
Aku hanya diam, hati kecil aku juga bilang kalau sepertinya kak Danu memang sudah berubah. Tapi aku sudah lelah sama dia.
"Ya bagus lah kak kalau dia udah berubah, semoga cepet bisa dapat pengganti kak Handa yang tulus mencintai kak Danu." Jawabku.
"Kamu beneran udah ga ada rasa sama sekali sama Danu, Tia?" Kata kak Damri lagi.
"Mm e-enggak kak." Jawabku ragu.
"Kok kaya ragu begitu Tia. Jujur sama diri kamu Tia." Kata kak Damri.
"Kak, aku cuma ingin hidup tenang. Aku ga mau merasakan sakit lagi. Kak Damri tau kan, udah berapa kali dia pergi, dan berapa kali dia kembali. Kalian semua yang ada disini saksinya. Saksi kisahku dengan kak Danu." Tanpa sadar aku meneteskan air mata.
"Semoga setelah ini kamu ga merasakan sakit lagi Tia, semoga kamu bisa bahagia dengan pilihanmu, dan maaf aku hanya bisa memberimu sakit. Makasih ya, aku pergi." Sahut kak Danu. Lalu pergi begitu saja.
Ternyata dari tadi kak Danu ada di belakangku.
Perasaanku campur aduk, kenapa aku seperti ga rela kalau dia pergi. Ah sudah lah ini sudah jadi pilihanku. Aku harus iklas jika dia benar-benar pergi.
"Udah Tia jangan nangis, saran aku. Kamu jangan bohongi diri kamu sendiri ya Tia." Ucap kak Damri.
"Iya kak, tapi aku emang ga bisa sama dia. Rasa sakit hati aku ke kak Danu lebih besar dari rasa sayang aku kak."
"Yaudah kamu yang semangat ya, aku ngerti perasaan kamu kok."
"Iya makasih kak."
#
Sudah beberapa hari setelah kak Danu bilang mau pergi. Rasanya sepi, dia tidak pernah kirim pesan lagi ke aku. Biasanya ga aku balas pun dia tetap kirim pesan ke aku.
Saat aku melamun tiba-tiba ada notifikasi pesan dari Jio.
~Hai Tia, lagi apa? Besok jadi jalan kan?~
~iya jadi.~ balasku.
~mm kamu udah ada jawaban buat aku Tia? Aku ga sabar denger jawaban dari kamu.~
Aku belum menentukan jawaban apa yang akan aku kasih ke Jio. Aku bingung, apa aku terima aja ya, biar bisa mengalihkan perasaanku ke kak Danu.
~udah kok.~ balasku asal karena aku sebenarnya belum ada jawaban.
~apa jawabannya Tia?~
~yee kan besok perjanjiannya ngasih jawaban. Tunggu aja besok.~
~aku ga sabar Tia, aku penasaran. Semoga jawaban kamu ga mengecewakan ya Tia.~
~iya, semoga.~
~besok aku jemput ke rumahmu jam 8 pagi ya.~
~kok pagi banget emangnya mau kemana?~
~lumayan jauh soalnya, ya ada deh rahasia.~
~mm kalau jam 10 gimana? Jangan pagi banget.~
~yaudah deh, jam 10 ya.~
~oke.~
#
Keesokan harinya aku udah siap di depan teras nungguin Jio.
"Eh udah rapi aja, mau kemana be?" Tanya Meli.
Rumah Meli berhadapan dengan rumah aku.
"Mau pergi sama Jio." Jawabku datar.
"Mau pergi kok lemes gitu, yang semangat dong." Ucap Meli.
"Aku bingung mau terima Jio apa enggak be."
"Kenapa bingung, katanya suka sama dia."
"Iya suka sih, tapi kalau untuk jadi pacar aku masih ragu. Kamu tau kan sebenarnya hati aku masih untuk siapa?" Jawabku ke Meli.
"Iya aku tau, dalam hati kecil kamu masih mencintai kak Danu kan. Tapi apa salahnya dicoba. Barang kali kamu pacaran sama Jio kamu bisa move on. Mm menurutku terima dulu aja be."
"Liat aja nanti deh kalau ketemu Jio." Ucapku sedikit malas.
Tin..
Tin..
Terdengar klakson motor.
"Eh itu Jio datang, udah mukanya jangan sedih gitu. Semangat! Good luck ya be."
