
Hari berganti bulan keadaan kehamilan Tia juga semakin membaik sudah tidak muntah ataupun mual lagi. Usia kandungan Tia sudah menginjak usia delapan bulan. Hari ini Tia akan ceck up ke dokter spog. Tia penasaran dengan jenis kelamin anaknya, karena di bulan bulan kemarin saat periksa, Tia nggak pernah bertanya jenis kelaminnya.
"Mau tau jenis kelaminnya tidak bu?" Tanya dokter.
"Tidak dok, biar jadi kejutan saja hehe." Jawab Tia.
Tapi sekarang Tia dan Danu sudah penasaran dengan jenis kelaminnya, maka hari ini mereka akan menanyakan jenis kelaminnya.
"Kak kira-kira apa ya jenis kelamin anak kita?" Tanya Tia.
"Semoga saja laki-laki ya sayang." Ucap Danu.
Saat ini mereka berdua sedang menunggu antrian untuk usg, mereka berdua mendapat nomor antrian 08.
b"Kak lama banget ya, aku udah capek duduk begini." Ucap Tia mengeluh.
"Sabar ya sayang, ini udah sampai nomor 6 kok, sebentar lagi giliran kita." Ucap Danu.
"Kak nanti habis ini aku pengen minum yang seger." Ucap Tia.
b"Pengen minum apa sayang."
"Mm apa ya." Tia berpikir. " Mm sup buah kaya ya seger ya kak." Ucap Tia kemudian.
"Iya sayang nanti kita beli ya."
Tia mengangguk dan tersenyum.
"Ibu Tia." Teriak seorang asisten dokter spog.
"Sayang itu di panggil, kita kesana yuk." Ucap Danu.
"Iya sayang."
Tia dan Danu segera berdiri dan menuju ruangan praktik dokter spog.
"Silakan masuk pak, bu. " Ucap asisten tersebut.
Kemudian Tia dan Danu segera masuk.
"Silakan dududk pak, ibu silakan rebahan ya, saya usg dulu." Ucap dokter.
"Iya dok." Ucap Tia.
"Bayinya sehat ya bu beratnya normal, detak jantungnya bagus, air ketubannya masih bagus. Mau tau jenis kelaminnya tidak bu?" Tanya dokter tersebut.
Tia melihat ke arah suaminya menandakan dia bertanya kepada suaminya, kemudian suaminya mengangguk.
"Mau dok, sekarang udah penasaran banget." Ucap Tia bersemangat.
"Jenis kelaminnya perempuan ya pak, bu." Ucap dokter tersebut.
Tia langsung menatap Danu, seketika raut wajah Danu berubah dia kecewa karena yang di inginkan Danu adalah anak laki-laki.
"Sudah bu, silahkan duduk. Saya buatkan resep dulu. Apakah ibu ada keluhan?" Tanya dokter.
"Tidak dok." Ucap Tia.
"Ya sudah ini saya resepkan vitaminnya saja ya bu." ucap dokter tersebut.
"Iya dok terimakasih. "
Setelah mendapatkan resep, Danu dan Tia segera keluar ruangan.
"Ini buku kia nya bu, pembayarannya di kasir sebelah sana ya bu, lalu untuk menebus obatnya di sebelah sana." Ucap perawat mengarahkan Tia dan Danu.
"Iya mbak terimakasih ya, saya permisi." Ucap Tia.
"Sama-sama mbak." Ucap asisten dengan tersenyum ramah.
Danu sedari tadi hanya terdiam, dia sedikit ada rasa kecewa karena usg tadi menyatakan kalau bayi mereka berjenis kelamin perempuan, sedangkan dia berharap kalau bayi mereka laku-laki.
"Kak kenapa diam terus sih." Ucap Tia.
"Nggak papa." Ucap Danu singkat.
"Kakak kecewa kan sama hasil usg, kalau kakak nggak mau bayi perempuan biar aku yang urus sendiri." Ucap Tia ketus.
__ADS_1
Tia sangat menyayangkan sikap Danu, Tia ingat dulu Danu pernah bilang kalau dia di beri momongan dia akan mensyukuri apapun jenis kelaminnya, tapi sekarang sikapnya malah begini setelah tau hasil usg nya.
Danu tetap diam, tapi Danu juga menyadari kalau tidak seharusnya dia kecewa.
"Sayang maaf ya, nggak seharusnya sikap aku begini." Ucap Danu pelan.
Tia hanya diam.
Sesampainya di rumah Tia langsung menuju kamar untuk istirahat, dia tidak sabar ingin merebahkan badannya.
"Sayang, ini sup buahnya aku udah tuangkan ke mangkuk." Ucap Danu.
Mereka membeli sup buah tapi dibungkus karena Tia udah nggak mood makan di tempat penjualnya karena sikap Danu tadi.
"Sayang jangan diam saja dong, aku minta maaf."
"Iya." Jawab Tia singkat.
***
Di rumah Ciko sedang merenovasi rumah, karena pernikahan Ciko tinggal satu bulan lagi.
"Ko kok melamun aja sih dari tadi aku perhatikan." Ucap teman Ciko.
"Nggak papa kok." Jawab Ciko.
"Kamu keinget pacar kamu yang sering kesini itu ya?" Tanya teman Ciko.
"Apaan sih, enggak ya." Jawab Ciko mengelak.
Ciko sebenarnya rindu dengan Tia, dalam lubuk hati Ciko sebenarnya masih sangat mencintai Tia.
"Jangan bohong, keliatan kalau kamu nggak bahagia kan mau menikah."
"Sok tau kamu, aku ini cuma lagi mikirin mau beli cat warna apa."
"Alah aku ini tau ya kamu kaya gimana. Lagian kamu juga waktu itu mendadak banget melamar siapa namanya calon kamu?"
