Persahabatan Atau Cinta?

Persahabatan Atau Cinta?
57


__ADS_3

Suatu hubungan tidak ada yang sempurna, bahagia dan sedih selalu datang bersamaan.


Tia yang sedang bahagia memiliki suami yang pengertian yang sayang saya dia dan mempunyai anak yang cantik. Di sisi lain dia sedih karena mempunyai mertua yang kolot, dan egois.


Saat Tia akan menyelenggarakan acara syukuran kelahiran anak pertamanya secara sederhana, tapi mertua Tia bilang acaranya harus yang mewah.


"Kak Danu kalau mau buat acara yang sederhana saja ya, kalau mau ngundang orang ya undang yang dekat-dekat sini saja kak nggak usah terlalu memaksakan." Ucap Tia.


"Iya sayang, aku juga berpikir seperti itu. Nanti kalau ada rejeki kita buat akikah Gendhis acaranya sedikit mewah nggak papa, kalau sekarang seadanya aja dulu ya sayang." Jawab Danu.


"Iya kak, semoga kak Danu selalu sehat dilancarkan rejekinya. Aamiin."


Mertua Tia yang mendengar obrolan Danu dan juga Tia tidak menimpali apapun dan langsung melengos pergi.


"Kak, ibu kenapa sikapnya kok seperti itu. " Tanya Tia.


"Nggak papa sayang, jangan dipikirkan ya. Nanti biar aku bicara sama ibu."


"Iya kak." Jawab Tia singkat.


Danu pun menghampiri ibunya.


"Ibu kenapa sikap ibu seperti itu?" Tanya Danu.


"Seperti itu bagaimana?" Tanya ibu Danu.


"Seperti orang marah." Ucap Danu.


"Ibu itu pengennya bikin acara yang mewah, kenapa istri kamu itu malah mau yang sederhana. Memangnya dia tidak senang punya anak jadi nggak mau bikin acara yang mewah." Ucap Ibu Danu.


"Bu, bukan tidak senang punya anak. Tapi Tia itu mengerti keadaanku. Aku sudah beberapa bulan tidak bekerja, aku tidak punya cukup uang untuk buat acara mewah bu, lagian ini kan cuma acara syukuran. Insya Allah nanti kalau ada rejeki kita akikah Gendhis bikin acara yang sedikit mewah bu."


"Alah sudahlah, kalian itu sama saja pelit. Padahal acara buat anak sendiri kok pelit seperti itu."


Ibunya Danu sama sekali nggak mau mengerti keadaan Danu. Dia egois dan keinginannya harus terpenuhi.


"Ibu ini egois sekali, terserah ibu sajalah kalau nggak mau mengerti keadaan aku." Ucap Danu seraya pergi meninggalkan ibunya.


Danu pun pergi meninggalkan ibunya seorang diri, ibu Danu tetap saja egois dia langsung pergi ke pasar berbelanja untuk acara yang mewah, dia juga mengundang banyak orang.


"Bu kok belanja banyak sekali untuk apa?" Tanya seseorang di pasar.


"Untuk syukuran kelahiran cucu saya bu." Jawab ibu Danu.


"Mm kok belanja sendiri bu?" Tanya orang itu lagi.


"Iya, besan saya itu nggak mudeng soal kaya gini juga ga mau keluar duit. Menantu saya juga pelit sekali bilang ke anak saya kalau nggak mau acara yang mewah boros katanya." Ucap ibu Danu.


Ibu Danu suka melebih-lebihkan omongan dan suka mengarang cerita yang nggak bener .

__ADS_1


"Kok begitu sih bu, yang sabar ya bu."


"Alah kalau saya mah kurang sabar apa bu , udah sering begitu saya juga cuma diem aja kok."


"Iya ibu hebat."


Sampai di rumah ibu Danu menaruh semua belanjaannya di dapur dan langsung masuk ke kamar tanpa menyapa orang-orang yang ada di rumahnya. Padahal dirumahnya sedang ada banyak orang, tapi ia seperti tidak melihat kalau ada orang.


"Kenapa ibu kamu nu?" Tanya ibu Tia.


"Nggak tau bu, biar nanti saya bicara." Jawab Danu.


"Turuti saja apa mau ibu kamu nu, kalau soal biaya jangan khawatir. Kebetulan ibu ada sedikit rejeki nanti bisa kamu pakai nu."


"Tapi bu, saya cuma nggak mau merepotkan."


"Tia itu anak saya, Gendhis cucu saya. Jadi saya juga berhak membantu kan."


