
Tia sangat mencintai Ciko, dia akan tetap berjuang bagai mana pun caranya untuk bisa bersama Ciko. Begitupun dengan Ciko, dia sangat mencintai Tia, tapi Ciko tidak mau berjuang sama sekali. Ciko sebenarnya masih labil pemikirannya.
Banyak yang menyukai Ciko, dan mereka semua cantik. Lebih cantik daripada Tia. Tapi hati Ciko hanya untuk Tia, meskipun Tia sudah bersuami.
"Yang kenapa sih tiap aku kerumah kamu, kamu selalu sibuk sama motor kamu itu. Udah bosen sama aku?" Tanya Tia, dia sedang berada dirumah Ciko.
"Hehe enggak yang, ini lagi nanggung. Bentar ya." Ucap Ciko cengengesan.
"Ya udah aku pulang aja deh kalau gitu." Ucap Tia dengan bibir dimajukan ke depan.
"Iya yang iya, udah nih. Aku tinggal, gitu aja ngambek." Ucap Ciko.
"Gitu aja?" Tanya Tia.
"Hehe iya iya. Ini udah aku tinggal kerjaan aku. Kamu mau minum apa yang?" Tanya Ciko.
"Apa aja." Ucap Tia masih sedikit kesal.
"Iya aku buatin kopi ya." Ucap Ciko.
"Iya, cepetan terus duduk sini ini loh." Ucap Tia.
Ciko langsung bergegas bikin kopi, setelah itu duduk di samping Tia.
"Yang, Danu kemana kok kamu bisa ke sini?" Tanya Ciko.
"Dia lagi ada job." Ucap Tia.
"Mm, pulang jam berapa?" Tanya Ciko lagi.
"Nggak tau, aku nggak nanya. Kenapa emang?"
"Nggak papa, cuma tanya aja yang."
"Ooh."
"Sayang ada yang aku mau omongin sama kamu." Ucap Ciko.
"Apa yang?" Tanya Tia menatap Ciko.
"Kita mending udahan aja ya, nggak enak aku lama-lama sembunyi kaya gini terus." Ucap Ciko.
"Aku nggak mau yang."
"Tapi mau sampai kapan yang kita kaya gini. "
"Apa aku bilang aja sama kak Danu minta pisah gitu?"
"Ya itu terserah kamu yang. "
"Kok terserah, tapi kalau aku minta pisah kamu bakal nikahin aku kan? Nanti aku udah pisah udah jadi janda kamu malah tinggalin aku." Ucap Tia tegas.
"Iya yang." Ucap Ciko.
"Iya apa, yang jelas. Kamu itu jadi orang mbok yang tegas gitu loh." Ucap Tia.
"Iya yang iya, tapi yang penting kamu pisah dulu gimana nanti kita serahin sama Allah."
"Oke." Tia masih kurang yakin sama jawaban Ciko.
Sebenarnya saat ini Tia mulai berat pisah sama Danu, dia juga merasa bersalah karena masih berhubungan sama Ciko. Tapi Tia mau membuktikan sama Ciko kalau memang Tia mencintai Ciko dan akan tetap berjuang. Padahal Ciko sendiri tidak pernah sekalipun berjuang untuk Tia. Tia memang sudah dibutakan oleh cintanya kepada Ciko.
"Mm yang selama aku belum pisah sama kak Danu, kamu boleh kok dekat sama cewek lain. Tapi jangan mantan-mantan kamu yang ke gatel itu ya." Ucap Tia.
"Aku nggak tertarik sama cewek lain yang. Aku bakal tetap setia sama kamu."
"Yang bener? Terus itu tadi chat dari siapa?" Tanya Tia, karena tadi Tia sempat melihat ada pop up pesan dari cewe di hp Ciko.
"Mm bukan siapa-siapa kok." Jawab Ciko gelagapan.
"Yang, aku lebih suka kamu jujur sama aku. Ketimbang kamu bohong terus aku tau dari orang lain pasti aku akan lebih marah sama kamu."
Ciko hanya diam, seperti ada yang mau dia katakan tapi ragu.
"Ada apa yang? Kamu menyembunyikan sesuatu dari aku?" Tanya Tia.
"Sebenarnya aku punya teman cewe, nanti sore aku mau ketemu." Ucap Ciko menunduk.
Tia sedikit shock dan ada rasa perih menjalar di hati Tia. Tapi Tia nggak boleh egois.
"Kenapa kamu nggak jujur sama aku?" Tanya Tia.
"Aku takut kamu marah." Ucap Ciko.
"Tapi hanya teman kan?" Tanya Tia lagi.
"Iya yang cuma teman, aku sayangnya cuma sama kamu. Lagian aku juga baru kenal sama dia kok. "
"Yaudah nggak papa, mau ketemu jam berapa?" Tanya Tia.
