
"Fin aku mau pulang aja, nggak kuat lama-lama disini." Ucap Ciko kepada Fino.
"Mm kita nongkrong aja dulu yuk, biar kamu ada hiburan. Biar lupa sama galau nya. " Jawab Fino.
"Yaudah ayo tapi sekarang ya."
"Iya kita lewat samping sini aja yang nggak terlalu banyak tamu." Tunjuk Fino sebuah jalan untuk keluar.
Ciko dan Fino pergi dari acara pernikahan Tia dan Danu, mereka berdua pergi ke rumah pohon gardu pandang.
Ciko sangat mabuk, dia ingin melupakan segalanya tentang Tia. Tapi semakin Ciko banyak minum dia malah semakin sakit karena semakin ingat masa-masa indah bersama Tia.
"Hidup ini nggak adil buat aku. Kenapa wanita selalu membuat hati aku sakit." Ucap Ciko.
"Ciko, ini bukan sepenuhnya salah Tia. Ini kan juga salahmu. Tia udah minta kamu melamah dia, udah berbagai macam cara Tia lakukan untuk bisa bersatu sama kamu. Kamu jangan hanya menyalahkan Tia, kamu juga harus introspeksi diri juga Ciko. "
Ciko hanya diam, yang Tia kurang suka dari sifat Ciko adalah Ciko tidak pernah mau mengakui kesalahannya sendiri.
"Tapi kalau Tia nolak kalau aku suruh Tia menerima Danu kan bisa." Ucap Ciko.
"Eh tunggu, bukannya kamu mengancam Tia ya. Kalau Tia nggak menerima lamaran Danu kamu tetap akan meninggalkan dia kan." Ucap Fino.
"Itu kan cuma ngetes Tia."
"Ngetes apa? Hal seperti itu tuh bukan main-main Ciko. Sudahlah mending kamu diam gausah banyak ngomong. Kamu itu egois!" Ucap Fino ketus.
Ciko tetap tidak mau kalau dia disalahkan. Kaya seperti contoh dulu saat pacaran dengan Tia.
(Flash back)
Saat bulan ramadan Ciko ketemuan sama Tia.
"Yang minta Cium dong." Rengek Ciko.
Tia pun langsung mencium pipi Ciko, nggak tau kenapa kalau sama Ciko Tia mau ciuman mau dipegang-pegang padahal dulu sama mantan-mantannya dia nggak pernah mau disentuh.
"Eh yang aku lupa, kamu kan lagi puasa. Kamu batal loh yang kalau aku mah emang lagi nggak puasa. Nih minum aja yang daripada cuma nahan laper nahan haus tapi nggak dapat apa-apa." Ucap Tia.
"Ya enggak lah kan cuma cium aja." Ucap Ciko santai.
"Iya kalau cium aja nggak pake nafsu emang nggak batal tapi dengan catatan itu suami istri. La kita apa? Cuma pacaran cium ya bikin batal dong, apa lagi tuh punyamu berdiri, itu tandanya kamu lagi nafsu kan." Ucap Tia
Ciko masih nggak mau mengakui kalau dia itu batal puasa. Padah hal seperti itu. Ciko itu seperti lempat batu sembunyi tangan, berbuat salah tapi nggak mau mengakuinya.
(Flash back off)
Tia yang masih di atas panggung pelaminan sudah berganti gaun, dia celingak celinguk mencari keberadaan Ciko, tapi Tia nggak menemukannya.
Setelah selesai acara Tia sangat cemas takut terjadi sesuatu sama Ciko, nomor Ciko tidak aktif.
Danu yang duduk di dekat Tia, dia hanya diam, dan bingung. Mau ngomong takut Tia marah. Mau ngomong sama orang-orang yang ada disini juga mau ngomong apa.
"Kak Danu kalau ngantuk sama capek tidur dulu aja nggak papa, aku belum ngantuk." Ucap Tia.
"Aku belum ngantuk kok, mm tapi aku mau bersih-bersih dulu ya sama mau ganti baju. " Ucap Danu.
