
Hari ini Tia sedang berada di rumah neneknya. Di rumah neneknya lagi ada acara lamaran tantenya. Tante Uli, dia adalah janda anak satu, dan sekarang dia memutuskan untuk menikah lagi. Semoga suaminya bisa membawa kebaikan dalam keluarga kecil mereka aamiin.
Di rumah neneknya ada banyak orang, semua keluarga ngumpul. Di situ juga ada ibunya Danu.
"Kalau kita nanti dulu ya Tia bikin acaranya." Tiba-tiba ibunya Danu berkata seperti itu kepada Tia.
Tia bingung acara apa yang dimaksud ibunya Danu. Tia saling tatap dengan ibunya.
"Iya." Tia cuma jawab iya, karena menghargai lawan bicaranya.
Saat Tia lagi dibelakang menyiapkan jamuan untuk tamu dari pihak calon suami tante Uli.
"Memangnya acara apa yang dimaksud sama ibunya Danu tadi Tia?" Tanya tante Uli.
"Ga tau, aku juga bingung. Asal jawab aja aku tadi." Jawab Tia.
"Mungkin acara lamaran kaya aku gini kali Tia." Ucap Uli.
"Kan aku ga ada hubungan sama Danu tan, biarin aja lah gausah diurusi."
Keesokan harinya adalah hari libur, Tia akan pergi bersama Meli dan Tini. Sebelum pergi Tia menemui Ciko di rumah Ferdi.
"Sayang, aku mau pergi sama Meli dan Tini ya. Kamu mau ikut ngga?" Tanya Tia.
"Enggak, nanti kalau pulang nyusul aku aja. Aku mau ke bukit Delima, motor bisa naik sampai atas kok. Jalannya juga bagus sampai atas." Ucap Ciko.
"Iya, nanti aku ajak Tini sama Meli kalau mau." Jawab Tia.
"Memangnya kalian bertiga mau kemana?" Tanya Ciko.
"Ini mau ke kota, mau beli kado buat tante Uli." Jawab Tia.
"Kado buat apa? Tante Uli ulang tahun?" Tanya Ciko.
"Engga, tante Uli mau nikah."
"Memangnya kapan mau nikahnya yang?" Tanya Ciko.
"Satu bulan lagi pas tahun baru, tapi dua minggu lagi acara tunangan dulu."
"Masih satu bulan kok udah mau beli kado."
"Iya mumpung sempet kok, kamu kapan lamar aku?" Tanya Tia.
"Nanti ya kalau aku udah siap sayang."
"Terus kapan siapnya sih." Ucap Tia dengan bibir cemberut.
"Iya nanti sayang , aku belum tau. Jangan cemberut gitu dong."
"Aku itu butuh kepastian, aku takut kak Danu semakin ngejar aku." Tia sangat jengkel sama Ciko.
Saat sudah sampai di kota Tia, Meli, dan Tini cari makan terlebih dahulu sebelum keliling mencari kado.
"Kita makan disini aja yuk, disini enak bakso telurnya." Ujar Tia dengan menunjuk tenda penjual bakso.
"Iya ayo, aku juga udah laper, tadi belum sempat makan dirumah." Kata Tini langsung masuk tenda.
Sambil menunggu pesanan mereka bertiga asik ngobrol.
"Gimana kamu sama Ciko be?" Tanya Meli.
"Iya gimana, kak Danu udah tau belum be?" Tanya Tini juga.
"Mm ya gini aku minta di lamar dia belum mau, aku mau bilang kak Danu juga nggak boleh sama dia, aku takut kalau kak Danu terus ngejar aku.
Tadi malam aja nih ya waktu tante Uli di lamar, disitu kan ada ibunya kak Danu, masa dia bilang gini 'kalau kita nanti dulu ya Tia bikin acaranya' dia bilang gitu. Aku kan jadi tambah takut."
"Masa? Mungkin ibunya kak Danu taunya kamu ada hubungan sama kak Danu, jadi dia bilang gitu. " Kata Tini.
