
Sudah dua minggu aku menjalin hubungan dengan Iman. Aku mulai sayang sama dia, dia selalu baik dan perhatian sama aku. Semoga saja ini awal yang baik untuk masalah percintaan ku.
Semoga dia tidak mengkhianati aku, seperti kak Danu. Eh ngomong ngomong kak Danu dia masih suka chat aku.
~Tia kamu jadian sama Iman?~
~Tia aku tunggu kamu putus sama iman~
~Tia kamu boleh singgah ke banyak hati tapi ingat hati aku tempatmu untuk pulang.~
Seperti itu isi pesan kak Danu dan masih banyak lagi. Tapi aku enggan membalas, aku takut apa yang terjadi sama aku dan Awan kembali terjadi lagi.
#
Iman selalu datang ke kosan ku, kami semakin dekat. Sering jalan bareng, sering jemput aku di kosan terus ngantar aku pulang kerumah.
"Sayang weekend jalan yuk." Ajak Iman.
"Mm ayo, jalan kemana?" Tanyaku.
"Mm rahasia, kamu nanti pasti suka. Disana view nya bagus banget."
"Ih main rahasia rahasia segala. Bikin penasaran."
"Kan mau bikin kejutan sayang."
"Iya deh iya, kamu ga capek sering bolak balik ke kosan aku? Jauh loh."
"Ya enggak lah, sampai sini ketemu kekasih tersayang masa iya capek. Aku kalau dirumah malah sering capek tau."
"Capek kenapa?"
"Capek rindu sama kamu, capek mikirin kamu"
"Ih dasar tukang gombal." Jawabku melengos.
"Biarin dong, kamu udah makan?"
"Udah, tadi pulang kerja langsung makan."
"Yah mau aku ajak makan bareng malah udah makan."
"Mm kalau mau makan aku temenin."
"Enggak deh, aku mau makan dirumah aja kalau gitu."
"Yaudah, emang kamu ga lapar?"
"Tadi sih lapar, tapi liat kamu laparnya ilang."
"Hish mulai lagi deh."
"Hehehe, eh Tini kemana kok sepi." Tanya Iman.
"Dia lembur pulangnya masih jam 10an nanti." Jawabku.
"Mm kasian ya lemburnya sampe malem."
"Iya, kadang juga molor waktunya pulang, belum boleh pulang."
"Kok betah sih dia kerja disitu."
"Ga tau, aku suruh pindah ke pabrik ku ga mau kok dia."
"Mm gitu." Iman mengangguk ngangguk.
#
Hari ini Iman ngajak aku jalan, aku di jemput dirumah. Iman pamit sama bapak aku kalau mau ngajak aku pergi.
Di jalan Iman hanya diam saja, tidak seperti biasanya.
"Kamu kok tumben diem terus, biasanya cerewet apa aja diomongin." Tanyaku.
"Gapapa, boleh tanya ga?"
"Ya boleh lah, mau tanya apa?"
"Kamu udah sayang aku belum?"
"Kirain mau tanya apa. Udah, aku udah sayang sama kamu. Kamu berhasil bikin aku sayang sama kamu."
__ADS_1
"Makasih ya."
"Kenapa sih, kok kamu ga seperti biasanya? Ada yang dipikirin? Apa aku ada yang salah?" Tanyaku bingung karena Iman tiba-tiba jadi pendiam.
"Engga kok gapapa, kamu pengen kemana? Aku anterin kamu kemanapun kamu mau." Jawab Iman dengan nada datar.
"Kan kamu yang mau ngajak jalan, katanya rahasia gitu." Jawabku bingung.
"Enggak, maksudnya setelah ini loh kamu mau kemana?"
"Terserah kamu aja, aku lagi ga ada ide." Jawabku.
Setelah sampai tujuan aku benar-benar takjub sama keindahan alam ciptaan tuhan ini. Tempat ini begitu sejuk banyak pepohonan, dan tumbuhan hijau. Tempat ini berada di lereng gunung. Aku sangat suka berada disini.
"Kamu suka tempat ini ngga?" Tanya Iman.
"Suka, aku baru pertama kali kesini."
"Masa sih, kirain udah pernah kesini."
"Belum, ini kali pertamanya kesini."
"Mm Tia aku boleh minta sesuatu ngga." Tanya Iman.
"Minta apa?" Tanyaku.
"Aku boleh cium kamu?" Tanya Iman ragu ragu.
"Mm jangan ya, aku belum pernah ciuman, aku gamau nanti jadi lupa diri." Jawabku.
"Mm maaf ya." Ucapnya merasa bersalah.
"Maaf kenapa?" Tanyaku.
"Maaf udah bilang mau cium kamu."
"Gapapa aku malah seneng kamu minta izin dulu. Ngga sesukamu. Maaf juga ya aku ga mau dicium."
"Gapapa aku malah seneng kok, berarti belum pernah ada yang cium kamu.
"Mm iya, kamu udah pernah kesini?"
"Udah, dulu sama.." iman menggantungkan kalimatnya.
"Sama temen aku." Jawabnya.
"Sama temen, apa mantan." Jawabku asal. Pipi Iman langsung merah aku bilang mantan.
"Temen kok, mm kamu mau makan sama minum apa? Biar aku pesenin dulu itu di warung sana, nanti dia anterin kesini makanannya." Dia mengalihkan pembicaraan.
