Persahabatan Atau Cinta?

Persahabatan Atau Cinta?
75


__ADS_3

Kicauan merdu burung di pagi hari saling bersahutan. Langit yang semula gelap kini lambat laun menjadi berwarna biru terang seiring berjalannya waktu dan matahari kian merangkak memperlihatkan cahayanya yang menghangatkan semua penduduk bumi.


Kemarin Ciko dan istrinya telah pulang ke rumah mereka membawa serta bayinya. Bayinya yang semula belum di perbolehkan pulang akhirnya boleh pulang dengan syarat Ciko harus menanda tangani surat pernyataan pulang atas kemauan sendiri.


"Alhamdulillah kita sudah di rumah. Kita juga jadi dekt terus sama anak kita ya sayang. Nggak kaya kemarin saat di rumah sakit terpisah jauh ruangannya." Ciko berkata sembari membereskan barang-barang keperluan si bayi.


"Iya mas aku juga seneng banget. Kemarin hanya melihat dedek bayi lewat kaca karena aku belum bisa menyusuinya." Juarti memangku bayinya di kamar.


"Oh iya aku udah nemuin nama anak kita loh." Ucap Ciko tersenyum ke arah Juarti dan bayinya.


"Oya, siapa mas?" Tanya Juarti penasaran.


"Masih rahasia. Nanti malam aku kasih tau kalau pengajian untuk anak kita udah mau mulai."


Malam ini akan ada pengajian untuk bayi mereka, sekalian mencukur rambut si bayi.


"Aku penasaran mas, sekarang aja." Pinta Juarti memohon.


"Nanti aja deh, ini kan udah sore bentar lagi juga malam." Ucap Ciko seraya berdiri setelah selesai beberes.


"Halah mas ini bikin orang penasaran aja." Gerutu Juarti.


"Hehe ya udah aku mau mandi dulu sayang, nanti gantian mangku anak kita."


Tak ada jawaban dari Juarti, Ciko langsung keluar kamar menuju kamar mandi.


Malam pun tiba. Semua orang sibuk menyiapka keperluan pengajian. Ciko bersiap-siap menggendong anaknya, karena nanti saat bersholawat bersama dia akan berkeliling memutari orang-orang yang beara disana untuk bersalaman.


"Jadi namanya siapa mas?" Tanya Juarti penasaran.


"Oiya hampir lupa aku. Namanya . Bagas Prabaswara Baureksa
Artinya, anak laki-laki yang kuat menjadi pelindung bagi sesamanya dan terang akalnya. Karena aku berharap kelak dia akan melindungi kamu dimanapun berada. Suka sama namanya nggak? Ada yang mau di ganti atau kamu mau nambahin apa?" Tanya Ciko.


"Bagus mas namanya, artinya juga bagus. Cukup itu aja aku suka, nggak usah di ganti-ganti lagi." Juarti sangat senang dengan nama yang di berikan Ciko untuk anaknya.


"Alhamdulillah kalau kamu suka. Ya udah aku mau keluar dulu ya sama anak kita." Pamit Ciko.


"Iya mas."


Juarti tetap berada di kamar karena dia masih suka nyeri di bagian perut kalau kebanyakan gerak.


"Seandainya kalau dia anak kandung mas Ciko, pasti aku akan lebih bahagia. Maafin aku ya mas, dan terima kasih udah mau terima kami jadi bagian hidup kamu." Gumam Juarti seorang diri.


Setelah kurang lebih satu jam acara pun selesai. Sebagian tamu undangan sudah pulang dan sekarang tinggal keluarga initi saja.


Juarti merasa asing di keluarga Ciko, banyak pertanyaan karena bayinya tidak mirip dengan Ciko.


"Kok Ciko nggak ada di bayi ini ya, wah Ciko nggak pinter nih bikinnya." Ucap sepupu Ciko yang bernama Dina.


"Apaan sih jelas-jelas sama semua gini kok." Ucap Ciko santai.


"Sama apanya, sama sekali ga ada gitu maksudmu?"


"Sama punya mata punya hidung punya mulut gini kok wlek." Ciko menjulurkan lidahnya dan tertawa.


Keluarga Ciko saling bercanda hangat, tapi Juarti hanya berdiam diri dan duduk dengan menunduk.

__ADS_1


"Arti kamu kok cuma diem aja sih. Mikirin apa? Kamu ada masalah" tanya sepupu Ciko


"Ee enggak kok, cuma kecapean aja." Jawab Juarti lemah.


"Kalau ada apa-apa cerita ya, jangan di pendem sendiri." Dina tersenyum tulus.


"Iya Dina, makasih ya." Juarti tersenyum tipis


Keesokan harinya.


Tia yang mendengar kabar Ciko sudah pulang segera dia mengajak Danu untuk menengok ke rumah Ciko.


"Kak Danu kita tengok bayinya Ciko yuk, sekalian silaturahmi." Tia ragu-ragu mengatakannya. Takut Danu tidak setuju.


"Iya boleh sayang, kapan mau kesana?" Danu sedang memangku Gendhis.