"Iya munkin gitu, terus dia mau melamar kamu gutu Tia." Imbuh Meli.
"Tuh kan kalian jangan nakut-nakutin aku dong. Ciko juga bikin sebel, ngga ngasih kepastian, mau ngasih tau kak Danu juga ngga boleh. Alasannya ada aja, bilang ngga enak lah, takut dituduh ngerebuat aku dari kak Danu lah, macem-macem lah pokoknya alasannya. " Jelas Tia panjang lebar.
Pesanan mereka bertiga akhirnya datang.
"Permisi ini pesanannya." Ucap pelayan dengan ramah.
"Terimakasih mbak" ucap Tia.
"Terus kalau beberan kak Danu melamar kamu gimana Tia?" Tanya Tini.
"Ya aku tolak lah aku kan cintanya sama Ciko. "
"La kalau Ciko ga serius sama kamu gimana? Kan mendingan yang serius Tia. Kamu juga kan pernah cinta sama kak Danu, pasti ngga akan susah dong buat cinta lagi sama dia."
"Ga tau lan aku bingung, yaudah kita makan dulu yuk." Ucap Tia
,
Setelah selesai makan, mereka bertiga berkeliling dari toko ke toko lain mencari kado utuk Uli yang cocok. Mereka bertiga memang dekat dengan Uli dan Kala juga tapi hari ini Kala tidak bisa ikut nyari kado.
Setelah lelah berkeliling akhirnya mereka dapat kado yang cocok.
"Udah ah aku mau beli ini aja buat tante uli, aku udah capek kelilingnya." Ucap Tia sambil menunjuk sebuah mukena yang sangat bagus.
"Yaudah kamu itu aja, aku mau ini aja" ujar Tini menunjuk seprei bermotif estetik.
"Kamu udah nemu apa Mel?" Tanya Tia.
"Belum aku bingung. " Ucap Meli.
"Ini aja kamu. " Ucap Tini menunjuk selimut.
"Iya itu bagus yang dipilih Tini. " Ucap Tia.
"Yaudah kita bayar yuk." Ucap Meli.
"Iya ayo."
"Eh nanti ikut aku yok ke buki. Delima, disana ada anak-anak sama ada Ciko juga hehe. " Ucap Tia.
"Aku ga ikut ya, iyan mau kerumah katanya. " Ucap Tini.
"Oh iya gapapa. "
"Sama aku aja." Ucap Meli.
"Iya kita mau langsung apa pulang dulu?" Tanya Tia ke Meli.
"Terserah, tapi langsung aja gapapa deng, daripada bolak balik." Kata Meli.
Setelah selesai membayar, Tini langsung pulang naik motor sendiri. Tia dan Meli langsung ke bukit delima berboncengan.
Setelah sampai bukit, Tia dan Meli langsung gabung sama teman-temannya tapi kok Ciko ga ada.
"Ciko kemana?" Tanyaku.
"Ciko lagi beli amunisi." Ucap Totok.
"Oh, emang itu kurang?" Tanya Meli menunjuk botol minuman yang ada ditengah , mereka duduk melingkar.
"Kurang dong hehe." Ucap Totok.
"Dasar orang-orang gila memang." Ucap Meli sambil tertawa, dan semua juga ikut tertawa.
__ADS_1
Saat sedang asik bercanda dan tertawa Ciko datang membawa amunisi.
"Udah lama kamu ?" Tanya Ciko ke Tia.
"Mm sepuluh menitan kira-kira." Jawab Tia.
" Oh, udah makan?" Tanya Ciko.
"Udah tadi, sama Tini sama Meli. "
"Kirain belum, kalau belum kan mau aku ajak makan. "
"Udah kok, kamu jangan banyak-banyak minum itu. "
"Iya sayang, udah kok."
"Udah, tapi baru beli banya lagi." Ucap Tia cemberut.
