Persahabatan Atau Cinta?

Persahabatan Atau Cinta?
65


__ADS_3

(Pov. Ciko)


Aku tidak menyangka nasibku akan seperti ini, mungkin ini karena kesalahanku yang telah menyia-nyiakan ketulusan Tia. Tia rela menyakiti suaminya demi aku, tapi aku malah menganggap remeh semua itu. Mungkin karena keegoisanku yang tidak mau mengerti keadaan Tia.


Aku sejujurnya masih sangat mencintai Tia. Tia rela mengorbankan semuanya demi aku. Tapi karena suatu kesalahan aku kehilangan Tia dan mendapatkan istri yang sekarang ternyata sedang mengandung anak orang lain.


Aku nggak tau harus berbuat apa sekarang ini. Rasanya harga diriku diinjak-injak sama Juarti. Rasanya ingin sekali mengembalikan Juarti kepada orang tuanya, tapi kalau aku mengembalikan Juarti apa kata orang, pasti mereka akan menertawakan aku. Terlebih Tia akan senang dengan penderitaan ku ini.


Aku bingung ingin bercerita tentang masalahku, tapi kepada siapa. Rasanya aku malu, benar-benar malu. Rasanya aku malas keluar rumah, dan ingin sekali pergi ke tempat yang jauh.


Tok...


Tok...


Tok...


"Mas, ada tamu." Ucap Juarti sedikit berteriak de luar kamar ku.


"Siapa." Ucapku ketus.


"Fino." Ucap Juarti.


"Ya." Ucapku.


Aku pun keluar kamar untuk menemui Fino. Entah kenapa Fino datang ke rumahku, tidak biasanya dia datang.


"Hey fin. Tumben main ke sini." Tanyaku dengan suara datar.


"Yee kalau nggak boleh main aku pulang saja lah. Huh." Ucap Fino.


"Hehe bercanda kali." Ucapku tertawa tapi datar.


"Kamu ada masalah apa?" Tanya Fino.


"Masalah apa? Nggak ada." Ucapku.


"Jangan bohong, dari tatapan kamu udah kelihatan. Kamu bicara denganku tertawa, tapi tatapan kamu kosong. " Ucap Fino.


"Mm aku.." ucapku tidak bisa meneruskan kata-kataku.


"Ciko, denger ya. Aku ini teman kamu, kalau ada masalah cerita aja siapa tau aku bisa bantu. Kalaupun aku tidak bisa membantu masalah mu mungkin kamu bisa sedikit melepaskan unek-unekmu." Ucap Fino.


"Sebenarnya.." aku belum sempat meneruskan kata-kataku lagi karena Juarti datang membawa minum untukku dan Fino.


"Silakan di minum kopinya mas." Ucap Juarti ramah kepada Fino.


Membuat aku tambah muak melihat mukanya.

__ADS_1


"Makasih ya, kamu udah hamil ya. Memang top cer temanku satu ini. Baru beberapa hari udah langsung jadi aja." Ucap Fino meledekku dan tertawa, dia belum tau keadaanku sekarang.


"Sama-sama mas. Iya saya lagi mengandung." Ucap Juarti.


"Kamu kebelakang dulu sana, aku mau ngobrol sama Fino." Ucapku muak melihat muka Juarti.


"I..iya mas." Ucap Juarti takut.


"Kamu kok kaya gitu sih sama istri kamu, istri kamu sampai ketakutan begituoh." Ucap Fino.


"Sebenarnya ada yang ingin aku ceritakan, tapi kayanya ga disini deh." Ucapku.


"Mm mau cerita apa? Ayo kita ke hutan aja sama beli aer surga." Ucap Fino.


"Iya ayo, aku juga lagi suntuk di rumah, nggak betah banget aku lama-lama di rumah." Ucapku.


"Eh tunggu, aku habisin kopinya dulu. Kasian istri kamu kalau minumannya nggak dihabisin. " Ucap Fino.


"Nanti kalau kamu udah denger cerita aku, nggak bakal kasihan sama istriku lagi kamu." Ucapku.


"Memangnya kenapa." Tanya Fino.


"Alah udah ayo kita berangkat sekarang aja. Kelamaan kalau minum kopi dulu." Ucapku.


"Iya iya ayo kita berangkat."


Setelah sampai di hutan aku menceritakan masalahku dan Juarti kepada Fino. Aku cerita semua yang aku alami.


"Kamu mau cerita apa, bengong aja dari tadi." Tanya Fino.


"Juarti hamil sudah satu bulan lebih." Ucapku.


"Apa? Jadi kamu melakukannya sebelum sah dong. Wah ternyata temanku ini." Ucap Fino.