"Gimana kalau nanti sore kak." Usul Tia.


"Iya nggak papa sayang. Udah siapin kado?" Tanya Danu.


"Belum kak."


"Ya udah kamu siap-siap saba kita cari kado. Nanti sekalian berangkat ke rumah Ciko aja setelah cari kado."


"Iya kak. Aku siap-siap dulu ya." Tia berdiri dan mencium pipi gembul Gendhis.


Setelah beberapa menit berganti baju dan bersolek kemudian Tia membersihkan badan bayi cantik nan gembul lalu mengganti pakaiannya.


Setelah semua selesai, keluarga kecil itu lalu berangkat dengan menaiki motor matic hasil kerja keras Tia waktu masih kerja dulu.


"Aku bingung mau kasih kado apa kak." Saat Tia melihat-lihat perlengkapan bayi di dalam toko.


"Baju aja itu kelihatan lucu-lucu sekali sayang." Usul Danu.


"Kita lihat dulu yuk."


Setelah menghabiskan waktu hampir tiga puluh menit di toko untuk memilih-milih kado akhirnya dia dapat kado yang cocok.


Tia meminta karyawan toko untuk membungkuskan kado sekalian.


Setelahnya merekan langsung berangkat ke rumah Ciko. Tia sebenarnya deg-degan akan bertemu Ciko.


"Kira-kira nanti respon Ciko gimana ya melihat aku." Batin Tia.


"Sayang, kamu mau makan dulu nggak?" Tanya Danu saat di jalan.


"Nggak usah kak, kali aja nanti di tempat Ciko di suruh makan hehe." Tia tertawa.


"Kamu ini sayang, iya kalau di suruh makan, kalau nggak gimana?" Danu ikut tertawa.


"Kalau enggak kita makannya pulangnya aja kak." Usul Tia.


"Ya udah, Gendhis tidur ya." Tanya Danu.


"Iya barusan aja tidur kak." Tangan Tia mengelus pipi gembul bayi mungil yang tidur di gendongannya.

__ADS_1


Danu melajukan motornya dengan kecepatan sedang, biar bayinya yang tidur di gendongan ibunya juga nyaman.


Mereka telah sampai di depan rumah Ciko. Ibunya Ciko menyambut Tia dengan gembira.


"Tia, kamu datang nak. Ayo masuk ibu kangen sekali sama kamu." Ibunya Ciko memeluk Tia dan mencium Gendhis.kemudian menyalami Danu.


"Danu kamu sehat kan?" Tanyanya ramah.


"Sehat mbak." Danu tersenyum ramah. Tapi sedikit canggung.


Danu memang memanggil ibunya Ciko dengan sebutan mbak, karena menurut silsilah keluarganya masih setara dengan kakak. Entah aku juga tidak tahu hehe.


"Bayinya mana bu?" Tanya Tia tidak sabar.


"Itu di kamar sayang, ayo ibu antar." Ajak Ibunya Ciko.


Juarti yang sedari tadi mendengar pembicaraan Tia dan ibu mertuanya merasa cemburu karena dia tidak bisa sedekat itu dengan ibu mertuanya.


"Kak mau ikut lihat bayinya nggak?" Tanya Tia kepada Danu.


"Aku tunggu sini aja ya." Ucap Danu lembut.


"Gendhis sama aku apa sama kamu?" Tanya Tia.


Danu belum menjawab Gendhis sudah minta di gendong sama ibunya. Akhirnya bayi gembul itu ikut masuk melihat bayinya Ciko.


Tia menyalami Juarti yang duduk di ranjang. Juarti merasa minder dengan kecantikan Tia. Sedangkan dia jauh di bawahnya.


"Sehat?" Tia menanyakan kabar.


"Sehat mbak. Alhamdulillah." Juarti tersenyum.


"Duuhh bayinya lucu sekali. Itu teman kamu dek." Ucap Tia kepada Gendhis.


"Namanya siapa adek bayi?" Tia menoel-noel gemas pipi bayi tersebut.


"Namanya bagas tante." Juarti bicara dengan lembut.


"Bagus namanya. Semoga selalu sehat ya sayang." Tia mengelus puncak kepala Bagas.


"Makasih tante doanya." Ucap Juarti mewakili bayi mungilnya.


"Ini ada kado dari Gendhis, semoga bermanfaat ya."


"Makasih ya mbak." Ucap Juarti canggung.


"Tia, minum dulu sayang." Ucap ibunya Ciko.


"Iya bu." Tia berdiri dari duduknya. " aku kedepan dulu ya."


"Iya mbak." Jawab Juarti.


Setelah hampir satu jam Tia dan Danu di rumah Ciko, akhirnya mereka memutuskan untuk pamit.


Tia tidak bertemu dengan Ciko, karena Ciko memang sengaja menghindar tidak ingin bertemu dengan Tia.

__ADS_1


Ciko tau Tia akan datang lewat ibunya, karena Tia sudah berkirim pesan dengan ibunya.


__ADS_2