"Heh pada ngomong sendiri serasa dunia milik berdua memang ya." Ucap Handi.
Handi itu masih saudara jauh sama Tia, dia juga teman dekatnya Ciko. Yang tau hubungan Tia dan Ciko cuma beberapa orang terdekat aja, yang ga mungkin ngasih tau ke Danu.
"Biarin, sirik aja kamu. " Ucap Tia sinis, tapi dibuat-buat.
"Siapa yang sirik, mau minta amunisinya yang dibawa Ciko itu lo, dipegang terus ga ditaro. "
"Oh iya lupa hehe." Jawab Ciko.
"Minggu depan kita camping disini yuk, tempatnya enak. " Ucap Totok.
"Boleh, asik tuh kayanya." Ucap Meli.
"Yang lain gimana?" Tanya Totok.
"Ya pasti pada mau lah, asal amunisinya ngga putus hehe. " Ucap Fino.
"Dasar orang-orang mletre." Ucap Tia dengan tergelak.
Saking asiknya bercanda, ngobrol ga penting sana-sini ga terasa sudah sore, sudah pukul 17.10.
"Eh ini udah sore be, kita pulang yuk. " Ucap Tia ke Meli.
"Iya ayo, disini juga ga ada sinyal kalau mau ngabarin orang rumah. " Jawab Meli
"Yang lain masih pada mau disini apa pulang?" Tanya Tia ke teman-temannya.
"Disini dulu kita, amunisinya belum habis. "ucap salah satu dari mereka.
"Kamu pulang apa masih mau disini?" Tanya Tia ke Ciko.
"Bentar lagi ya sayang aku. " Ucap Ciko memelas.
Tia hanya melotot ke arah Ciko.
"Serem amat sih yang liatinnya, iya-iya aku pulang sekarang, aku juga belum ngasih makan kelinci aku hehe. "
Ciko memang pecinta hewan, dia memelihara kelinci, burung, tupai, dan masih banyak lagi.
Akhirnya Ciko pulang bareng Tia dan Meli, dan yang lain masih stay di tempat.
Satu minggu kemudian.
"Kita jadi camping kan ?" Tanya Fino saat dirumah Ferdi.
"Jadi dong." Jawab ferdi.
"Yang lain kemana ini." tanya Meli.
"Masih pada dirumahnya Danu. " Kata totok.
"Iya ikut, nggak tau siapa yang ngajak dia. " Kata Totok.
'ya bagus deh kalau dia iku, semoga nanti dia tau hubungan aku sama Ciko.' batin Tia.
Terdengar suara motor di luar "Eh itu udah pada kesini kayanya." Kata Fino.
"Iya, itu kayanya anak-anak. " Kata Totok.
Mereka pun keluar.
"Ayo kita berangkat, udah pada siap kan ?" Tanya Damri.
"Eh kita ga bawa apa-apa makanan minuman, tenda juga belum siap. " Kata Tia.
"Tenang aja, udah siap semua kok. " Kata Damri.
"Ada yang sendiri ga bawa motornya? Aku nebeng dong." Tanya Fino.
"Kamu sama aku aja. " Ucap Danu ke Fino.
"Oke." Jawab Fino.
Setelah lima belas menit oerjalanan akhirnya mereka sampai di bukit, karena memang jaraknya dekat dengan kampung mereka.
"Tia kok deket-deket Ciko terus sih perasaan." Ucap Danu kepada Fino.
Fino ngga mau ikut campur urusan mereka.
"Loh Tia kan deket sama semua, bukan cuma Ciko. Perasaanmu aja kali. " Jawab Fino.
"Masa sih cuma perasaan aku aja. "
" Iya, yaudah ayo gabung sama yang lain. Tuh kita bantuin bikin tenda. " Aja Fino
Tapi perasaan Danu tetap tidak tenang, tapi Danu hanya bisa menerka-nerka saja.
Saat tenda sudah terpasang dengan rapi, semuanya duduk melingkar dengan menghidupkan api unggun, ada yang sibuk main gitar, ada yang sibuk bakar jagung, ada yang bikin kopi, dan lain-lain.
