkas. Setiap menyentuh airnya tanganku jadi membeku. Kita cukup lama di sini. Dan setelah dari sini kita kerumah kak Agus, karena rumah kak Agus ada didekat sini.


"Kak kamu di kebun nanam apa?" Tanyaku ke kak Agus.


"Ada kol, wortel, brokoli, dan masih banyak lagi. Nanti kalau pada mau kita ke kebun dulu petik sayurnya terus dibawa pulang ya." Kata kak Agus.


"Ga usah repot-repot kak." Kata ku.


"Ga repot anggap aja rumah sendiri." Kata kak Danu sambil tertawa. Dan semuanya juga ikut tertawa.


"Iya ga repot kok." Kata kak Agus kemudian.


Penduduk disini semua mayoritas bekerja sebagai petani sayur karena tanah disini sangat subur. Penduduk disini sangat ramah, jika berpapasan dengan orang lain kenal atau tidak mereka tetap menyapa. Aku sangat nyaman berada disini.


"Yaudah kita ke kebun sekarang aja, ini udah berkabut takut hujan nanti." Kataku.


"Iya ayo semua siap-siap. Pakai jaket sepatu kaos tangannya, dingin banget ini sumpah." Kata Kala.


Kami semua pergi ke kebun, tanamannya sangat subur sekali, ada wortel, cabai, tomat, kol, brokoli, dan masih banyak lagi.


Setelah memetik sayur di kebun, kami semua mampir ke rumah kak Agus, ibu bapaknya sangat ramah.


"Makan dulu semua ini makanannya udah mateng mumpung masih anget, nanti lanjut ngobrol lagi." Ujar ibunya kak Agus.


"Gausah repot-repot bude." Jawabku sambil senyum.


"Ga repot kok, malah seneng kalau ada yang main kesini." Ujar ibu kak Agus ramah.


Kami semua makan, setelah makan ngobrol-ngobrol sebentar setelah itu kamu pamit pulang karena hari sudah mulai gelap.


Aku berboncengan naik motor dengan kak Danu, Kala dengan kak Satria, kak Damri sendiri.


"Tia kamu seneng ga?" Tanya kak Danu.


"Iya seneng kak." Jawabku.


"Tia kamu mau ngasih aku kesempatan terahir ga?"


"Maksudnya?


"Iya, kamu mau jadi pacarku lagi ga Tia?" Tanya kak Danu lagi

__ADS_1


"Maaf kak kalau untuk itu aku belum bisa, kita seperti ini aja dulu. Aku lebih nyaman temenan sama kakak." Jawabku.


__ADS_2