"Iya." Jawab Tia singkat.
Tia masih fokus sama handpon nya, dia masih berusaha menghubungi Ciko tapi tetap tidak bisa. Akhirnya Tia memilih untuk ganti baju.
"Kak Danu udah selesai? Mau makan dulu apa mau langsung tidur?" Tanya Tia yang melihat Danu sedang duduk diruang tamu.
"Aku kekamar aja Tia, nggak laper aku." Jawab Danu.
"Oh iya, aku mau kekamar mandi dulu ya."
Setelah selesai bersih-bersihTia langsung kekamar menyusul Danu. Setibanya di kamar Tia melihat Danu yang masih duduk melamun dan sepertinya sangat gelisah.
"Kak Danu kenapa melamun? Kok nggak tidur. " Tanya Tia
Danu bingung mau bilang ke Tia sesuatu tapi dia takut. Ga tau kenapa hari ini Tia serasa menakutkan raut wajahnya.
"Mm Tia, apa aku boleh menyentuhmu malah ini. Mm tapi kalau kamu belum siap nggak papa kok lain kali aja Tia."
Tia bingung mau jawab apa, Tia sama sekali belum siap, Tia juga pernah bilang sama diri sendiri kalau dia nggak mau hamil sama Danu kalau belum bisa cinta lagi sama Danu.
"Kak aku tidur dulu ya capek, ngantuk. " Ucap Tia kemudia naik ke ranjang dekat tembok dan langsung rebahan menghapa tembok membelakangi Danu.
__ADS_1
Mendengar jawaban Tia, Danu mengerti, Tia belum mau melakukannya sekarang. Danu pun ikut rebahan dan menutup tubuhnya dengan selimut. Danu coba memejamkan matanya tapi dia tidak bisa tertidur.
Danu gelisah seperti ada hasrat yang harus tersalurkan saat ini juga. Danu ingin mencoba membangunkan Tia, tapi dia takut Tia marah.
'ah tapi coba aja lah aku bangunin Tia, semoga dia nggak marah' batin Danu.
Danu mencium kening Tia, Tia langsung mengerjap dan seketika bangun.
"Kenapa kak Danu? Ada apa?" Tanya Tia.
"Maaf Tiaaku mau melakukannya. Kamu bersedia kan?" Tanya Danu.
Tia nggak tau, dia takut dosa kalau menolak tapi Tia juga belum siap. Akhirnya Tia diam saja, dan Danu melakukan aksinya. Walaupun Tia tidak membalas sentuhannya tapi Danu tetap semangat melakukannya.
Danu mencium Tia, ******* bibirnya hingga membuat Tia pasrah. Danu menyentuh setiap inci tubuh Tia hingga membuat Tia melayang. Tia menikmatinya, tanpa sadar Tia membalas perlakuan Danu membuat Danu semakin bersemangat. Akhirnya tiba saat penyatuan, Tia merasakan sakit hingga tidak sadar meneteskan air mata.
"Tia maaf, sakit ya?" Tanya Danu.
Tia hanya mengangguk.
"Aku akan pelan Tia, pasti cuma sebentar kok sakitnya." Ucap Danu.
Semakin lama Tia semakin menikmati dan lupa dengan sakitnya. Akhirnya mereka berdua mencapai puncak bersama-sama.
"Makasih ya Tia, kamu sudah mau melakukannya dengan aku."
Tia pun mengangguk dan tersenyum. Entah arti senyum Tia itu apa.
'semoga nggak hamil.' batin Tia.
Keesokan paginya Danu bangun pagi-pagi sekali. Dia langsung mandi, tapi dia setelah itu bingung mau ngapain, Tia masih di dalam kamar. Akhirnya dia nyuci piring dan setelah nyuci piring Danu mengambil sapu lidi dan langsung menyapu halaman Tia.
"Eh kenapa kamu malah nyapu Danu." Tanya ibu-ibu yang sedang beberes perabotan bekas acara nikahan kemarin.
"Nggak papa bu, saya bingung mau ngapain jadi ya nyapu aja." Ucap Danu dengan senyum.