"Juarti." Jawab Ciko.
"Iya itu, kamu mendadak banget melamar dia. Padahal satu minggu sebelum melamar kan pacar kamu Tia itu masih main kesini kan aku lihat kok."
"Harusnya kamu jangan begitu kan kasian juarti. Harus kamu luruskan dulu niat kamu, menikah itu bukan cuma buat satu hari dua hari ko, tapi seumur hidup."
"Iya aku tau kok, sekarang sudah terlanjur basah, biar aku belajar mencintai juarti."
"Iya ko semangat ya."
"Makasih ya. "
***
Tia mendapat panggilan tes swap di puskesmas. Saat ini sedang masa pandemi virus corona, semua ibu hamil di desa Tia harus mengikuti swap untuk kesehatan bayinya.
"Sayang hari ini aku swap di puskesmas." Ucap Tia.
"Aku anterin sayang." Jawab Danu.
Saat ini Danu memang sedang libur karena selama pandemi virus Corona banyak pekerja yang di liburkan.
"Iya sayang. Kita berangkat sekarang aja yuk." Ajak Tia.
"Ya udah ayo, pake jaket sayang." Ucap Danu.
"Iya sayang."
Mereka berdua menempuh jarak kurang lebih sepuluh menit untuk sampai di puskesmas.
__ADS_1
Setelah selesai di swab, mereka harus menunggu selama tiga hari untuk mengetahui hasilnya.
"Sayang kita langsung pulang aja ya, punggung aku pegel banget." Ucap Tia.
"Iya sayang, nggak mau beli apa dulu gitu?" Tanya Danu.
"Mm beli sup buah aja tapi dimakan dirumah aja."
"Iya sayang."
\*\*\*
Tia sudah menunggu hasil test swab yang katanya tiga hari tapi sampai dua minggu belum ada pemberi tahuan untuk hasilnya.
Saat Tia dan Danu sudah tidur tiba-tiba tengah malam ada yang datang memakai pakaian serba putih seperti astronot.
"Sayang itu ada orang, bertamu kok malam-malam begini."
"Sebentar aku bukain dulu ya."
Ternyata yang datang adalah bidan, dia akan memberi tau hasil test swab.
'kenapa harus malam begini sih' batin Tia.
"Pak maaf, hasil test istri anda menyatakan kalau istri anda positif Corona." Ujar bidan tersebut.
Dunia seakan runtuh, mendengar kabar tersebut Danu merasa cemas dan sedih.
"Pasti hasilnya salah kan bu?" Tanya Danu tidak percaya.
"Maaf pak tugas saya hanya menyampaikan. Kalau ada yang di tanyakan silahkan bapak datang ke puskesmas, dan satu keluarga bapak harus mengikuti test swab juga di puskesmas. Semua anggota keluarga tidak boleh keluar rumah ya pak takut sudah terkena virus dari ibu Tia dan menular ke penduduk lain." Ujar bidan tersebut.
"Oh dan satu lagi besok ibu Tia harus di karantina di rumah singgah selama kurang lebih sepuluh hari ya pak, tapi bapak boleh ikut kok, besok akan di jemput ambulan ke sini ya pak. Cukup ini yang saya sampaikan ya pak saya permisi dulu." Ucap bidan itu seraya pergi.
Tia yang mendengar percakapan dari kamar, dia langsung menangis. Dia tidak percaya akan hasilnya. Karena tidak ada satupun gejala Corona yang Tia rasakan.
Setelah bidan itu pergi Danu segera mengunci pintu kembali dan langsung masuk kamar.
Melihat Tia yang menangis Danu langsung memeluk Tia.
"Sayang tenang ya, aku selalu bersamamu sehat maupun sakit, senang maupun sedih. Aku yakin kamu kuat sayang." Ucap Danu.
"Makasih ya kak, tapi aku sama sekali nggak sakit kak. Aku yakin mereka itu bohong, mereka hanya ingin mencari keuntungan mereka masing-masing." Ucap Tia.
"Aku selama dua minggu ini sudah pergi kemana-mana udah ke tetangga ke pasar. Kumpul sama teman-teman. Mereka juga berarti harus di test kan bukan cuma keluarga kita kalau memang aku ini positif kak." Ucap Tia lagi.
"Iya sayang kamu yang sabar ya, sekarang tidur aja sayang jangan dipikirkan ya."
Keesokan harinya mereka benar-benar tidak keluar. Tia yang saat ini tidur dirumah mertuanya hanya berdiam diri di kamar, Tia dan Danu mengunci semua pintu dan jendela.
"Ibu pergi to kak?" Tanya Tia.
"Iya, aku udah bilang jangan pergi-pergi dulu, tapi ibu ngeyel dan tetap pergi." Jawab Danu.
Saat Tia dan Danu sedang mengobrol tiba-tiba ada orang datang mengetuk pintu. Tapi Tia dan Danu tidak membukakan ya. Mereka takut. Kemudian orang itu pergi, tapi sesaat kemudian orang itu datang lagi, dia datang bersama bapaknya Tia.
"Tia, bukain pintunya ini bapak." Teriak bapak Tia sambil mengetuk pintu.
Akhirnya Danu membukakan pintunya.
"Silakan masuk pak." Ucap Danu.
"Bapak kok malah kesini sama bang ahmad, kan nggak boleh keluar pak." Ucap Tia yang baru keluar kamar.
"Siapa yang bilang nggak boleh, mereka itu bohong tes itu palsu Tia. Kamu yang tenang." Ucap bapak Tia.
Beberapa saat kemudian banyak yang menyusul ada buleknya Tia ibunya Tia, dan saudara-saudara yang lain.
__ADS_1
Tia terharu karena mereka semua membela Tia, tidak percaya akan hasil ter tersebut.