"Iya iya, aku pergi dulu ya. Doain semoga keputusanku nanti, keputusan yang terbaik ya."
"Sip!" Meli mengacungkan jempol.
"Eh Mel, mau ikut jalan ga?" Tanya Jio ke Meli.
"Enggak ah, nanti jadi obat nyamuk kalau aku ikut kalian. Have fun ya." Jawab Meli.
__ADS_1
"Hehe oke lah."
"Berangkat dulu ya be, daahh." Aku melambaikan tangan ke Meli.
"Daah." Meli melambaikan tangan dengan tersenyum lebar.
Diperjalanan aku diam, canggung mau ngomong apa.
"Heh Tia kok diam aja, ngga kayak biasanya, cerewet." Kata Jio.
"Eh mm enggak kok, lagi menikmati jalan aja."
"Oh, kamu tau ini jalan kemana ngga?" Tanya Jio.
"Ga tau, kayaknya baru sekali aku lewat sini. Emangnya mau kemana ini?"
"Nanti juga tau kamu."
Perjalanan ini serasa lama banget, entah perasaanku aja apa emang aku yang bosan. Sebenarnya pemandangannya bagus, tapi ga tau kenapa aku ga suka sama perjalanan ini.
Ya Allah semoga keputusan ku ini sudah benar. Aku ga mau nyakitin Jio, dia udah baik sama aku.
"Jangan jauh-jauh ya, takut kesorean pulangnya." Kataku
"Emang kenapa kalau kesorean?"
"Mm mau ada acara aku."
"Oya? Acara apa? Sama siapa?"
Belum jadi pacar aja udah kepo. Bikin males aja.
"Em sama Meli, ngajakin makan bareng." Ujarku berbohong, sebenarnya aku ga ada acara apa-apa cuma pengen cepet-cepet pulang aja.
"Oh iya, ga sampe sore kok. Nanti aku ikut ya makan bareng."
Ih apaan sih dia, ini kan cuma alibi aku aja e malah dia mau ikut-ikut segala.
"Mm aku sih boleh aja, tapi ga enak sama Meli. Kan dia yang ngajakin aku, nanti aku bilang dulu sama dia ya."
" Oh oke."
"Masih lama to nyampenya?" Tanyaku.
"Bentar lagi kok, paling lima menitan, kenapa? Kok kaya gelisah ngga tenang gitu."
"Eh enggak kok, cuma kebelet mau ke toilet."
"Oh sabar ya bentar lagi."
"Iya."
Beberapa menit kemudian kami sampai di tempat tujuan. Jio mengajak aku ke air terjun, baru pertama kali aku ke tempat ini. Tempatnya bagus, sejuk, yang bikin nyaman tempat ini belum banyak pengunjung. Tapi ga tau kenapa aku tetap saja gelisah.
"Iya ayuk. Eh tapi kok ke arah situ, pintu masuknya kan sebelah sana tuh ada petunjuknya." Kataku sambil menunjuk anak panah ke ara pintu masuk.
"La katanya mau ke toilet, itu toiletnya." Tunjuk Jio sebuah toilet.
Oh iya kan tadi aku bilang mau ke toilet, padahal tadi cuma alasanku aja. Kok bisa lupa sih aku.
"Oh iya, udah ngga kerasa kok. Nanti aja ke toiletnya. Kita masuk dulu aja." Jawabku.
"Beneran?" Tanya Jio.
"Iya bener."
"Yaudah kita masuk ya, aku beli tiket masuknya dulu."
"Iya."
Dari pintu masuk ke air terjun berada masih harus berjalan kaki melalui jalan setapak sekitar 300 meter,jalannya licin banyak batu-batu kecil.
Disepanjang perjalanan menuju air terjun Jio selalu memegangi tangan aku, aku berusaha melepas tapi ga boleh sama Jio.
"Aku bisa jalan sendiri kok." Kataku sambil berusaha melepas tanganku.
"Jangan, nanti kamu jatuh. Biar aku pegangin ya. Jalannya susah." Jawab Jio. Aku pasrah.
"Auw." Kaki aku keseleo ga tau ada lubang karena tertutup rumput.
"Tuh kan untung masih aku pegangin jadi ga jatuh, sini aku liat kakinya. Mana yang sakit?" Tanya Jio.
"Yang ini." Aku menunjuk pergelangan kaki aku.
" Mm masih bisa jalan ngga? Aku gendong aja ya." Kata Jio.