"Be aku ngantuk aku tidur ditenda dulu ya." Ucap Meli.
"Aku juga ngantuk." Ucap Tni seraya mengikuti Meli masuk ke tenda.
Tia tadinya mau ikut masuk, tapi tangan Tia digenggam Ciko dengan erat. Ciko kayanya mabuk dan sudah setengah sadar.
"Kamu disini aja, jangan tinggalin aku." Ucap Ciko, Tia pun mengurungkan niat untuk masuk tenda.
Ga ada yang melihat Ciko memegang tangan Tia, karena walaupun ada api unggu masih terap gelap karena mereka duduk agak menjauh dari api unggun.
Lama sekali mereka saling menggenggam.
"Tia kamu tidur aja di dalam, sama Tini sama Meli disini dingin. " Kata Totok.
"Yaudah kamu masuk aja tidur." Kata Ciko.
"Iya, aku masuk ya. " Ucap Tia seraya berjalan menuju tenda.
"Tia tunggu, ini ada kopi buat kamu. " Ucap Danu seraya menyodorkan kopi untuk Tia.
Tia enggan menerima, dia menatap Ciko yang sekarang posisinya ada di belakang Danu, Ciko menganggukan kepala ke Tia tanda dia menyuruh Tia menerima kopi dari Danu.
"Makasih kak." Ucap Tia.
"Sama-sama, nanti kalau mau lagi bilang aku ya, kalau mau makan juga bilang aja sama aku. "
"Iya kak makasih, nanti aku bilang. "
__ADS_1
Hati Ciko sakit melihat ini, tapi dia ga berani bilang sama Danu kalau dia ada hubungan dengan Tia.
#
Keesokan harinya pukul tujuh pagi mereka semua bersiap-siap untuk pulang. Tia ada janji dengan teman kerjanya di pabrik yang dulu sekaligus teman kosnya. Mereka mau main ke tempat Tia.
"Aku habis ini pulang duluan ya, mau ada teman. " Ucap Tia ke teman-temannya.
"Ini juga mau pada pulang kok, mau pada ke acara di lereng gunung andong, ada konser lagi. Bareng-bareng aja pulangnya. " Ucap Totok.
"Oh iya, nanti kalau sempet aku tak nyusul kesana, kalau temanku udah pulang." Ucap Tia.
Mereka semua akhirnya pulang dan lanjut kegiatan masing-masing.
Sekitar pukul sepuluh pagi teman Tia datang, Ana, Irva sama Avi.
"Tia ajakin ketempat yang bagus dong. Mau foto-foto kita. " Pinta Ana.
"Mm kemana ya, oh ke G-pass aja. Tapi jalannya menanjak, ekstrim jalannya semoga motornya kuat ya nanti." Ucap Tia.
"Yaudah berangkat sekarang aja yuk Tia. " Aja Irva.
" Iya ayo, siapa yang bonceng aku." Tanya Tia.
"Aku aja. " Ucap Avi.
Mereka berangkat, benar saja jalannya sangat menanjak, Tia dan Avi jatuh karena motornya ga kuat dan ngga bisa di rem ahirnya motornya merosot turun lagi.
Untung ada ibu-ibu yang nolongin.
"Kalau mau naik, motornya diparkir di awah aja nduk, naiknya jalan kaki. " Ujar ibu itu.
" Iya bu makasih ya." Ucap Tia.
"Apanya yang luka nduk?" Tanya ibu itu.
"Kakinya bu, cuma lecet sedikit kok, gapapa. "
"Ya sudah ibu pulang dulu. "
"Iya bu terima kasih ya bu sudah menolong kami. " Ucap Ana.
"Kita pulang aja yuk, kasian kalian habis jatuh." Ucap Irva.
"Gapapa kok, nanggung udah dekat ini masa pulang, foto-foto dulu baru pulang. " Ucap Tia.