"Dengerin dulu baru berkomentar." Ucapku kesal.


"Hehe iya iya." Ucap Fino dengan meringis memperlihatkan giginya.


"Dia itu bukan hamil anak aku, tapi anak orang lain." Ucapku menunduk. Aku malu


"Masak sih, kamu jangan bercanda loh. Kasian istrimu tau." Ucap Fino.


"Kamu ini mau dengerin curhatan aku nggak sih." Ucapku kesal.


"Iya iya, lanjut."


"Aku juga nggak tau dia hamil sama siapa, yang jelas bukan anak aku. Dia juga sudah mengakuinya kok. Rasanya aku ingin mengembalikan dia kerumah orang tuanya, tapi aku malu kalau semua orang tau kalau aku menikahi wanita yang sedang hamil anak orang lain."

__ADS_1


"Terus kamu mau mempertahankan pernikahan kamu, dan mau mengakui kalau anak yang di kandung istrimu itu anakmu?" Tanya Fino serius.


"Aku belum tau, aku bingung. Kalau untuk mengakui anak itu aku nggak sudi." Ucapku.


"Kamu harus tegas dengan keputusan kamu ko, lihat dulu kamu tidak tegas dengan keputusan kamu untuk menikahi Tia, sekarang kamu menyesal kan? Padahal Tia itu sangat mencintai kamu. Tia rela berdosa kepada suaminya, rela menyakiti hati suaminya, tapi kamu seolah menganggap remeh semuanya." Ucap Fino panjang lebar.


"Iya Fin, aku sangat menyesal dengan semuanya. Dan saat ini aku masih sangat mencintai Tia." Ucapku.


"Untuk apa masih mencintai istri orang lain, tidak ada gunanya, Tia sudah bahagia dengan anak dan suaminya. Buang jauh-jauh cintamu itu. Sekarang fokus sam kehidupan kamu saja." Ucap Fino.


"Iya, aku juga tau. Tapi sangat sulit melupakan Tia. Jika Tia sudah bahagia aku juga ikut senang." Ucapku.


"Sekarang tinggal bagaimana kamu akan melangkah, jangan sampai gegabah mengambil keputusan, apa lagi kalau kamu lagi marah jangan sekalipun kamu memutuskan sesuatu." Ucap Fino.


"Sepertinya aku akan tetap mempertahankan pernikahan aku, setidaknya sampai bayi itu lahir."


"Kamu yakin?" Tanya Fino.


"Iya aku yakin. Karena aku juga sudah salah dulu hanya menjadikan Juarti sebagai pelampiasanku aja, tapi ternyata dia juga demikian denganku."


"Baguslah kalau begitu, tapi sikapmu juga nggak boleh menyakiti Juarti. Seperti tadi, kamu ketus sekali dengan dia."ucap Fino.


"Aku belum bisa bersikap manis dengan Juarti, aku sangat jijik dengan dia. Bisa-bisanya dia melakukan hubungan dengan orang lain sedangkan aku dan dia sudah bertunangan." Ucapku menggebu.


"Iya aku juga menyayangkan kelakuannya. Tapi sudahlah, ini semua sudah terjadi. Sekarang tinggal bagaimana kita menyikapinya." Ucap Fino.


"Makasih ya Fin, kamu sudah mau mendengarkan ceritaku. Aku nggak tau lagi harus berbagi dengan siapa."


"Tenang kalau ada apa-apa cerita saja sama aku. Kalaupun aku tidak bisa membantumu setidaknya sedikit mengurangi unek-unekmu kan." Ucap Fino dengan memegang pundak ku.


"Iya Fin. Sekarang Tia tinggal dimana fin. Sebenarnya aku kangen sekali dengan dia."


"Sekarang dia tinggal dirumah ibunya. Main aja kerumahnya silaturahmi dengan Danu dan Tia. Aku yakin mereka akan menerimamu dengan baik kok." Ucap Fino menyarankan.


"Aku malu Fin, terahir aku bertemu kak Danu di rumah mas Totok, aku sangat ketus sama kak Danu."


"Mulai sekarang kamu harus bisa berdamai dengan keadaan kamu. Tetap semangat menjalani semua ini ya. Maaf aku nggak bis bantu kamu apa-apa. Tapi aku doakan masalah kamu cepat selesai ya." Ucap Fino.


"Iya makasih ya, sarang dan masukan kamu juga sangat membantuku kok Fin." Ucapku tersenyum.


"Iya, sekarang kamu pulang, bicarakan masalah ini baik-baik dengan istri kamu."


"Rasanya belum mau pulang sekarang aku. Masih pengen disini aja."


"Ya sudah aku temani kamu."


"Makasih ya fin hehe "

__ADS_1


__ADS_2