
"Tia, aku nggak bisa lupain kejadian tadi, aku sakit hati saat kamu pilih Ciko. Sedangkan kamu tau sendiri kan jawaban Ciko. Menggantung."
Tia hanya mengangguk.
"Sekarang biarkan aku pergi ya Tia, biar kamu bisa sama Ciko. Mm aku tunggu cerai dari kamu, karena sampai kapanpun aku nggak akan ceraikan kamu Tia."
Tia menyesal sudah menyakiti Danu, karena semakin lama dia semakin nyaman bersama Danu.
"Kak Danu maafin aku, jangan tinggalin aku. Awalnya aku hanya ingin kak Danu merasakan apa yang aku rasain dulu saat kak Danu selingkuhi aku, tapi sekarang aku menyesal kak." Ucap Tia dengan berlinang air mata.
"Oh jadi niat kamu hanya untuk balas dendam Tia? Selamat ya kamu berhasil menghancurkan aku." Ucap Danu tersenyum sinis.
"Maafin aku kak, aku benar-benar menyesal. Aku nggak mau cerai sama kak Danu." Ucap Tia.
"Kamu jangan jadi orang plinplan Tia, tadi bilang pilih Ciko, dan sekarang kamu bilang begini."
"Terserah kak Danu bilang aku plinplan atau apalah, yang jelas saat ini aku nggak mau pisah sama kak Danu."
"Ya sudah sekarang kamu tidur Tia, aku mau keluar dulu." Ucap Danu.
"Mau kemana kak?" Tanya Tia.
"Mau pulang kerumah ibu." Jawab Tia.
"Jangan pulang kak, kalau kakak tetap mau pulang aku mau ikut."
"Ya sudah ayo ikut aku." Ucap Danu.
Tia mengambil jaket, dan langsung ikut dengan Danu.
Danu melajukan motornya, tapi bukan kearah rumah ibunya.
"Loh kak kita mau kemana? Ini bukan kerumah ibu kan?" Tanya Tia.
Danu tidak menjawab, dia terus saja melajukan motornya dengan sangat kencang.
"Kak pelan-pelan, aku takut. Kita sebenarnya mau kemana?" Ucap Tia.
Danu tetap tidak menghiraukan Tia. Pikirannya kosong. Sungguh Tia sangat takut. Tia menangis sejadi-jadinya.
Akhirnya Danu berhenti disebuah hutan pinus yang biasa buat nongkrong Tia dan teman-temannya.
"Kenapa kita disini kak, ayo kita pulang. Ini udah malam aku takut." Ucap Tia.
__ADS_1
"Aku mau di sini kalau kamu mau pulang, pulanglah sendiri ini kunci motornya. " Ucap Danu.
"Aku nggak mau pulang sendiri, aku mau pulang sama kak Danu. "
"Ya sudah tunggu aku sampai ingin pulang." Ucap Danu.
"Kita ngapain di sini kak." Tanya Tia.
"Kamu bisa diam tidak? Aku mau nenangin diri." Ucap Danu.
Tia akhirnya diam, dia sebenarnya takut gelap. Suasana di sini sangat gelap dan dingin sekali.
**
Di tempat lain, Ciko sedang berbincang dengan Fino.
"Kamu ini sebenarnya cinta nggak sama Tia." Tanya Fino.
"Ya cinta lah, kalau nggak cinta ngapain aku mau sama Tia." Jawab Ciko.
"Harusnya tadi Tia udah bilang pilih kamu di depan Danu jawabanmu itu yang tegas. Kalau kamu tegas bilang iya mau nikahin dia kan mereka bakal cerai. Kalau jawaban kamu seperti itu ya Tia jadi ragu lah sama kamu. " Ucap Fino.
"Terus aku harus gimana?"
Sebenarnya Fino itu kesal sama sifat Ciko yang nggak punya pendirian, nggak bisa tegas sama pilihannya.
"Iya kamu bener, ya gimana udah terlanjur ini. Aku punya pacar juga karena aku cemburu sama Tia." Jawab Ciko santai.
"Tia nikah kan juga kamu yang nyuruh, kamu ini nggak pernah menyadari kesalahan kamu. Malah suka nyalahin Tia, padahal dia udah berjuang buat kamu. Aku juga nggak jarang lihat Danu sama Tia berantem."