"Udah kamu duduk aja, biar nanti saya terusin menyapunya."
"Nggak papa bu, sebentar lagi selesai kok."
"Masih di kamar bu, mungkin dia kecapean."
"Kecapean habis tempur ya." Ledek ibu itu
Danu hanya tersenyum malu.
**
Satu minggu setelah pernikahan Tia dengan Danu, Ciko baru meng aktifkan nomornya. Tia tau karena pesan Tia yang selama ini baru terkirim semua.
Tia langsung menelfon Ciko, tapi tidak diangkat kemudian dia langsung mengirim pesan.
"Kemana saja sih kamu sayang, aku khawatir sama kamu, aku kangen sama kamu. " Send.
"Kita mending sudahi hubungan kita aja ya Tia, aku nggak mau kita jadi tambah susah buat saling melepaskan. " Balas Ciko.
"Aku belum siap! Aku akan cari cara buat kak Danu mundur."
"Terus kita mau sampai kapan begini Tia?" Tanya Ciko.
"Aku nggak tau, tapi aku akan tetap bejuang demi kamu. Kamu mau kan berjuang sama aku?" Tanya Tia.
"Yaudah Tia, aku mau berjuang sama kamu." Balas Ciko.
"Makasih ya sayang, aku mau ketemu sayang."
"Iya, kapan mau ketemu?" Tanya Ciko.
"Mm minggu ya, tapi kalau kak Danu berangkat kerja." Jawab Tia.
"Iya sayang."
Tia masih saja menjalin hubungan dengan Ciko. sebenarnya Tia takut tapi Tia belum mau berpisah dengan Ciko.
Tia berpikir, bagai mana kalau dia hamil. Pasti Ciko ga mau lagi sama dia.
__ADS_1
'apa aku kb aja ya, tapi aku takut nanti malah susah hamil.' batin Tia.
"Heh ngelamun aja pengantin baru nanti sore kerumah kak Danu kan boyongan hehe." Tiba-tiba Meli datang.
"Aku takut tinggal dirumah kak Danu be." Ucap Tia.
"Kenapa takut, rumahnya dekat ini. Cuma beda rt doang." Ujar Meli.
"Aku ngga mau be, aku pengennya tetep tinggal disini."
"Di coba aja dulu, kan bisa pulang tiap hari. Nggak usah naik kereta sega nggak usah nyebrang laut juga kan."
"Yee bukan gitu, gimana ya. Aku belum siap aja tinggal dirumah kak Danu."
"Ya nanti sehari di sini sehari disana gitu-gitu kan bisa kalau belum siap."
"Yaudah deh aku coba dulu ya. "
Sore harinya, Tia dan Danu diantar keluarga Tia untuk kerumah Danu. Tia belum tau rencananya dia akan tinggal dimana, tapi untuk beberapa hari ke depan Tia harus dirumah Danu dan menurut adat jawa Tia tidak boleh pulang sebelum empat puluh hari pernikahan Tia dan Danu.
Saat yang mengantar Tia akan pulang, Tia tidak berhenti menangis.
"Tante uli jangan pulang dulu temenin aku disini dulu ya." Ucap Tia dengan berlinangan air mata.
"Tia jangan nangis, kan rumah kamu dekat. Nggak papa ya kamu disini aman kok." Ucap uli.
"Kami pulang dulu ya Tia, yang seneng di sini, jangan nangis terus. "
Akhirnya tinggal Tia yang mematung di depan pintu sambil memandangi keluarga Tia sampai tidak terlihat lagi.
"Tia, kamu istirahat dulu aja dikamar, atau mau makan dulu nggak?" Tanya Danu.
"Enggak, aku mau di kamar aja." Ucap Tia.
"Mm nanti kalau lapar bilang ya. "
"Iya kak, makasih."
Akhirnya Tia dikamar sendiri, dia merenung. Tia nggak tau nanti kedepannya Tia harus bagaimana. Tia takut salah langkah. Tia terus kepikiran Ciko, tapi dia juga sebenarnya takut dosa.
__ADS_1