__ADS_1
"Jam tiga an yang."
"Ya sudah aku pulang dulu aja ya." Ucap Tia.
"Kenapa buru-buru." Tanya Ciko.
"Nggak papa." Ucap Tia berkaca-kaca, tapi dia memalingkan wajah dari Ciko supaya Ciko tidak melihat mata Tia yang berkaca-kaca.
Tia sebenarnya takut kalau Ciko berpaling, sedangkan Tia sudah rela berdosa sudah mengkhianati suaminya demi Ciko.
"Ya sudah, kamu hati-hati ya yang." Ucap Ciko.
Tia tidak menjawab, dia langsung menuju motornya dan langsung melajukan motornya tanpa menoleh ke arah Ciko lagi. Ciko tidak peka, dia tidak pernah merasa kalau Tia sedang tidak baik-baik saja.
Sampai dirumah Tia langsung menuju ke kamarnya dan menangis sejadi-jadinya. Tia merasakan patah hati, walaupun Ciko bilang kalau hanya teman, tapi Tia merasakan ada kejanggalan.
Terdengar suara ketukan pintu, sepertinya Danu sudah pulang.
"Tia? Kamu didalam ? Aku masuk ya." Kemudian Danu membuka pintu.
Tia pura-pura tidur, dia sedang tidak ingin berbicara.
"Tia aku bawain oleh-oleh tuh diluar. Bagun dulu kita makan sama-sama." Ucap Danu sedikit menggoyangkan tubuh Tia supaya bangun.
Tia pura-pura menggeliat seolah baru bangun tidur.
"Eh kak Danu udah pulang?" Ucap Tia mengucek kelopak mata.
"Udah baru aja, mata kamu kenapa kok kaya bengkak." Tanya Danu.
"Mm masak sih, efek tidur terlalu lama mungkin. Aku cuci muka dulu ya kak." Ucap Tia seraya turun dari ranjang
"Iya, langsung makan ya, itu aku bawain makanan buat kamu dan buat semua." Ucap Danu.
"Iya makasih kak, kak Danu udah makan ?" Tanya Tia.
"Udah makan sedikit tadi. "
"Ya udah abis ini makan lagi. "
***
Di tempat lain, Ciko sedang bertemu sama cewek. Sebenarnya Ciko sudah kenal lama dengan cewek ini, dan sepertinya sudah menjalin hubungan cukup dekat.
Namanya juarti, dia sebenarnya tidak cantik, kulitnya sedikit gelap postur tubuhnya tidak terlalu tinggi dan sedikit gendut. Entah Ciko tertarik dengan apanya sama juarti. Mungkin dia baik.
"Kamu udah lama nungguin aku ya?" Tanya Ciko kepada Juarti yang sedang duduk di bangku taman.
"Oh, kirain udah lama. Kamu mau minum apa biar aku belikan dulu."
"Nggak usah nanti aja duduk dulu sini lo, aku kangen masa pacaran nggak pernah ketemu." Ucap Juarti.
Ternyata Ciko sudah berpacaran dengan Juarti. Kenapa Ciko nggak jujur sama Tia, keterlaluan. Kalau udah punya pacar mending lepasin Tia aja, kalaupun Tia nggak mau yaudah tetap tinggalin aja.
"Iya, emangnya kamu nggak haus?" Tanya Ciko.
"Enggak yang kita foto yuk." Ajak Juarti.
Juarti jelas senang lah bisa dapat Ciko yang tampan.
"Nggak usah foto aku malu." Ucap Ciko.
"Kenapa malu? Kamu malu punya pacar jelek kaya aku?" Ucap Juarti.
"Bukan kaya gitu, yaudah ayo kita foto." Ucap Ciko.
Tiba-tia Tia telepon ke hp Ciko. Tapi Ciko mengabaikan panggilan Tia.
"Pokoknya habis kamu ketemu cewek itu langsung temuin aku! Apa aku susul sekarang aja?"
Pesan dari Tia tapi Ciko tetap mengabaikan pesan Tia, dia takut juarti tau kalau dia punya pacar.
"Kalau kamu nggak balas pesan aku, aku samperin kamu sekarang!" Pesan Tia lagi.
"Iya-iya nanti aku chat kamu kalau dia udah pulang" balas Ciko.
Tia sedikit tenang Ciko sudah membalas pesannya.
"Oke. Jangan lama-lama!"
Akhirnya setelah sekitar hampir dua jam Ciko ketemu dengan Juarti, Ciko beralasan ada perlu. Karena dia takut Tia nyamperin kalau terlalu lama.
"Mm kamu masih mau disini apa udah mau pulang. Ini aku mendadak ada perlu."
"Perlu apa, kan baru sebentar ketemunya, aku masih kangen." Ucap Juarti.