"Terimakasih bu. "


"Iya, ya sudah. Besok biar ibu belanja dan kita bikin ajarannya lusa saja ya nu."


"Iya bu, saya ngikut saja."


Kemudian ibu Tia masuk ke kamar Tia.


"Tia acara syukuran lusa ya, semoga nggak ada halangan apapun. "


"Acaranya ngikut mertua kamu saja mau bagaimana. Kamu nggak usah mikirin biaya, ibu lagi ada rejeki Tia. "


"Terimakasih bu." Jawab Tia.


Keluarga Tia dan Danu semua berkumpul di rumah Danu untuk membantu memasak untuk acara syukuran anak Tia dan Danu.


"Katanya mau sederhana aja acaranya, kok masaknya banyak sekali." Ucap tante Danu.


"Iya ini acaranya berubah sesuai keinginan ibunya Danu." Ucap tante Uli.


"Oh begitu, biasa lah dari dulu ibunya Danu kan gengsi kalau bikin acara sederhana." Ucap tantenya Danu lagi.


"Apa iya? Ini juga berdebat dulu tadi sama Danu. " Ucap tante Uli.


"Iya jangan kaget ya, dia itu memang egois semau sendiri."


***


"Sayang sejak menikah kok kamu belum mau menyentuh aku sama sekali sih." Ucap Juarti.


"Aku itu capek, acaranya juga baru selesai tadi. Di rumah kamu aku nggak enak aja kalau ada yang dengar atau ada yang ngintip." Ucap Ciko mencari-cari alasan.

__ADS_1


"Itu alasan kamu aja kan, bilang aja sebenarnya kamu nggak suka sama aku kan? Kamu masih cinta sama mantan kamu itu kan? Apa karena aku nggak lebih cantik dari dia?" Ucap Juarti.


Ciko sedikit merasa bersalah, hanya sedikit ya.


"Ngomong apa sih kamu, aku nikahin kamu ya karena suka sama kamu. Kalau nggak suka ngapain aku nikahin kamu. Ya sudah sekarang kita bersih-bersih badan dulu. Lengket banget badan aku ini."


"Ya udah, mau aku siapin air anget ?" Tanya Juarti.


"Nggak usah, aku mandi air dingin aja." Jawab Ciko.


Setelah selesai bersih-bersih akhirnya Ciko melakukan kewajibannya untuk memberi nafkah batin kepada Juarti. Juarti memang sudah menantikan ini.


"Sana kamu pipis dulu di kamar mandi." Ucap Ciko setelah menuntaskan hasratnya.


"Kenapa, aku nggak kerasa mau pipis." Jawab Juarti.


"Aku belum mau punya anak, masih belum siap." Jawab Ciko.


"Kenapa begitu, aku ingin segera punya anak dari kamu."


"Kita ini baru beberapa hari menikah, masih jauh pikiran aku untuk punya anak."


"Terserah, aku nggak mau pipis."


"Ya udah terserah kamu. Kalau hamil jangan ngrepotin aku ya." Ucap Ciko.


"Tega sekali kamu bicara seperti itu, kamu ini suamiku. Itu juga termasuk tanggung jawab kami kan."


"Terserah, aku mau keluar dulu. Kamu tidur aja dulu nggak usah nungguin aku."


"Kamu mau kemana?" Tanya Juarti.


"Nggak usah banyak tanya." Jawab Ciko.


Ciko keluar rumah, dia pergi ke rumah temannya.


"Eh ko kok kesini, punya istri baru bukannya di tungguin malah di tinggal ke sini. " Ucap teman Ciko.


"Bosen aku di rumah, istri aku itu cerewet banget banyak tanya, ngomel mulu." Jawab Ciko.


"Heh, kamu ini baru beberapa hari nikah loh, udah kaya gini aja. Giman nanti kedepannya kamu."


"Nggak tau ah, jangan bahas itu. Aku kesini mau nenangin pikiran malah kamu bahas itu. "


"Kamu belum move on ya sama Tia, dia itu udah lupain kamu, udah bahagia sama suaminya. Jangan malu-maluin diri kamu sendiri dengan masih mikirin dia tau." Ucap temannya Danu.


"Aku menyesal, kenapa dulu waktu Tia nyuruh aku melamar dia, aku nggak mau."


"Udah lah Ciko, ini semua udah digariskan. Nyesel boleh sedih boleh, tapi jangan berlarut. Kasian istri kamu, sekarang kamu fokus sama keluarga kecil kamu aja."

__ADS_1


"Iya kamu bener, tapi gimanapun aku belum bisa lupain Tia."


__ADS_2