"Tapi memang kan kalau Tia itu sebenarnya mau sama Danu. Ya udah lah, dia mau cerai atau enggak terserah mereka." Ucap Ciko dengan santai.
Ciko selalu menganggap enteng masalah. Ciko nggak pernah mau introspeksi diri.
"Terserah kamu saja lah, ya sudah aku pulang dulu. Oiya, kamu jangan pernah menyesal kalau nanti Tia nggak jadi cerai ya. Karena kalau aku jadi Tia juga ragu sama jawaban kamu. Mending pilih Danu yang udah jelas suaminya." Ucap Fino langsung pergi begitu saja.
Ciko masih saja tidak mau berpikir, tidak mau merenungkan kesalahannya. Ciko seolah merasa orang paling benar di sini.
"Mau Tia pilih siapa juga terserang, aku juga nggak merebut Tia dari Danu kan. Emangnya salah gitu kalau aku gantung jawaban aku." Ucap Ciko sendiri.
**
Sudah satu minggu setelah kejadian malam itu. Tia sudah nggak pernah hubungi Ciko lagi, dia sudah memantapkan pilihannya untuk tetap bersama Danu.
__ADS_1
'dasar Tia, jadi orang plinplan sekali. Katanya pilih aku, tapi sampai sekarang malah nggak pernah hubungi aku lagi. ' batin Ciko dengan menatap layar ponselnya.
Sedangkan Tia dirumah saat ini sedang sakit, sakitnya lumayan parah. Tia nggak bisa berdiri, kalau berdiri Tia mual dan ruangannya serasa berputar. Danu merawat Tia dengan penuh cinta, sikap Danu tidak berubah sama sekali. Danu masih tetap mencintai Tia sama seperti sebelumnya.
"Tia sup nya sudah jadi, kamu mau makan sekarang atau nanti?" Ucap Danu.
Danu memasak untuk Tia.
"Nanti aja kak." Jawab Tia lemas.
"Ya sudah, nanti kalau sudah lapar bilang ya. Sekarang aku ambil air hangat dulu buat bersihin badan kamu ya Tia. " Ucap Danu seraya pergi mengambil air.
Tia hanya mengangguk.
"Tia aku lepas baju kamu dulu ya, aku lap dulu pake kain sama air hangat. Biar badan kamu sedikit segar." Ucap Danu setelah kembali dari mengambil air.
Danu mengelap tubuh Tia dari ujung kepala sampai ujung kaki, Tia sangat terharu dengan perlakuan Danu ke Tia. Padahal Tia sudah menyakitinya tapi Danu tidak berubah sedikitpun.
Tanpa sadar Tia meneteskan air mata di pipinya.
"Kak Danu makasih ya." Ucap Tia masih terus meneteskan air mata.
"Ini kan udah kewajiban aku Tia. Kok kamu malah nangis sih." Ucap Danu seraya mengusap air mata Tia.
"Maafin aku kak, aku udah nyakitin kakak, tapi kak Danu tetap baik sama aku."
"Tia, waktu aku putuskan mau nikahin kamu. Aku sudah menyerahkan seluruh hidupku buat kamu. Aku tulus sayang sama kamu, kejadian waktu itu aku anggap ujian pernikahan kita. Aku akan selalu bimbing kamu tia, aku nggak akan tinggalin kamu. Kecuali kamu yang minta."
Tia semakin menangis, hati Tia seperti teriris. Tia menyesal sudah menyakiti Danu.
"Makasih kak, jangan pernah tinggalin aku kak. Walaupun aku belum cinta sama kak Danu, tapi mulai saat ini aku akan belajar mencintai kak Danu." Ucap Tia.
"Iya Tia, udah ya nangisnya. Aku pakaikan baju ganti kamu dulu." Ucap Danu.
"Iya kak, kak aku mau minta ijin sama kak Danu tapi kak Danu jangan marah ya."
"Minta ijin apa sayang."
"Aku mau bertemu sama Ciko, aku mau mengakhiri semuanya kak. Mm kak Danu boleh ikut kok temani aku ketemu Ciko ya." Ucap Tia.
"Iya Tia boleh kok, aku ngga ikut. Aku percaya sama kamu Tia. Tapi kamu harus sembuh dulu ya." Jawab Danu dengan senyum.
"Iya kak, makasih ya kak." Ucap Tia.
__ADS_1