Aku jadi sebel sama Iman, jadi dia ngajak aku kesini cuma mau mengenang mantannya. Tau gini aku ga akan mau diajak kesini.
"Heh kok malah melamun sih."
"Eh enggak, kamu bilang apa?"
"Kamu mau makan apa sama minum apa?"
"Terserah kamu aja."
"Yaudah tunggu ya aku pesenin dulu."
Kok firasat aku ga enak si, hari ini dia tiba tiba jadi pendiam ga seperti biasanya, dia cerewet, suka becanda. Trus dia ngajak aku kesini. Tempat kenangan bersama mantannya. Jangan jangan dia belum move on dari pacarnya. Hish jadi pikiran kan.
"Kamu kenapa kok melamun?" Tiba tiba Iman datang membuyarkan lamunanku.
"Engga, cuma lagi mikir aja."
"Mikir apa?" Tanya Iman.
"Enggak, lagi mikir mm mikir kalau ujan nanti pulangnya gimana," jawabku bohong.
"Ya berteduh lah." Jawab Iman.
"Mm kalau aku mending hujan hujanan, buar cepet sampai rumah."
"Nanti sakit kalau hujan hujanan."
"Kan sama aja berteduh juga tetap kedinginan bisa masuk angin, kalau nekat kan cepet sampai rumah cepet ganti baju udah anget."
"Bisa aja kamu."
__ADS_1
"Kita pulang kapan?" Tanyaku.
"Kok pulang, bentar dong nikmatin dulu disini."
"Aku ga suka tempat ini." Jawabku sedikit ketus.
"Tadi pas nyampe kamu bilang suka."
"Itu kan tadi, sekarang beda lagi. Cepetan aku pengen pulang aja."
"Yaudah habis makan ya, kan udah terlanjur pesan makanan."
"Ya." Jawabku singkat.
Biasanya kalau aku jawab dia singkat singkat, dia langsung protes langsung ngomel. Tapi kok ini enggak. Kayanya emang ada yang ngga beres sama dia.
"Kamu kenapa sih hari ini beda banget, lagi sakit? Apa ada yang dipikirin?" Tanyaku.
"Enggak kok, aku gapapa. Kamu tenang aja." Ucapnya lalu tersenyum
Setelah selesai makan aku sama Iman pulang di perjalanan dia masih aja diam ga ada omongan sama sekali. Biasanya dia paling bisa bikin aku tertawa.
#
Hari ini hari rabu, tiba tiba iman minta ketemu katanya ada gal penting yang mau diomongin.
~Kamu capek ngga? Aku pengen main ke kostmu kita jalan-jalan sebentar ya, ada yang mau aku omongin.~
~Tumben rabu gini mau kesini. Biasanya kalau hari kamis.~
~aku mau ngomong penting.~
~Yaudah kesini aja, mumpung masih sore. Biar pulangnya ga kemalaman.~
~iya, aku berangkat sekarang ya.~
~iya hati-hati di jalan ya.~
Setelah sampai, Iman ngajak aku ke taman di tengah kota. Sejak datang raut mukanya keliatan kaya orang bingung.
"Kamu mau ngomong apa?" Tanyaku ke Iman.
"Aku mau ngomong tapi kamu jangan sedih ya, sebenarnya aku ga ada maksud buat kamu sedih."
"Emangnya kamu mau ngomong apa sih, jangan bikin penasaran. Langsung ngomong aja."
"Em sebelumnya aku minta maaf udah masuk ke kehidupan kamu, udah bikin kamu sayang sama aku. Aku sebenarnya juga masih belajar mencintai kamu. Tapi beberapa hari ini setelah aku pikir-pikir aku udah salah. Aku belum bisa lupain mantan aku. Aku minta maaf sama kamu."
Tak terasa bulir bening menetes di pipi mendengar apa yang di katakan Iman, begini amat nasib aku.
"Jadi kamu cuma jadiin aku sebagai pelampiasan kamu aja."
"Maafin aku, bukan maksud aku." Dia menunduk
"Terus sekarang mau kamu apa, setelah berhasil buat aku jadi kaya gini."
"Kita temenan aja ya, aku ga mau semakin lama semakin nyakitin kamu."
"Oh oke! Sekarang aku mau balik ke kost." Aku berjalan mencari ojek, rasanya udah muak sama Iman.
Tega sekali mereka kaum lelaki mainin hati wanita. Apa salahku sehingga nasib aku selalu kaya gini.
"Aku anterin kamu."
"Gausah, aku bisa naik ojek."
"Jangan aku gamau kamu kenapa-kenapa." dia menarik tangan aku
"Gamau aku kenapa kenapa? Sadar ga sih kamu udah bikin aku sakit lagi, lukaku yang kemarin belum kering, sekarang udah kamu siram air garam, kamu tau rasanya? Perih Iman perih." Aku menangis
.
"Maafin aku. Aku benar benar masih teringat sama mantan aku aku gamau menyesal kedepannya."
"Kamu laki laki paling egois yang pernah aku kenal. Sekarang lepasin tangan aku tinggalin aku, aku mau pulang."
Hancur, hancur sekali hati aku. Kenapa dia harus datang kalau cuma ingin melukai. Aku akan pastikan kamu akan menyesal setelah buat aku seperti ini!
Kumohon jangan jadikan semua ini
Alasan kau menyakitiku
__ADS_1
Meskipun cintamu tak hanya untukku
Tapi cobalah sejenak mengerti...