"Iya ini dadakan, barusan ada pesan aku harus cepat pulang." Ucap Ciko berbohong.
"Oh ya sudah, minggu depan ketemu lagi ya sayang." Ucap Juarti.
__ADS_1
"Iya." Ucap Ciko singkat.
"Yaudah aku duluan ya. Motorku disana. Kamu hati-hati pulangnya."ucap Juarti.
"Iya, kamu juga hati-hati."
Ciko lalu kirim pesan ke Tia kalau dia mau ketemu sekarang.
"Yang, kamu ke taman aja ya aku tunggu di taman sekarang." Pesan Ciko.
"Iya tunggu sebentar." Balas Tia.
Tia kemudian pamit ke Danu yang sedang duduk bersama teman-temannya.
"Kak Danu aku mau ke warung sebentar ya." Ucap Tia.
"Iya, titip rokok ya sayang." Ucap Danu.
"Iya tapi agak lama ya mau mampir ke rumah Tini dulu." Ucap Tia beralasan.
"Iya sayang." Ucap Danu tanpa curiga.
Tia langsung menuju taman dia melihat Ciko duduk di bangku taman Tia langsung berjalan kearah Ciko.
Ciko melihat Tia " cepet banget kamu sampainya." Ucap Ciko.
"Iya aku langsung berangkat tadi. Kamu nggak ngapa-ngapain kan sama dia." Ucap Tia.
"Enggak yang, duduk sini loh." Ucap Danu menunjuk bangku di sampingnya.
"Sini lihat hp kamu." Ucap Tia seraya duduk di samping Ciko.
"Buat apa yang." Ciko menyerahkan hpnya tapi ada rasa takut kalau Tia melihat hpnya.
"Kali aja ada yang mencurigakan. " Ucap Tia seraya membuka hp Ciko.
"Ya enggak lah yang." Ucap Ciko.
Tiba-tiba Tia menatap Ciko dengan tatapan tajam. Ciko bergidik ngeri dengan tatapan Tia.
"Ini apa ?" Ucap Tia menunjukan sebuah foto.
'mati aku, kenapa juga juarti pake kirim fotonya ke hp aku.' batin Ciko.
"Kenapa diam?" Ucap Tia lagi.
"Iya yang maaf." Ucap Ciko.
"Maaf kamu bilang? Katanya nggak ada apa-apa tapi fotonya mesra kaya begini. Kamu selalu mewanti-wanti aku buat nggak dekat-dekat sama kak Danu. Tapi kamu sendiri apa ini?" Ucap Tia geram
" Maaf yang."
"Sekarang jujur sama aku. Kamu ada hubungan apa sama dia?" Tanya Tia langsung berdiri.
"Sebenarnya aku udah pacaran yang sama dia." Ucap Ciko menunduk.
Tia langsung luruh kelantai Tia seperti nggak punya tulang seluruh tubuhnya lemas seperti mengambang.
"Kenapa kamu bohong sama aku? Kamu nggak liat aku seperti ini? Dulu kamu aku ajak nikah kamu nggak mau. Alasan belum siap sampai kamu menyuruh aku terima lamaran kak Danu, dan sekarang kamu malah punya pacar lagi padahal aku sedang berusaha cari cara biar pisah sama kak Danu. Apa maksud kamu?"
Ciko hanya diam, dia tidak bisa menjawab. Entah tujuan Ciko apa punya pacar lagi. Padahal dia sangat mencintai Tia.
"Kenapa kamu diam? Kamu nggak bisa jawab? Apa memang sebenarnya kamu nggak cinta sama aku?" Tanya Tia.
"Maaf Tia, bukan aku nggak menghargai kamu. Tapi aku butuh hiburan. Aku juga sakit melihat kamu sama Danu." Ucap Ciko.
"Tapi nggak harus dengan berbohong kan." Ucap Tia.
"Iya maafin aku Tia."
"Ya sudah lah, aku pulang dulu." Ucap Tia sembari berjalan menuju motornya
"Tia jangan marah." Ucap Ciko mengiba.
Tia tidak merespon, dia langsung pergi begitu saja.
Tia seperti kehilangan semangat. Tia nggak tau setelah ini mau bagaimana. sepanjang perjalanan Tia tak hentinya menangis.
Sampai dirumah Tia langsung menuju kamar.
"Tia kamu udah pulang? Mana titipan aku?" Tanya Danu.
Tia lupa kalau Danu tadi titip rokok.
" Maaf kak, aku lupa beli rokoknya. " Ucap Tia.
"Ya udah, aku beli dulu ya. Pinjam motor kamu, kuncinya dimana?" Tanya Danu.
"Itu ada di atas meja kak."
__ADS_1
Danu akhirnya pergi membeli rokok sendiri.