"Ngga tau, aku coba dulu ya." Aku coba untuk jalan sakit, tapi aku ga mau kalau di gendong Jio.
"Gimana? Sakit?" Tanya Jio.
"Mm sakit dikit kok, tapi masih bisa jalan pelan-pelan." Kataku
"Yaudah pegangan aku ya, ini lima puluh meter lagi sampai. Itu udah kedengaran suara air terjunnya."
"Iya."
Sampai di air terjun, aku aku merasakan hawa adem tenang, aku suka tempat ini, kalau aja kaki aku ga sakit. Aku pengen nyebur ke air terjun. Jio mengajakku duduk di bangku dekat air terjun.
"Tia ini ada cemilan sama minuman. Aku beli tadi pas mau jemput kamu." Ujar Jio.
__ADS_1
"Makasih ya, tau aja kalau aku haus hehe."
"Sama-sama, kamu suka ngga tempat ini?" Tanya Jio.
"Iya aku suka, baru pertama aku kesini." Jawabku.
"Jadi gimana Tia jawaban kamu? Kamu mau kan jadi pacar aku?"
"Mm i-iya aku mau jadi pacar kamu." Jawabku.
"Tapi kok kaya ragu gitu jawabnya."
"Eh engga, ngga ragu kok. Aku mau jadi pacar kamu."
"Yeeee Allhamdulillah." Jio melompat girang.
Aku tersenyum hambar, maafkan aku sudah membohongi perasaanku Jio. Semoga ku bisa mencintai kamu.
"Makasih ya Tia udah mau terima aku." Ucapnya sambil memegang tangan aku.
"Iya sama-sama." Jawabku dengan senyuman.
"Kamu mau main air ga Tia?" Tanya Jio.
"Engga kaki aku masih sakit. Aku mau nikmatin suasananya aja." Ucapku
"Oh iya, kamu mau makan ngga, itu ada warung makan sederhana. Kita kesana yuuk." Ajak Jio.
"Eh engga, aku belum lapar kok. Aku mau disini aja."
"Oh yaudah."
Setelah satu jam disini aku memutuskan untuk mengajak Jio pulang. Gatau kenapa dari tadi berangkat pas dijalan rasanya mau pulang terus.
"Jio, kita pulang yuk." Ajak ku.
"Mm kok pulang sih sayang." Dengan raut wajah kecewa.
"Terus mau ngapain lagi disini, udah satu jam lebih lo kita disini."
"Mm pindah tempat aja ya, jangan pulang. Aku masih pengen sama kamu."
"Pindah kemana?" Tanyaku.
"Kemana ya.. kamu ada ide ngga?"
"Yee ditanya malah balik nanya." Ucapku sedikit kesal.
Dimana-mana ora baru jadian itu seneng, kalau aku malah bete.
"Hehe yaudah kita jalan aja dulu yuk."
"Iya." Jawabku singkat.
"Kaki kamu masih sakit?"
"Enggak, udah mendingan."
Aku paksain jalan cepet walaupun sebenarnya kaki aku masih sakit. Aku udah ga sabar pengen pulang.
Sampai parkiran Meli telepon aku, sebenarnya tadi aku udah chat Meli.
~be bantuin aku, nanti kamu telepon aku ya bilang suruh aku cepet pulang.~
~kenapa?~
~nanti aku ceritain, lima menit lagi ya kamu telepon aku.~
~oke!~
"Jalan kamu cepet banget sayang, aku kalah cepet sama kamu."
"Ya emang begitu jalan aku."
Tring..
Tring..
"Meli telepon, aku angkat dulu ya."
"Iya."
Aku angkat telepon sengaja aku loudspeaker biar Jio dengar.
$ hallo Mel. $
$ kamu cepet pulang ya, penting! $
$ ada apa Mel? $
$ pokoknya cepet pulang aja. $
Meli mematikan telepon begitu aja. Pinter banget aktingnya dia.
"Mm aku kok jadi ga tenang ya, kita langung pulang gapapa kan?" Kataku ke Jio.
"Yaah padahal masih pengen jalan sama kamu loh aku."
"Lain kali kan bisa, ini Meli kayanya penting banget, ga biasanya kaya gini."
__ADS_1
"Yaudah kita pulang aja." Jawab Jio sedikit kesal.
Dalam hati aku tertawa girang, akhirnya pulang juga aku.