Persahabatan Atau Cinta?

Persahabatan Atau Cinta?
kecewa


__ADS_3

Aku sama sekali ga tertarik buat nolongin dia, dia sepertinya sengaja jatuh buat nyari perhatian aku. Aku memundurkan motorku dan segera pergi.


"Kak aku duluan ya, tanti ketemu tempat biasa." Kata aku ke kak Damri sebelum kembali melajukan motor ku.


"Oke Tia, aku urus Danu dulu ya."


"Oke"


Diperjalanan Meli tertawa terus.


"Kamu kenapa sih tertawa terus, kesambet ya?" Kataku.


"Enak aja, aku geli aja sama kak Danu, segitunya banget, pake acara jatuh-jatuh segala buat dapetin perhatian kamu."


"Aku malah geli sendiri be." Aku bergidik geli.


"Eh tapi tadi kak Damri kok bentak-bentak si kak Handa ya."


"Ga tau, baru kali ini aku liat dia bentak orang."


"Masa sih."


"Iya, ya ga tau sih kalau ga ada aku. Tapi aku belum pernah liat."


"Aku juga belum pernah liat sih kayanya. Eh tapi dia itu belain kamu lo Tia. Kak Damri itu baik banget sama kita. Iya kan." Ujar Meli.


"Iya kita juga kan sering dibelain kalau pas lagi di acara suka ada yang gangguin."


"Eh tapi kak Danu tadi kenapa-kenapa ga ya."


"Ga tau, yang aku pikirin malah kak Handa."


"Kenapa kak Handa?"


"Tadi itu mau ngomong apa ya, dia kan baru bilang mau ngomong sesuatu gitu sama aku."


"Oh iya ya, lagian sih kak Danu peke acara jatuh dipangkuan kak Handa segala. Sengaja ga sih dia."


"Ya ga tau, kayanya kak Danu emang belum move on sama kak Handa." Kata ku


"Ya belum tentu juga sih, mungkin dia emang lagi ga sadar, liat sendiri kan tadi ga bisa berdiri "


"Ya kan kita ga tau yang ada dipikiran kak Danu be, ingat lagunya slank ga? Yang litiknya gini nih, waktu aku lagi tinggi, hilang akal sehatku. Tapi masih ingat, kamu."


"Yee malah nyanyi, tapi iya juga sih." Kata Meli.


"Mungkin emang bener kali ya, dalam keadaan mabuk sampai ga sadar pun dia tetap ingat sama yang dia sayang.


"Iya mungkin sih, kaya si Eko dulu kan pernah. Yang di ingat cuma mantan nya aja."


Aku tiba-tiba ingat sesuatu. Aku pun diam sejenak merasakan semua yang udah aku lewatin selama ini. Ingat sama omongan kak Danu yang bilang mau berjuang untuk aku. Aku sekarang jadi ragu. Mungkin dia emang belum move on. Segitu cintanya dia sama kan Handa.


"Heh malah melamun, fokus liat jalan. Aku masih mau hidup ya." Cerocos Meli.


"Hehe iya iya bawel, kita kemana ini sekarang."


"Ini kak Damri chat aku bilang mau ke gardu pandang. Kita kesana aja."


"Oke."


Aku melajukan motorku menuju ke gardu pandang. Suasananya sedikit mendung dan gerimis kecil-kecil.


"Kak Damri sampai mana?" Tanyaku.


"Katanya perjalanan ke sini."

__ADS_1


"Kita beli kopi dulu yuk dingin banget ini."


"Iya, aku pesenin di warung itu aja kamu tunggu sini."


"Oke. sama cemilan ya aku lapar."


Aku nunggu Meli di gazebo. Jarak gazebo dengan warung kopi sekitar 100 meter. Tiba-tiba ada chat dari kak Danu.


~Tia dimana?~


~ada apa?"~ balasku


~tadi kok ninggalin aku, sini main kerumah aku.~


~gapapa, aku lagi main. Kapan-kapan aja.~


~main kemana? Aku susulin ya.~


Aku tak membalas pesan nya lagi. Sakil kalau ingat tadi pas kak Danu jatuh di pangkuan kak Handa. Kaya sinetron aja.


Kak Damri datang sama temen-temen yang lain.


"Heh tia kok diem aja, ngelamunin apa?" Tanya kak Damri.


"Enggak, siapa yang melamun." jawabku.


"Iya deng, tadi aja pas naik motor melamun terus." Kata Meli.


Aku tertawa. "Eh kak tadi kok kamu bentak-bentak kak Handa sih, kasian loh tadi kaya malu gitu diliatin banyak orang."


"Aku kasian sama kamu, aku tau kamu udah mulai buka hati buat Danu, tapi Danu nya aja ga tau diri. Terus kalau Handa, aku emang ga suka ada dia."


"Tapi kasian looh. Oiya kak Danu kok ga ikut."


