
"Tia nongkrong yuk, nyusul temen-temen." Ajak Meli.
"Iya tapi bentar aja ya, capek aku." Jawabku.
"Iya bentar aja, biar ga bete terus kamu dirumah."
"Aku ambil motor dulu ya."
Sekarang aku lebih sering nongkrong karena setiap hari pulang kerumah, kalau pas masih kos kan paling hari minggu aja aku ketemu temen-temen.
"Yuk be." Ajak ku setelah ambil motor
Meli naik motor. Aku melajukan dengan santai motorku. Sampai ditempat nongkrong disitu ada kak Danu.
"Eh be ada kak Danu kamu gapapa?" Bisik Meli pelan.
"Ya gapapa lah, emang kenapa?"
"Ya enggak, kali aja kamu masih sakit hati soal kemarin."
"Gapapa kok, ya emang kemarin sempet sakit hati tapi itu justru buat aku berpikir dua kali lagi untuk percaya sama perjuangan dia."
"Iya sih, semangat ya be."
"Kaya gatau aku aja kamu, pake semangat-semangat segala." Aku tertawa.
"Ya kan namanya aku perhatian sama kamu be." Ujar meli dengan cemberut.
"Iya iya, makasih ya kamu selalu ada buat aku, jadi terharu aku hehe."
"Hei Tia, capek nggak kamu naik motor sendiri tadi kerjanya." Kata kak Danu.
"Enggak, biasa aja." Jawabku sedikit ketus.
"Tia ingat ngga ini siapa?" Tanya Mario sambil nunjuk seseorang.
Aku diam mengingat ingat siapa namanya.
"Eh Jio, apa kabar kamu? Lama ga keliatan kemana aja?" Tanyaku sambil senyum.
Jio dulu juga sering kumpul sama temen-temen sama aku juga. Tapi udah lama ga pernah kumpul.
"Aku abis kerja keluar kota, kabarku baik kok. Kamu sendiri?"
"Tia lagi kurang baik Jio, patah hati dia." Meli yang jawab.
" Apaan sih be, enggak deng aku baik kok." Ucapku sambil melirik ke Meli
"Cie Tia, pipinya merah." Ledek Meli.
"Kak Damri kemana ini tumben ga keliatan." Tanyaku.
"Dia lagi ada urusan tadi, bentar lagi paling kesini." Jawab kak Mario.
"Oh" jawabku sambil duduk.
Kak Danu main gitar, dia nyanyi lagunya blackout 'selalu ada'
Betapa hancur hati
Hilang gairah hidup
Serasa hampa
Selimuti di jiwa
Tak ada lagi tawa
Dan tak ada ceria
Semua hilang
Terkubur dalam duka
__ADS_1
Dia kini telah pergi jauh
Terbang tinggi tinggalkanku di sini
Tuhan Engkau tahu aku mencintainya
Dan tak ada yang bisa mengganti dirinya
Tuhan hanya dia yang selalu ada
Dalam anganku dalam benakku
Dia bernyanyi sambil terus menatap aku. Aku ga tau maksudnya apa.
"Be beli kopi yuk." Ajakku pada Meli.
"Udah aku pesenin, tunggu aja disini." Ucap kak Danu.
Aku hanya diam, menunduk. Kenapa sih dia, aku harus segera punya pacar biar ga terperangkap sama dia lagi.
"Pesen berapa kak, jangan bilang cuma satu buat Tia doang huh." Ucap Meli sambil menyilangkan kedua tangan didepan dada.
"Pesen lima tadi aku, buat bareng-bareng." Kata kak Danu.
"Hehe gitu dong, makasih ya kak Danu." Ucap Meli girang.
"Jio kamu kesini sendiri to?" Tanyaku ke Jio.
"Iya kangen aja sama anak-anak."
"Kangen sama Tia juga ya ji." Ucap Meli.
"Apaan sih Mel." Sebel sama Meli.
"Iya kangen sama Tia, sama kamu juga Mel hehe." Dia tersenyum sama aku. Mukaku merah menahan malu.
Aku melihat kak Danu, raut muka kak Danu seperti menahan cemburu.
"Siap Tia, aku juga ga berangkat keluar kota lagi kok. Jadi bisa sering main."