"Tapi kamu kan lagi sakit." Ucap Ana.
"Aku gapapa, kalau kamu gimana Vi? Apa nya yang sakit?" Tanya Tia ke Avi.
"Paha aku tadi ke tiban motor, tapi gapapa kok." Ucap Avi.
Akhirnya mereka memutuskan tetap naik, walaupun Tia masih gemetar akibat jatuh tapi Tia ga mau mengecewakan temannya.
Mereka berfoto-foto. Setelah puas mereka memilih pulang karena cuacanya juga mendung takut jalannya nanti jadi licin.
Saat jalan turun ke arah parkir motor, tiba-tiba ponsel Tia bunyi.
~Tia kamu nyusul ke lereng andong ga?~ chat dari Danu.
~enggak kak, aku habis jatuh jadi ga nyusul kesana, mau istirahat aja. ~
~jatuh dari mana?~
Chat dari Danu tidak dibalas Tia lagi karena Tia sekarang sedang nyetir motor.
Danu panik dan dia langsung ke rumah Tia dia nungguin Tia pulang karena tidak tau Tia kemana, dia telepon Tia juga tidak diangkat.
Tia sampai dirumah.
"Tia apanya yang sakit? Kamu jatuh dimana? Tia mana yang luka, kita ke dokter aja yuk." Danu memberondong Tia dengan banyak pertanyaan. Teman-teman Tia yang melihat hanya geleng kepala.
"Aku gapapa kok, ga ada yang luka. Kak Danu kok disini, bukannya lagi di lereng gunung ya. " Tanya Tia.
" Iya aku tadi tau kamu kecelakaan langsung kesini. "
"Oh gitu, makasih ya udah nengok aku. "
"Yaudah aku pulang dulu, nanti kalau ada apa-apa kalau kamu kerasa ada yang sakit hubungin aku ya. "
"Iya kak. "
Danu pulang, teman-teman Tia juga pamit pulang.
Tia dirumah sendiri, dia chat Ciko.
~sayang kamu dimana? Tadi aku jatuh. ~ send.
~aku dirumah Ferdi. Jatuh dimana? Sekarang kamu dimana?~ balas Ciko.
~pas mau ke G-pass ini sekarang dirumah. Kamu kesini ya. ~
~iya sayang, tunggu ya. ~
Sampai dirumah Tia, Danu langsung memeriksa tububuh Tia.
"Sayang mana yang sakit? Kamu ini lo suka banget jatoh dari motor. Mbok ya hati-hati kalau naik motor. "
Tia bukan menjawab malah senyum-senyum sendiri.
"Ditanya malah senyum-senyum. "
"Kamu ternyata lucu juga ya kalau lagi bawel."
"Yee aku serius malah di becandain sih kamu ini."
"Aku gapapa sayang, cuma lecet doang ini. "
"Yaudah kalau gapapa aku pulang aja. "
"Ih masa gitu, ga kangen sama aku?"
"Hish kamu ini. Aku antar ke dokter aja yuk." Ajak Ciko.
"Aku gapapa sayang, ternyata kamu juga bisa to perhatian sama aku hehe. "
"Apaan sih, emang biasanya gimana?"
"Biasanya kamu cuek sama aku, malah suka ngilang-ngilang ga jelas, susah dihubungin." Ucap Tia.
"Maaf sayang, aku kalau udah sama temen-temen ga enak kalau pegang hp terus." Jawab Ciko.
"Kamu kalau temennya dijaga banget perasaannya, tapi sama pacarnya enggak. " Ucap Tia memalingkan muka.
" Tuh kan malah jadi ngambek."
"Enggak siapa yang ngambek. "
"Ciie ngambek ciie. " Ciko menggoda Tia.
"Apaan si, yaudah sana kamu pulang aja, udah sore."
"Iya aku pulang dulu ya. Kamu kalau ada yang kerasa sakit bilang aku ya."
"Iya sayang."
__ADS_1