"Ya tetep aja kasian, syukurlah kalau kak Danu ga ikut."


#


Seperti dejavu, aku merasakan kembali sakit yang pernah aku rasakan saat pertama kali melihan kak Handa dengan kak Danu. Rasanya sakit, sedih, kecewa.


Malam ini aku susah tidur, kak Danu selalu mengganggu pikiranku. Entah perasaan apa yang aku rasakan ke kak Danu. Sepertinya hati dan pikiranku beda jauh. Aku ga mau lagi sama kak Danu, tapi kenapa hati ini sangat sakit melihat kejadian tadi.


~Tia kamu kenapa berubah dingin lagi sama aku?~ chat dari kak Danu.


~kenapa kamu masih menanyakan hal ini?~ balasku.


~Tia sumpah aku ga tau kenapa aku bisa jatuh di pangkuan Handa. Kamu kan tau aku ga sadar.~


~itu karena di hati kecil kamu memang masih ada kak Handa kan? Sudahlah, gausah berjuang untuk dekati aku lagi kalau memang kamu ga bisa move on dari dia.~


~Tia maaf kan aku, tapi aku sungguh sudah tidak ada rasa sama Handa. Dia masa lalu bagiku.~


~Aku juga masa lalumu, dan akan tetap jadi masa lalumu. Berhenti berharap balikan sama aku, karena waktumu akan terbuang sia-sia jika kamu habiskan untuk meyakinkan aku lagi.~


~aku ga peduli Tia jika waktuku sia-sia. Aku akan tetap berjuang untuk kamu.~


~bulshit!"


~terserah apa anggapan kamu tentang aku Tia, yang jelas aku akan tetap perjuangin kmu.


Sulit bagiku untuk mempercayai kak Danu lagi. Sudah cukup! Aku ga marah sama kak Danu tapi aku kecewa.


Aku selalu saja memaafkan kesalahan kak Danu mungkin cintaku ke kak Danu memang tulus dari dasar hati. Tapi untuk kembali aku ragu, aku takut merasakan sakit lagi.


Aku mulai hari ini tidak kost lagi, aku pulang pergi naik motor sendiri. Aku ga betah ngekos, aku juga rasanya udah ga betah kerja dipabrik ku ini. Tapi kalau berhenti kerja aku malas bikin lamaran lagi ngelamar kerja lagi, biarlah seperti ini dulu

__ADS_1


~Tia kamu kok ga ikut bus aku? Kamu ga kerja apa kesiangan?~ chat dari kak Danu.


~aku bawa motor sendiri.~


~bawa motor sendiri? Jauh lo Tia tempat kerjamu, nanti capek lo.~


~gausah sok perhatian.~


~Tia jangan dingin lagi sama aku, aku ga mau sikap kamu kaya gini.~


Ah males ngeladenin kak Danu, seperti itu terus pembahasannya.


Aku ga ada semangat kerja hari ini.


"Tia kenapa kamu? Tumben kusut gitu." Tanya Andriani.


Andriani teman kerjaku, teman curhatku di tempat kerja.


"Gapapa, kamu udah sarapan?"


"Udah tadi, kamu udah belum?"


"Belum, aku ini beli kue sama gorengan. Nih ambil." Aku menyodorkan plastik gorengan ke Andriani.


"Engga makan kamu aja, aku udah kenyang."


"Kamu ada masalah?"


"Masalah?" Aku melongo mendengar pertanyaan Andriani.


"Mingkem tuh mulut. Iya keliatan dari raut muka kamu."


"Emang mukaku kenapa."


"Kusut, tatapannya kosong kaya lagi mikir sesuatu."


"Emang kamu ini bak paranormal." Ucapku sambil tertawa.


"Heh serius, kenapa kamu?"


"Biasalah masa lalu."


"Belum move on juga kamu."


Aku pun menceritakan kejadian saat aku nonton konser, saat kak Danu jatuh ke pangkuan kak Handa juga. Andriani tau tentang aku dan kan Danu karena aku sering curhat sama dia.


"Gila, itu namanya kamu cuma dijadiin pelampiasan si Danu doang Tia."


"Udahlah move on aja Tia, lupain dia. Jangan melakukan kesalahan yang sama Tia."


"Iya ku juga lagi mikirin itu, aku harus move on. Aku gamau ngerasain sakit dari orang yang sama."


"Kamu kan banyak temen cowok Tia, masa mereka ga ada yang kamu suka."


"Mereka itu udah seperti saudara, aku sayang sama mereka tapi ga ada terlintas di pikiranku untuk pacaran sama salah satu dari mereka."


"Nanti aku kenalin temen aku ya."


"Apaan sih, gausah aneh-aneh deh. Aku bisa cari sendiri."


" Ya kan ga ada salahnya juga Tia."


"Iya iya, makasih ya. Yaudah masuk yuk nanti diomelin kalau telat."


"Iya ayo Tia."

__ADS_1


__ADS_2