Jio itu dulu sempat dekat sama aku, tapi gatau dia terus jarang main ternyata dia keluar kota. Dia tampan, kulitnya putih rambutnya lurus model rambutnya seperti artis korea hehe.
"Tia ini kopi spesial buat kamu." Kak Danu menyodorkan kopi ke aku dan melirik ke Jio.
"Makasih." Jawabku singkat.
"Tia besok aku anterin kamu kerja ya." Ucap kak Danu.
"Gausah, aku bisa sendiri."
"Iya aku tau kamu bisa sendiri, tapi apa salahnya aku anterin kamu Tia."
"Gausah."
"Ehem ehem kayaknya dramanya udah mulai ini." Ucap Meli.
"Mel kita pulang aja yuk. Udah malem besok takut kesiangan." Tanyaku kemudian.
"Eh bentar sih, kopinya juga baru dateng ini."
"Iya Tia masih jam 8 ini, eh Tia nomormu masih yang dulu?" Tanya Jio.
"Masih Jio, ga pernah ganti-ganti aku." Ucapku.
"Nanti aku chat kamu ya."
"Oke sip."
Kak Danu tiba-tiba pergi, seperti orang marah.
"Nah loh Tia ada yang cemburu." Kata Mario.
"Biarin aja, lagian kan udah ga ada apa-apa aku sama dia. Dia juga udah punya pacar kan."
__ADS_1
"Pacar? Yang mana Tia pacarnya kak Danu?" Tanya Meli bingung.
"Ya itu yang kemarin."
"Kak Handa?"
"Iya." Aku tertawa.
"Ih itu mah mantan." Ucap Meli
"Iya sih tapi kak Danu belum move on kan dari kak Handa."
"Tia kamu mantannya Danu?" Tanya Jio.
"Iya, tapi udah lama putus." Jawabku.
"Oh. Kayanya dia masih suka sama kamu."
"Itu tuh cuma akting ji." Kataku semua yang ada di sini langsung tertawa.
"Yaudah yuk Tia kalau mau pulang, aku juga ada kerjaan." Ajak Meli.
"Iya ayo, semuanya aku sama Meli pulang dulu ya, sampai ketemu besok hehe."
"Oke Tia." Semuanya mengacungkan jempol.
Sampai dirumah aku buka hp, ada chat dari kak Danu.
~Tia kamu suka sama Jio? Tia aku udah berusaha jadi yang terbaik buat kamu. Kenapa kamu selalu dingin sama aku. Masalah kemarin aku benar-benar tidak sadar Tia, maafkan aku.~
~suka atau tidak itu bukan urusan kak Danu! Kak Danu pikir aku percaya? Sadar atau tidak itu bukan urusan aku. Coba bayangin aja kak Danu ada di posisi aku.~
~Tia aku mohon kasih aku kesempatan terahir Tia.~
~Maaf kak aku ga bisa, hati aku udah mati buat kakak.~
~yaudah Tia, makasih buat segalanya. Maaf sudah menyakiti kamu. Semoga kamu bahagia. Semoga kamu bisa menemukan orang yang tulus sayang sama kamu.~
~makasih!~
Sebenarnya biar bagaimanapun kak Danu itu baik sama aku, aku kasian sama dia. Tapi aku udah sakit hati banget sama dia.
Drrtt...
Drrtt...
Chat dari Jio
~Tia, udah tidur?~
~Belum, kenapa?~
~gapapa, besok pulang jam berapa?~
~dari tempat kerja jam 4 biasanya.~
~ketemu mau?~
~ dimana?~
~di kafe banyoe ya.~
~besok aku kabarin lagi ya.~
~mm yaudah iya.~
~yaudah aku tidur dulu ya.~
~oke Tia. Mimpi indah ya.~
Sebenarnya aku suka sama Jio cuma sekedar suka atau bisa dibilang cuma kagum aja sama ketampanannya. Kalau untuk jadi pacar ngebayangin aja ga pernah.
Dia pendiam kalau ga diajak ngomong aja dia cuma diam. Beda sama aku yang suka cerewet. Jadi kurang cocok aku sama dia.
__ADS_1